
Kini Dinda sedang tiduran di ranjang tempat tidurnya. Berbagai pikiran berkecamuk dalam otaknya, apalagi mengingat pertemuan tadi dengan Alan.
Mengapa aku harus berada dalam pertengkaran mereka. Bukankah dulu Alan sendiri yang memutuskan hubungan denganku. pikirnya
Ia mendesah frustasi, lalu pikirannya mendadak tertuju pada Rava. Ia meraih handphonenya tapi gengsi jika harus menghubungi duluan, tetapi ia benar-benar ingin mendengar suaranya. Lalu ia mencari ide untuk membuat alasan menelpon Rava.
Setelah menemukan sebuah ide ia pun menghubungi Rava, lalu terhubung.
"kenapa, kau merindukanku. Baru di tinggal sehari sudah rindu saja.."ucap Rava di sebrang sana dengan PD nya.
"Tidak, em aku cuma mau tanya di mana kau menyimpan remot tv"sahut Dinda
"Oh ya ampun, kau menelponku hanya untuk menanyakan remot tv, menyebalkan sekali"sungut Rava
"Iya di mana kau menaronya, kemarin malam aku tertidur duluan. Lalu kau yang mematikan tv nya.."ucap Dinda
"Di dekat tv nya.."lirih Rava terdengar kecewa.
"oh.. oh ya besok kau pulang bukan.."tanya Dinda
"Tidak.."sahut Rava dengan datar
"Hei yang benar saja, kau bilang hanya sebentar, pokoknya besok kau harus pulang.."ucap Dinda dengan keras lalu mematikan telephonnya.
Kenapa aku jadi emosi gini.
***
Sementara di sebrang sana Rava sedang mengernyit bingung mendadak Dinda mematikan telephonnya.
Belom lagi bunyi pesan yang Dinda kirimkan jutsru membuat Rava terkekeh lucu.
Jika besok kau tidak pulang jangan harap aku mau berbicara denganmu, kau juga harus tidur di luar selama seminggu. itulah pesan dari Dinda.
"Kenapa? telphonnya dari Dinda?"tanya papa Adi yang baru keluar dari kamar mandi.
Rava mengangguk "pertemuan kita sudah selesai kan pah, besok kita pulang"ucap Rava
"Tentu, kau sudah tidak sabar bertemu istrimu ya"tanya papa Adi sambil membaringkan dirnya di tempat tidur.
"Papa kaya tidak pernah muda saja"ucap Rava sambil memejamkan matanya memunggungi papanya.
"Huh dia tidak tau saja bagaimana perjuangkanku menaklukan mamanya dulu"lirih papa Adi.
******
Pagi hari tiba, seperti niatnya kemarin hari ini Dinda akan membuat kue untuk Rava. Dapur yang semula rapi menjadi berantakan penuh tepung.
Kebetulan hari ini weekend jadi Dinda bersantai juga makanya dia bisa meluangkan waktunya.
Ting.. bunyi suara oven tanda kue telah mateng.
Setelahnya Dinda mengeluarkan kue lalu mencium aromanya.
"Harumnya, pasti kak Rava akan suka.."ucapnya
Niatnya setelah selesai membuat kue ia akan beres-beres dan membersihkan diri. Namun niatnya terungkan kala mendengar bunyi bel pintu. Lalu terpaksa ia mengalihkan tugasnya pada bibi, ia pun kelaur membuka pintu.
Ceklek pintu di buka Dinda pun melihat siapa yang datang seketika matanya membulat sempurna
"Kak Rava, tumben tidak masuk saja. Biasanya juga langsung masuk kaya tamu saja."ucap Dinda
Sementara Rava mengernyit bingung melihat penampilan Dinda yang acak-acakan rambut muka bertabur tepung, bisa di duga Dinda belum mandi.
__ADS_1
"Kenapa dengan penampilanmu? kau habis berguling-guling di tepung."sahut Rava dengan terkekeh, sambil berlalu masuk.
