
Matahari mulai terbenam namun Rava masih menyibukkan diri di kantor, semenjak kejadian tempo hari di hotel ia merasa males pulang ke rumah. Apalagi mamanya sampai saat ini belum mau berbicara padanya.
Berat, ya sungguh berat. Tidak pernah mamanya mendiamkannya selama itu, biasanya mamanya hanya akan marah sebentar tapi kali ini mamanya benar-benar membuktikannya.
Apalagi memang berita kejadian itu masih menjadi trending topik, beruntung Aldo dengan sigap bisa mengatasi permasalahan itu.
"Kau belum pulang Va.."tanya Aldo setelah membuka pintu masuk ruangan Rava. Ini memang sudah jam di luar kantor, Rava memang meminta Aldo untuk tak menggunakan panggilan formal ketika di luar jam kantor.
"Aku pusing. Kepalaku rasanya benar-benar pecah, bahkan aku hampir tak bisa berfikir apa-apa. Aku harus gimana.."ucap Rava sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Aldo mendudukan dirinya di depan Rava. "Kenapa kau begitu ribet, ayolah kau hanya perlu menyetujui kemauan orang tuamu, menikahi Dinda, bukankah tidak terlalu sulit, dia cantik, pintar . Setelah itu segala permasalahan beres bukan." saran Aldo sambil tersenyum mencoba menghibur Rava.
"Aku.. aku tidak bisa menikahi Dinda. Kau tau dia sudah mempunyai kekasih.."sahut Rava
"Jadi kalau dia belum mempunyai kekasih kau mau menikahinya"tanya Aldo dengan tatapan menyelidik.
"Tidak.. sejujurnya aku masih belum bisa menggantikan posisi Luna dengan wanita lain al. Terlebih lagi aku juga tidak ingin memisahkan Dinda dengan kekasihnya itu. Tapi aku harus gimana bahkan sampai detik ini papa dan mama masih marah padaku. Mereka benar-benar membuktikan ucapannya itu."ucap Rava
"Tidak salahnya kau menerima permintaan orang tuamu. Kau tau takdir jodoh seseorang tidak tau. Dulu kau menolak perjodohan dengan Dinda, kau menolaknya namun siapa sangka kalian di persatukan dengan cara seperti ini. Masalah Alan kau bisa bicarakan baik-baik, meski aku yakin memang tidak mudah untuk Alan melepas Dinda begitu saja. Tidak apa bukan yang terpenting kau menikahinya dulu." saran Aldo.. "Aku harus pulang dulu.." lanjut Aldo
Rava hanya terdiam .
******
__ADS_1
"Dinda bisa kita bicara sebentar.."ucap Alan setelah melihat Dinda hendak membuka mobilnya.
"Alan .. aku...em baiklah kita duduk di kursi taman rumah sakit ini saja."jawab Dinda
Setelah sampai di kursi taman, mereka duduk.
"Apa yang terjadi sebenarnya..?" tanya Alan
"Maksudnya..?"tanya Dinda balik yang masih tidak mengerti maksud Alan.
"Maksudku , bagaimana bisa ada berita tentang dirimu juga Rava yang memasuki kamar hotel hanya berdua."tanya Alan dengan tatapan tajam, tidak bisa di pungkiri saat ini dia begitu marah pada Dinda, namun sebisa mungkin ia menahannya.
"Aku.. aku tidak tau. Aku mabuk saat itu. Tapi aku yakin Kak Rava tidak melakukan apapun padaku."jawab Dinda dengan gemetar. Tidak bisa di pungkiri ia merasa takut Alan tidak akan mempercayainya sama halnya dengan keluarganya saat ini. Apalagi sampai saat ini masalah itu belum menemukan titik terangnya.
"Bagaimana kau bisa yakin Rava tidak melakukan apapun padamu, kalian hanya berdua di kamar itu. Apalagi kondisimu apa tadi ... mabuk. Dinda sungguh sulit aku mempercayainya, aku bahkan sudah bertanya pada kakakmu dia bilang saat itu melihat kondisi Rava dengan telanjang dada. Dinda kalau memang kau masih mencintainya katakan padaku tidak perlu kau menyakitiku dengan cara murahan seperti ini, aku akan belajar rela melepasmu padanya. Kau tega kenapa kau selalu membuat hatiku sakit, "ucap Alan dengan tegas tidak kalah nadanya juga meninggi.
Apa katanya tadi cara murahan. Kenapa dia juga tidak mempercayaiku, tanpa terasa air mata Dinda menetes.
"Maafkan aku.. iya aku yang salah. Maaf aku telah banyak menyakitimu. Kau benar selama ini aku selalu menyakitiku. Baiklah kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini, aku tidak mau menambahi beban juga luka dengan permasalahanku ini. Aku pergi.."ucap Dinda seraya berlalu pergi.
Sakit.. rasanya begitu sesak. Aku fikir ia satu-satunya orang yang akan percaya padaku, namun ternyata detik itu juga ia membuatku sadar akan arti hubungan kami selama ini. Jujur aku sudah mulai nyaman dengannya merasa di lindungi, aku juga mulai merasa gelisah bila ia tidak memberi kabar untukku. Tidak aku tidak mau terus menyakitinya. Dia pantas mendapat wanita yang baik-baik, tidak denganku yang namanya saja sudah di cap buruk.
******
__ADS_1
Alan pov
Aku menatap matanya yang saat ini terus menundukan pandangannya, kenapa aku merasa ia takut padaku.
Perlahan aku bertanya padanya bagaimana kejadiannya. Sebisa mungkin aku mengontrol emosiku. Namun, lama-lama aku tidak bisa meninggikan suaraku, emosiku seperti meledak-ledak ketika mengingat foto-foto itu, foto di mana Rava merangkul Dinda, juga membawanya masuk ke hotel, sungguh aku tidak bisa berfikir jernih, tanpa ku sadari aku mengatakan unek-unek yang selama ini aku simpan rapat-rapat.
Rasa sakit yang selama ini aku simpan, bahkan aku mengucap kata cara murahan, itu sama saja aku tidak mempercayainya bukan. Aku melihat ia menangis sungguh aku ingin merengkuh tubuhnya itu ke dalam pelukanku.
Tidak aku tidak bisa melakukan itu, aku harus melepasnya, aku tidak bisa mengikat ia terus menerus untuk apa bertahan tanpa mencintaiku. Aku yakin Rava akan bertanggung jawab aku melihat ada setitik Raba untuk Dinda.
Dengan kejadian ini aku menyadari, aku telah menikmati karmaku selama ini. Disty apa kau bahagia melihat aku menderita seperti ini.. Inikah sumpahmu..
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...