
Di sinilah Rava dan Aldo berada, sebuah bangunan tua yang terletak di sudut pinggiran kota jauh dari keramaian.
Dengan langkah tergesa-gesa Rava dan Aldo keluar dari mobil, saat ingin masuk Rava dan Aldo merasa kesusahan nyatanya tempat ini di jaga ketat oleh para penjaga, sepertinya penculik ini telah merencanakan sesuatunya dengan matang. Aldo dan Rava berusaha untuk membuat para penjaga lengah lalu mereka akan membutanya tak sadarkan diri, dan kembali melanjutkan aksinya.
Saat para penjaga lengah Aldo dan Rava melancarkan aksinya, mereka memukul tengkuk mereka akhirnya para penjaga terkapar.
ππππ
Sementara itu Dinda yang saat tadi tengah pingsan akibat bius obat, akhirnya tersadar. Ia membuka matanya secara perlahan, matanya menyapu sekitarnya, keningnya mengkerut kepalanya juga masih terasa pusing mungkin efek obat bius tadi.
Sedetik kemudian dia tersadar jika saat ini berada di tempat asing, dia juga ingat saat tadi ia akan beranjak pergi dari taman, mulutnya di bekap oleh sesorang.
"Kau sudah bangun nona.."tanya seorang pria.
"Kau.. untuk apa kau membawaku kesini"sahut Dinda kaget, ia sangat kesusahan menggerakkan tangannya, ternyata ia baru sdar jika tangannya di ikat "Bukankah kau temannya Kak Rava, untuk apa kau menculikku"
"Kau benar, aku Reno teman suamimu ah bukan lebih tepatnya mantan teman, aku tidak mau menganggapnya teman"ucap Reno dengan tawa meledak.
Dinda bergidik ngeri mendengar tawa Reno yang menggema.
"Kau pasti terkejut mengapa aku menculikmu, semua untuk membalas dendam, aku ingin Rava merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia sayangi," Reno menghela nafasnya, ada rasa sedih serta kecewa ia rasa, namun semua ia tepis demi menuntaskan dendamnya "Kau tau aku telah kehilangan adikku karena suamimu itu, cihh aku tidak tau jika adikku ternyata begitu mencintai laki-laki itu. Aku sudah berusaha untuk menghancurkan perusahaan suamimu itu, ah nyatanya kecerdasan suamimu memang patut di acungi jempol , aku baru menyentuh perusahaannya seujung kuku ia pun langsung mengetahuinya. Karena aku tau kelemahan suamimu ada di perusahaannya, dan orang yang ia sayangi, ah ku dengar kau juga sedang hamil akan sangat menyenangkan jika aku melenyapkan dua nyawa sekaligus"ucap Reno dengan tawa meledak mata memerah.
Dinda berusaha membuka ikatan tali di tangannya, meski terasa susah akhirnya ia bisa melepasnya, sedang Reno masih asyik menertawakan dirinya.
Dinda mengambil sebalok kayu, ia berusaha untuk memukul Reno, sayangnya Reno menyadari itu, ia menakisnya dengan sorot mata tajam menatap Dinda.
"Wah ternyata kau sangat cerdas, tapi aku tidak akan mungkin kalah padamu"ucap Reno merebut balok kayu itu lalu membuangnya.
__ADS_1
Lalu Reno mendorong Dinda dengan keras hingga ia terjatuh untungnya tangannya dengan sigap melindungi perutnya, Reno berjalan mendekat tepat di wajah Dinda ia tersenyum smirk nya, lalu ia menampar wajah Dinda, Dinda meringis menahan sakit di ujung bibirnya mengeluarkan darah "Kau tau aku sangat membencimu, jika yang berada di sisimu adalah adikku tentu kau tidak akan pernah yang namanya tamparan tanganku, bagaimana rasanya sakit bukan, "
Dinda memejamkan matanya sungguh ia merasa takut saat ini, jika Reno akan benar-benar membunuhnya, bagaimana nasib anaknya yang belum lahir, ia hanya berdoa semoga ada orang yang menolongnya.
Saat Reno ingin melayangkan tamparan ke wajah Dinda lagi, ia mendengar pintu ruangan itu di dobrak.
"Cukup, jangan sakiti istriku"teriak Rava dengan kilatan-kilatan amarah.
"Wah lihatlah pangeranmu sudah datang, tapi aku tidak akan membiarkannya membawamu pulang dalam keadaan selamat"ucap Reno, lalu menyeret Dinda berdiri kemudian ia mengeluarkan pistolnya ke arah kepala Dinda.
Keringat dingin membanjiri wajah Dinda, seluruh badan Dinda gemetar ketakutan, tak lupa ia pun mengeluarkan air matanya, sungguh ia merasa takut untuk saat ini, nyawanya berada dalam ujuk tanduk.
Rava merasa prihatin dengan keadaan Dinda, sungguh ia merasa amat bersalah, hatinya skait melihat pipi Dinda memerah bekas tamparan.
"lepaskan istriku Reno brengsek"teriak Rava kembali maju.
