
SD Negeri YKK
Bell tanda istirahat berbunyi anak-anak berhamburan keluar dari kelas , tidak terkecuali Nanda dan Nada.
"Nada, aku ke toilet sebentar ya. Kau tunggulah di sini..."titah Nanda sebelum ia berlalu pergi.
Nada hanya menganggukan kepalanya, karena saat ini ia sedang memakan permen lolipopnya. Sampai ada sebuah suara yang membuat ia geram.
"Dasar si gendut suka makan, lihatlah badanmu bahkan dangat bengkak.."ejek Tristan lalu di sahut gelak tawa teman-temannya.
Tanpa sadar Nada melihat bentuk tubuhnya sendiri, sebenarnya ia tidak gendut hanya saja terlihat berisi karena memang Mami dan Papinya tidak pernah membatasi ia makan.
Nada tersenyum sinis ke arah Tristan, "Dari pada kau punya badan krempeng kaya tidak pernah di kasih makan, memalukan.."cebik Nada
"Kau...."tunjuk Tristan
"Apa..."Nada melototkan matanya menantang Tristan.
Merasa males menanggapi ucapan Nada, Tristan dan teman-temannya hendak berlalu meninggalkan Nada, namun saat ia melangkah Nada menjahilinya hingga Tristan tersandung kakinya lalu terjatuh.
Bruk..
Tristas merasa emosi, semua anak-anak yang melihatnya menertawakannya.
Tangan Tristan mengepal, ia bangkit lalu menatap tajam Nada.
"Sorry aku tidak sengaja.."cetus Nada
Tristan melangkah maju menghampiri Nada, "Cih katakan sekali lagi jika kau tidak sengaja.."ucap Tristan dengan Nada tinggi.
"Aku.. aku...."Nada gugup saat menatap manik mata hitam milik Tristan yang penuh emosi.
Dengan sekali dorongan Tristan mendorong Nada hingga jatuh, "aww.. Mami sakit..."ringis Nada saat pantatnya menyentuh lantai.
Sedangkan Tristan tersenyum penuh kemenangan, teman-temannya tidak ada yang berani melerai keduanya.
Nada bangkit dari tempatnya, lalu memukul Tristan dengan tangannya, "Aku membencimu.."
ucap Nada
Ini bukan hanya sekali Tristan meledeknya bahkan hampir setiap hari, semua teman-temannya tau jika Nada dan Tristan itu ibaratkan Air dan minyak yang tak dapat bersatu.
"Aku juga membencimu.."Sahut Tristan tak mau kalah. Melangkah maju kembali mendorong Nada, hingga terjadilah aksi dorong mendorong.
"Ada apa ini...?"tanya Bu Ika salah satu guru di situ.
"itu bu, biasa Nada dan Nanda berkalahi lagi.."salah satu murib menjawab pertanyaan Bu Ika.
Bu Ika berjalan maju membelah kerumunan yang ada.
"Berhenti.."
"Apa yang kalian lakukan, Nada Tristan kenapa kalian tidak henti-hentinya bikin ulah setiap hari kalian selalu bikin ulah.."gertak Bu Ika
"Ibu akan memanggil wali kalian..."sambungnya
"Ibu jangan..."ucap keduanya.
"Dia yang memulai duluan bu, dia mengejek jika aku gendut aku tidak terima.."ucap Nada
"Memang kau gendut, aku berkata jujur kenapa kau marah.."bantah Tristan
"Diam... kalian berdua sama-sama salah.."
Bersamaan dengan itu Nanda dan Davis tiba, Nanda dan Nada saat ini baru memasuki kelas satu, sedangkan Davis sudah duduk di kelas lima, Rena sang adik Davis kelas dua, namun hari ini ia sedang tidak masuk sekolah karena ia sedang sakit. Berbeda dengan anak-anak Dinda dan Alan, Nadila sang anak dari Disty dan Dika menempati sekolah yang berbeda dari mereka.
"Ada apa ini...?"tanya Nanda
Matanya membulat sempurna saat melihat penampilan Nada yang begitu berantakan, rambut yang tadinya di kuncir kuda pun sudah terlepas, Nanda lalu melihat Tristan yang sama tak kalah berantakannya.
"Kau apakan adikku.."Nanda yang merasa tidak terima atas kelakuan Tristan pada adiknya pun hendak maju menyerang Tristan.
