Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_istriku bar-bar


__ADS_3

"Nona hentikanlah keributan ini saya mohon, ini bisa menimbulkan kebisingan pengunjung yang lain.."ujar seorang petugas keamanan.


"Memangnya aku peduli, siapapun yang berani menghina keluargaku tidak akan ku lepaskan begitu saja.."seru Vriska


"Kalau Nona tidak mau berdamai, kami bisa melakukannya dengan paksakan Nona.."ujarnya kembali.


"Lepaskan wanita brengsek.."teriak wanita itu pada Vriska.


"Diam..."bentak Vriska


"Coba saja kalau berani ayo maju sini.."tantang Vriska


"Vriska jangan nak.."ucap Mama Merlyn yang tampak tak di dengarkan oleh Vriska.


Vriska melepaskan cengkraman rambut wanita itu saat petugas keamanan itu maju berniat untuk membawa Vriska.


Namun..


Bugh..


Bugh..


Dua petugas itu terjatuh kesakitan, saat Vriska mendaratkan kakinya memukul tepat di ************ dua petugas keamanan itu.


"Aduh..."ringis keduanya.


"Segitu ternyata nyali kalian, cemen dengan wanita hamil saja kalian kalah.."sambung Vriska mengejek dua pria itu.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Mobil Alan telah sampai di parkiran di mana Vriska dan Mamanya berada Alan berlari kecil masuk ke dalam.


Sampai di dalam Alan terlonjak kaget akan hasil keributan yang istrinya ciptakan. Terlihat di sana seorang petugas keamanan sedang merintih kesakitan.


Dan ia melihat jika Vriska tengah menarik rambut wanita itu, Alan berusaha membelah kerumunan itu.


"Vriska..."panggil Alan membuat Vriska menengok ke arah suara itu.


"Hubby... kau.. di sini.."ucap Vriska


Alan mengangguk, "Lepaskan dia sayang, ayo dia terlihat kesakitan kasihan dia juga sedang hamil.."


"Tidak mau , sebelum dia meminta maaf pada mama tidak akan aku lepaskan.."


"Apa yang terjadi.."tanya seorang pria seumuran dengan Alan yang baru datang.


Alan dan Vriska sontak melihat ke arah pria itu.


"Candra.."


"Alan.."


"Sayang, tolong aku wanita ini menyakitiku.."ucap Wanita itu menunjuk Vriska.


"Nona tolong lepaskan istri saya.."pinta sang pria.


"Jadi kau suaminya..."Vriska melepaskan rambut wanita itu , "Suruh istrimu itu untuk minta maaf pada mamaku, karena dia sudah menghina mamaku.."


"Sera.. apa itu benar? ayo minta maaflah.."ucap Pria itu.


"Aku.. aku.. aku tidak mau..."Sera menolak untuk meminta maaf padanya.

__ADS_1


Vriska ingin kembali menjambak-jambak rambut wanita itu namun Alan kembali menghalangi istrinya, "Kenapa kau menghalangiku biar ku beri pelajaran wanita itu,"teriak Vriska meronta-ronta dalam dekapan sang suami.


"Sayang sudahlah ingat kau sedang hamil, tidak baik begini. Anak-anakmu juga pasti stress mendengar kelakukan maminya begini,"


"Jadi kau juga menyalahkanku"ucap Vriska dengan kesal.


"Maksudku.."


"Nona saya atas nama istri saya minta maaf pada anda,"ucap Candra, "Tante saya minta maaf bila perkataan istri saya telah menyinggung perasaan anda.."sambung Candra


"Tidak apa-apa nak Candra tante sudah memaafkannya..."ucap Mama Merlyn


"Terimakasih tante,"


"Alan aku permisi, senang bisa bertemu kembali denganmu kawan. Aku harap lain waktu kita bisa bertemu kembali.."ucap Candra.


"Iya, sampai jumpa.."sahut Alan


Sementara Sera dan Vriska masih saling adu mata melotot, membuat para suami geleng-geleng kepala.


Mama Merlyn tampak memijat kepalanya melihat kelakukan sang menantu yang bar-bar, bagaimana bisa Vriska mengalahkan dua petugas keamanan tadi, tanpa sadar ia pun mengelus dadanya.


"Sayang, apa dua petugas keamanan itu juga kau yang memukulnya.."tanya Alan sembari melihat kedua petugas keamanan itu yang berusaha berdiri di bantu yang lain.


"Tentu saja, karena mereka telah menghalangi niatku.."seru Vriska


Alan meneguk salivanya mendadak ia jadi merasa pening, bagaimana istrinya begitu bar-bar menghajar dua pria dalam keadaan mengandung. "Pak tolong bawa ke rumah sakit kedua petugas itu, saya khawatir akan terjadi cidera nantinya, saya akan bertanggung jawab untuk semua."pinta Alan


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Vriska pulang ke rumah bersama Alan, sementara Mama Merlyn dengan sopirnya kembali ke rumahnya . Sepanjang jalan Vriska hanya terdiam, entah kenapa ia begitu kesal dengan suaminya. Padahal ia belum puas untuk memberi pelajaran dengan wanita itu.


