Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Aku memerlukan dirimu


__ADS_3

Vriska masih duduk termangu di ruang tunggu bersama Lana. Lana merupakan asisten Vriska yang ia pekerjakan untuk menggantikan Disty.


Sesekali ekor matanya akan bergerak melihat ke arah pintu, ada perasan berat yang ia rasa harus meninggalkan negara kelahirannya. Meski ini hanya sementara, saat nanti ia di nyatakan sembuh dari penyakitnya ia akan kembali pulang.


Ia sendiri sejujurnya masih bimbang dengan keputusannya ini, apakah ini keputusan yang benar atau salah,?. Ia memutuskan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun pada Alan. Jika Alan tau pasti laki-laki itu akan sangat kecewa padanya, tapi bukankah ini yang ia inginkan. Ia menginginkan Alan menjauh darinya dan mendapatkan wanita yang sempurna.


Kemudian ia membayangkan bagaimana kehidupan di masa depan, saat semua itu terjadi. Ketika ia di nyatakan sembuh lalu ia kembali ke negaranya, kemudian ia di pertemukan kembali dan Alan, andainya laki-laki itu sudah kembali memiliki seorang pendamping yang sempurna seperti apa yang Vriska inginkan. Akankah Vriska menerima dengan lapang dada.


Vriska berusaha mengenyehkan segala pikirannya ia tidak mau goyah, ia harus yakin dengan semuanya.


"Nona Vriska ayo masuk.."Lana menepuk pundak Vriska membuat Vriska tersadar dari lamunannya.


Vriska mengangguk kemudian mereka bangkit dari kursinya. Saat berjalan Vriska kembali menengok ke belakang.


Aku seperti mendengar Alan memanggilku, tapi itu tidak mungkin.


Vriska kembali melangkahkan kakinya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Sementara Alan terus mondar-mandir mencari Vriska. Ia masih berharap semua belum terlambat. Ia terus berusaha memanggil-manggil Vriska.


Alan mengusap wajahnya frustasi rasanya ia hampir putus asa, nafasnya tampak tidak beraturan.


Ya tuhan, tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya. Jangan biarkan ia meninggalkanku. Aku terlalu bodoh andainya semalam saat aku mengetahui semuanya aku langsung pergi ke tempatnya, tentu ini tidak akan terjadi, tapi aku malah membuang waktuku begitu saja. Aku bahkan tidak tau Vriska akan melakukan penerbangan ke negara mana, aku lupa bertanya pada tante Lita.


Alan kembali mencari Vriska, ia masih yakin jika Vriska masih di situ.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Nona ada apa? apa ada seseorang yang Nona tunggu.."tanya Lana


"Tidak ada Lana, ayo.."seru Vriska


Terdengar suara seorang operator jika pesawat yang akan Vriska dan Lana tumpangi sudah tiba dan tiga puluh menit lagi akan segera di berangkatkan.


Vriska dan Lana kembali melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba ia merasa tangannya di cengkram erat dari belakang.


"Lana, apa yang kau lakukan. Jangan bercanda..."seru Vriska dengan sedikit kesal.


"Nona aku tidak melakukan apapun, bukankah dari tadi aku di sini, itu .."sahut Lana.


Vriska melihat ke arah Lana yang ternyata malah berdiri di depan Vriska dengan mata melotot ke belakang.


"Kau mau ke mana Vriska.." Vriska tercengang kaget, ia sangat mengenali suara itu cengkraman yang di tangan Vriska pun sudah terlepas, kemudian Vriska berbalik.


"Alan... kau .."ucapan Vriska tertahan, ia melihat penampilan Alan yang tampak rambutnya sudah berantakan, dasinya sudah tidak beraturan, bajunya terlihat kusut, serta nafasnya terlihat tak beraturan ia seperti habis lari maraton.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa di sini Alan.."tanya Vriska akhirnya.


Alan menghela nafasnya, kemudian ia menatap tajam ke arah Vriska, sungguh ia rasanya sangat kecewa pada wanita ini tapi rasa cintanya mengalahkan segala rasa emosi dan kecewanya itu "Kenapa? bukankah ini tempat umum aku bebas bukan berada di sini.."cetus Alan dengan rasa kesal, Vriska salah tingkah.