"Nanda, jangan menambahi masalah. Atau kau juga akan tertimpa masalah, Ibu akan memanggil wali kalian.. "
"Tapi bu dia sudah kurang ajar pada adikku.."bantah Nanda
Davis mengehela nafasnya seraya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nada dan Tristan yang selalu saja berantem setiap harinya, padahal Davis sudah mengatakan untuk tidak menanggapi segala ocehan Tristan, namun Nada sepertinya tidak mendengarkannya.
πππ
__ADS_1
Vriska tiba di sekolah Nada dan Nanda setelah mendapatkan telpon dari kepala sekolah.
"Apalagi yang anak-anak perbuat.."ucapnya pada diri sendiri. Setelah memarkirkan mobilanya Vriska berjalan masuk menuju ruang kepala sekolah.
"Ibu Vriska ya, sudah di tunggu di dalam. Masuk saja.."ucap salah sati gurudi situ.
Vriska menganggukan kepalanya, setelah mengetuk pintu Vriska masuk. Terlihat di sana ada Nada dan seorang anak laki-laki seumuran Nada. Namun yang membuat ia terkejut bukan anak laki-laki itu, tapi ibu dari anak itu.
"Kau kan..."tunjuk Vriska.
"Kau jadi dia putrimu, pantas kelakuannya sama seperti maminya.."ucap Sera,
"Hei putriku tidak akan melakukan sesuatu jika memang putramu tidak mendahului, "bantah Vriska.
Mereka terus berdebat hingga mereka lupa jika mereka sedang berada dalam ruangan kepala sekolah. Seolah dendam masa lalu keduanya belum terbalaskan. Tristan dan Nada saling pandang bingung akan perdebatan orang tuanya.
"Ibu mohon tenanglah mari duduk kita bisa bicarakan baik-baik.."ucap kepala sekolah.
"Tidak..."seru keduanya.
"Aku ingin Bapak memberikan putranya itu pelajaran, aku yakin putriku tidak bersalah.."ucap Vriska
"Hei enak saja, putraku yang tidak bersalah lihatlah lutut putraku sampai berdarah.."bantah Sera
Pak kepala sekolah tampak pusing mendengarkan perdebatan keduanya, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi suami masing-masing.
πππ
Alan tiba di sekolah Nada dan Nanda setelah mendapatkan telpon dari kepala sekolah anaknya. Bersamaan dengan hal itu Candra pun tiba sekolah.
"Lho Candra.."ucap Alan
"Eh Alan..."sahutnya
"Ada apa kau kesini juga tampak erburu-buru.."tanya Alan
"Putraku membuat masalah di sekolah ia berantem dengan temannya dan aku menyuruh mamanya untuk datang, namun bukannya masalah selesai ia malah berantem dengan mama dari temannya itu.."ucap Candra
"Kok bisa sama sih.."ucap Alan
"Jangan-jangan..."ucap keduanya bebarengan
Keduanya terlonjak kaget melihat ruangan itu berantakan, tampak kepala sekolah yang sedang meringis kesakitan.
Pandangannya tertuju pada Vriska dan Sera yang masih tampak asik jambak-jambakan.
Nada dan Tristan malah bertepuk tangan seolah saling mendukung mamanya masing-masing.
"Mami ayo hajar terus..."
"Mama ayo semangat ayo..."
Tanpa pikir panjang Alan dan Candra langsung masuk melerai keduanya.
"Sudah cukup, apa yang kau lakukan Vriska..."ucap Alan setelah berhasil melerai keduanya.
"Kenapa sih Sera selalu saja begini, memangnya kau tidak malu ini tempat sekolah bukan untuk berantem, kau datang kesini untuk menyelasaikan masalah putramu bukan malah menambah masalah seperti ini.."ucap Candra
"Tapi Pa, dia dulu yang mancing emosiku.."sangkal Sera
"Enak saja, dasar tidak mau ngaku bersalah.."Vriska berusaha maju ingin menyerang Sera.
"Vriska cukup..."ucap Alan berusaha untuk meredam emosinya mengingat saat ini ia sedang di sekolah putranya.
"Sudahlah Pak mendingan kalian bawa istri dan anak kalian pulang, saya sudah pusing mendengar perdebatan meraka. Soal Nada dan Tristan nanti akan saya pikirkan hukuman apa yang akan saya berikan. Lain kali jika ada ap-apa tentang putra putri kalian, mohon Bapaknya saja yang datang, saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi.."tutur Kepala sekolah.
"Baiklah Pak. Kami mohon maaf pak atas kejadian ini,"ucap Alan, di susul oleh Candra.
πππ
"Mobilku gimana..."ucap Vriska.
"Masuk, aku akan menyuruh sopir untuk mengambilnya nanti. Nada dan Nanda ayo masuk nak.."ucap Alan dengan datar,
Vriska hanya menurut, ia mengerti saat ini suaminya itu pasti tengah menahan emosinya. Nada dan Nanda duduk di belakang, Vriska duduk di samping Alan. Sepanjang jalan Alan hanya terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Vriska menjadi takut.
"Mami seperti anak kecil saja berantem..."ucap Nanda
Saat Vriska hendak membuka mulutnya, "Nanda diamlah, jangan membuat papi marah.."ucap Alan
__ADS_1
Tanpa sadar Nanda menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di rumahnya.
"Nanda, Nada gantilah baju kalian setelah itu minta makanlah dengan Bibi. Jangan ganggu Papi dan Mami oke.."titah Alan
"Baik Papi.." seru keduanya kemudian ia berlalu pergi.
Alan menatap tajam Vriska, kemudian mencengkram erat tangan Vriska sambil berjalan.
"Hubby lepas,.."
"Tidak, aku harus memberi pelajaran padamu.."
"Tapi hubby, anak-anak..." Vriska berusaha mencari alasan.
"Aku sudah menitipkannya pada bibi, jadi sekarang kau tidak bisa mencari alasan lagi.."ucap Alan sambil terus membawa Vriska masuk ke kamar lalu menguncinya.
Merasa gerah Alan menarik dasinya, lalu membuka bajunya, hingga kini ia sudah tidak memakai bajunya.
"Hubby kau mau apa..."ucap Vriska
"Menurutmu aku mau apa..."tanya balik Alan
"Ke.. kenapa tidak pakai bajumu..."ucap Vriska.
"Aku tidak perlu pakai baju..."
Mata Vriska membulat sempurna, apalagi melihat tatapan amarah Alan. Tanpa sadar ia manarik selimutnya lalu menggulung dirinya.
Alan mengernyit heran, mendekat ke arah Vriska lalu menarik selimutnya. "Kenapa menutup dirimu dengan selimut, bangum celat ambilka aku baju.."
"Jadi.."
"Apa yang kau fikirkan... Kau berfikir mesum ya.."tebak Alan
"Mana mungkin.."Vriska langsung bangkit memgambil pakaian untuk Alan.
Setelahnya ia kembali duduk di ranjang Alan pun menyusulnya.
"Istriku ternyata mau jadi jagoan rupanya..."
"aku tidak akan melakukan hal itu jika ia tidak memancingku.."bantah Vriska
Alan memijat pelipisnya, lalu menggelengkan kepalanya, "Jangan seperti itu Vriska itu tidak baim di contoh oleh anak-anak kita. Apalagi itu di sekolah. Kau datang harusnya menyelasikan masalah mereka bukan menambah masalah. Kalau salah satu di antara kau ataupun Sera tidak mengalah pertemuan berikutnya pun pasti akan terjadi hal yang sama."
"Kau tau tadi aku sedang melakukan meeting dengan klien ku, tiba-tiba kepala sekolah Nada menelpon kau berantem di sekolah putrimu, tanpa pikir panjang aku langsung membatalkan meeting itu"
Vriska menunduk terdiam, berusaha mencerna ucapan Alan, "Maaf..."serunya
Alan menghela nafasnya, "Jangan di ulangi lagi. Istriku pintar, pasti bisa membedakan mana yang benar dan salah."
Vriska mengangguk, Alan tersenyum lalu mengelus pipi Vriska.
"Ya sudah aku lelah, temani aku istirahat..."ucap Alan membaringkan dirinya di sebelah Vriska.
"Tapi..."
"Aku tidak mau di bantah, kau yang membuat aku pulang cepat. Jadi sekarang kau harus menemaniku.."Alan langsung menarik Vriska ke dalam pelukannya.
"Hanya menemani tidur kan..."tanya Vriska.
"Lebih juga boleh... Memangnya ada larangannya..."
"Tidak bisa.. aku sedang kedatangan tamu bulanan..."
"what...?"
"Jadi aku puasa ini.. yah gagal lagi deh membaut adik untuk si kembar..."ucap Alan dengan lirih.
"Memangnya kau sudah pengen anak lagi.."tanya Vriska.
"heem.."
"Sudah ayo tidurlah..."Alan kembali memeluk Vriska, tidak lama keduanya tertidur lelap.
πππ
ππJangan lupa like komen hadiahnya..ππ
__ADS_1