Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Kenapa


__ADS_3

Satu bulan sudah Vriska berusaha merubah sikapnya namun hingga kini Alan sama sekali tidak tersentuh dengan perubahan Vriska. Alan tetaplah Alan, ia begitu cuek padanya.


"Apa ini artinya Alan memang bukan jodohku, tapi Tuhan aku mencintainya bisakah ia menyadari ketulusanku, bisakah ia membuka hatinya sedikit saja untukku." ucap Vriska sambil mendesah, ia sedikit mengingat kala tadi ia mengantarkan makanan pada Alan seperti biasa.


"Aku akan memakannya nanti kau pergilah"serunya dengan tatapan kesal.


"Alaj bisakah mencicipinya sedikit saja, aku ingin tau bagaiaman kau menilai masakanku"ucap Vriska


"Kau ini bawel sekali, aku masih banyak pekerjaan"sahutnya


Kembali ke masa kini, di mana Vriska tengah duduk sendiri di cafe yang berada dekat sekolah SMA ternama di Jakarta.


"Tidak waktuku masih panjang, masih ada waktu untuk berjuang, setidaknya aku tidak akan menyerah sebelum waktu itu habis. Sekalipun nanti usahaku sia-sia, aku tidak akan menyesal, aku tetap berusaha menjadi Vriska yang lebih baik"sambungnya pada diri sendiri sambil meminum minumannya, kemudian ia bangkit namun ia merasa kakinya kram dan sulit bergerak, ia mengernyit sakit. Kemudian ia mengurungkan niatnya ia kembali duduk, ia memijat bagian kakinya sambil menghela nafasnya.


"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa sering kram pada kaki dan tanganku, aku juga sering merasa lemas, ah mungkin saja karena akhir-akhir ini nafsu makan ku berkurang"seru Vriska.


Vriska kembali berdiri namun ia merasa masih sedikit merasa kram.


"Nona ada apa? apa kau baik-baik saja"tanya anak laki-laki berseragam SMA.


Vriska pun mendongak dan melihat ke arahnya, Vriska terlonjak kaget "Dio, kau.."tunjuknya


"Kak Vriska.."ucap laki-laki yang bernama Dio itu.


"Kau sedang apa di sini?"tanya Vriska


"Aku habis berkumpul dengan teman-teman, oh ya tadi aku lihat kakak terlihat kesakitan ada apa"tanya Dio


"Tadi aku merasa kram, sekarang sudah lebih baik, apa kau mau pulang"ucap Vriska


"Iya aku mau pulang"sahutnya


"Ayo bareng kakak saja, kebetulan kakak ada perlu jadi akan melewati rumahmu"ucap Vriska.


Dio pun menurut pada Vriska. "Bagaimana kabar Ibu"tanya Vriska setelah kini ia berada dalam mobil di sampingnya ada Dio.


"Em ibu sudah sering sakit-sakitan kak, dia harus selalu rutin minum obat"jelas Dio


"Kasihan sekali, lalu bagaimana kabar kakakmu"tanyanya lagi.


"Kak Disty baik-baik saja, semenjak ia kakak pecat, ia sekarang bekerja di sebuah toko roti, namun saat ada waktu luang ia akan bekerja di tempat lain, seperti saat libur atau saat pas bukan waktu sift nya"Jelas Dio

__ADS_1


"Maaf.."satu kata yang meluncur yang dari mulut Vriska.


"Tidak, kakak tidak salah jangan meminta maaf, kami baik-baik saja"seru Dio


"Aku tidak mengerti Dio entah kenapa hatiku begitu marah pada kakakmu saat itu, tapi jujur merasa kakak merasa kehilangan, biar bagaimanapun hubungan kami sudah seperti saudara. Aku hanya merasa perlu waktu saja, suatu saat nanti kakak memperbaiki semuanya" Ucap Vriska ia mengehentikan mobilnya di sebuah supermarket.


"Kakak kenapa berhenti di sini,?"tanya Dio


"Ada sesuatu yang ingin kakak beli, kau tunggulah sebentar"Serunya Vriska membukw pintu mobilnya lalu keluar menuju supermarket.


Dio menunggu di mobil, tiga puluh menit kemudian Vriska telah kembali dengan menenteng banyaknya kantong kresek juga seorang karywan supermarket juga memgantarnya membawa beras.


"Kakak untuk apa semua ini?"tanya Dio


"Buat kamu dan Ibu, maaf ya kakak sudah lama tidak berkunjung"jawab Vriska sambil kembali memacu mobilnya.


"Kakak itu tidak perlu, ini sangat merepotkan buat kakak"tutur Dio


"Kau bilang kau sudah menganggap aku sebagai kakakmu, tidak ada yang merepotkan dalam ikatan saudara, percayalah kakak ikhlas"ucap Vriska


"Kakak aku sudah banyak merepotkanmu, aku juga tau sampai detik ini kakak masih membiyayai sekolahku kan"tanya Dio


"Tidak, aku sudah menghentikan biaya sekolahmu sejak kakakmu tidak bekerja lagi denganku. Mungkin saja itu kakakmu yang membayarnya"


Vriska terdiam "sudah sampai, turunlah. Aku akan menyuruh orang untuk membawa belanjaan itu kerumahmu."


Dio turun "Kakak tidak mampir, "


"Tidak untuk sekarang Dio, Kakak masih harus bekerja"ucapnya sambil tersenyum


Vriska menyuruh seorang untuk membantunya mengangkat belanjaannya ke rumah Dio.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Pukul delapan malam Vriska telah selesai dengan pemotretannya, ia melajukan mobilnya, membelah jalan raya yang padat, saat sampai di depan toko roti di mana tempat Disty bekerja ia memberhentikan mobilnya, ia bisa melihat jika kini Disty tengah melayani customernya dengan senyum ramahnya.


"Seperti apapun aku membencinya, nyatanya aku tetap merindukannya, aku lega melihatmu baik-baik saja, setidaknya dengan melihatnya itu sudah mengobati rinduku padanya, bagaimanapun ia aku telah menganggapnya kakak, aku tidak akan pernah bisa membencinya, semoga kau selalu sehat, biarlah kini aku dengan keeogisanku sendiri"ucap Vriska sambil terus menatap Disty yang berada dalam mobilnya dengan mata berkaca-kaca.


Sampai akhirnya ia terkejut ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan mobil lalu terlihat Alan keluar dari mobil itu.


"Alan.."ucapnya dengan senyum miris.

__ADS_1


"Jadi dia sering menemui Disty di sini,"Vriska melihatnya dari sebrang di mobilnya ketika Alan menatap Disty penuh dengan damba.


Vriska tersenyum kecut "Kapan ia bisa menatapku dengan kehangatan seperti itu, apa itu akan terjadi, waktuku masih dua bulan tapi mengapa aku merasa sudah kalah" Vriska meneteskan air matanya kemudian ia kembali melajukan mobilnya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Disty terlonjak kaget saat melihat Alan tengah berdiri di hadapannya "Untuk apa kau kesini"


"Bukankah ini tempat umum aku bebas bukan berada di sini, tidak akan ada yang melarangnya"


"Yah kau memang selalu benar"seru Disty.


Hingga toko itu hampir tutup, Alan tetap berada di situ.


"Alan pergilah toko ini sudah mau tutup"usir Disty


"aku menunggumu"sahutnya


"Alan..."


"Disty..."


Disty berdecak kesal lalu meninggalkan Alan ia kembali beres-beres, setelah selesai ia jeluar dari toko itu.


Alan mengikutinya "Ayo ku antar kau pulang"ajaknya.


Disty menggeleng "Tidak Alan, aku akan pulang sendiri, pergilah"


"kenapa kau selalu menjauhiku"tanya Alan akhirnya ia sudah sangat kesal.


"Alan ku mohon jangan ganggu aku lagi, perbaikilah hubunganmu dengan Vriska, Alan hubungan kita hanyalah masa lalu, dan sudah berakhir sejak saat itu juga"


"Apa kau yakin? kau tidak akan menyesal jika nanti aku bisa mencintai Vriska,"tanya Alan dengan nada tajam


Disty menggeleng "Tidak Alan, aku ikhlas.."


"Baiklah tapi untuk saat ini biarkan aku mengantarmu pulang"seru Alan


Disty terlihat enggan menolak namun Alan terus memaksa.


πŸŽ‹πŸŽ‹ Jangan lupa komen, like, dan vote nyaπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹Selamat membacaπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2