Alan kembali melihat ke arah Vriska wanita itu terlihat sedang memegang kopernya "Justru aku yang harusnya bertanya, bagaimana kau bisa di sini. Kau mau ke mana Vriska.."


Vriska terlihat gugup ingin menjawab pertanyaan Alan "Alan, aku harus pergi. Aku ada pekerjaan di luar negeri."ucap Vriska dengan gugup, karena apa yang ia ucapkan semua bohong , ia terlihat meremas bajunya. Alan terus melihat ke arah Vriska ia bisa melihat jika Vriska terlihat gugup.


"Sampai kapan kau akan berbohong padaku Vriska, aku sudah mengetahui semuanya."ucap Alan


"Tahu apa Alan, aku tidak pernah berbohong apapun padamu"sangkal Vriska,


Lana yang berdiri di dekat situ, tidak mengerti apa yang terjadi pada keduanya hingga ia memilih menyingkir sebentar.


"Tentang perasaanmu dan ini.."Alan mengeluarkan selembar kertas hasil tes lab Vriska yang terjatuh saat itu.


Vriska mengulurkan tangannya mengambil kertas itu kemudian membukanya dengan kedua tangannya, sesaat kemudian terlihat kaget ia menatap ke arah Alan.


"Alan dari mana mau dapatkan ini?"tanya Vriska dengan sorot mata yang tajam.


"Dari dirimu sendiri, kau pasti mengingat sesuatu saat di mana aku bisa mengambil kertas itu darimu"ucap Alan, Vriska mengingat kejadian saat di cafe waktu itu, tiba-tiba wajahnya merona.


"Alan aku.. em..."Vriska terlihat gelagapan.


"Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku.."tanya Alan mengintimindasi Vriska.


Alan menggelengkan kepalanya ia tersenyum miris "Kau fikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? jangan harap. Setelah kau berhasil membuat hatiku sudah sepenuhnya milikmu, lalu kau ingin meninggalkanku begitu saja. Tidak Vriska, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang aku rasa."


"Apa maksudmu Alan.."Tanya Vriska


"Vriska, kenapa kau menutupi semuanya dariku, tidakkah kau percaya sedikitpun padaku. Apa kau menganggap rasa cintaku ini palsu."tanya Alan


"Bu.. bukan Alan, aku hanya merasa tidak pantas untukmu, jadi ku mohon biarkan aku pergi, kau berhak mendapatkan wanita yang sempurna Alan. Jangan kau korbankan dirimu demi aku"ucap Vriska kali ini ia sudah tidak dapat menahan air matanya,


Alan sudah tidak tahan melihat Vriska menangis, kali ini ia bisa melihat jika wanita itu sebenarnya merasa lemah, Alan mendekat lalu merengkuh wanita itu membawa ke dalam pelukannya "Aku tidak perlu wanita yang sempurna, tapi aku memerlukan dirimu. Dengarkanlah aku baik-baik, aku hanya akan merasa bahagia bila bersama dengan dirimu, percayalah aku tulus mencintaimu, aku akan menerimamu apa adanya, tidak peduli apapun yang terjadi padamu kini. Ku mohon jangan tinggalkan aku, aku bisa gila Vriska. Jadikanlah aku sandaranmu, jangan menyimpan segala permasalahanmu sendiri. Aku akan selalu berada di sampingmu menghadapi semua, yakinlah kau pasti sembuh"tutur Alan, dengan mata berkaca-kaca, Vriska terlihat ragu untuk membalas pelukan Alan, namun lambat laun ia pun memberanikan diri membalas pelukan laki-laki itu.


Rasanya begitu hangat dan nyaman, ia seperti mendapat kekuatan yang baru, Vriska amat terharu dan bahagia mendengar kata-kata Alan, rasanya ungkapan hati Alan membawa kedamaian dalam hatinya. Sedangkan Alan bisa merasakan betapa kurusnya tubuhnya Vriska saat ini.


Vriska melepas pelukannya dari Alan "Tapi Alan, kau tau apa kata dokter, Dokter bilang aku akan sulit mempunyai anak. Jadi sebelum semua terlambat tinggalkanlah aku Alan, biarkan aku pergi"ucap Vriska.


