
Setelah kemarin pergi berbulan madu, kini Rava dan Dinda tengah bersiap untuk kegiatan aktivitas seperti biasanya.
Saat ini keduanya tengah berada di meja makan untuk sarapan. Pagi tadi Dinda bangun membuat sarapan dengan di bantu asisten rumah tangga. Meski rasa lelah masih berasa, namun ia tau kewajibannya.
"Tadi mama menelpon aku di suruh mampir ke tempat mama, rencananya aku akan mampir sepulang kerja, bolehkah kak..?"tanya Dinda di sela-sela makannya.
Rava terdiam melirik Dinda sebelum kemudian menjawab "Tentu saja, tapi kita kesana sama-sama. Aku sudah selesai sarapannya, ayo kita berangkat aku akan mengantarmu.."jawab Rava sambil manyambar tas kerjanya.
"Tidak perlu aku akan membawa mobil sendiri"ucap Dinda sambil meletakkan garbu juga sendoknya di atas piring, menandakan ia pun telah selesai sarapannya.
"Aku tidak suka di bantah, aku akan mengantarmu dan nanti aku juga akan memjemputmu pulang ke tempat mama"sahut Rava dengan tegas dan datar.
Dinda menghela nafasnya "baiklah, aku ambil tas ku dulu"
Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil, hanya keheningan yang tercipta. Lalu dengan inisiatif Rava pun menyalakan sebuah lagu di dalam mobilnya.
Tidak terasa mobil Rava telah sampai di depan rumah sakit tempat Dinda bekerja.
"Aku akan menjemputmu nanti, ingat kau harus menungguku, jangan sampai kau bareng teman kerja priamu itu apalagi sampai bareng dengan mantanmu itu"ucap Rava dengan tegas.
"memangnya kenapa? kau cemburu"ucap Dinda dengan nada mengejek
"em aku.. aku.."ucap Rava dengan terbata-bata
"Aku tau, sudahlah lupakan aku pergi dulu"ucap Dinda lalu keluar mobil dengan berjalan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Sial, kenapa mulutku seolah tidak bisa berbicara apa-apa, kalau begini Dinda akan terus salah paham padaku.."sungut Rava sambil mencengkram stir mobilnya.
***********
Tiba di kantornya Rava telah di sambut dengan banyaknya tumpukan kertas. Ah mengingat mimik muka Dinda tadi rasanya membuat semangat Rava benar-benar menurun.
"Kau kenapa? habis bulan madu bukannya cerah ini malah mukanya kusut kaya baju belum di setrika aja. Apa jangan kau kekurangan jatah ya."ejek Aldo sang asisten yang saat ini tengah duduk di depannya.
"Diamlah.. apa kau ingin mati.."ucap Rava dengan keras.
"Jangan dong pak bos, kau tau aku berencana akan melamar Livia enam bulan lagi. Tentu saja aku masih ingin hidup"sahut Aldo
Waktu terus berlalu hingga sore hari tiba namun Rava tetap masih asyik dengan pekerjaannya.
Mungkin sebentar lagi pikirnya. Hingga rasa jenuh menghinggapi Dinda, ia pun memutuskam untuk berjalan keluar saja.
Dinda pun memutuskan untuk pulang menggunakan taksi, saat di tengah jalan ia melihat toko kue langganan mamanya, ia pu memutuskan untuk mampir dahulu. Toko ini di desain layaknya cafe jadi banyak orang yang menghabiskan waktu di sana.
Setelah membayar pesanannya Dinda pun memutuskan untuk pulang ke rumah mamanya saja. Ah mengingat Rava yang ingkar janji tentu saja mmebuat ia kecewa. Padahal tadi Rava sendiri yang menegaskan untuk Dinda tidak membawa mobilnya, nyatanya ia sendiri tidak bisa memegang ucapannya.
Saat tengah berjalan samar-samar Dinda mendengar suara seseorang. Ia pun memutuskan untuk menengoknya, berharap suara yang ia dengar itu salah. Namun ternyata hatinya berdenyut sakit. Tanpa terasa air matanya jatuh, mendadak kakinya lemas.
Berjam-jam Ia menunggu namun nyatanya yang di tunggu justru tengah asyik bercengkrama dengan perempuan lain.
Lamunan ia buyar , ketika ia terlonjak kaget saat ada seseorang yang tak sengaja menabraknya membuat kue yang ia pegang jatuh nyampe tak terbentuk.
__ADS_1
"Maaf nona, aku tidak sengaja, aku akan mengganti kuemu yang telah rusak"ucap seorang pria itu.
"Tidak perlu tuan.."sahut Dinda
Namun pria itu tetap bersikukuh untuk menggantinya, sementara Dinda tetap menolaknya .
Tanpa terasa perdebatan keduanya membuat Rava menoleh dan ia terlonjak kaget saat melihat Dinda, mendadak ia jadi teringat janji menjemputnya.
Dinda yang tau Rava telah melihatnya buru-buru lari keluar dari toko itu, mencegat taksi. Sepanjang jalan rasanya ia ingin menangis, ah tidak ia tidak secengeng itu, ia ingin mencari tempat yang bisa untuk menenangkan pikirannya kali ini.
.
.
.
.
**Bersambung..
Guys aku kembali, maaf banget aku lama gak update, di episode sebelumnya aku bilang ayahku masuk rumah sakit. Namun di episode ini aku mau bilang ayahku telah pulang ke sisi Alloh tanggal 16 kemarin. Rasanya seperti mimpi tau, aku masih suka kebayang-bayang saat ia masih ada. Bukan karena belum ikhlas, tentu saja aku harus ikhlas melihat ia sakit-sakitan terus justru membuat kita kasihan . Kadang ingatnya ayah tuh lagi pergi sebentar lalu nanti pulang lagi gitu. Ayahku sebenarnya belum tua-tua amat, makanya aku amat terpukul dengan kepergiannya. Perpisahan yang menyakitkan ternyata di pisahkan dengan kematian. Sakit sangat sakit apalagi mengingat kita belum cukup membuatnya bahagia.
Guys pesanku, bagi kalian yang masih mempunyai kedua orang tua sayangilah keduanya, jangan sia-siakan waktu bersamanya. Jagalah kesehatan kalian.
Manfaatkanlah waktu bersama keluarga sebaik mungkin**.
__ADS_1