
_kenapa kehidupan tak seindah Melati? Mereka kadang kejam dan tak punya perasaan. Sedangkan kita tak punya pilihan untuk menentukan jalan._
ππππ*
Dering ponsel membuat Aldo terpaksa harus membuka matanya, masih setengah terjaga tangannya menggapai handphone yang terus berdering di atas nakas. Rasanya ia ingin mengumpat kesal pada si penelephon, tengah ia malah ia menganggu istirahatnya, awas saja jika buka karena hal penting. Tidak di pungkiri ia merasa lelah setelah pulang kerja tadi, Livia mengerjainya habis-habisan yang ia bilang itu sebuah nyidam.
Tanpa melihat nomor sang penelepon Aldo memencet tombol hijau lalu menempelkannya di telinganya.
"Hallo.." ucap Aldo..
"Maaf menganggu benarkah ini dengan Tuan Aldo asisten dari Tuan Rava selaku Ceo dari perusahaan Nugraha Group, kami dari rumah sakit ingin...."
"Tunggu.." Aldo memotong ucapan pelepon lalu ia bangkit dan keluar ke arah balkon kamarnya. Ia tidak mau menganggu istiarahat istrinya..
"Katakan sekarang ada apa.." Tidak di pungkiri hatinya mendadak gelisah tidak tenang. Seperti mendapat sebuah firasat yang buruk.
"kami ingin memberitahukan jika saat ini Tuan Rava berada di rumah sakit, ia mengalami kecelakaan yang parah..."
Wajah Aldo tampak memucat , ia tidak lagi mendengar suara sang penelephone. Apa yang terjadi, pikirnya. Saat tadi pulang kerja ia masih melihat rona bahagia di wajah atasannya itu, lalu tiba-tiba ia mendengar kabar buruk tentangnya. Ia juga tau Rava pulang ke rumah mertuanya, guna menemui putra dan istrinya.
Tidak mau membuang-buang waktu Aldo kembali masuk ke kamar berganti pakaian dan mengambil kunci di laci nakasnya.
"mau ke mana?"tanya Livia dengan suara serak khas bangun tidur ia segera beranjak duduk, wanita berambut panjang itu kembali menguap.
Aldo menoleh dan tersenyum "Aku harus ke rumah sakit sekarang, Tuan Rava mengalami kecelakaan. Kau di rumah saja, istirahatlah oke."
Livia yang belum sepenuhnya sadar seketika membulatkan matanya saat mendengar atasaannya itu kecelakaan "oke, kabari aku jika ada apa-apa. Kau hati-hatilah ini sudah sangat malam"seraya melirik jam saat ini waktu menunjukkan pukul satu dinihari. Aldo menganggukan kepalanya kemudian pamit pergi.
Aldo memacu mobilnya ke arah rumah sakit, sambil memakai handset ia menelpon kedua orang tua Rava, sesekali ia akan mengklakson mobil yang lewat di depannya seolah ia menyuruhnya untuk menyingkir sejenak, kebetulan sekali orang tua Rava sedang di luar kota, mengingat hari sudah malam telponnya tak kunjung di angkat, jadi ia memutuskan panggilannya saja.
Lima belas menit kemudian ia sudah sampi di loby rumah sakit, ia berlari kecil masuk ke rumah sakit. Kemudian bertanya pada penjaga rumah sakit, ternyata Rava masih di ruang ICU.
__ADS_1
Aldo pun langsung menuju ruang ICU, pintu masih tertutup rapat, sepertinya dokter belum selesai melakukan pemeriksaan.
Sepuluh menit kemudian Dokter keluar bersama seorang suster membawa sebuah catatan tanda ia sudah selesai memeriksa pasien, wajahnya menegang.
"Bagiamana kondisi Tuan Rava dokter"tanya Aldo dengan wajah memucat,
Dokter menatap Aldo dengan miris "kami sudah memeriksa juga membersihkan lukanya, namun kondisinya kritis kami harus segera melakukan tindakan operasi. Kami perlu persetujuan pihak keluarganya"jelas Dokter dengan name tage bernama Irwan.
"Lakukan apapun yang terbaik untuknya dokter, saya yang akan bertanggung jawab di sini"seru Aldo.
Dokter pun mengerti, kemudian mengajak untuk ke ruang adiministrasi guna menandatangani berkas tindakan operasi. Setelah selesai Aldo kembali ke depan ruangan Rava. Tidak lama Dokter Irwan bersama tim nya masuk kembali ke ruangan dimana Rava berada, ia akan membawa Rava keluar menuju ruang operasi.
Saat pintu ruangan terbuka menampilkan tubuh Rava yang tergelatak dengan lemas, namun anehnya Aldo melihat mata Rava yang sedikit terbuka. Lalu Aldo mendekat dan menyuruh Dokter berhenti sejenak.
"to.. long.. ja.. ngan ka..tak.kan.. a.. pa.. pun.. pa. da.. Din...da.."ucap Rava, setelahnya ia kembali tak sadarkan diri. Dokter segera membawanya menuju ruang operasi.
Aldo mengerti jika Rava tidak ingin membuat Dinda khwatir "Aku sangat mengerti jalan pikiran anda Tuan, kau tidak ingin membuat Nona Dinda khawatir, mungkin aku memang tidak akan mengatakan apapun padanya. Tapi jika Nona Dinda sendiri yang bertanya saya akan menjawab apa adanya. Aku tau segala prahara rumah tangga yang saat ini sedang kau jalani tuan, mengapa nasibmu sungguh mengenaskan Tuan, tidakkah istri anda melihat segala ketulusan anda saat ini. Rasanya ia seperti menutup mata dan hatinya untuk melihat anda Tuan. " Aldo menatap pintu ruangan operasi dengan miris.
πππππ
Semalam ia tidak tidur dengan nyenyak, bayi mungil itu selalu terjaga, ia hanya akan tidur bila berada dalam gendongannya. Seandainya ia bisa berbicara mungkin ia akan memberi tahu apa yang tengah terjadi pada Daddynya. Apa yang terjadi pikir Dinda.
Sejak semalam hatinya terus di landa rasa kecemasan. Terlebih lagi ia ingat bagaimana Rava mengatakan "aku pergi dulu" meski ia berkata dalam keadaan tersenyum, tapi tidak di pungkiri jika Dinda melihat adanya guratan kekecewaan padanya. Entah mengapa tiba-tiba ia menginginkan kehadiran laki-laki itu, sekedar untuk melihat keadaannya, apa dia baik-baik saja. Untuk menjawab segala kecemasan yang ia rasa. Ia rindu segala perlakuan hangat Rava padanya meski tidak hentinya Dinda bersikap acuh dan tak peduli, laki-laki itu pantang menyerah.
Memutuskan segala lamunannya Dinda masuk ke dalam. Pintu kamar terbuka Mama Dewi masuk.
"Kau menunggu siapa...?"tanya Mama Dewi sambil melihat ke arah pandang Dinda yang menatap pintu balkonnya.
"Tidak ada.."Dustanya
"Kau menunggu orangnya apa suratnya."tanya Mama Dewi sambil melihat ke arah Dinda yang sedang berjalan meletakkan Davis ke boxnya, bayi mungil itu tengah terlelap.
__ADS_1
"Aku tidak tau mah.."lirihnya
"Ini masih pagi mungkin saja Rava akan datang siang hari jam makan siang kantor, atau bisa jadi sore bisa, bisa jadi juga tidak datang"ucap Mama Dewi
"Mama kenapa bicara begitu.."jawab Dinda dengan gemetar
"Memangnya kenapa? jika kau hanya menunggu suratnya Rava bisa menyuruh orang untuk memberikannya padamu bukan, untuk apa ia repot-repot datang. Untuk melihatmu lagi begitu, untuk apa kau berharap bisa bercerai dengannya jika ternyata kau masih sangat mengharapkan kedatangannya seperti ini."jelas Mama Dewi rasanya ia sudah kehilangan akal dengan jalan pikiran putrinya.
"Ma, tapi di sini ada anaknya.."seru Dinda dengan mata berkaca-kaca, entah mengapa hatinya berdenyut sakit saat mamanya menyebutkan kata perceraian.
Mama Dewi memijit pelipisnya "Kau yang bilang bukan padanya, jika Davis tidak memerlukan ayah seperti dirinya. Sekarang saatnya kau tunjukkan padanya jika kau mampu menjadi orang tua seorang diri"
Deg.. ingatan Dinda terbang ke perdebatannya dengan Rava kala itu, hatinya tersenyum miri, apa sudah sangat keterlaluan, pikirnya saat itu ia tengah marah padanya.
"Ma.. aku.."
Mama Dewi mendekat ke arah Dinda lalu mengelus punggung putrinya lalu mengajaknya duduk, mungkin ini saatnya ia berbicara dari hati ke hati pada putrinya pikirinya.
