Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_dia keras kepala


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Alan langsung berlari kecil memasuki rumah sakit itu, setelah bertanya pada resepsionis Alan langsung menuju ruangan dimana istrinya berada.


Ternyata Vriska masih di tengah ruang IGD, terlihat di sana ada Pak Andi, serta Papa Brawijaya, dan Mama Merlyn. Berarti sebelumnya sopirnya itu sudah menghubungi kedua orang tua Alan, sedangkan kedua orang tua Vriska sedang menjalani perjalanan bisnis di Italia.


Kedatangan Alan membuat ketiganya menoleh. Nafas Alan tampak tersengal-sengal, dengan pakaian yang tampak kusut dasi yang tidak menggantung pada tempat yang semestinya, pikirannya kalut membayangkan keadaan istrinya.


"Alan..."kata kedua orang tuanya.


"Tuan.."


Alan menghela nafasnya, "Apa yang terjadi pada istri saya Pak Andi,?"tanyanya pada sopirnya dengan tajam.


Wajah Pak Andi memucat, "Tuan itu saya.._"


"Jelaskan apa yang terjadi, bagaimana bisa istri saya bisa sampai di rumah sakit ini?"


Dengan badan gemetar Pak Andi pun menjelaskan semuanya berawal dari saat di mobil yang ia lihat majikannya itu tengah merasa kesakitan, hingga berakhir sampai di panti ia bisa pendarahan.


Alan mengusap wajahnya kasar, "Pendarahan? tapi itu hanya akan terjadi jika."Alan menatap wajah ketiga orang yang tengah di depannya, "Jika Vriska hamil,..."ucapnya


Belum sempat kedua orang tuanya menjawab pintu ruangan terbuka seorang Dokter wanita yang bernama Stella keluar, ketiganya langsung mendekat mencecar berbagai pertanyaan.


"Dokter apa yang terjadi pada istri saya? bagaimana keadaannya.."tanya Alan dengan cemas.


"Iya Dokter bagaimana keadaan menantu saya, apa dia hamil? janinnya baik-baik saja bukan"sambung Mama Merlyn yang tidak kalah khawatirnya.


"Dokter kenapa kau diam saja kami sedang bertanya"kali ini suara Papa Brawijaya yang menggema.


Dokter Stella itu menghela nafasnya, "Tuan apa anda tidak tau sebelumnya jika istri anda tengah mengandung?"tanyanya pada Alan.


Alan menggelengkan kepalanya, "Saya minta maaf Tuan, dengan berat hati saya sampaikan jika kandungan istri anda tidak selamat, istri anda keguguran. Karena istri anda mengalami kelelahan, harusnya saat di kehamilan muda harus banyak bed rest, tapi mungkin istri anda menjalani aktivitas yang cukup melelahkan, mengingat sebelumnya rahim istri anda lemah."sambung Dokter Stella


Alan mendengar penjelasan dokter dengan rasa kaget, harusnya dia bahagia saat dokter menyatakan istrinya hamil, namun karena ketidaktahuannya itu semua berubah menjadi rasa kecewa, penantian yang mereka nantikan bertahun-tahun masih berujung dengan rasa kecewa. Mata Alan sudah tampak memerah.


"Saya turut sedih Tuan. Nona Vriska sudah sadar dan sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan dan anda bisa menemuinya, saya permisi"ucapnya.

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Alan berjalan lunglai masuk keruangan di mana istrinya di rawat, terlihat di sana Vriska tengah menangis tersedu-sedu di pelukan sang Mama mertua, ia telah mendengar semua penjelasan dokter mengenai apa yang terjadi pada dirinya. Sementara Mama Merlyn tetap memberikan ketenangan pada menantunya itu, Papa Brawijaya tampak mengelus punggung Vriska ia juga memberi ketenangan pada sang menantu.


"Alan.."panggil Mama Merlyn melihat kedatangan putranya.


Vriska yang mendengar Mama Merlyn memanggil Alan, ia melonggarkan pelukannya lalu menatap ke arah suami, yang sedang menatapnya dengan sendu.


"Hubyy aku.._"


"Kau sudah mendengar semua penjelasan Dokter"tanya Alan, Vriska mengangguk entah kenapa Alan yang tadinya menatapnya dengan sendu kini menatapnya dengan tajam, Vriska menundukan kepalanya.


"Jika saja tadi pagi kau mendengarkan apa kataku Vriska untuk tetap diam di rumah, dan memeriksakan diri ke Dokter, semua ini tidak akan terjadi Vriska."ucapnya, Vriska terlonjak kaget mendengar penuturan Alan, untuk kali ini ia paham jika Alan telah menyalahkan dirinya atas tidak selamatnya anak mereka.


Mama Merlyn dan Papa Brawijaya tampak kaget mendengar ucapan putranya itu entah bagaimana Alan seperti tengah menyalahkan istrinya.


"Alan, apa yang kau katakan. Semua yang terjadi bukan salah Vriska, semua sudah takdir Alan."seru Mama Merlyn.


"Diamlah lah Ma, aku sedang berbicara pada istriku. Tadi pagi aku sudah mengatakannya untuk ke Dokter atau di rumah, tapi dia tidak mendengarkan apa kataku. Lihatlah bukankah dia begitu keras kepala, dia tidak mau mendengarkan apa kataku ma."Ucap Alan dengan lantang.


