
**Tiga bulan kemudian**
Pagi hari
Luna terbangun dengan perasaan mual ia berjalan ke kamar mandi kemudian memuntahkan isinya, namun hanya cairan yang keluar , perutnya rasanya seperti di aduk-aduk.
Sebuah suara orang muntah dari kamar mandi membuat Rava menggeliat, tangannya meraba-raba mencari di mana keberadaan istrinya berada namun nihil, akhirnya ia membuka matanya setelah menyadari istrinya tidak ada di tempat ia segera menyusul istrinya di kamar mandi, mendapati istrinya tengah muntah-muntah ia mendekatinya dan memijit tengkuknya.
"Kau kenapa sayang" tanya Rava dengan khawatir
"tidak tau, mungkin hanya masuk angin" ucap Luna
"Kau sakit, kalau begitu setelah ini kita ke rumah sakit, aku tidak mau terjadi sesuatu" sahut Rava dengan tegas
"baiklah" sahut Luna dengan pasrah,
*****
Siang hari di rumah sakit, saat ini Rava dan Luna telah berbincang-bincang dengan doktee, kemudian Luna menjelaskan segala yang ia rasakan akhir-akhir ini.
"Bagaimana dok, apa yang terjadi dengan istri saya dok"tanya Rava dengan penasaran
"dari hasil pengamatan saya, bisa jadi istri anda saat ini sedang hamil Tuan, berhubung saya hanya dokter umum saya sarankan Tuan membawa istri anda ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut" terang dokter dengan ramah
Akhirnya setelah perbincangan dengan dokter tersebut Rava membawa Luna ke dokter kandungan, di sana Luna juga menjelaskan segala keluhannya.
"Baiklah , kalau begitu nyonya bisa berbaring terlebih dahulu biar saya priksa," kata dokter tersebut, lalu setelah Luna berbaring dokter tersebut menyingkap bajunya bagian perut, ia mengambil gell mengolesi bagian tersebut, dokter tersebut mengarahkan monitornya memperlihatkan apa yang ada di dalam perutnya.
__ADS_1
"Wah Tuan dan Nyonya selamat kalian lihat di sini sedang tumbuh janin, selamat tuan istri anda positif hamil" ucap Dokter tersebut
"Benarkah, aku senang sekali. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah" ucap Rava
"terimaksih sayang" ucapnya kembali sembari memberi kecupan lembut di kening istrinya.
*****
Setelah dari rumah sakit, kini Rava dan Luna sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka tak sabar untuk memberi tahu kedua orang tuanya, ia terus menggengam tangan istrinya dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya ia tetap menyetir.
"Apa ada sesuatu yang kau inginkan sayang" tanya Rava
"Aku ingin makan ice cream nanti mampir di cafe yang depan minimarket itu ya" sahut Luna
"Baiklah apapun untukmu sayang" ucap Rava
Mobil Rava kini terparkir di luar cafe, ia membukakan pintu untuk istrinya, mereka keluar lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Setelah memesen ice cream yang Luna inginkan mereka mencari tempat duduk. Hingga pandangan Rava menangkap seseorang yang akhir-akhir ini selalu menghindarinya. Mengerti dengan tatatapan Rava kemana, kemudian Luna menyadarkan suaminya.
"Sayang, bukankah itu Dinda. Kelihatannya dia semakin dekat dengan teman lelakinya itu. Berhubung sudah tidak ada bangku yang kosong, bagaimana kalau kita menghampiri mereka" ucap Luna
"Terserah kau sajalah sayang" sahut Rava
Mereka kemudian berjalan menuju meja di mana Dinda berada.
"Bolehkah kami bergabung di sini" tanya Luna sembari mendaratkan bokong di kursi samping Dinda, membuat Dinda mendongakan kepalanya.
Ia melihat Rava dan Luna berada di dekatnya, perasaan gugup tiba-tiba menghampirinya. Selama ini ia sudah berusaha untuk menjauhi kehidupan mereka, namun kenapa mereka kembali di pertemukan secara tidak sengaja, meski rumah mereka berdekatan Dinda sudah tidak pernah bermain ke rumah Rava, meski terkadangan Imel sang mama Rava kerap sekali memaksa, namun dengan bujuk rayu Dinda, Dinda selalu bisa membujuknya untuk lebih baik mereka pergi belanja atau sekedar jalan-jalan saja. Apa Luna sengaja ingin memamerkan kemesraannya kepadanya, bukankah ia sendiri yang minta untuk tak mengganggu Rava lalu kenapa sekarang ia berpura-pura tak mempermasalahkan apapun.
__ADS_1
Melihat Dinda melamun tak menjawab pertanyaan Rava dan Luna, membuat Alan harus membuka suarannya.
"Tentu saja nona duduklah, cafe ini bukan punyaku, jadi kau bebas duduk di manapun" ucap Alan sembari senyum namun pandangannya tak lepas dari wajah Dinda yang mendadak jadi sendu sejak kedatangan Rava dan Luna. ia tahu saat ini Dinda sedang menahan perasaannya mati-matian.
Dinda memang sudah bercerita semua terhadap Alan, pertemuan mereka di pesta pernikahan Rava dan Luna membuat hubungan mereka semakin dekat, meskipun notabennya Alan adalah playboy tapi ia begitu mengerti Dinda, atau bisa di katakan ia sudah jatuh cinta terhadap Dinda, namun ia mengerti perasaan tak bisa di paksakan, apalagi sampai saat ini Rava masih slalu menduduki hati Dinda. Sama halnya perasaan Rava terhadap Dinda tidak bisa di paksakan.
Sejak kedatangan Rava dan Luna, Dinda hanya berdiam membisu menundukan pandangannya, dan meremas tangannya. Apalagi melihat Rava yang terus menatapnnya membuat ia bertambah gugup.
"Kalian pacaran" tanya Rava akhirnya ia membuka suara
"hah tidak tuan Rava, kami hanya berteman. Ya syukur-syukur kalau nanti ucapanmu itu benar-benar terjadi tuan, tapi ku rasa itu akan sangat sulit" jawab Alan, sedangkan Dinda hanya berdiam diri. Dan Luna sedang asyik memakan ice cream pesanannya.
"kenapa? oh jangan panggil aku tuan, panggil Rava saja, bukankah lebih enak" ucap Rava
"Baiklah Rava... Karena sampai saat ini masih ada seseorang yang menduduki hatinya. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengusir seseorang itu, apa kau punya caranya Rava?" tanya Alan kembali, membuat Luna menoleh merasa tertarik untuk mendengarkan obrolan mereka.
"Benarkah begitu, siapa orang itu Din?" tanya Rava kali ini sambil menatap Dinda, sedangkan Dinda mengalihkan pandangannya.
"em itu tidak penting, maaf aku harus pulang. permisi. Aku duluan." ucap Dinda mengambil tasnya dan buru-buru pergi.
"ehh Dinda aku ikutan, saya juga permisi Rava" pamit Alan
Pandangan Rava tak lepas dari kepergian Dinda, kenapa ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang hilang.
****
Setelah kepergian Dinda dan Alan kini Rava dan Luna pun memutuskan untuk pulang. Mereka kini sedang di dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang Rava tak banyak bicara, entahlah dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Luna malah tertidur, Rava menengok Luna lalu tersenyum.
__ADS_1
Setelah aku menikah , aku merasa sangat jauh sama Dinda ia seperti menjaga jarak denganku. Sebenarnya ada apa? setiap bertemu denganku juga ia slalu berusaha menghindar, bahkan saat aku tak sengaja menatapnya aku melihat ada luka dalam dirinya. Sebenarnya apa salahku padanya?tadi ingin sekali ku tanyakan padanya, tapi mengingat ada Luna tidak mungkin aku bertanya seperti itu. Sepertinya aku harus menanyakannya besok. Bahkan aku kirim pesanpun tidak pernah ia balas.. pikir Rava yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri..