
Hari terus berlalu tak terasa kandungan Dinda pun sudah memasuki bulan ke tujuh, namun perlakuan Dinda masih sama tetap dingin pada Rava. Rava juga sudah terbebas dari rasa mualnya.
Dinda kini tinggal bersama orang tuanya, semenjak kejadian itu Papa Dicky menegaskan Dinda harus pulang, sebelumnya Dinda sempat menolak namun keputusan Papa Dicky tidak di ganggu gugat. Awalnya Papa Dicky menyuruh Dinda untuk tinggal bersama Rava, namun Dinda menolak mentah-mentah, Rava yang mengerti pun menyuruh Dinda untuk tinggal di rumah orang tuanya.
Papa Dicky merasa kecewa dengan sikap putrinya, entah kenapa Dinda begitu berubah keras kepala serta tak mau mendengar siapapun, ada rasa tidak enak bersama kasihan pada Rava, bagaimanapun Dinda adalah istri dari Rava, namun perlakuan Dinda tidak mencerminkan seorang istri. Mendesah frustasi Papa Dicky teringat perlakuan Dinda pada Rava saat baru-baru tiba di rumah ini,
Saat itu Rava hendak membantu Dinda berbaring di ranjangnya. Namun dengan sekuat tenaga Dinda mendorong hingga Rava terjungkang jatuh lalu luka pada lengan Rava sampai terbuka dan kembali mengeluarkan darah.
"Dindaa..."bentak papa Dicky merasa sangat geram dengan putrinya.
Semua terlonjak kaget mendengar teriakan Papa Dicky yang begitu keras. Rava berusaha untuk bangun.
"Kau sangat keterlaluan nak, bagaimanapun ia suamimu, tidak sepantasnya seorang istri bersikap seperti ini, kau bahkan tidak menghormati suamimu"kata Papa Dicky penuh penekanan.
"Memang aku harus bersikap bagaimana, sudah ku katakan aku tidak ingin melihatnya, lalu kenapa dia harus datang aku muak melihatnya"ucap Dinda dengan ketus.
Rava berusaha menengahi keduanya "Sudahlah Pa, aku tidak apa-apa, tolong jangan berantem, aku harus pergi"ucap Rava berusaha melerai sambil menahan sakitnya, wajahnya tampak memucat, Dinda dengan seksama melihat wajah Rava namun bersikap biasa.
"Memang itu lebih baik jika kau tidak ada di sini"seru Dinda.
πππ
Pukul lima sore Rava baru keluar dari kantornya lalu mengendarai mobilnya, ia menuju rumah mertuanya untuk bertemu istrinya.
__ADS_1
Meski kerap mendapat perlakuan kasar dari istrinya Rava tidak mau menyerah, ia selalu berfikir positif jika Dinda bersikap demikian adalah hal yang wajar, Rava tau saat ini ia sedang memupuk karmanya sendiri.
Rava menghentikan mobilnya di sebuah restoran pizza lalu membeli pizzanya ia berniat untuk memberikannya pada Dinda.
Sampainya di rumah mertuanya Rava langsung masuk mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya. "Di mana istri saya bi?"tanya Rava pada asisten rumah tangga yanh kebetulan sedang melintas di depannya.
"Nona ada di taman belakang tuan."sahutnya.
Rava segera melangkah menuju di mana keberadaan istrinya, ia amat merindukan istrinya itu. Sebelumnya ia meletakkan pizzanya di meja yang berada dalam ruanga makan, Ia melihat istrinya sedang menikmati indahnya taman dengan senyum sambil memetik beberapa bunga, tanpa terasa bibirnya tertarik ke atas sudah lama ia tidak melihat senyum Dinda itu, ia mengurungkan niatnya untuk tidak menganggu kegiatan Dinda, ia mengamati Dinda dari jauh dari depan pintu, baginya Dinda tetap cantik meski saat ini dalam keadaan mengandung.
Tanpa terasa Dinda menyadari akan kehadiran Rava. Rava pun berjalan mendekat.
"Kau kesini lagi, untuk apa,? kau tidak ada bosannya kesini untuk setiap harinya"ketus Dinda
Rava duduk di bangku samping Dinda berdiri "aku tidak akan pernah bosan, sampai kau mau memaafkanku dan kembali lagi padaku. Dinda sampai kapan kau akan begini, tidakkah kau sudah lelah, apa kau tidak percaya padaku, aku sangat mencintaimu , ayo kita pulang ke rumah kita, "tutur Rava dengan nada memohon.
"Bukankah sudah ku katakan aku sudah menyadari kesalahanku, bagiku Luna hanya masa laluku, dan kau masa depanku saat ini kau istriku, aku harus bagaimana agar kau percaya"ucapnya, sungguh Rava sudah kehabisan akal untuk membujuk Dinda. Ia tidak menyangka Dinda yang kini terlihat begitu keras kepala.
"Ceraikan aku jika begitu"seru Dinda begitu saja. Membuat Rava kaget dan berdiri.
"Kau gila, tidak akan. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu, kau fikir aku akan membiarkan anakku hidup tanpa seorang ayah"sahut Rava dengan tegas, bercampur kesal
"Dia tidak butuh ayah sepertimu, aku bisa mendidiknya sendiri" tandasnya
__ADS_1
"Aku akui aku mungkin bukan suami yang baik untukmu, aku pernah gagal menjadi suami yang baik untukmu, tapi tidak menutup kemungkinan jik aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku, bagaimanapun aku akan melakukan yang terbaik untuk anakku kelak, kau tidak pernah berfikir seseorang bisa belajar dari permasalahan masa lalu bukan," Rava menjawab dengan lembut, "Baiklah, maaf jika kehadiranku mengganggumu, mungkin beberapa hari ke depan aku tidak akan kesini, aku akan pergi ke luar kota untuk urusan kantor,
hubungi aku jika kau ada apa-apa,"sambungnya.
Ada rasa tidak rela saat Rava mengatakan tidak akan menemuinya untuk beberapa hari, namun semua ia tepis, kali ini egonya mengalahkan segala rasa yang ada.
Melihat Dinda tidak bereaksi apapun Rava mendesah kecewa, sejujurnya ia ingin Dinda mencegahnya pergi, namun kenyataan tak sesuai harapan, berjalan mendekat ia memeluk Dinda sesaat lalu mengelus perutnya "Sayang Daddy tinggal untuk beberapa hari ya, kau jangan rewel jangan menyusahkan mommy ya, Daddy janji jika nanti urusannya selesai Daddy akan segerap pulang"ucap Rava berbicara pada perut Dinda, layaknya ia sedang berbicara pada anaknya.
Rava berdiri tersenyum dengan lembut lalu mengecup kening Dinda, "Jaga diri baik-baik, aku pulang dulu"ucap Rava sambil mengelus kepala Dinda. Dinda hanya diam, tidak membalas juga tidak menolak.
Kenapa aku merasa sangat nyaman dalam pelukannya, aku merasa... ah tidak ini salah.. aku membencinya..lirih Dinda dalam hati
Merasa sudah bosan ia pun masuk ke dalam rumah menujur dapur untuk mencuci tangannya, saat berbalik ia melihat adanya box pizza di atas meja.
"Siapa yang membeli pizza bi"tanya Dinda mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar.
"Den Rava nona"sahut Bibi
"kenapa ia bisa tau jika aku sedang ingin makan pizza,"ucap Dinda sambil membuka box pizzanya kemudian memakannya.
.
.
__ADS_1
ππ jangan lupa,like dan komen dan beri aku hadiah agar aku makin semangatππ
bersambung..