
Waktu terus berlalu tak terasa bulan telah berganti bulan hari berganti hari. Kini kandungan Luna sudah menjelang persalinan. Rava semakin protektif tidak boleh melakukan apapun, memang semenjak Luna menikah dengan Rava, Luna sudah tidak bekerja karena itu keinginan Rava.
Mereka menjalani hari-hari pernikahan mereka dengan bahagia. Sampai saat ini pun tidak ada kabar dengan Dinda. Segala koneksi tentang Dinda tidak ada yang bisa di hubungi, bisa saja Rava menyuruh seseorang mencari informasi tentang Dinda. Tapi buat apa toh ini semua keinginan Dinda. Rava benar-benar kecewa dengan dia, selama ini Rava sudah menganggap dia seorang adik sendiri, tapi apa yang Dinda lakukan pergi pun tanpa pamit padanya. Sekalian saja ia berharap tidak usah bertemu lagi dengannya.
********
pagi hari
Luna sedang membantu Rava mamakaikan dasi. Rava menatap Luna dengan senyum bahagia sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Luna.
"sayang ini geli, gimana mau cepat beres ini kalau kau begini . Ayo buruan sudah di tunggu mama dan papa sarapan" ujar Luna
"Sebentar saja aku masih ingin seperti ini sayang. Entah mengapa aku begitu enggan begitu ke kantor, aku masih sangat merindukanmu." jawab Rava sambil menatap Luna
"tidak, kau harus ke kantor. Bagaimana mungkin kau begitu merindukanku bukankah kau selalu bersamaku setiap hari"tanya Luna
"Entahlah aku tidak tau. Rasanya merindukanmu itu mendarah daging bagiku" sahut Rava
"Dasar gombal, sudahlah ayo kita turun sarapan" ajak Luna
****
Setelah selesai Rava berangkat Luna kembali masuk ke dalam kamar, rasa bosan pun melanda ia bingung mau apa. Mengerjakan pekerjaan rumah pun, sudah tentu tidak di perbolehkan oleh mama mertuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk membaca novel saja.
Membaca novel saja ternyata tak cukup menghilangkan rasa bosannya. Akhirnya ia memilih menghubungi Rava bermaksud minta ijin ke kantornya.
sayang, bolehkah aku ke kantormu ~Luna
__ADS_1
tidak lama setelah itu Rava membalas pesan Luna
*Kenapa sayang, apa kau merasa bosan di rumah ~ Rava
tentu saja, aku bahkan tidak boleh apa-apa dirumah. Ini membosankan boleh ya aku ke situ~Luna
baiklah, tapi hati-hati~Rava*
setelah mendapat ijin dari Rava , Luna pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor suaminya. Saat sampai di bawah ia bertemu dengan Imel.
"Luna, kau mau ke mana?" tanya Imel
"em mau ke kantor Rava ma, aku bosan di rumah" ucap Luna
"tapi.. apa tidak papa. Mama merasa wajah kamu begitu pucat. Kamu pergi sama sopir ya." sahut Imel dengan khawatir. Luna pun mengangguk. Lalu berpamitan pergi.
******
Di dalam mobil Luna rasanya begitu gembira ia amat bahagia mau bertemu suami tercintanya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Namun dari arah yang berlawanan sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga tiba-tiba.. Brakkkkk...
Sebuah truk menghantam mobil yang Luna kendarai, truk tersebut seperti kehilangan kendali dan terjadilah insiden kecelakaan. Darah bercucuran kemana-mana. Berbondong-bondong orang datang melihat kecelakaan itu berusaha menyelamatkan korban, hingga sampai polisi dan ambulan berdatangan.
Korban pun di larikan ke rumah sakit. Terlihat Luna tidak sadarkan diri, sopir truk telah meniggal dalam kecalakaan, begitupun dengan sopir yang mengendarai mobil Luna karena mobil di hantam begitu keras.
*****
Di kantor Rava
__ADS_1
Rava sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen, tanp sadar menyenggol sebuah bingkai foto pernikahannya dengan Luna. Bingkai tersebut jatuh dan hancur.
"Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak. Aku jadi teringat Luna, muda-mudahan tidak terjadi apa-apa. Oh ya Luna belom sampai juga, lebih baik aku hubungi dia" ucap Rava mencoba menyembunyikan ke khawatirannya. Lalu mengambil hp nya, saat mau memencet no telp Luna. Bunyi hp Rava bergetar tanda panggilan masuk, Rava pu menerima panggilan tersebut.
ya hallo~Rava
Maaf benarkah ini dengan Tuan Rava, kami dari pihak kepolisian~ polisi
Iya benar saya Rava.Ada apa pak~Rava
Telah terjadi kecelakaan di jalan xx, korban yang bernama Luna bersama sopirnya telah di larikan ke rumah sakit terdekat, apakah anda keluarga korban~ polisi
Bagaimana terssambar petir Rava begitu kaget tidak mungkin kakinya gemetar lemas tak bertenaga. Namun sebisa mungkin ia kuat, ia harus memastikannya sendiri. Dengan langkah cepat ia pergi dari kantor menuju rumah sakit di mana istrinya berada saat ini. .
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1