Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Bulan madu


__ADS_3

"Wah pemandangannya sangat indah.."ucap Dinda sambil merentangkan tangannya.


"Kau suka.."tanya Rava


"hemm.."sahut Dinda


Saat ini keduanya telah sampai di sebuah hotel di Bali, guna memenuhi bulan madu yang sudah di rencanakan oleh kedua orang tua Rava.


Ada rasa canggung di keduanya, apalagi mengingat pesan dari orang tua Dinda kemarin , mereka meminta oleh-oleh cucu. Tentu saja hal itu membuat keduanya menelan salivanya dengan kasar. Kemarin sebelum berangkat Bali keduanya menginap di tempat orang tua Dinda, dan paginya mereka di antar oleh Vano kakak Dinda.


Dinda yang saat ini tengah menatap keindahan pantai dari balik jendela hotel, berbeda dengan Rava yang tengah berdiam diri di sofa. Ia mengingat ucapan Vano saat di bandara.


"Jagalah adikku dengan baik, jika aku tau kau menyakitinya jangan harap aku akan memberimu ampun."


Ucapan Vano kala itu merupakan sebuah ancaman. Lalu ia melihat Dinda yang saat ini tengah mengistirahatkan diri. Berjalan mengahampiri sang istri. Lalu membelai kepalanya. Memandangi wajah sang istri.


Aku bisa merebutnya kembali darimu ..


Ucapan Alan kala itu kembali terngiang ada rasa takut jika itu benar akan terjadi. Ah tidak, Rava tentu tidak akan membiarkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Setelah ini kita mau ke mana..."tanya Dinda di sela-sela makannya. Saat ini keduanya tengah menikmati makan malam di restoran yang ada pada hotel tersebut.


"Kembali ke kamar, aku lelah ingin istirahat.."ucap Rava dengan datar


"Waktu kita hanya tiga hari di sini, kenapa tidak langsung jalan-jalan saja.."ucap Dinda


"Besok masih bisa.. Hari sudah malam angin malam tidak baik untuk kita"tutur Rava terdengar perhatian.


"Aku akan kembali ke kamar dan duduk di balkon, kau mau ikut.."tanya Rava


"Duluanlah aku masih ingin di sini.."sahut Dinda

__ADS_1


Setelahnya Rava kembali ke kamar dan duduk di balkon kamarnya. Menikmati pemandangan malam yang indah.


Berbeda dengan Dinda yang tengah menikmati secangkie ice cream yang ada di restoran tersebut.


Setelah menghabiskannya ia pun kembali ke kamarnya, saat membuka pintu ia menengok kesana kesini tapi tidak mendapati Rava di situ.


Melanjutkan langkah ke tempat tidur, tiba-tiba teringat kado yang di berikan kakak iparnya ia belum membukanya. Bergegas membuka kopernya lalu mengambil bingkisan kado itu.


"Oh ya ampun, ini baju macam apa.. sama saja tidak memakai baju.."ucap Dinda dengan mata melotot melihat setiap inci dari sebuah gaun tidur transparan dari kakak iparnya tersebut. Lalu beralih pada secarik kertas dan membacanya.


Dinda pakailah baju ini saat sampa di Bali. Ingat kau harus memakainya saat berada di dalam kamar . Jangan sampai kau tidak memakainya, awas saja.. aku akan marah padamu..


"Lihatlah dia mengancam, baiklah mumpung kak Rava tidak ada aku akan mencobanya sebentar dan setelah itu aku akan melepasnya.."ucap Dinda sambil mengganti pakaiannya.


"Oh ya ampun aku ini seperti wanita penggoda, di tambah warna bajunya merah begini. Apalagi kalau aku berjalan begini.."ucap Dinda sambil berjalan lenggak lenggok


Rava yang sudah selesai menikmati pemandangan malam pun memutuskan untuk kembali ke kamar, namun di tengah pintu ia melihat Dinda yang sedang bercermin di meja riasnya dan memakai baju yang sungguh menggoda. Ia pun memutuskan untuk bersandar pada tiang pintu itu dan bersedekap. Melihat Dinda yang berbicara sendiri, lalu berjalan lenggak lenggok membuatnya ingin tertawa,.


"Ini sungguh memalukan aku tidak mau di bilang menggoda, sebelum kak Rava datang aku harus melepasnya"ucap Dinda sambil bergerak ingin melepas bajunya.


"Kak Rava sejak kapan berada di situ"tanya Dinda sambil menahan kegugupannya lalu menutup dadanya menggunakan kedua tangannya.


"Sejak kau menari kesana-kesini. Kenapa di lepas, baju ini cocok untukmu.."ucap Rava sambil berjalan mendekat ke arah Dinda tidak lupa sebelumnya ia menutup pintu.


"Tapi aku merasa tidak nyaman memakai pakaian seperti ini"sahut Dinda sambil menahan kegugupannya. Saat ini Rava tengah berdiri di depannya hanya berjaarak beberapa centi saja.


"Kenapa? kau terlihat seksi memakai baju ini."Bisik Rava di telinga Dinda membuat Dinda merinding menahan nafas di setiap detak jantungnya.


"Aku akan menggantinya, kau istirahatlah dulu.."ucap Dinda sambil ingin berlalu ke kamar mandi . Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menghentikannya.


"Tidak usah, kau berniat untuk menghindariku bukan.."tanya Rava sambil kembali mendekat lalu menatap Dinda.


"Bukan, aku.. aku...._"ucapannya terhenti saat saat bibir Rava membungkam mulutnya dengan ciumannya. Awalnya ia berusaha menolak namun lambat laun ia mulai menikamatinya dan membalasnya.

__ADS_1


Rava pun menggiring Dinda untuk ke tempat tidur, lalu membaringkannya di bawa kungkungannya.


"em aku ingin meminta hak ku saat ini, bolehkah.."tanya Rava setelah menghentikan ciumanya.


"Tapi bagaimana dengan kesepakatan yang kau buat"tanya Dinda sambil mengatur nafasnya .


"Lupakanlah.. aku sudah tidak memperdulikannya.."ucap sebelum melanjutkan kegiatannya, tangannya sudah bergelya menyusup di bali baju yang Dinda kenakan. Memberi sentuhan-sentuhan lembut, membuat Dinda merasa seperti ada berjuta kupu-kupa yang menggelitik di dalam dirinya. Dengan sekali tarikan baju yang Dinda kenakan kini telaha lepas.


Entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos. Dinda mencengkram punggung Rava dengan kuat menggunakam kukunya.


"Auw....."jerit Rava


"Kenapa kau yang berteriak, aku yang kesakitan.."ucap Dinda


"Kenapa kau menggaruk punggungku menggunakan kukuku, kenapa tidak kau gunakan pisau saja.."sahut Rava


"kau tidak merasakannya, diamlah ini sungguh sakit.."sahut Dinda di sela-sela nafasnya.


"Aa.....kenapa kau mengigitku tanganku"tanya Rava


"Banyak bicara seperti perempuan saja, diamlah.."ucap Dinda


Mereka terus melanjutkan kegiatannya, sampai akhirnya keduanya sampai di puncak kenikmatannya.


Dinda yang lelah telah terlelap lebih dulu, Rava mengatur nafasnya sebelum akhirnya dirinya menyusul Dinda untuk terlelap.


.


.


.


.

__ADS_1


.bersambung...


__ADS_2