
Setelah semalam menginap di rumah mamanya, Dinda dan Rava paginya memutuskan untuk berangkat bekerja dari sana. Meski sempat terjadi tragedi tangis menangis Varen yang meminta untuk ikut Dinda. Bisa saja Dinda mengajaknya untuk ikut pulang, rasanya akan menyenangkan memang bermain dengan gadis kecil itu, namun mengingat hari ini Dinda ada jadwal praktik di rumah sakit maka ia tidak berani membawa Dinda.
"Kenapa Varen bisa begitu lengket denganmu,?"tanya Rava sambil mengemudikan mobilnya.
Dinda hanya menggeleng, "Entahlah, bisakah kau antar aku pulang ke rumah dulu, aku ingin mengambil mobilku" ucap Dinda
"Aku akan mengantarmu, nanti kalau sempat aku juga akan menjemputmu. Waktunya sudah mepet aku ada meeting pagi"tutur Rava
"Baiklah. Asal tidak merepotkanmu saja" sahut Dinda lirih
"Kenapa kau bicara seperti itu, kau istriku tentu saja tidak merepotkan."tutur Rava
********
"Tekanan jantung anda masih terlalu lemah pak, untuk sementara bapak masih perlu di rawat di sini. Jangan lupa obatnya di minum, lalu minumlah air putih sedikit-sedikit.." jelas Dinda yang setelah selesai memeriksa pasiennya.
"Terimakasih Dok.."sahut sang wanita paruh baya mungkin istrinya.
"Sama-sama itu sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya tinggal dulu."ucap Dinda pamit undur diri. Di ikuti sang asisten..
"Suster nanti tolong ganti infus bapak yang tadi ya.."ucap Dinda memberi perintah ke asisten nya.
"Baik Dok.."sahut sang asisten yang bernama Silma.
********
"Kenapa pekerjaannya banyak sekali. Bagaimana aku bisa menjemput Dinda nanti."ucap Rava yang kala itu sedang menatap tumpukan berkas begitu banyak.
"Sepertinya hubungan kalian ada kemajuan, sekarang sudah main antar jemput niye..."ledek Aldo
"Selalu mengganggu, biasaan masuk tanpa ketuk pintu dulu."sinis Rava pada Aldo
"Sorry ..."ucap Aldo sambil mendudukan dirinya di bangku depan Rava sambil cengengesan.
*********
aku tidak bisa menjemputmu, bisakah kau naik taksi saja~Rava mengirim pesan pada Dinda
iya~Dinda
Setelah mendapat pesan dari Rava, Dinda memutuskan untuk pulang naik taksi saja. Namun belum sempet Dinda keluar, tampak sebuah suara memanggil namanya. Dinda menoleh ke belakang.
"Alan..."ucap Dinda
"Hai, kau mau pulang. Suamimu tidak menjemputmu?"tanya Alan
"Tidak, ia sibuk..Kau sedang apa di sini" jawab Dinda
"Aku habis menjenguk temanku yang sakit, ayo ku antar sekalian . Aku juga mau pulang." ucap Alan
"Tidak terimakasih, aku akan naik taksi saja.."Ucap Dinda berusaha menolak ajakan Rava.
__ADS_1
"Kenapa begitu, kita ini temen bukan, ayolah..."ucap Alan sedikit memaksa.
"Baiklah..."akhirnya Dinda mengalah untuk ikut bersama Alan, rasanya ia memang sudah begitu lelah.
******
Setelah mobil Alan tiba di kediaman Rava dan Dinda. Dinda segera turun lalu masuk ke dalam rumahnya, tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Alan.
Alan yang kala itu ikut turun, setelah melihat Dinda masuk ke dalam rumah ia hendak masuk ke dalam mobilnya, namun belum sempet ia masuk sebuah pukulan mendarat di wajah Alan.
"Brengsek jadi selama ini kau masih selalu menganggu istriku"ucap Rava dengan emosi yang menggebu-gebu.
"sial, aku tidak mengganggunya aku hanya kebetulan bertemu dengannya lalu mengantarkan pulang."ucap Alan tak kalah emosi membalas pukulan Rava mengenai sudut bibirnya.
"Kau fikir aku bodoh, kau masih menginginkannya bukan. Aku tidak akan membiarkannya, jangan dekati istriku lagi"ucao Alan
"Heh, istri kau bilang. Kau yakin dia pantas di sebut istrimu,. Apa kau sudah membuatnya bahagia selama ini. Apa kau sudah memperlakukannya sebagai seorang istri. Kau fikir aku tidak tau selama ini kau selalu membuatnya terluka . Aku tau pernikahan kalian karena terpaksa, secara tidak sengaja kau yang merebutnya dariku . Aku memang masih mencintainya, kalau kau tidak mampu membuatnya bahagia, jangan salahkan aku jika aku merebutnya kembali"ucap Rava menepuk pundak Rava lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Rava yang tampak acak-acakan.
*********
Dinda yang kala itu telah selesai membersihkan diri beranjak keluar menuju dapur untuk membuatkan makan malam. Namun langkahnya terhenti mendapati pintu ruang depan terbuka menampilkan Rava yang berjalan masuk dengan baju juga rambut yang acak-acakan. Ia mengerutkan keningnya lalu menghampiri Rava.