Namun Alan tidak mengindahkan apa kata istrinya ia langsung berlalu keluar tanpa sepatah katapun.


Vriska langsung menangis tersedu-sedu, "Mama yang di ucapkan Alan memang benar bukan, aku emang pantas di salahkan. Andai aku mengikuti perintahnya ini semua tidak akan terjadi, aku tidak akan kehilangan anak yang selama nanti kami nanti-nantikan ma. Aku emang tidak berguna kan ma.."serunya


Mama Merlyn menggelengkan kepalanya ia juga menitikan air matanya mendengar penuturan sang menantu, ia juga merasakan sakit yang amat dalam, bagaimanapun dalam hatinya ia juga mengharapkan akan kehadiran sang cucu di tengah-tengah mereka. Mama Merlyn melepas pelukan Vriska kemudian ia menatapnya lalu menghapus air mata Vriska, "Dengarkan mama sayang, anak itu adalah anugrah, dia adalah titipan. Mungkin Tuhan belum mempercayai kalian, jadi dia mengambil kembali apa yang tadi ingin ia berikan."


"Kenapa dia tidak mempercayai kami Ma.."tanya Vriska dengan serak


"bukan tidak tapi belum sayang, percayalah saat nanti dia pasti akan hadir kembali di rahimmu. Jangan berkata kau tidak berguna, hati mama juga sakit mendengarnya sayang, kau sangat berarti bagi kami, mama bukan hanya menganggapmu sebagai menantu sayang, tapi mama juga menganggapmu seperti putri mama sendiri, mama mengerti dan merasakan apa yang kau rasa, tapi mama mohon jangan terlalu larut dalam kesedihan. Percayalah Alan hanya masih merasa kaget, ia tidak sepenuhnya menyalahkanmu"ucap Mama Merlyn sambil mencium kening Vriska.


"Apa yang di ucapkan Mamamu benar Vriska, kalau gitu Papa keluar dulu ya"ucap Papa Brawijaya yang dari tadi mendengar kata-kata keduanya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Alan duduk di bangku rumah sakit sambil menatap langit yang masih terlihat cerah. Tanpa sadar air matanya menetes, ia memijat pelipisnya entah apa yang kini ia rasa.

__ADS_1


Entah bagaimana Alan bisa berkata emosi pada Vriska tadi, entah karena ia terlalu kecewa atau karena terlalu lelah.


Perutnya juga terasa perih, ia hanya makan saat sarapan sampai kini ia belum mengisi apapun perutnya itu, namun ia mengabaikan itu. Saat ini pikirannya sungguh sangat kalut.


Ya Tuhan, untuk apa semua ini? untuk apa kau menghadirkan dia di tengah-tengah kami, kami bahkan belum mengetahui kehadirannya namun kau sudah mengambilnya kembali. Dosa apa yang aku dan istriku perbuat, hingga kau menguji kami begitu berat. Kenapa kau membiarkan kami terus berharap, desahnya dalam hati Alan menitikan air matanya.


Rasanya sangat sakit seperti di beri harapan namun palsu. Tepukan di pundak Alan mengagetkan Alan dari lamunannya.


"Papa..."serunya.


Papa Brawijaya langsung duduk di sebelahnya, "Sedang apa di sini?"tanya Papa Brawijaya


"cari angin.."katanya datar.


Papa Brawijaya bisa melihat mata Alan yang memerah ia tau jika putranya itu habis menangis," Kau menangis...?"


"Kata siapa ? tidak.."Alan menggelengkan kepalanya.


Papa Brawijaya terkekeh mendengarnya, "meskipun kau seorang pria menangis juga di perlukan Alan, karena dengan menangis kau akan merasa beban yang kau rasa itu akan hilang"jelasnya


Alan menangguk mengerti, "Apa yang kau rasakan saat ini"sambung Papa Brawijaya.


"kecewa dan sedih"sahutnya datar.


Papa Brawijaya merangkul putranya, "Dengarkan apa kata Papa sayang. Papa mengerti apa yang kau rasakan kau pasti sedih, marah, kecewa. Tapi kau tidak harus menyalahkan istrimu bukan, di sini bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Pikirkan juga istrimu Alan, dia membutuhkan dukungan dirimu, jangan sampai perkataanmu tadi membuat Vriska semakin tertekan. Papa yakin dia juga merasa tertekan dengan kejadian ini. Bukankah kalian berdua sama-sama mengharapkan akan kehadiran anak, jadi Vriska juga sama sedihnya dengan dirimu"tutur Papa Brawijaya.


Alan mengangguk mengerti," aku mengerti pa, terimakasih.."serunya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Maaf readers membuat kalian kecewa, tapi saya tidak bisa mengubah alur cerita yang sudah saya buat, tapi tenang aku pastikan novel ini akan happy ending😊😊, tidak akan ada pembinor atau pelakor ya di novel iniπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Salam sayang readersku tercinta, selamat membacaπŸ˜πŸ˜πŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Meski aku buat kecewa kalian, aku tetap minta like, komen, dan vote pake hadiah yaπŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2