
Waktu terus berlalu hari telah berganti hari bulan berganti bulan, kini sudah satu tahun setelah meninggalnya Luna. Rava sudah kembali beraktivitas di kantor seperti biasa. Hanya saja sekarang sikapnya begitu dingin, cuek, jarang sekali tersenyum. Kepergian Luna membawa dampak yang buruk bagi Rava, akan sangat sulit bagi Rava untuk menjalin cinta kembali.
tok .. tok..
"masuk" sahut Rava
dan ternyata Livia yang datang
"Permisi Pak, saya hanya mengingatkan kalau meeting tentang peluncuran produk baru akan segera di mulai, semua sudah berada di ruang meeting, hanya tinggal menunggu bapak saja" ucap Livia
Rava kembali menutup dokumen yang sedang di baca, " baiklah," ucap Rava langsung berdiri , di ikuti Livia .
Ya saat ini Rava begitu berubah jarang berkata panjang.
"Di mana Aldo?" tanya Rava pada Livia yang sedang berjalan mengikuti Rava di belakang.
"Em Pak Aldo kan sedang manggantikan Bapak ke luar kota, mengecek lokasi untuk peluncuran produk baru kita pak." jelas Livia
"Oh...." sahut Rava
Apa... astaga hanya oh jawabnya.. aku berbicara panjang kali lebar dia hanya jawab satu kata. Benar apa kata Aldo bos memang berubah, raut wajahnya juga em.... astaga mikiran apa aku.. bodo amatlah. yang penting aku kerja benar saja..
*****
Meeting berjalan lancar, kini Rava telah sampai di ruangannya lagi. Ia mengambil foto pernikahannya dengan Luna yang terpampang di bingkai atas meja, tampak senyum kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Sungguh ia tidak menyangka pernikahan yang ia jalani harus berakhir dengan kematian. Jika tidak mengingat mama yang begitu terpuruk melihat kondisi Rava setelah Luna tiada, mungkin sampai saat ini pu ia belum bisa bangkit.
__ADS_1
Akan slalu ku kenang kenangan indah yang pernah terukir di antara kita, kau tak akan tergantikan sayang.
Setelah itu ia meletakkan kembali fotonya, lalu keluar , karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Ia memutuskan untuk makan siang dan mengunjungi makan Luna. Hampir setiap hari Rava slalu datang ke makam Luna.
******
Akhir-akhir ini Dinda terlihat begitu sibuk dengan kuliahnya ia belajar dengan giat, ia ingin segera lulus dan manjadi seorang dokter. Baginya seorang dokter merupakan pekerjaan yang mulia bisa membantu mengobati seseorang.
Gadis cantik dengan rambut panjang tubuh ramping, namun tetap terlihat berisi. Ia sekalipun tak pernah berpikir untuk memilik pacar. Sering sekali di goda oleh papa mama dan kakanya. Banyak pria yang tertarik dengannya namun entah mengapa tidak ada yang bisa menggetarkan hatinya .
ting ... pesan masuk dari hpnya menganggetkan Dinda yang sedang melamun
Hey apa kau sedang sibuk ~Alan
ya pesan tersebut dari Alan sampai saat ini ia masih sering bertukar pesan, berkali kali Alan mengungkapkan perasaannya namun entahlah bagi Dinda ia selalu menganggap semua hanya lelucon belaka, mengingat Alan adalah seorang playboy.
kebetulan aku sedang berada di Paris, sedang ada proyek di sini. Bisakah kita bertemu. Aku merindukanmu.~ Alan
aku tidak merindukanmu. Baiklah di mana kita bertemu~Dinda
restoran X, aku tunggu di sana. Sampai jumpa gadis impian~Alan*
"Apa-apaan dia. ckck..." ucap Dinda setelah membaca pesan tetakhir Alan
"kau kenap Din..."tanya Daniel
__ADS_1
"ah tidak.. oh ya aku duluan ya aku sedang ada perlu.." pamit Dinda
"lho Din.. kan tadi bilangnya mau makan siang bareng kok malah pergi.."tanya Daniel
"aduh maaf aku tidak bisa, aku sudah di tunggu seseorang.. kau makan berdua saja ya dengan Maya. Aku pergi dulu.." sahut Dinda sambil berlalu pergi
"Hem.. gagal lagi. Mau pdkt aja susah apalagi sampai pacaran.."ucap Daniel sambil mengacak-acak rambutnya.
"sudah tau susah masih aja di kejar.."sahut Maya
"Diam kau... " tegas Daniel setelah itu beralalu pergi
Di sini masih ada aku daniel.. mengapa kau mengejar cinta Dinda yang jelas-jelas sulit kau gapai. Tidakkah kau melihat ketulusanku....
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...