
πππJangan lupa like, komen, dan vote pake hadiah yaππ
πππππ
Waktu terus berlalu hingga kini pernikahan Alan dan Vriksa sudah memasuki usia dua tahun. Rumah tangga mereka tetap harmonis meski sesekali akan di warnai perdebatan keduanya, namun semua dapat mereka selesaikan dengan baik.
"Hubby bisa minta tolong. Tolong tarikin resleting gaunku, tanganku tidak sampai untuk menjangkaunya"perintah Vriska sambil menatap dirinya di cermin.
Alan yang tengah duduk di sofa dengan pakaian yang sudah rapi pun menengok ke arah istirnya "Bisa tuan Putri", Alan bangkit mendekat ke Vriska.
Kemudian Alan mulai membenarkan resletingnya, sambil meneguk ludahnya kasar ia menahan diri untuk tidak mengecup punggung putih mulus istirnya, namun Alan tetaplah Alan dengan segala kejahilannya. Tidak apa-apa ya sedikit saja, serunya dalam hati.
Kulit Vriska meremang saat Alan justru menyusuri punggungnya dengan tangannya "Hubby apa yang kau lakukan, cepat tarikan resletingnya"seru Vriska
"Sebentar.."ucap Alan malam membenamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.
"Hei apa yang kau lakukan, cepat nanti kita bisa terlambat"seru Vriska
"Terlambat sedikit tidak masalah bukan,"Alan menghela nafasnya, "Coba saja kita tidak akan datang ke pernikahan Disty dan Dokter Dika, aku pasti akan mengurungmu di kamar lalu membuatmu kelelahan"seru Alan.
Hari ini merupakan hari pernikahan Disty dan Dokter Dika, setelah sekian lama akhirnya Dokter Dika berhasil meluluhkan hati Disty. Disty pun sudah berhasil membuka toko roti yang dulu ia dambakan.
"Alan...."teriak Vriska dengan kesal dan malu.
Alan terkekeh "aku hanya bercanda, kenapa wajahmu malah merona"
Kemudian Alan membenarkan resleting gaun Vriska, tidak lupa pula ia memberikan kecupan singkat di pipi Vriska.
ππππ
Pesta pernikahan Disty dan Dokter Dika tidak terlalu mewah karena itu kemauan Disty.
"Selamat ya Disty, akhirnya kau menyusul juga."seru Vriska
"Iya Vriska makasih ya udah datang"sahutnya.
"Selamat ya.."ucap Alan dengan datar.
"Makasih Alan.."sahutnya Disty dan Dokter Dika.
Setelah itu Alan dan Vriska bergabung sama yang lain, saat sedang berbincang-bincang pundak Alan di tepuk oleh seseorang, Alan membalikkan tubuhnya ternyata itu Rava yang bersama Dinda.
__ADS_1
"Hei kawan apa kabar.."tanya Alan sambil merangkul Rava.
"Baik.."seru Rava.
Alan melihat ke arah Dinda "Hai Dinda.."sapa Alan, Dinda hanya mengangguk tersenyum.
Vriska melihat interaksi keduanya, namun pandangan Vriska tertuju pada perut Dinda yang tampak sedikit membuncit. Kemudian Vriska mendekat pada Dinda.
"Berapa bulan..?"tanya Vriska
"tujuh bulan Vriska,"seru Dinda
Vriska mengangguk mengerti entah mengapa ia tiba-tiba melihat ke arah perutnya yang datar dan merabanya, ada keinginan dan harapan besar agar ia pun segera di beri momongan.
"Boleh aku memegangnya Dinda..?"tanya Vriska
"Boleh, sini.."sahut Dinda
Tangan Vriska terulur untuk mengelus perut buncit Dinda, sementara Alan terus melihat ke arah istrinya yang raut mukanya terus berubah kadang sendu kadang tersenyum, hati Alan mendadak mencelos merasa sakit.
"wah dia sudah menendang? menyenangkan sekali"seru Vriska sambil tersenyum, namun matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya kau benar, sepertinya ia senang ingin berkenalan denganmu.."seru Dinda.
"Dia di rumah sama neneknya, ia tidak mau ikut"jawab Dinda, Vriska mengangguk mengerti.
πππ
"Sayang, kau baik-baik saja..?"tanya Alan setelah kini mereka hanya tinggal berdua.
Vriska tersenyum "Memangnya aku kenapa? aku baik-baik saja."
"Syukurlah"Alan merasa lega.
"Hallo Tuan Alan dan Nyonya Vriska.."Seru seorang pria yang tengah menggandeng seorang wanita berbadan dua, serta tangannya menggendong seorang putri yang tampak masih berusia satu setengah tahun.
"Hallo juga tuan Jefri,?"seru Alan
"Ini istrimu.."sambungnya
"Iya Tuan, senang bisa bertemu dengan anda di sini"serunya .
__ADS_1
"Di mana putra anda Tuan Alan"tanya Jefri,
"Kami belum memiliki anak tuan,"seru Alan,
"Wah sayang sekali, tapi tidak mengapa oke. Kalau sudah saat nanti pasti di beri"seru Jefri
Alan mengangguk mengerti, sementara Vriska terdiam dan pikirannya mulai menjalar ke mana-mana.
ππππ
"Sayang apa yang kau fikirkan.."tanya Alan sambil memeluk Vriska dari belakang, dan tidak lupa mengecup pipi Vriska dengan lembut.
Vriska berusaha untuk tersenyum "Tidak ada.."sahutnya seadanya.
Alan menghela nafasnya "Kita sudah bersama selama dua tahun ini, aku tau saat ini kau sedang menutupi sesuatu" Alan melepaskan kedua tangannya dari pinggang Vriska, lalu ia berusaha melihat ke wajah Vriska, namun Vriska tetap memalingkan wajahnya.
"Kenapa tidak mau melihatku, ayo lihat kesini. Dan katakan apa yang kau fikirkan. Sejak pulang dari pesta itu kau selalu diam, apa aku melakukan kesalahan Honey, maafkan aku.."sambung Alan
"Aku merasa bersalah padamu,"seru Vriska akhirnya
"kenapa? kau tidak melakukan kesalahan apapun, bagiku kau istri yang sempurna."ucap Alan
Vriska menggeleng lalu menatap Alan, "Hubby aku merasa ada yang salah dengan diriku, sudah dua tahun usia pernikahan kita. Tapi sampai sekarang aku bahkan belum hamil,"seru Vriska dengan sendu.
Hati Alan mencelos seketika ia merasa "Oh karena itu. Jangan di fikirkan, mungkin saja Tuhan belum memberi kepercayaan pada kita. Semua pasti akan ada waktunya," tangan Alan terulur untuk menyapu rambut Vriska yang menghalangi wajah cantiknya.
"Tapi Hubby, aku merasa tidak berguna bagimu aku bukan istri yang sempurna." seru Vriska
"bagiku kau tetap sempurna, sudah jangan di fikirkan ayo kita istirahat, aku sudah lelah"Alan berusaha untuk menjauhkan Vriska tentang obrolan seputar anak.
Namun sebagai seorang wanita Vriska tetaplah ingin merasakan hamil dan memiliki anak, ada harapan besar. Ia sudah meninggalkan kariernya demi menjadi ibu rumah tangg seutuhnya, hingga kini ia masih menanti kehadiran janin dalam rahimnya.
"Dokter bilang aku sudah sehat , tapi kenapa aku masih sulit hamil"batin Vriska, sedangkan Alan sudah terlelah dalam tidurnya.
.
.
.
πππ Maaf banget kemarin gak up, anakku lagi gak vit jadi rewelπππ
__ADS_1
bersambung..