
Aku lelah memberimu hatiku
Hanya tak ku sangka
Kau akan mengembalikannya
dalam bentuk kepingan
_______
Di sinilah Dinda berada di sebuah danau yang terletak di sebuah taman sudut kota. Kali ini ia meratapi nasibnya. Ah kenapa mencintai harus sesakit ini. Tidak cukupkah rasa sakit yang Rava tanamkan sejak dulu untuknya, tidak cukupkah ia bersaing dengan Luna yang sudah tiada, lalu kenapa harus ada Luna yang lainnya.
Hari semakin larut namun Dinda tidak kunjung beranjak dari tempat duduknya, menangis juga melamun, sampai rasanya ia benar-benar frustasi menjambak rambutnya sendiri, ah ia merasa begitu bodoh.
Seakan tau isi hati Dinda kali ini, gerimis rintik-rintik pun turun ,tidak peduli akan gerimis yang membasahi dirinya, sampai ketika ia menyadari kenapa mendadak hujan berhenti, menengok ke atas sebuah payung tepat berada di atas kepalanya melindungi dirinya. Lalu perlahan ia menengok ke sampingnya.
"Alan..."lirih Dinda namun tak menutupi keterkejutannya.
"Kenapa harus hujan-hujanan, ini tidak baik kau bisa sakit, ayo ku antar pulang."ucap Alan
"Aku tidak mau, kau pergilah aku ingin sendiri."sahut Dinda
Melihat Dinda yang dalam kondisi seperti ini tentu Alan tau sesuatu telah terjadi padanya.
"Baiklah akan aku temani"ucap Alan sambil mendudukan dirinya di sampingnya.
Mendadak gerimis pun berhenti..
__ADS_1
"Pulanglah, aku tidak apa-apa aku ingin sendiri. Pergilah Alan.."tutur Dinda dengan suara seraknya, seakan tenaganya sudah habis untuk menangis.
Alan hanya tersenyum mengejek sebelum menjawab ucapan Dinda. Lalu menangkup kedua bahu Dinda dengan tangannya.
"Katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis? akan ku habisi dia."ucap Alan dengan tersulut emosi. Dinda hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Alan.
"Aku tau. Suamimu yang membuatmu seperti ini kan. Apa yang telah ia perbuat Dinda. Akan ku hajar dia. Aku tidak peduli meski ia suamimu aku tidak rela kau di perlakukan seperti ini."lanjut Alan.
"Cukup Alan, aku tidak apa-apa"ucap Dinda sambil melepas tangan Alan lalu memalingkan mukanya.
Miris, kenapa di saat seperti ini pun Alan harus tetap peduli padanya. Seakan seperti malaikat penolong saat ia butuh teman ia selalu ada.
"Aku tau kau mencintainya, tapi cinta itu tidak bodoh Dinda juga harus memakai logika. Jika memang orang yang kau cintai tidak mampu memberimu kebahagiaan untuk apa kau bertahan. "tutur Alan kali ini dengan nada lembut.
"Aku tidak tau..."lirih Dinda
"Kenapa kau sebaik ini padaku Alan. Terimakasih.."sahut Dinda
"Tentu saja aku baik, karena aku peduli padamu.. dan juga..._"ucap Alan terhenti juga aku mencintaimu. Tentu saja akan ku lakukan apa saja asal kau bahagia.
"Aku berpesan padamu, saat nanti kau sudah lelah dengan semuanya percayalah aku akan selalu ada untukmu. Datanglah padaku, tentu aku dengan suka cita menyambutmu. "tutur Alan
"Aku tau, kenapa aku selalu merepotkanmu, dan juga kenapa kau selalu ada saat-saat aku membutuhkan teman"ucap Dinda kali ini perasaannya jauh lebih lega. Meski matanya sudah bengkak.
Tentu saja aku tau, karena sejak saat aku melepasmu, sejak saat itupun aku tak pernah benar-benar melepasmu. Saat ini pun aku tau permasalahan apa yang menimpa dirimu dan Rava, namun aku memilih diam berpura-pura tidak tau. Maaf Dinda aku masih belum percaya terhadap Rava, aku hanya ingin memastikan dirimu benar-benar bahagia. batin Alan
"Sudahlah tidak usah di bahas, hari sudah malam. Ayo ku antar kau pulang.."ucap Alan sambil beranjak berdiri, namun Dinda tetap duduk. Jujur ia masih belum ingin bertemu Rava.
__ADS_1
"ayo tunggu apa lagi..."lanjutnya
"Alan aku pulang sendiri saja.."ucap Dinda
"Tidak mau, kenapa kau takut suamimu cemburu,?"ucap Alan
"Ah dia mana pernah cemburu, mustahil."sahut Dinda sambil berdiri
"Benarkah.. "ucap Alan Dinda mengangguk. Senyum tersungging kala mengingat ia pernah di tonjok habis-habisan oleh Rava hanya karena ia mengantar Dinda pulang. Sejak saat itu sejujurnya Alan tau Rava pun memiliki perasaan yang sama pada Dinda.
"Bagaimana kalau kita menguji perasaan suamimu kali ini dengan aku mengantarmu pulang"ucap Alan sambil berjalan di susul Dinda.
"Jangan... aku masih belum ingin pulang. Bisakah kau mengantarku ke rumah Alisa saja.."ucap Dinda dengan tatapan memohon.
"Emm tapi.. ah baiklah.. ayo.." Alan akhirnya pasrah mengantar Dinda ke rumah Alisa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung