Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Maafkan aku


__ADS_3

Dinda pov


Malam ini sulit sekali aku memejamkan mataku, rasanya aku terus kepikiran soal pembicaraan Kak Rava ke orang tuaku. Apa-apaan kenapa ia harus memutuskan menikah denganku, aku tidak bisa membayangkan hidup berumah tangga dengan manusia macam dia orangnya ketus dingin begitu.


Memang dulu aku mencintainya, tapi itu dulu. Kalau sekarang... ah aku tidak tau sungguh pusing. Bagaimana caranya aku membatalkan pernikahan itu. Apa aku meminta bantuan Alan ya.


Tidak.. aku lupa aku sudah putus dengan dia. Sepi ya sungguh sepi, biasanya Alan akan menelponku berbicara panjang lebar. Apa ini rasa rindu apa kehilangan.


Tanpa ku sadari tanganku bergerak meraih handphoneku yang di atas nakas, lalu aku memencet nomor Alan.


Tut... tut.. tut.. bunyi sambungan panggilan di telpon.


"Hallo, ini siapa ya..." ucap seorang perempuan di balik telpon dengan suara lembut.


Deg.. kenapa suara perempuan. Tanpa ku sapa balik aku buru-buru mematikan telponku. Tanpa ku sadari air mata menangis, kenapa? bukankah selama ini aku telah banyak menyakitinya. Biarkan saja dia move on bukan. Dia pantas mendapatkan lebih baik.


*****


Di sebuah restaurant.


"Kau sudah selesai.." tanya seorang perempuan dengan nada lembut .


"Iya.. maaf lama.." ucap Alan


"its okey no problem, oh ya maaf tadi handphone mu bunyi aku terpaksa mengangkat. Tapi tidak ada jawaban sama sekali, coba kau priksa siapa tau itu penting."ucap Vriska


Segera Alan memeriksa hp nya, matanya langsung membulat.

__ADS_1


Dinda.. ucapnya dalam hati


Vriska terus memperhatikan wajah Alan apalagi ia tampak terkejut, padahal tadi nomor itu tanpa nama. Mungkin Alan telah menghapus nomor Dinda.


"Kenapa? apakah itu kekasihmu."tanya Vriska


"tidak.. bukan apa-apa. Oh ya sebaiknya aku antar kau pulang, ini sudah terlalu malam. Aku merasa tidak enak dengan Om Pram telah membawa putrinya pulang hingga malam."ucap Alan sambil beridiri di iringi Vriska.


"Oh ayolah kenapa kau tampak gugup begitu. Biasa aja... Aku tau kita memang sudah di jodohkan tapi bisakah kita saling mengenal dulu setidaknya memulai dari pertemanan. Ini pertama kalinya kita kencan, baru pukul delapan tapi kau bilang sudah terlalu malam, kau tau pekerjaanku bukan seoranh model aku juga terbiasa pulang lebih dari jam segini papaku tidak mempermasalahkannya."jawab Vriska


"Iya aku tau, tapi bisakah kita atur waktu lain kali lagi.."ucap Alan


"baiklah..."jawab Vriska menganggukan kepalanya.


************


Hari ini aku mengajak Vriska jalan-jalan ya sepertinya layaknya kekasih yang sedang kencan. Bisa di bilang mungkin aku di paksa kencan. Miris bukan ragaku bersama Vriska namun hatiku tetap bersama Dinda.


Vriska gadis yang baik juga tidak kalah cantik dari Dinda sebenarnya, pikiranku menerawang percakapan antara aku dan papaku kala itu.


"Alan, sebenarnya papa dan mama sudah menjodohkan kamu dengan anak teman papa, yah papa tau kau sudah punya Dinda. Awalnya papa juga berniat membatalkan perjodohan ini, tapi mengingat perusahaan kita sedang dalam keadaan krisis bisakah kali ini kau menolong papa nak, hanya teman papa yanh bisa bantu papa nak, tapi dengan syarat kau harus menerima perjodohan ini. Sejujurnya papa tidak mau memaksa kamu , papa tau kau sangat mencintai Dinda, meski kau tau rumor yang beredar tentang Dinda dan Rava . Sebenarnya papa tidak mempermasalahkan itu nak, hanya saja papa tau keadaan orang tua Dinda juga pasti sedang di rundung masalah. Bisakah kau memilih meninggalkan Dinda, lalu membantu papa nak. Papa tau papa egois, tapi papa sudah tidak bisa berbuat apa-apa . Papa memikirkan juga nasib banyaknya karyawan papa. Papa mohon nak bantu papa..."ucap Brawijaya dengan penuh permohonan


Lalu setelahnya aku terpaksa menyetujui permintaan papa. Keesokannya terjadilah pertemuan antara keluargaku juga teman papa. Kami saling berkenalan, ya dia memang cantik Vriska Ayu Pramantyo namanya, ya memang cantik mengingat pekerjaan dia juga seorang model.


Jika dulu sebelum mengenal Dinda jiwa playboy ku mungkin akan sangat senang bisa dekat dengan gadis secantik Vriska, tapi sekarang aku justru merasa aneh.


Sejujurnya aku terpaksa putus dengan Dinda, aku juga telah mengahpus kontak nomor handphone Dinda. Ku fikir hubungan kami sudah berakhir, lalu tiba-tiba tadi dia menghubungku ada apa sebenarnya.

__ADS_1


Setelah mengantar Vriska pulang aku bergegas pulang, kebetulan arah rumahku searah dengan rumah Dinda. Setelah sampai di depan rumah Dinda aku sengaja memperlambat laju mobilku dan berhenti, aku berusaha melihat Dinda, sungguh aku sangat merindukannya. Tidak apa-apa hanya sekedar melihat, Tuhan bisakah kau mengabulkan permintaanku.


Ya ternyata memang Tuhan begitu baik , aku melihat Dinda sedang berdiri di atas balkon kamarnya. Dia terlihat begitu frustasi, ada apa? apa ada yang menganggu fikirannya? .


Setelah 15 menit berlalu aku memilih untuk pulang. Setelah sampai rumah aku pergi ke kamarku.


Aku membolak-balikkan hp ku.. Ingin aku menghubungi Dinda. Tapi aku mengurungkan niatku. Aku tidak mau menggoyahkan niatku. Tidak apa-apa aku mengorbankan cintaku,demi orang tuaku juga nasib karyawan papaku.


Selama ini papa tidak pernah meminta apa-apa padaku, ya karena aku memang anak laki-laki satu-satunya. Maafkan aku Dinda aku tidak bisa memperjuangkan kamu lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2