Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Sudah lama tidak menggenggam tanganmu


__ADS_3

...*Hidup adalah perjalanan dengan masalah yang harus di hadapi, dan pelajaran yang di ambil. Namun yang paling penting adalah pengalaman yang bisa di nikmati....


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹*


Bunyi ketukan sepatu terdengar di sepanjang koridor rumah sakit, setelah bertanya pada resepsionis di mana ruangan Rava berada, ia melangkahkan kakinya menuju ke sana. Entah mengapa ia merasa langkah kakinya semakin berat membawa tubuhnya kesana, tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga, sesekali ia akan mengusap air matanya.


Sampai di ruangan Rava, Dinda terdiam sejenak untuk menetralkan perasaannya. Kemudian ia membuka pintu, ia melihat adanya Mama Imel dan Papa Adi mereka menoleh ke arah Dinda.


"Nak ..."sapa keduanya


"Ma, Pa maaf.."ucap Dinda


Mama Dewi bangun dari duduknya menghampiri menantunya lalu memeluknya "Jangan minta maaf nak, kau tidak salah apapun pada kami. Mama yang harus minta maaf padamu, selama ini mama tidak tau perlakuan Rava padamu setelah menikah. Maafkan mama yang tidak bisa mendidik putra mama dengan baik."


"Tapi Kak Rava celaka karena aku."seru Dinda dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak nak, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua terjadi karena sudah takdir, tidak ada perlu di salahkan dalam hal ini." Ucap Mama Imel sambil melepas pelukannya kemudia ia menghapus air mata Dinda.


"Jangan menangis, kau harus kuat dan tegar mama tau kau putri mama yang kuat"ucapnya dengan memaksanya tersenyum.


"Betul nak kau jangan menyalahkan diri sendiri, berhubung kau di sini Papa dan Mama keluar dulu ya"ucap Papa Adi sambil mengelus kepala Dinda. Dinda pun mengangguk.


Setelah kepergian mertuanya Dinda menengok ke arah Rava, berjalan ke arahnya, ia bisa melihat adanya perban berkas operasi di kepala Rava, wajah Rava yang pucat bibirnya yang terlihat kering. Tangannya yang masih tersalue dengan selang infus, serta alat pendeteksi denyut jantung di tubuhnya, Ia mengamati setiap inci di tubuh Rava. Lalu ia mendudukan dirinya di kursi samping ranjang Rava.

__ADS_1


"Aku sudah lama tidak mengamatimu, kau ternyata tampak lebih kurus, apa kau tidak mengurus dirimu dengan benar."Dinda menghela nafasnya, menahan diri untuk tidak menangis. "Kau bilang kau tidak ingin membuatku sedih, tapi hari ini kau membuatku sedih melebihi apapun, kau tau hatiku jauh lebih sakit melihatmu seperti ini di banding dengan apapun sebelumnya. Ku harap kau tidak menikmati tidur panjangmu ini, agar kau cepat bangun."


Dinda memgambil tangan Rava lalu mengenggamnya "Aku sudah lama tidak mengenggam tanganmu, ternyata rasanya masih sama, aku merasa nyaman. Ternyata cintaku jauh lebih besar di bandingkan kemarahanku. Kau tau kemarin seharian aku menunggumu, ternyata kau tidak datang. Kau malah tidur di sini, Davis sangat rewel ia sangat rindu padamu. Bisakah kau membuka matamu kembali pada kami. Tadinya aku berfikir aku mampu menjadi orang tua seorang diri bagi Davis ternyata aku tidak bisa, peranmu sangat di butuhkan untuknya. Bangunlah aku sudah memaafkanmu. Jangan biarkan aku menyalahkan diri sendiri, dengan melihat kondisimu yang seperti ini"ucap Dinda air matanya sudah menetes ke tangan Rava, bagaimanapun ia menahan air matanya, nyatanya tetap saja tidak bisa.


"Kau tau aku sudah seperti orang gila mencarimu kemana-mana hari ini, aku jug datang ke rumah kita ternyata kau mengubah semuanya, aku sangat terharu, aku pun tidak menemukan satupun foto Luna, apa kau membuangnya . Aku merasa menjadi manusia yang paling egois setelah menyadari semuanya. Aku terlalu larut dengan amarahku tanpa mau melihat sisi baikmu. Kau tau aku juga datang ke apartemenmu, aku masih ingat kode apartemenmu, masih sama seperti dulu saat kita masih sama-sama menjadi sahabat, kau menjadikan tanggal kelulusanku untuk membuat pasword apartemenmu, aku fikir kau mengubahnya tapi ternyata tidak."Dinda menghapus air matanya lalu mencium tangan Rava.


"oh ya aku harus pulang aku sudah terlalu lama meninggalkan Davis, aku ingin menemanimu di sini sebenarnya, tapi kau juga tidak akan mau bukan jika aku tidak mengurus Davis dengan benar. Ku harap saat besok aku kesini kau sudah membuka matamu."ucap Dinda sebelum pergi.


Setelah kepergian Dinda, Rava meneteskan air matanya namun dengan mata yang tertutup


Dinda keluar dengan mata sembab, saat berjalan ia terlonjak kaget hampir bertabrakan dengan Mama Imel.


"Dinda kau baik-baik saja.."tanya Mama Imel


"Pasti , em mama panggilkan sopir saja ya, kau pulang dengan sopir mama saja"ucap Mama Imel


"Tidak ma.. aku membawa mobil."Dinda menolak ucapan Mama Imel


"Tapi.. Mama khawatir, Mama tidak butuh pebolakan Mama tidak mau terjadi apapu padamu, mobilmu biar nanti sopir mama yang membawanya pulang"ucap Mama Imel


Akhirnya Dinda mengalah dari pada harus berdebat dengan Mama mertuanya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹.

__ADS_1


"Bagaimana Al.."tanya Papa Adi setelah mendudukan dirinya di kursi depan Aldo. Keduanya kini tengah duduk di cafe, dekat rumah sakit Rava berada.


"Tuan, saya sudah menyelidiki semuanya, semua yang menimpa tuan Rava murni kecelakaan"ucap Aldo


"Syukurlah jika begitu, aku takut ada yang sengaja membuat Rava celaka ternyata dugaanku salah, aku cukup lega. Hanya tinggal menunggu Rava sadar, maaf harus kembali merepotkanmu dalam urusan kantor."ucap Papa Adi


"Tidak apa-apa tuan, saya akan melakukan apapun membantu Tuan Rava, bagaimanapun hubungan saya dengannya sudah lebih dari sekedar partner kerja"sahut Aldo sambil menyeruput teh nya.


"Kau benar kau sudah seperti anak bagiku, tapi kau sendiri tidak pernah mau memanggilku papa"seru Papa Adi


"Saya merasa nyaman seperti ini Tuan"sahut Aldo


"Baiklah terserah kau saja."sahutnya


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Dear readers: Ambilah pelajaran dari cerita ini yang baiknya saja.. misalnya saling terbuka dengan pasangan.πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Selamat membaca jangan lupa like, komen dan vote, beri bunga aku sebanyak-banyaknyaπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Maruk ni authornya,πŸ˜‚πŸ˜‚ aku update doble nie hari ini, kebetulan aku lagi baik. Kasihan sama para readers yang penasaranπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2