Seketika Dinda baru sadar akan penampilannya kali ini, ia belum mandi. Niatnya setelah membuat kue ia akan membersihkan diri dan berdandan cantik untuk menyambut Rava. Namun semua gagal karena ternyata Rava pulang lebih pagi.
"Menyebalkan dia pikir lucu apa.."sungut Dinda sambil menghentakkan kakinya.
Lalu Dinda pun berlalu ke dapur membuat teh juga menyiapkan kue yang ia buat tad untuk Rava.
Setelah sampai di kamar Dinda melihat Rava sedang melepas sepatunya.
"Minumlah teh nya setelah itu bersihku dirimu"ucap Dinda,
"Akan ku minum nanti setelah mandi,"ucap Rava sambil menyambar handuknya dan berlalu ke kamar mandi. Namun tidak lama ia membuka pintunya lagi.
"Dinda kemarilah.."ucap Rava
Dinda yang sedang duduk di sofa bangkit dan berjalan menuju Rava "Ada apa.."tanyanya setelah sampai di depan Rava.
Rava tidak menjawab justru menarik tangan Dinda masuk ke dalam kamar mandi.
"Hei apa yang kau lakukan, kau bilang ingin mandi.."ucap Dinda
"Tentu saja aku mau mandi memangnya aku mau makan."sahut Rava dengan enteng sambil mengguyur dirinya di sower serta menarik Dinda agar ikutan basah.
"Lalu untuk apa membawaku ke sini"ucap Dinda yang saat ini bajunya telah basah akibat guyuran dari Rava.
"Tentu saja kau juga harus mandi, aku tau kau belum mandi. Lihat dirimu bermandikan tepung, kau habis ngapain sih?"tanya Rava
"Aku habis membuat kue. "sahut Dinda
Sementara Rava terdiam mengamati Dinda yang tampak cantik dan seksi apalagi dalam keadaan basah.
"hei kenapa kau diam saja. Jangan mendekat.."ucap Dinda
"Tidak mau, aku sudah kedinginan. Kau juga lelah"sahut Dinda
"Ya sudahlah, tapi lihat saja nanti malam" dengus Rava dalam hati
******
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
"minumlah teh nya"ucap Dinda sambil memberikan teh nya pada Rava yang sedang duduk memangku laptopnya. Segeralah Rava meminum teh nya yang sudah hampir dingin, lalu Dinda memberikan kue yang ia buat tadi sambil duduk di sebelah Rava.
"Bagaimana kue nya,enak tidak ?"tanya Dinda
Melihat rasa penasaran Dinda membuat ide jahil Rava muncul untuk mengerjainya, "Sebentar aku baru makan satu mana berasa rasanya enak tidak"ucap Rava sambil terus memakan kue nya. Sedang Dinda hanya memberenggut kesal .
"Kue nya tidak enak."ucap Rava setelah memakan semua kue buatan Dinda.
"Jika tidak enak kenapa di habiskan"sahut Dinda kesal.
"Tentu saja karena aku lapar"sahut Rava dengan entengnya.
"Tadi pas aku buat aku dah suruh bibi untuk mencicipinya katanya enak, tapi katamu kue ku tidak enak. Mana yang benar, aku perlu menanyakannya lagi berarti."ucap Dinda sambil beranjak berdiri.
"Kau mau ke mana?"cegah Rava sambil memegang lengan tanganDinda.
"Tentu saja bertanya pada bibi, dia sudah bohong katanya kue ku enak tapi katamu tidak. Oh ya jika kau lapar turunlah makan bibi sudah masak tadi"ucap Dinda sambil melepes cekalan tangan Rava dan pergi.
Rava mendesah nyatanya Dinda tetaplah Dinda selalu bisa ia bodohi dari dulu. Jika kue buatannya tidak enak untuk apa Rava memakan semuanya. Rava mematikan laptopnya dan menyusul Dinda.
"Kenapa dengan mukamu cemberut begitu"tanya Rava setelah mendudukan dirinya di bangku sebelah Dinda.