"Nak dengarlah apa yang ingin Mama sampaikan, tolong bukalah mata dan hatimu, jernihkan pikiranmu. Lihatlah sisi yang baik dari Rava saat ini, jangan kau fikirkan yang buruknya saja. Mama tidak membenarkan perlakuannya dulu padamu, tapi mama juga tidak membenarkan perlakuanmu padanya saat ini. Kalian berdua sama salahnya, Rava sudah mengakui segala kesalahannya dulu, ia sudah mengatakannya pada kami, ia menyesal Dinda. Awalnya kami merasa kecewa putri kami satu-satunya, yang kami besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang ia perlakukan seperti itu, tapi lambat laun kami menyadari jika Rava benar-benar menyesal, ia membuktikan segala janjinya pada papamu untuk memperlakukanmu dengan baik, kami melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana ia memberikan perhatiannya padamu, pada Davis. Kau ingat bagaimana saat kau selesai melahirkan, Rava keluar langsung bersujud pada Mama dan Mama imel, ia berkata dan minta maaf tidak bisa menjadi anak yang baik, ia juga bilang pada mama sangat menyesal tidak mampu menjadi menantu yang baik, suami yang baik padamu, tapi ia berjanji apapun yang terjadi kedepannya ia akan menjaga dan memerlakukanmu dengam baik," Mama Dewi melihat ke arah Dinda yang masih mencerna baik omongannya.
Menghela nafasnya kemudian ia melanjutkan ucapannya "Kau tinggal di sini bukan hanya sehari dua hari nak, tapi kau bahkan sudah berbulan-bulan, mama melihat sendiri nak bagaimana perlakuan Rava padamu dan Davis. Mama melihat saat lelahnya pulang dari kantor ia langsung dengan semangat menggendong Davis, mengganti popoknya, tidak lupa ia pasti akan bertanya padamu apakah sudah makan, apakah kau menginginkan sesuatu, tapi kau sendiri tidak tau bukan lelahnya suamimu apa dia sendiri sudah makan. Kemudian saat Davis dan kau sudah tidur terlelap, dia akan keluar dan tidur di sofa, mama pernah menyuruhnya untuk tidur bersamamu atau di kamar tamu. Tapi ia bilang tidak mau takut kau membutuhkannya dan Davis menangis, dia bilang juga tidak mau tidur bersamamu takut kau akan semakin marah padanya, begini sudah cukup yang terpenting ia bisa dekat denganmu dan Davis, ucapnya kala itu ." seru Dewi kali ini ia tidak dapat menahan air matanya, ia merasa terharu dengan perlakuan menantunya pada putrinya,.
"Nak, percayalah pada Mama jika Rava sangat mencintaimu, jangan takut untuk memberikan kesempatan kedua padanya. Tuhan saja maha pemaaf, kau yang manusia biasa masa tidak bisa memaafkannya. Rava bukan Tuhan ataupun malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Semua orang punya masa lalu nak entah itu buruk ataupun baik. Lihatlah Davis putramu itu, bukankah ia terlihat sangat mirip dengan Rava, seolah mengerti apa yang terjadi pada kedua orang tuanya semalam ia menangis dan rewel, padahal kau tau sendiei selama ini ia tidak pernah begitu, ia selalu terlelap tidur saat ada Daddy nya. Apa kau tega memisahkan Davis dari Daddynya, kau mau anakmu tumbuh tanpa kasih sayang Daddynya. Bagaimanapun suatu saat Davis akan sangat menginginkan keluarga yang lengkap seperti anak pada umumnya. Nak mama mohon bukalah hatimu, setidaknya kau bisa berfikir demi Davis, "Ucap Mama Dewi tampak mengusap air matanya.
Dinda hanya terdiam.. "ya sudah pikirkanlah semua baik-baik , kau sudah dewasa kau pasti bisa mengambil keputusan yang baik. Mama mau ke bawah dulu, kau jangan lupa turun dan makan" seru Mama Dewi, Dinda hanya menangguk tanpa suara mendengar ucapa Mama Dewi,
Saat memastikan Mama Dewi sudah keluar Dinda meneteskan air matanya, entah mengapa ia merasa apa yang di bilang mamanya semuanya benar. Ia tidak merasa sakit hati atas ucapan mamanya, ia merasa memang sudah egois, bahkan dengan egoisnya ia akan memisahkan Davis dari Daddynya.
πππ
πππ Dear readers : Tolong katakan tentang part ini, ππππ
__ADS_1
ππ Selamat membaca, jangan lupa Vote, like dan Komen,πππ
bersambung..