"Kenapa kau begitu berantakan, lalu kenapa bibirmu berdarah ..."ucap Dinda dengan khawatir sambil memegang muka Rava. Namun bukan jawaban yang Dinda dapatkan, Rava justru menepis tangan Dinda lalu pergi ke kamarnya .
Dinda yang kala itu mau memasak mengurungkan niatnya untuk mengambil air hangat serta kotak p3k untuk mengobati luka Rava.
Setelah mendapatkan keduanya Dinda pu menuju kamar, sampai di kamar ia mendapati Rava tengah mencopot ikatan dasinya yang masih mengalung di lehernya.
"Duduklah aku akan mengobati lukamu"ucap Dinda. Rava menurut untuk duduk, segera Dinda mengambil handuk yang telah di celupkan ke air hangat lalu menempelkan ke sudut bibir Rava.
"Maaf..."ucap Rava setelah melepaskan ciuman tadi,
"Aku akan mengobati lukaku sendiri, pergilah ke dapur kau tadi akan memasak bukan" lanjutnya
"Baiklah.." Dinda pun keluar untuk memasak makan malam.
Setelah Dinda keluar Rava merutuki kebodohannya .
"Sial aku benar-benar tidak tahan melihat bibirnya, kalau saja tadi dia tidak kehabisan nafas, aku pasti sudah keterusan. Bahkan bibirku sedang terluka namun aku tidak merasakan sakit saat menciumnya. Aku harus segera mandi untuk meredakan gairah, ini membuatku frustasi..."ucap Rava sambil mengacak-acak rambutnya lalu berlalu pergi.
Sementara Rava mandi, Dinda memasak makanannya. Sepanjang memasak ia memikirkan ciumannya tadi bersama Rava, tiba-tiba wajahnya merah.
"Apa yang ku fikirkan, bodoh. Rasanya sangat berkesan.."ucap Dinda sambil mengiris bawang merah
"Apa yang berkesan"ucap Rava muncul di balakang Dinda, sontak Dinda kaget
"Auw.." jerit Dinda
"Kenapa? kenapa jarimu berdarah, bagaimana kau tidak bisa menjaga diri"ucap Rava memegang jari Dinda lalu membasuhnya dengan air mengalir.
"Obatilah lukamu, biarkan aku yang memasak"lanjut Rava
__ADS_1
"Tidak, biar aku saja. Kau juga sedang terluka"sahut Dinda
"Aku sudah sembuh, duduklah obati lukamu, biar aku yang memasak, aku tidak mau di bantah"ucal Rava
Akhirnya Dinda menurut mengobati lukanya dan hanya melihat Rava memasak, tampak ia memang sangat ahli.
******
"Bagaimana rasanya...?"ucap Rava setelah selesai makan malam bersama Dinda.
"Ini sangat enak, aku baru tau kau bisa masak. Aku bahkan tidak bisa memasak seenak ini"Ucap Dinda
"Jika nanti kau banyak belajar tentu saja bisa . Oh ya lusa aku akan mengunjungi panti tempat Luna dulu di besarkan, apa kau mau ikut"ucap Rava
Dinda terdiam untuk sesat berfikir,
"Baiklah aku akan ikut.."sahut Dinda akhirnya. Lalu ia berdiri hendak mencuci piringnya, namun di cegah oleh Rava.
"Biar aku yang membersihkannya, tanganmu sedang terluka jangan terkena air dulu"
ucap Rava
"Baiklah... Oh ya bagaimana Kak Rava bisa mendapat luka itu. Kau berantem dengan siapa?"tanya Dinda setelah duduk kembali
Aku tidak mungkin berkata sebenarnya, aku tidak ingin berantem lagi dengannya.
"Oh tadi di jalan saat aku sedang menyetir tiba-tiba ada kucing lewat makanya aku berhenti dadakan jadilah bibirju terluka membentur stir mobilku"ucap Rava dengan gugup
"Tapi ini seperti luka pukulan lho. Kau tidak bohong padaku kan" sahut Dinda
"Tentu saja tidak, oh ya kau pulang dengan siapa ?taksi kan.."tanya Rava mengalihkan perhatiannya .
"Oh tadi aku pulang sama Alan, kebetulan tadi ia habis menjenguk temannya yang sedang sakit di sana. Melihat aku hendak menunggu taksi ia mangajak aku untuk pulang bareng, kebetulan juga kan kita searah gitu"ucap Dinda dengan santai. Sejujurnya Rava sudah tau Dinda di antar Alan, ia hanya sedang mengetes kejujuran Dinda. Ternyata ia berkata jujur, ia fikir tadi Dinda akan berbohong dengan berkata dengan taksi. Melihat Rava hanya berdiam diri, Dinda berdiri hendak ke kamarnya.
"Dinda, apa kau masih mencintainya?"Ucap Rava menghentikan langkah Dinda.
"Apa kau akan meninggalkanku?"lanjutnya
Dinda hanya tersenyum getir, "Tidak, dia hanya masa laluku. Saat ini bagiku tetap sama dia adalah temanku. Aku mau istirahat"sahut Dinda meninggalkan Rava .
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung