Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Cerita lalu


__ADS_3

Rava terduduk lemah di tepi ranjang. Rambut berantakan dengan mata kuyu dan lelah. Ini sudah dua minggu ia sibuk mencari istrinya entah di mana. Sepertinya Dinda memang ahli dalam kabur-kaburan, ia sudah mencari ke setiap sudut kota Jakarta namun istrinya itu tidak juga di temukan. Ia juga menyuruh anai buahnya untuk membantunya mencari kesetiap sudut daerah namun hasilnya tetap sama. Dari semenjak pergi handphone Dinda juga sudah tidak aktif sama sekali sampai detik ini.


Rava berdiri mengamati foto istrinya. Rasa rindu menyeruak di dadanya. Semenjak Dinda pergi pun ia tidak makan dengan teratur, pekerjaan kantor juga terbengkalai. Untungnya Aldo dengan sigap menggantikan pekerjaan Rava sementara.


"Kamu di mana, kenapa kau ahli dalam kabur-kaburan, ah sepertinya kau ingin menghukumku lebih lama dengan rasa penyesalan ini."ucapnya sambil menatap foto istrinya itu.


Tadi siang pun ia juga mendatangi kantor Alan, ia berfikir Alan akan tau saat Dinda oergi seperti sebelum-belumnya nyatanya tidak, ia justru kembali mendapatkan kenyataan yang membuat ia kaget. Ia menyesal selama ini ia telah menyia-nyiakan Dinda, ia berjanji jika ia bertemu dengan Dinda tidak akan ia lepaskan wanita itu. Akan ia jaga juga cintai dengan sepenuh hati.


"Wah sungguh suatu kehormatan seorang Ceo terpandang dari perusahaan Nugraha mau berkunjung ke kantor saya, ada apa ini tuan Rava?"tanya Alan saat itu setelah keduanya duduk di sofa ruang kerja Alan.


"Em Dinda pergi. Apa kau tau di mana dia? maksudnya apa kau tau biasa tempat dimana dia biasa menyendiri?"tanya Rava membuat Alan kaget.


"Semenjak saat kau mengatakan untuk tak menganggunya lagi, sejak saat itu pula aku tidak pernah menampakkan wajahku di hadapannya juga Rava. Aku sudah menuruti keinginanmu itu, karena aku tau Dinda telah bahagia bersamamu. Ah nyatanya kau membuatnya pergi bagaimana ceritanya? ceritalah kita bisa berbicara layaknya seorang teman."sahut Alan


Kemudian Rava menceritakan kesalahpahaman yang terjadi, Alan menghela nafasnya sebelum kemudian menanggapi cerita Rava.


"Kau ingat dulu saat Dinda pergi ke Paris"tanya Alan Rava hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ah kau bahkan mungkin tidak tau ia pergi saat itu bukan atas kemauannya melainkan atas permintaan mendiang istrimu Luna"ucapnya yang membuat Rava terlonjak kaget.


"Aku tau kau pasti terkejut, tapi aku harus mengatakan segalanya mungkin agar kau lebih mengerti Dinda yang sebenarnya. Meski sejujurnya Dinda melarang keras untuk aku mengatakan hal ini, tapi mulutku sudah tidak tahan untuk berbicara mengenai hal ini." Alan menghela nafasnya mengingat hal dulu.


"Dalam hal ini aku tidak menyalahkan Luna, aku tau saat itu ia ingin memilikimu seutuhnya, mungkin melihat kedekatakn antara kau dan Dinda membuat ia cemburu untuk itu ia meminta Dinda pergi dari kehidupanmu. Kau tau sebenarnya dari sebelum Dinda pergi ke paris ia sudah memiliki perasaan yang lebih padamu, dan Luna bisa tau makanya sebelum kau mengetahui hal itu ia meminta Dinda pergi. Dan sialnya Dinda menurutu kemauan mendiang istrimu itu. Yah, Dinda memang sudah sejak lama mencintaimu, meski saat itu ia pindah ke Paris nyatanya di sana ia tetap tidak bisa melupakanmu"ucap Alan


Mata Rava tampak berkaca-kaca mendengar penuturan Alan, pantas saja Alan kerap berkata jika Rava telah banyak melukai Dinda.


"Tapi akhirnya ia bisa menjalin hubungan denganmu"sahut Rava


"Setelah pernikahan kalian aku fikir kau akan memperlakukan Dinda dengan kayaknya seorang istri, nyatanya aku salah kau bahkan menganggapnya seorang asing bukan. Kau selalu berakata padanya kau sangat mencintai Luna. Rasanya saat aku mendengarnya aku ingin memukulmu, hingga pada akhirnya aku menawarkan bantuan untuknya pergi dari kehidupanmu dan menyerah, ah sayangnya saat itu ia bilang jika ia masih mampu kuat dan yakin jika ia bisa mendapatkan cintamu, sekaran aku tau mengapa Dinda pergi itu artikya ia sudah lelah dan menyerah Va"lanjut Alan


Rava mengusap matanya yang sudah tampak mengeluarkan air matanya, ia tidak menyangka ternyata cinta Dinda lebih besar dari apapun, ia tidak tau penderitaan Dinda selama ini.


"Jika begitu, kali ini aku yang akan berjuang untuknya"ucap Rava sambil berdiri.


"itu yang aku tunggu darimu, semoga berhasil. Maaf aku tidak dapat membantumu,"ucap Alan

__ADS_1


"Tidak apa, dengan ceritamu tadi itu sudah cukup membantuku"sahut Rava


Setelah Rava pergi masuklah Vriska yang sejak tadi memang sudah berdiri di depan ruangan Alan. Ia datang lalu memeluk Alan.


"Maafkan aku telah selalu salah paham padamu, aku tidak tau ternyata pengorbananmu sungguh besar, kau pasti sangat menderita saat itu harus merelakan orang yang sangat kau cintai"ucap Vriska seraya membenamkan wajahnya di dada tunangannya. Alan mengerutkan keningnya berarti sejak tadi Vriska mendengar ucapannya.


"Tidak apa-apa, sekarang aku sudah lebih tenang telah menceritakan segalanya padanya, aku yakin sebentar lagi Dinda akan bahagia. Dan akupun juga harus bahagia bukan"ucapnya sambil mengecup puncak kepala Vriska.


.


.


.


.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2