Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Couvade Syndrome


__ADS_3

😊jangan lupa Vote,Like daj komentnya, aku menghargai apapun yang kalian berikan readers, terimakasih.😊😚


__________


^^^_______^^^


**Satu-satunya hal


yang lebih


menyedihkan dari


di benci adalah


di abaikan


.........Anonim**.....


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Apa ini bi?"tanya Rava setelah sang bibi mengantarkan sebuah amplop.


"Saya tidak tau tuan, tadi ada seorang kurir yang mengantarkannya"jawab Bibi dengan takut melihat tatapan tajam Rava. Ah semenjak kepergian Dinda sangat berpengaruh terhadap perilaku Rava.


Setelah kepergian Bibi, Rava membuka amplop itu, matanya membulat sempurna jantungnya seakan berhenti, matanya berkaca-kaca, ia meremas kuat kertas itu. Setelahnya ia menyobek-nyobek kertas itu lalu membiarkannya berserakam di lantai.


"Segitunya inginnya kau berpisah dariku Dinda, hingga dengan teganya kau mengirimkan surat perpisahan kita. Kau fikir aku akan mengabulkan permintaanmu ini,"ucap Rava tanpa sadar air matanya sudah menetes, sesungguhnya ia merasa hancur ia menahan segala rasa sesak yang ada "Aku pernah bilang padamu jangan bermimpi untuk berpisah dariku, sekali ku berkomitmen tidak akan aku lepaskan apa yang sudah ku miliki. Tidak akan, aku tidak akan menyerah, aku akan membawamu pulang kembali"ucapnya meski tidak di pungkiri saat ini ia merasa sangat hancur. Ia melihat ke dalam amplop itu tentang alamat pengirim, tapi tidak ada, Dinda melakukannya dengan sangat rapi.


Memikirkan hal itu membuat kepala Rava berdenyut pusing dan rasa mual itu datang lagi, tadi saat bibi mengetuk pintu Rava sedang memuntahkan isi perutnya.


Ia masuk ke dalam kamar mandi, memuntahkan segala isi perutnya, kepalanya makin pusing entah ini efek ia muntah-muntah atau efek surat gugatan yang Dinda berikan. Ia mimijat pelipisnya, berusaha kembali ke kamar, nyatanya saat sampai di depan pintu kamar mandi, ia terjatuh tidak sadarkan diri.


Sementara itu di bawah Aldo baru saja tiba ia sudah menunggu 15 menit merasa ada yang aneh ia pun bertanya pada asisten rumah tangga Rava itu.


"Bi, apa tuan Rava sudah bangun?"tanya Aldo menghampiri Bibi yang sedang menata hidangan untuk Rava.


Bibi mendongak melihat Aldo "Sudah tuan, hanya saja em.."


Aldo memicingkan matanya , menatap heran "Ada apa katakan"desak Aldo


"Tadi pagi ada seorang kurir yang mengantarkan surat gugatan, sepertinya itu dari nona Dinda"jelas Bibi

__ADS_1


Penjelasan Bibi membuat Aldo kaget "Oh ya ampun, pasti telah terjadi sesuatu dengan Rava, aku akan mengeceknya"


Setibanya di depan kamar Rava, Aldo berusaha mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, akhirnya ia masuk saja beruntung pintunya tidak ada di dalam. Di depan pintu masuk ia melihat sobekan kertas berserakan di lantai ia tau Rava pasti yang melakukannya.


Sampai akhirnya ia melihat Rava yang tidak sadarkan diri, ia mendekatinya lalu mengeceknya.


"Ah syukurlah kau hanya pingsan tuan, ku fikir kau bunuh diri"pikir Aldo, setelahnya Aldo menelpon seorang dokter.


Tidak lama setelahnya itu Dokter pun tiba, seorang wanita cantik dengan jilbab yang senada dengan bajunya. Aldo melihat name tag di baju Dokter itu, tertulis Annisa. Saat ini Rava telah di pindahkan ke ranjang oleh Aldo di bantu Bibi pula.


Aldo memicingkan matanya sebelum bertanya "Kau dokter yang bekerja di rumah sakit Dinda bekerja bukan"tanya Aldo berharap mendapatkan petunjuk tentang Dinda.


"Iya tuan, namun sayangnya Dinda telah mengundurkan diri, saya tidak tau ada permasalahan apa"jelas Annisa dengan lembut. Aldo harus menelan rasa kecewa tidak mendapat petunjuk apapun.


Saat Annisa sedang memeriksa Rava, terlihat mata Rava terbuka, ia sudah sadar.


"Hei kau mau apa, berani sekali kau menyentuhku. Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhku selain istriku"ucap Rava dengan tajam.


Annisa tampak takut namun sebisa mungkin ia menepis segala rasa takutnya mengingat ini profesinya seorang dokter ia harus sabar, sedang Aldo sangat kaget dengan reaksi tuannya, segitu cintanya kah atasannya itu dengan istrinya saat ini hingga badannya di sentuh seorang dokter pun tidak boleh.


