
Disty mencoba untuk memberontak namun cengkraman itu semakin kencang.
"Apa yang kau lakukan Alan..?"tanya Disty dengan penuh emosi setelah mengetahui Alan lah yang menarik dirinya . Alan pun melepaskan cengkraman Disty lalu memepetkannya ke tembok, dan tersenyum sinis.
"Kenapa? kau kaget kita bisa berjumpa lagi."ucap Alan dengan sinisnya dan menatap Disty namun Disty memalingkan wajahnya.
"Aku tidak pernah menganggap kenal dirimu, jadi pergilah temui Vriska aku tidak mau dia melihat kau dan aku di sini."sahut Disty
"Kenapa? apa perlu ku ingatkan dirimu bagaimana kisah kita dulu."ucap Alan
"Cukup, pergilah jangan ganggu hidupku lagi. Anggaplah kita tidak saling mengenal"ucap Disty setelah itu pergi meninggalkan Alan.
**********
Hari sudah semakin gelap Dinda masih bergulir dengan kerjaannya, setiap ada jadwal operasi tentu itu akan menjadi hal yang melelahkan baginya. Setelah semuanya selesainya Dinda merapikan mejanya dan keluar untuk pulang.
tin.. tin.. sebuah klakson mobil berbunyi.
"Dokter Dinda mari saya antar pulang sekalian, saya tau anda tidak membawa mobil bukan. Lagian jalan kita searah.." ucap Dokter Deri menawari Dinda tumpangan.
Belom juga Dinda menjawab sebuah suara sudah menganggetkannya.
"Tidak perlu, saya bisa menjemput istri saya pulang. Anda perlu repot-repot untuk mengantarnya tuan.."ucap Rava dengan tatapan tajam.
"Oh, saya kira Dokter Dinda tidak ada yang jemput, mengingat tadi pagi juga dia berangkat sendiri menggunakan taksi"sahut Dokter Deri
"Kau mau mati ya, kenapa kau memperhatikan istriku sampai segitunya. Jangan dekati istriku,"ucap Rava dengan tegas "Dan kau ayo kita pulang.."ucap Rava pada Dinda.
Malas berdebat ia hanya mengikuti Rava saja.
Dasar suami posesif aku bahkan hanya tidak sengaja melihatnya, mengapa dia menganggap aku memperhatikan istrinya. ucao Dokter Deri
__ADS_1
******
"Sepertinya kau memang senang untuk bersama pria lain. Kau bahkan tidak bisa menolaknya.."ucap Rava sembil mengendarai mobilnya. Merasa ucapannya tidak mendapat respon ia pun melemparkan perkataan lagi.
"Kemarin kau dengan mantan pacarmu, lalu tadi kau mau bersama em teman kerjamu. Kenapa hanya diam saja? kau seperti piala bergilir saja."ucapnya dengan dingin juga menusuk.
Jlep ucapan Rava barusan sungguh sangat menyakitinya, tapi Dinda tidak mau membalasnya dengan emosi. Ia pun mengatur nafasnya lalu menoleh pada Rava.
"Kenapa? kenapa bisa berasumsi sendiri, kau berbicara seolah-olah kau begitu mengenalku. Tapi kenyataannya tidak bukan, yah dulu kita memang dekat sebagai sahabat, tapi saat kita sudah berada dalam ikatan pernikahan bukankah kita layak di sebut seperti orang asing. Kau mengecap buruk diriku, seolah-olah kau benar bukan, kau memang tidak pernah berubah dari dulu. Dengar meski pernikahan kita terjadi karena kesalahpahaman namun pernikahan kita tetap sah di mata agama juga negara bukan, kau juga sudah berjanji untuk menjagaku di hadapan tuhan, tapi kau sendiri tidak mampu menjagaku kau selalu membuat seolah-olah aku selalu salah. Kau seorang suami jika memang aku salah bukankah seharusnya kau patut untuk mengingatkannya dengan baik-baik bukan justru menjatuhkan harga diri istrimu. Aku juga heran kenapa kau sangat membenciku? segitunya kah."tutur Dinda pelan namun bagi Rava jawabannya adalah tamparan keras untuknya.
Rava heran kenapa Dinda bisa dengan santainya berbicara tidak menggunakan emosi. Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah, setelah Rava menghentikan mobilnya Dinda pun langsung keluar dan berjalan cepat menunuju kamarnya.
POV Dinda
Jujur hatiku sangat sakit mendengar Kak Rava berkata aku seperti piala bergilir. Aku tidak menyangka segitu hinakah aku di matanya. Aku tidak ada apa-apanya di mata suamiku sendiri. Ya tuhan.. pernikahan macam apa yang aku jalani. Dulu aku selalu berharap bisa menikah dengan orang yang mencintaiku lalu kehidupan rumah tanggaku akan selalu berwarna. Nyatanya setelah menikah tidak ada yang aku ributkan dengannya setiap harinya.
Mengapa sesakit ini. Aku memang hanya seorang anak manja aku bukan seorang wanita mandiri seperti Luna. Aku sadar, aku tidak pantas bersanding dengan dirinya. Aku sebenarnya ingin sekali menangis dari tadi, tapi aku tidak mau terlihat lemah olehnya.
Kapan semua akan berakhir, bisakah kita belajar untuk saling mencintai. Dulu aku pernah mencintainya, meski saat ini hatiku masih separuh bersama Alan tapi aku selalu berusaha untuk menerima dirinya. Tapi ia masih selalu larut dalam masa lalunya.
******
Author pov
Setelah di mencoba untuk berfikir dengan jernih akhirnya Rava menyadari kesalahan dirinya telah menyebut istrinya piala bergilir, ia menyadari juga selama ini ia telah banyak menorehkan luka pada Dinda.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk meminta maaf pada Dinda. Ketika sampai kamar ia tidak mendapati Dinda di sana namun ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia pun memutuskan untuk menunggu Dinda .
Tidak lama setelah itu pintu kamar mandi pun terbuka menampakkan Dinda keluar dengan pakaian yang lengkap. Rava mengamati Dinda, keningnya mengkerut setelah melihat mata Dinda sedikit sembab, membuat dirinya merasa amat bersalah.
"Dinda aku...."ucap Rava dengan berdiri menghampiri Dinda untuk mencoba meminta maaf namun rasanya lidahnya begitu kelu, kata-kata itu seoalah begitu susah untuk ia ucapkan.
__ADS_1
"Ada apa? mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Aku akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam."sahut Dinda mencoba untuk menghindar dari Rava, sungguh malu Rava pasti melihat mata dirinya yang bengkak .
Saat Dinda akan beranjak untuk keluar Rava pun menarik tangan Dinda, hingga secara refleks Dinda membalikkan badannya, dan pandangan mereka bertemu. Rava terus mengamati wajah Dinda hingga pandangannya jatuh pada bibir Dinda. Rasanya tak tahan untuk tidak mengecup bibir Dinda.
cup.. kecupan singkat mendarat di bibir Dinda, membuat Dinda melototkan kedua matanya.
"Maafkan aku, maaf telah banyak melukaimu..."ucap Rava dengan lega akhirnya kata maaf mampu ia ucapkan. Dinda hanya diam saja.
"Lupakan.."sahut Dinda setelah itu pergi ke luar.
Di balik pintu Dinda mencoba menentralkan jantungnya,
Kenapa begitu cepat, tidak ini salah aku tidak mau begitu mudah mencintainya kembali.
Sementara Rava yang saat ini berada di dalam kamar mandi, benar-benar merutuki kebodohannya kenapa ia tidak tahan melihat bibir Dinda rasanya ia ingin menciumnya. Bagaimana kalau ciuman tadi akan membuat Dinda begitu marah padanya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1