Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Fikiran yang konyol


__ADS_3

Alan menunggu sambil mondar-mandir di depan ruang UGD, dengan rasa takut cemas menjadi satu. Ia berharap Vriska baik-baik saja sunggguh ia tidak akan sanggup untuk kehilangan istrinya.


Ingin sekali Alan mendobrak pintu itu sekarang juga yang sampai saat ini belum terbuka.


"Kenapa Dika begitu lama, bagaimana keadaan istriku"ucapnya,


Pintu ruangan terbuka terlihat Dika dengan wajah lesu.


Deg.. melihat perubahan wajah Dika, Alan menelan salivanya kasar mendadak ia merasa akan berhenti bernafas. Tidak mau terlalu berifikir buruk, Alan mendekati Dika dan mulai mencecar berbagai pertanyaan.


"Bagaimana keadaan istriku Dika? katakan dia baik-baik saja kan. Lukanya tidak serius bukan."tanya Alan, namun Dika masih terdiam.


"Cepat katakan kenapa kau hanya diam saja"Alan sudah tampak emosi, matanya sudah memerah sedari tadi ia menahan air matanya.


"Bagaimana aku akan menjawabnya kau bahkan bertanya sudah seperti seorang reporter"sahutnya.


" Untung saja kita tidak terlambat membawanya ke rumah sakit jadi ia bisa segera di tangani, selain karena ia mengekuarkan darah yang terlalu banyak, ia juga mengalami dehidrasi. Aku berfikir apa dia tidak pernah makan atau minum, tubuhnya seperti tidak pernah terisi asupan makanan apapun"sambung Dika


Alan terdiam sesaat sebelum menjawab ucapan Dika, "Sejak kejadian itu dia memang sangat susah makan, dia sering mengurung diri di kamar. Aku bahkan sampai bingung harus membujuknya dengan cara apa Dika, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri."


Dika mengangguk mengerti, "Tapi tenanglah istrimu baik-baik saja, lukanya tidak terlalu serius. Saat nanti sudah membaik kau bisa membawanya pulang. Alan, tolong jangan biarkan istrimu sendiri atau kejadian seperti ini akan terulang lagi . Jauhkan benda-benda tajam yang bisa membuat ia kembali melukai dirinya sendiri. Sementara aku akan meresepkan obat penenang untuk istrimu, pastikan ia meminumnya, saat kondisinya sudah membaik obat itu sudah tidak di perbolehkan lagi. Aku hanya takut istrimu kembali melakukan hal konyol lainnya"


"Aku mengerti, bolehkah aku menengok dia "ucap Alan dengan khawatir.


Dika mengangguk, "Tentu, tapi sebelum itu ada satu hal yang ingin ku sarankan padamu"


"Apa?"


"Aku fikir istrimu mengalami tekanan mental yang begitu kuat, saranku setelah kondisi ia membaik, ajaklah ia liburan. Agar ia bisa mengganti kenangan buruknya dengan kenangan yang manis"ucap Dika


"Akan ku fikirkan, terimakasih"sahut Alan sebelum masuk ke ruangan.


Sementara Dika yang masih di luar, "Ya ampun aku meninggalkan istriku"Dika menepuk keningnya sendiri.


Saat ia ingin berlalu pergi Dika melihat kedatangan istrinya beserta Mama Merlyn, dan Iva sekretaris Alan.


"Aku baru ingin menyusulmu"ucap Dika


"Tidak masalah aku kesini sekalian bareng sama Iva. Bagaimana keadaan Vriska"tanya Disty pada suaminya


"Ya nak Dika bagaimana, dia baik-baik saja bukan"sambung Mama Merlyn


Sementara Iva sendiri hanya menunggu jawaban dari suami Disty itu dengan cemas, Iva berharap kondisi istri atasannya itu juga baik-baik saja, ia cukup mengenal baik Vriska.


"Jangan khawatir dia baik-baik saja, saat ini di dalam sedang ada Alan, jadi jangan ganggu dia. Kau bisa menengoknya nanti saat Vriska sudah di pindah ke ruang perawatan"ucap Dika


Ketiga orang itu bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan Dika.


"Tante, Nona Disty , Nyonya saya pamit dulu mau balik ke kantor, saya masih ada kerjaan. Nanti saya luangkan waktu untuk menjenguk Nona Vriska"pamit Iva dengan senyum ramahnya.


"Iya, terimakasih ya nak sudah mengantar kami, kau hati-hatilah di jalan"seru Mama Merlyn

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Alan mendekati ranjang di mana Vriska terbaring lemah, ekor matanya bergerak menyapu kondisi tubuh istrinya. Di sebelah kanan tangannya masih tertancap jarum insfus, sedang sebelah kiri tampak pergelangan tangannya di perban.


Perlahan tangan Alan bergerak untuk menyapu rambut yang menghalangi wajah istrinya, dengan tangan gemetar ia mulai membelai wajah pucat sang istri. Matanya sudah memerah kali ini pastikan ia akan menangis.


"Kenapa kau lakukan hal gila seperti ini?"ucapnya sambil mendudukan dirinya lalu tanganya menggegam tangan kiri sang istri.