Bahkan sampai di rumah Vriska tetap mendiamkan Alan, Vriska berjalan masuk ke dapur terlihat di sana ada Bi Ningsih yang sedang beberes.


"Baik Nona.."


Alan tersenyum, "Habis berantem lapar juga ya.."


"Aku tidak mau bicara denganmu.."sahut Vriska kesal.


Lima menit kemudian Bi Ningsih datang membawa pesanan Vriska. Vriska mengambil garpu lalu menatap tajam ke arah Alan. Lalu Vriska mulai menusuk telor itu dengan garpu di tangannya.


"Dasar suami nyebelin.. aku kesal denganmu. Aku marah padamu, aku ingin memukulmu.."teriak Vriska


Alan menelan salivanya kasar, bagaimana ia melihat istrinya menusuk telor-telor seolah ia sedang menyakit dirinya.


"Kalau kau kesal, kenapa kau tidak memukulku saja.."ucap Alan


Vriska menghentikan aktivitasnya itu, lalu ia menatap tajam Alan.


"Aku tidak mau wajahmu jadi jelek,"ucap Vriska dengan sedih ia menangis.


"Lho kok nangis.."Alan bangkit dan memeluk Vriska.


Vriska menghapus air matanya, "Jangan peluk aku, aku sedang kesal denganmu. Aku tidak mu bicara denganmu.."


Vriska bangkit meninggalkan Alan di ruang makan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Hingga malam hari tiba Vriska masih mendiamkan Alan. Vriska mengambil bantal dan selimut.

__ADS_1


"Lho sayang ini..."tunjuk Alan


Vriska memberikan bantal dan selimut itu pada Alan, "Tidurlah di luar kamar, aku sedang kesal denganmu"ucap Vriska


"Yakin ni, memangnya kau bisa tidur tanpa memelukku"kata Alan


"Ish menyebalkan. Tentu saja bisa.."Ucap Vriska sambil menutup pintunya dengan keras, hingg Alan terlonjak kaget.


Sambil mengelus dadanya Alan pun merbahkan dirinya di sofa.


Lima menit


sepuluh menit


Dua puluh menit


Alan berkali-kali menengok ke arah pintu kamar sang istri, namun sepertinya istrinya sudah tidur nyanyak karena tidak kunjung membuka pintunya. Alan pun pasrah apalagi rasa ngantuk dan lelah sudah menyerangnya, tidak lama ia pun tertidur.


Sementara Vriska di dalam masih berusaha memejamkan matanya, Vriska merasa gelisah dan tidak bisa tidur. Karena memang biasanya Vriska hanya bisa tidur jika dalam pelukan suami.


Vriska mengelus perutnya, "Mau tidur di peluk papi, tadi menyuruh mami kesal dengan papimu, sekarang malah buat mami gelisah gak bisa tidur"ucapnya seolah ia sedang berbicara pada anaknya dalam perut.


Menyingkap selimutnya lalu bangkit membuka pintu. Vriska menghela nafasnya tatkala melihat suaminya sudah tertidur lelap di sofa


"enak banget sih dia bisa tidur, tanpa memikirkan aku.."dumel Vriska


Vriska berjalan ke arah dapur, ia sengaja berajalan di depan suami. Vriska ingin Alan merayunya untuk meminta tidur bareng. Namun rencana Vriska tidak berhasil, dengan perasaan kesal Vriska ke dapur mengambil makan, lalu membawanya ke dekat Alan tidur dan memakannya. Vriska masih berharap suaminya itu bangun, namun usahanya tidak juga berhasil.


Vriska menghentakkan kakinya, kemudian ia bangkit menghampiri suaminya.


"Hubby bangun..."ucap Vriska sambil menggoyangkan lengan sang suami.


Namu Alan hanya menggeliat dan memunggungi sang istri.


"Ish buru bangun, ayo tidur di kamar. Aku tidak bisa tidur..."Vriska terus membangunkan Alan.


Hingga Alan merasa tubuhnya terguncang ia pun membuka matanya.


"Ada apa hem.."seru Alan dengan suara seraknya.


"Ayo tidur di dalam.."


Alan bangkit "kenapa? tidak bisa tidur sendiri hem.."


Vriska mengangguk, "aku... aku_"


Alan berdiri, "Ayo masuk kamar, kita tidur.."


Sampainya di kamar Alan membantu sang istri berbaring, "Ayo tidurlah.."Alan memeluk sang istri.


"Maafkan aku hari ini membuatmu kesal ya. Aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu sayang, aku tidak ingin kau dan anak kita kenapa-napa, coba bayangkan saja bagaimana kalau tadi kau terjatuh.."Alan menghela nafasnya.


"Aku mengerti, aku minta maaf.."seru Vriska.


Alan tersenyum, lalu mengecup kening Vriska "Sudah lupakan hal itu, ayo tidurlah.."ucap Alan


Tidak lama terdengar bunyi nafas yang teratur dari Vriska, Vriska sudah tertidur.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹jangan lupa like, komen, hadiahnyaπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2