Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Aneh


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan sore hari, saat ini Dinda sedang menunggu Rava menjemputnya. Tadi pagi Rava menyuruh Dinda untuk tidak membawa mobilnya, ia akan mengantar dan menjemput Dinda.


Sempat terjadi keraguan pada Dinda namun ia menepis pikirannya itu.


30 menit menunggu akhirnya Rava tiba di loby rumah sakit, Dinda pun masuk ke dalam mobilnya. Dengan kecepatan sedang Rava melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit di mana Dinda bekerja.


"Kau sudah makan...?"tanya Rava memecah keheningan


"Belom.."sahut Dinda dengan lemah


Rava melirik arlojinya "masih ada waktu , kita mampir ke restoran depan untuk makan lebih dulu"lanjut Rava


Dinda hanya menurut, ketika Rava membawa dirinya masuk ke dalam restoran.


Ketika hidangan telah tersaji di mejanya, segera Rava dan Dinda memakannya.


"Aku ngantuk, kenyang sekali. Kenapa kau pesan makanan terlalu banyak, aku jadi tidak bisa menghentikan makanku"ucap Dinda sambil bersender pada kursinya lalu mengelus perutnya.


Rava hanya tersenyum menggelengkan kepalanya, lalu mengambil tisu dan berdiri menghampir Dinda.


"Hei kau mau apa..?"ucap Dinda terlonjak kaget ketika Rava sudah berdiri di depannya.


Dengan santai Rava membungkuk lalu mengelap sudut bibir Dinda yang gelepotan terkena saos.


"Aku hanya ingin membersihkan ini. Kau bahkan masih sama jika makan selalu gelepotan. Ayo pulang.."ucap Rava membuat wajah Dinda memanas.


Saat sampai di loby tubuh Dinda bertabrakan dengan seseorang.


"Ops sorry nona aku tidak sengaja.."ucap seorang pria.


Rava yang sudah berjalan lebih dulu seketika kembali menghampiri Dinda.


"Kau tidak papa Dinda,.."ucap Rava memeriksa tubuh Dinda "kau hati-hatilah jika berjalan, lihat jalan jangan lihat hp"lanjut Rava dengan keras.


Pria itu kemudian menatap Rava dan pandangan mereka bertemu "Oh tuan Rava, maaf.."


"Kau.."ucap Rava tertahan, segera ia membawa Dinda pergi dari sana.

__ADS_1


Setelah kepergian Dinda dan Rava pria itu menyeringai muncul "wanita yang menarik,"


********


Saat ini Rava dan Dinda tengah bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan Aldo dan Livia. Dinda saat ini telah siap dengan gaunnya yang berwarna maroon, dengan kulit putihnya, polesan maks up tipis, serta rambut di kepang sedikit,semua membuat Dinda tampak lebih berbeda dari biasanya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Rava yang tengah keluar sehabis mandi.


Segera Rava berlalu mengambil pakaian yang telah Dindi siapkan.


"Kenapa harus warna merah"Ucap Rava sambil menghela nafasnya.


"Jika tidak mau memakainya ya sudah, kau ambil sendiri pakaian yang kau inginkan"sahut Dinda dengan sebal menanggapi Rava yang protes pada baju yang ia beli kemarin, niatnya biar senada dengan gaun yang ia pakai. Tidak tau jika ternyata Rava tidak menyukainya.


Melihat wajah Dinda yang cemberut Rava pun diam lalu memakai bajunya tanpa protes.


Setelah semua siap, ia memperhatikan penampilan Dinda yang tempak berbeda kali ini. Ah mendadak ia kurang suka bagaimana jika nanti di sana penampilan Dinda akan menarik pria lain.


"Iya aneh, kenapa kau dandan seperti ini"ucap Rava, menutupi rasa gengsinya.


"Baiklah aku akan merubahnya."ucap Dinda sambil kembali manatap kacanya.


"Tidak ada waktu lagi, ayo kita sudah di tunggu yang lainnya di luar"jawab Rava dengan memegang tangan Dinda.


"Tunggu dulu aku akan merubahnya, tenang saja hanya sebentar tidak sampai lima menit"ucap Dinda sambil melepaskan tangan Rava dari pergelangan tangannya.


"Tidak perlu ayo keluar"paksa Rava


Akhirnya Dinda hanya menurut keluar dengan wajah cemberut.


"Wah Dinda kau cantik sekali nak"ucap mama Imel


"Iya Aunty cantik"Timpal Varen


"Bohong, kak Rava bilang justru penampilanku aneh"sungut Dinda, seketika semuanya memoloti Rava.

__ADS_1


Rava yang yang merasa tersudut hanya berpura-pura tidak peduli.


"Aku rasa mata Rava perlu di priksakan ke dokter spesialis mata ma, agar ia tidak salah menilai penampilan seseorang"cecar Vinda


"Enak saja mataku normal dan baik-baik saja"sahut Rava


"Tapi penglihatnmu tidak normal, istrimu secantik ini kau bilang aneh. Bilang saja istrimu cantik kau takut penampilan istrimu ini akan membuat pria lain terpesona padanya bukan"ucap Vinda lagi


"Memang benar aneh kok"kekeh Rava


"Tuh kan kak dia bilang aneh, aku tidak jadi ikut ke pesta saja kalau begitu. Aku tidak mau membuat kalian malu"ucap Dinda sambil mendudukan dirinya di sofa.


"Rava.."bentak mama imel


"Apa lagi... cepat tenangkan istrimu"lanjut mama imel


"Maaf.. aku hanya mengerjaimu saja. Semua yang ku katakan bohong, tentu saja kau cantik. Ayo kita berangkat"ucap Rava sambil mensejajarkan dirinya dengan Dinda.


"Benarkah.."sahut Dinda, Rava hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Kau tidak bohong?"lanjut Dinda,


oh ya ampun rasanya Rava ingin melahap Dinda dengan habis, kenapa ia begitu menggemaskan juga membuatnya kesal, tidak taukah ia setengah malu harus merayunya tadi.


"Iya.."kalimat yang terakhir keluar dari Rava, akhirnya membuat senyum Dinda mengembang.


Sedang yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keduanya. Yang satu memang manja, yang satu memang gengsi.


.


.


.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2