"Aku tidak masalah tidak mempunyai anak, kita bisa mengadopsinya. Kenapa kau begitu mempercayai perkataan dokter sialan itu, apa kau tidak peracaya akan keajaiban Tuhan. Dokter itu hanya bilang sulit bukam berarti tidak bisa tentunya semua masih ada harapan Vriska"Alan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi aku mempermasalahkannya Alan, aku seorang wanita Alan, hatiku sangat hancur aku merasa diriku tidak berarti apa-apa, saat dokter menyatakan aku akan sulit mempunyai keturunan. Dan aku tidak mau membawamu ke dalam deritaku, biarkanlah aku menanggungnya sendiri, biarkan aku pergi Alan. Aku akan berusaha mengobati penyakitku nanti di sana " seru Vriska


"Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa diriku. Jadi sekarang kita pulang aku akan mempersiapkan segalanya, besok kita berangkat bersama, biar aku yang membawamu berobat. Aku akan mendampingimu sampai kau sembuh"ucap Alan


"Alan kenapa kau begitu keras kepala, aku bilang biarkan aku pergi"ucap Vriska dengan keras kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa,? jika kau saja bisa keras kepala kenapa aku tidak. Kau bilang aku berhak aku menentukan pilihanku sendiri bukan. Dan ini pilihanku adalah dirimu."ucap Alan, membuat Vriska terdiam ia merasa kalah telak.


Vriska sudah terdiam pasrah "Kau yakin dengan semua ini Alan"ucap Vriska dengan lirih.


"Sangat.. aku sangat yakin. "tegas Alan


"Aku tidak mau kau menyesal Alan"seru Vriska


"Aku tidak akan pernah menyesal dengan pilihanku. Tolong jangan membuat aku kembali melakukan hal bodoh dengan membiarkanmu pergi"seru Alan


"Baiklah jika ini pilihanmu.."Vriska akhirnya memilih mengalah, toh sebenarnya ia tidak siap kehilangan Alan.


Alan tersenyum senang kemudian ia kembali memeluk Vriska, dan mengecup kepalanya "Aku janji aku akan melakukan yang terbaik untukmu, kau harus tetap semangat. I love you."ucap Alan membuat pipi Vriska merona.


"Aku juga.."jawab Vriska


"Kenapa kau tidak membalas pernyataan cintaku..."ucap Alan


Vriska terlihat salah tingkah ia malu "Aku.. itu .. itu apa ya.."Vriska menggaruk kepalanya.


Belum sempat Alan berbicara, Lana tiba-tiba di sebelah mereke "Ehem ehemm..."Lana berdehem membuat Vriska spontan melepas pelukan Alan dan mendorongnya..."


"shit... menganggu saja.."decak Alan dengan kesal.


Sedangkan Vriska terlihat malu, "Nona apakah kita jadi berangkat..."tanya Lana


Belum sempat Vriska menjawab "Tidak jadi batalkan penerbangan itu, Vriska akan berangkat denganku besok, jadi sekarang aku akan membawanya pulang lebih dulu"seru Alan, ia langsung menggandeng tangan Vriska membawanya pergi dan mengambil alih koper Vriska.


Sedangkan Lana mendumel tidak jelas karena ia di tinggal sendiri, tapi ia bahagia karena melihat Vriska kini juga bahagia.


"Alan, kenapa kau meninggalkan Lana sendiri, ia tidak membawa mobil"ucap Vriska saat sudah sampai di mobil Alan.


"Biarkan saja ia naik taksi nanti"jawab Alan asal, sambil menyalakan mobilnya meninggalkan area Bandara.


"Buang-buang waktu saja jika begini.."decak Vriska dengan kesal.


Alan tersenyum tipis "Salah sendiri, kau seperti anak kecil main kabur-kaburan.."seru Alan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹Mau up harus nunggu si kecil tidur dulu, karena kalau tidak suka di ganggu konsentrasinya, dan akhirnya otaknya lansgung blankπŸ˜‚πŸ˜‚πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Bagaiamana part ini readers..πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Selamat membaca, jangan lupa tekan like, komen, vote.. beri aku hadiah sebanyak-banyaknyaπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2