"Okey, aku kan lakukan perintahmu, ku mohon turunkan senjatamu itu, katakan padaku apa maumu? apa yang membuatmu menculiknya, tolong jangan libatkan istriku"ucap Rava denhan mata berkaca-kaca.
"Kau masih bertanya mengapa aku melakukan ini, tentu saja untuk membalas dendam adikku Yeni, kau ingat seorang wanita yang begitu mencintainya, namun kau mengabaikannya, hingga di akhir ujung ia lebih memilih mengakhiri hidupnya"Geram Reno
"Lalu apa salahku, aku tidak melakukan apapun"ucap Rava, sejujurnya saat ini Rava sedang mengulur waktunya agar Aldo dapat melancarkan aksinya, tepat di belakang Reno Aldo berada di sini.
"aww.. brengkseng ternyata kau begitu licik"geram Reno. Dengan sekali gerakan ia memukul Reno hingga akhirnya ia terjatuh ke samping dan pistolnya pun jatuh entah kemana.
Hampir saja Dinda jatuh karena tubuhnya merasa lemas, namun dengan sigap ia Rava menangkapnya lalu memeluknya.
"Bagaimana tuan Reno, kau masih tidak mau mengalah"tanya Aldo kali ini,
__ADS_1
"Kau brengsek,"ucap Reno bangkit hendak menghajar Aldo, namun Aldo menangkisnya hingga ia terjatuh.
"Tuan, kau telah salah paham dengan tuan Rava, lihatlah aku mempunyai sesuatu untukmu,"ucap Aldo sambil melemparkan sebuah berkas ke Reno, dengan sekejap Reno membacanya ia terkesiap "tidak mungkin"
"Kau tidak percaya, jika adikmu mengidap sebuah penyakit mental yang berbahaya, ia bisa membahayakan orang lain termasuk dirinya. Aldo berikan bukti yang terakhir, perlihatkanlah semuanya dengan jelas" ucap Rava yang langsung di lakukan oleh Aldo.
Dengan sigap Aldo mengambil laptopnya lalu mencolokkan sebuah flashdisknya, tidak lama munculah sebuah Video seorang wanita yang tanpa malunya datang ke kantor Rava lalu duduk di pangkuannya ia berusaha merayu Rava lalu membuka kancing bajunya bagian atas, namun Rava mendorongnya kuat hingga wanita itu terjatuh, lalu wanita itu terlihat marah ia bangkit mengambil tasnya lalu mengobrak-obrim isinya ia menemukan sebuah botol obat kemudian mengeluarkan isinya.
"Lihatlah, jika aku tidak mampu memilikimu, lebih baik aku mengakhiri hidupku"ucap Yeni, yah wanita itu adalah Yeni adik dari Reno.
Rava tercekat kaget saat Yeni menelan obat itu dalam jumlah banyak, hingga wanita itu jatuh tidak sadarkan diri, kemudian mulutnya mengeluarkan banyak busa. Kemudian Aldo masuk kaget melihat kejadian itu "apa yang terjadi tuan"
"Wanita ini ingin mengakhiri hidupnya di hadapanku, tolong panggilkan ambulance segera"perintah Rava. Sesaat kemudian Yeni di bawa ke luar ruangan itu. Kemudia video itu terhenti.
"Kami sempat membawanya ke rumah sakit, namun nyawanya tidak dapat tertolong, maaf aku fikir kau sudah mengetahui kejadian sebenarnya, memang papaku yang membungkam kasus ini rapat-rapat mengingat kejadian itu terjadi di perusahaan kami, kami tidak semua menimbulkan pro dan kontra"jelas Rava,
Reno kaget melihat kenyataan yang ada, memang saat itu kejadian itu terjadi Reno tengah berada di luar negri, anehnya kelauarganya justru menceritakan sebaliknya hingga membuat Reno salah paham dan berbuat nekat seperti ini.
"Tetap saja semua terjadi karena dirimu"ucap Reno bangkit mengambil pistolnya lalu berusaha menembak Dinda, dengan sigap Rava melindunginya hingga akhirnya Rava tertembak di bagian lengannya.
Dinda merasa kaget sekaligus shock akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri. Rava menangkupnya dengan tangan satunya. Tidak lama itu polisi datang meringku Reno. "Aku tidak salah, dia yang salah jangan tangkap aku"teriak Reno kala polisi membawanya.
"aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu tuan Reno, aku juga tau kaulah dalang di balik hampir hancurnya proyek kami yang berada di sini, kau yang hampir melenyapkan nyawa karwyan kami, sayangnya nyawa karyawan kami dapat tertolong, untuk itu ia dapat memberikan bukti-bukti kejahatan anda, jadi nikmatilah dirimu dalam penjara"ucap Aldo, memang karyawan Rava telah sadar dari komanya tiga hari yang lalu. Aldo lalu berbalik memghampiri Rava.
"Tuan, tangan Anda.."tanya Aldo dengan reaksi kaget melihat darah mengucur di lengannya serta wajah Rava yang memucat.
"Aku tidak apa-apa, tolong kau angkat Dinda bawalah kami ke rumah sakit"ucap Rava dengan lemah.
__ADS_1
ππππ