"Baiklah jika begitu, begini saya tidak akan menyentuh anda, saya hanya akan bertanya segala keluhan yang ada rasa, katakan semuanya mungkin dengan begitu aku akan tau sakit anda"ucap Annisa dengan senyumnya.


"Baiklah katakan apa yang anda rasa"tanya Annisa dengan datar, sungguh dalam hati ia merasa dongkol.


"Tadi itu aku merasa sangat pusing, akhir-akhir ini juga setiap pagi aku pasti akan muntah-muntah, lalu aku juga selalu makan dengan hal-hal aneh, seperti buah yang asem, bagiku itu bisa meredakan rasa mualku"jelas Rava


Annisa mengerutkan keningnya, sebelum tersenyum "Sepertinya akan ada kabar bahagia tuan,"ucap Annisa


"Hei aku sakit kenapa kau bilang kabar bahagia, dasar dokter bodoh"sahut Rava dengan ketus.


Annisa menggeram kesal, suami Dinda ini suka sekali memotong perkataan orang lain "Sepertinya istrinya anda tengah mengandung, saya sarankan anda membawanya ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya"ucap Annisa.


"Apa hubungannya dengan saya yang sakit istri saya hamil"dengus Rava


"Ya itu bisa terjadi pada sebagian orang, saya kurang mengerti istilah dalam kandungan, saya pikir anda sedang mengalami istrilah Couvade Syindrom di mana istri anda yang tengah mengandung lalu anda yang mengidam"jelas Dokter membuat Rava tersenyum, meski keadaan jauh tidak tau di mana Dinda berada kini, dalam ia bahagia mendengar ia akan menjadi serang papa, penjelasan dokter itu membuat semangat ia bangkit kembali.


Sedang Aldo tengah memikirkan perilkau Rava akhir-Β°akhir ini memang aneh, tadinya ia fikir Rava sengaja mengerjainya.


"Baiklah terimakasih dokter"ucap Aldo, Rava sedang asyik dengan pemikirannya.


Setelahnya dokter itupun pamit pergi, "Kau istirahatlah biar aku yang menghandle urusan kantor"ucao Aldo

__ADS_1


"Kau fikir aku sakit, kau tidak dengar aku hanya sedang mengidam."sahut Rava


"Baiklah terserahmu tuan"ucap Aldo dengan pasrah.


******


"Tuan ada hal yang harus saya katakan pada Anda"ucap Aldo yang merasa tidak enak tengah mengganggu atasannya itu.


"Katakan ada apa."jawab Rava


"Em begini proyek kita yang berada dalam Surabaya mengalami sedikit masalah, sepertinya ada yang ingin berusan dengan anda, saya sudah menyuruh orang sana untuk menelitinya, nyatanya ia melakukan dengan sangat rapi, sepertinya ia seorang yang handla. Saya rasa proyek ini perlu peninjauan langsung dari anda"jelas Aldo


Rava tampak memijat pelipisnya dan berfikir "Baiklah siapkan semuanya kita akan berangkat besok"ucap Rava


"Tuan, di karenakan proyek ini ana kerja sama dengan perusahaan tuan Alan nanti di sana kita akan meninjau bersama Alan juga"ucap Aldo


"Iya tidak masalah, pergilah ke ruanganmu"sahut Rava.


Rava memijat pelipisnya, ia merasa sangat sedih frustasi, rasa takdir Tuhan sedang menghukumnya belum cukup dengan kepergian istrinya, kini proyek yang ia bangun dengan susah payah berada dalam masalah.


Memikirkan Dinda ia bertekad tidak akan pernah menyetujui keinginan Dinda, apalagi ia tau jika saat ini Dinda tengah mengandung, ia fikir ia akan membiarkan anaknya tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Ia mengepalkan tangannya.


****


Satu jam sebelumnya, Aldo menerima telephone dari papanya Dinda.


"Ya tuan.."


"......."


"Baiklah"sambungan Aldo tutup, ia tengah berfikir sejenak. Sebelum akhirnya ia menerima telphone lagi dari orang yang berada di Surabaya yang tengah menanganai proyeknya, ia merasa mendapat ide.


Ya ia memang merencanakan untuk Rava datang ke Surabaya, tadi Papa Dicky menelphone memberitahukan jika kemarin Dinda menelphonenya lalu dengan usahanya ia mencoba untuk melacak keberadaan Dinda. Papa Dicky hanya tau saat ini Dinda berada di Surabaya tidak tau pasti di mana tempatnya. Untuk itu ia memberitahukan Aldo.


Aldo yang tidak ingin membuat atasannya kecewa ia berniat untuk membawanya ke Surabaya berharap nanti mereka di sana akan bertemu. Ia hanya berharap semoga tuhan masih mau mempersatukan mereka kembali, apalagi akan ada kehadiran seorang anak di antara mereka.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2