"Apa yang kau fikirkan sampai kau bisa berbuat nekat menyakiti diri sendiri. Kau tau rasanya aku hampir berhenti bernafas aku sangat takut jika aku terlambat menyelamatkanmu. Apa yang terjadi padaku selanjutnya, bagaimanakah kehidupanku selanjutnya, aku tidak akan mampu Vriska menjalani hidupku tanpamu di sisiku. Kenapa kau tidak memikirkan nasibku sama sekali?."sambung Alan perlahan ia mulai menitikkan air matanya, bayangan buruk itu menghantui pikirannya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Perlahan Vriska membuka matanya, ekor matanya bergerak menyapu ruangan ini.


"Apakah aku sudah mati.."batin Vriska


Saat Vriska berusaha menggerakan tangannya ia merasa tangannya berat, "Alan.."ucapnya


"Berarti aku belum mati.."serunya sambil mendesah lelah.


"Lagi dan lagi aku membuatmu susah kan.."sambungnya.


Alan menyadari pergerkan tangan Vriska, ia bun kemudian membuka matanya. "Kau sudah sadar,"tanya Alan.


Vriska hanya menganggukan kepalanya, "Apa yang kau rasakan, apakah ada yang sakit..?"tanya Alan


Vriska hanya menggelengkan kepalanya, "Apa kau memerlukan sesuatu..?"


"haus.."ucap Vriska dengan lemah.


Setelahnya Alan meletakkan kembali gelas itu ke mejanya, Alan kembali duduk menatap Vriska yang masih menundukan kepalanya.


Sebenarnya dalam hati Alan ingin sekali ia mencecar Vriska dengan berbagai pertanyaan namun ia mengurungkan niatnya tatkala mengingat jika kondisi psikis Vriska sedang tidak baik-baik saja.


Alan mengangkat kepala Vriska lalu ia tersenyum pada istrinya, "Jangan pernah melukai dirimu sendiri Vriska"


"Maaf.."seru Vriska


"Aku tidak mengerti apa yang ada dalam fikiranmu sehingga kau melakukan hal gila itu"sambungnya, sepertinya Alan sudah tidak tahan untuk menahan pertanyaannya itu.


"Aku.. aku.. fikir jika aku mati, kau bisa menikah lagi dan mempunyai anak"ucapnya dengan lirih.


Alan memejamkan matanya mendengar kalimat yang Vriska ucapan ia berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya saat itu juga, "itu fikiran yang konyol,"


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Pagi harinya Vriska sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Mama Merlyn menjenguknya.


"Kau sudah merasa lebih baik.?"tanya Mama Merlyn


Vriska hanya menganggukan kepalanya, "syukurlah, Mama membawa makanan untukmu. Ayo makanlah.." Mama Merlyn membuka rantang yang ia bawa. Lalu ia mulai menyuapi Vriska.

__ADS_1


"Makasih,"ucap Vriska


Mama Merlyn hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, sedangkan Alan ia masih duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Tidak lama pintu ruangan terbuka, Iva masuk beserta seorang pria yang terasa asing bagi keduanya.


"Maaf menganggu, saya hanya ingin menjenguk Nona Vriska.."ucap Vriska


"Tidak menganggu kok,"sahut Mama Merlyn


"Bagaimana kedaan anda Nona..?"tanya Iva


Vriska hanya terdiam tak berniat untuk menjawab, "Dia sudah lebih baik Iva"kali iniAlan yang menjawab pertanyaan Iva.


"Dia siapa Iva..?"tunjuk Mama Merlyn pada pria di sebelah Iva.


"Ini em apa namanya, dia itu ..."


"Pacarmu.."sahut Mama Merlyn dengan cepat.


"Bukan, kami hanya temenan.. iya hanya temenan.. iya kan."seu Iva dengan gugup.


"Kenalkan tante, nama saya Fadhil. Saya memang temannya Iva sekaligus calon pacarnya, sebentar lagi pasti akan menjadi suaminya."ucap pria itu sambil menjabat tangan Merlyn.


Sedangkan Iva terlihat mencebik kesal akan ucapan Fadhil, "Kau hebat nak cari calon dia tampan lho.."


"Nyonya jangan dengarkan apa kata dia ya, saya permisi ya Nyonya, Tuan.."pamitnya pada Mama Merlyn dan Alan.


"Kau sangat menyebalkan kau membuatku malu"ucap Iva saat sudah di luar pintu sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Iva.."Panggil Alan kala itu. Alan menatap tajam keduanya.


"iya Tuan.."


"Em untuk beberapa hari ke depan tolong kau handle urusan kantor, jika ada hal yang penting kau bisa hubungi papaku. Aku tidak akan bisa di ganggu, aku akan membawa istriku berlibur.."ucap Alan


"Baik Tuan,"


"Makasih.."seru Alan sebelum kembali masuk ke ruangan Vriska lagi.


"Alan sebaiknya kau pulanglah dulu bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu"ucap Mama Merlyn


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan Vriska"kata Alan


"Mama akan menjaganya Alan, lihatlah keadaanmu sangat kacau seperti tidak pernah mandi, pulanglah sopir Mam menunggu di depan.."


Alan mencebik kesal, "Baiklah.."ia bangkit berdiri.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Aku tidak ingkar janji bukan, sudah ku katakan tidak akan ada orang ketiga dalam novel iniπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa like, komen dan hadiahnya yang banyak yaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ bagi bunga atau kopilah biar seger nie mataπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2