__ADS_1
"Tentu saja aku sebal denganmu dan bibi. Kau bilang kueku tidak enak, tapi bibi bilang enak. Mana yang benar coba"ucap Dinda sambil mengambilkan nasi untuk Rava setelahnya ia duduk kembali.
"Terimakasih,. Masih masalah kue lagi"ucap Rava
"Tentu saja. Kau bahkan tidak menghargai buatanku,"sungut Dinda sambil menekan daging yang ada piringnya dengan garpu dan sendoknya. Rava yang melihat seketika bergidik ngeri.
"Jika kue buatanmu tidak enak, untuk apa aku menghabiskannya tanpa sisa. Tentu saja kue buatanmu enak, aku tadi hanya ingin mengerjaimu saja. Tidak tau saja reaksimu akan seperti ini"ucap Rava setelah selesai mengakhiri makannya, dan meninggalkan Dinda ke kamarnya.
Dinda bengong mendengar ucapan Rava, lalu menyusul Rava ke kamar.
"Benarkah yang kau bilang tadi"tanya Dinda setelah sampai di kamar.
"Hem.."jawab Rava datar sambil terus melihat laptopnya.
Dinda mendengus kesal mendengar jawaban Rava.
"Untuk apa ada hari weekend jika kau terus saja bekerja, sekalian saja kau tidak usah pulang menyebelkan"ucap Dinda dengan kesal.
"Sebentar aku hanya mengecek email saja"sahut Rava
"Terserah, aku tidak peduli"kesal Dinda
Setelahnya Rava mematikan laptopnya dan menyimpannya. Lalu berjalan menghampiri Dinda yang tengah kesal padanya, lalu memeluknya.
"Kenapa marah-marah terus, masih masalah kue lagi"tanya Rava sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dinda yang tengah berdiri menghadap jendela.
"Bukan, aku hanya kesal saja melihatmu kerja terus"jawab Dinda sambil mencebik kesal.
"Maafkan aku."ucap Rava sambil memberi kecupan lembut di leher Dinda.
"lepas, ini geli.. Kau mau apa , ini masih siang"ucap Dinda sambil mencoba melepas pelukan Rava namun tidak bisa.
"Tentu saja aku mau dirimu, memangnya ada larangan jika siang tidak boleh menyentuh istrinya"sahut Rava
"Selalu saja pintar berkata"sungut Dinda
"tentu saja, jika tidak mana mungkin papa menjadikan aku ceo di kantornya"ucap Rava sambil membuka resleting baju Dinda dan menciumi punggung Dinda. Dinda yang mendapatkan sensasi memabukkan hanya bisa pasrah.
Membawa Dinda ke ranjang lalu menidurkannya sambil terus mencium Dinda. Namun ketukan pintu membuyarkan semuanya.
"Shitt, mengganggu saja. Biar aku buka pintunya"ucap Rava dengan kesal , untungnya ia masih memakai pakaian lengkap.
"Maaf Tuan ada Nyonya Imel, Nyonya Dewi, dam Nona Vinda"ucap Bibi
Setelah menyampaikan yang di maksud Bibi pergi, Rava masuk ke dalam kamar lagi sambil mengacak rambutnya dengan kesal.
"Siapa kak"tanya Dinda sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Tentu saja karena Rava telah membuka habis pakainnya.
" Ada mama. Pakai pakaianmu kembali, lalu turunlah ke bawah lebih dulu, aku akan mandi lebih dulu"ucap Rava sambil berlalu ke kamar mandi dengan mendumel kesal.
Tentu saja Dinda merasa menang lalu mengambil pakaiannya dan memakainya.
.
.
.
.
bersambung..
kita buat yang manis-manis dulu ya guys sebelum ke konflik, konfliknya nanti ringan-ringan sajalah. Aku pengen tidak nyampai 100 bab udah tamat..hihihi
__ADS_1
jangan lupa like dan vote nya