Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Masih Lapar


__ADS_3

Satu tahun berlalu sejak hari itu Vriska menepati janjinya ia tidak lagi menyuruh Alan untuk menikah lagi. Vriska telah melakukan berbagai pengobatan rutin untuk menyuburkan rahimnya, ia terus berusaha dan berharap agar ia segera di karunia seorang anak.


Alan selalu senantiasa mendukung segala kemauan istrinya itu, termasuk kedua keluarga baik dari Alan maupun dari Vriska, kedua orang tua mereka selalu memberi dukungan padanya. Vriska amat merasa beruntung memiliki suami seperti Alan, dan mertua sebaik Mama Merlyn dan Papa Brawijaya, tidak sekalipun mereka pernah menyinggung soal cucu padanya. Mereka menjalani semuanya seperti aliran sungai yang terus mengalir, mereka tetap yakin akan sebuah keajaiban Tuhan.


Mobil Alan tiba di sebuah pekarangan rumah yang begitu indah dan asri, keduanya turun dari mobil lalu berjalan ke arah pintu dan menekan bell rumah.


Ceklek.. pintu terbuka.


"Selamat datang Nona Vriska dan Tuan Alan"sapa seorang wanita paruh baya.


Vriska tersenyum, "di mana Disty bi,"tanya Vriska.


"Oh nyonya sedang berada di kamarnya, mengurus nona kecil, akan ku panggilkan dia. Mari masuk dulu Nona, Tuan.."ajaknya


Vriska dan Alan masuk lalu mendudukan dirinya di sofa ruang tamu, Alan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


Tidak lama itu Disty keluar dengan membawa bayi mungil yang baru lahir dua minggu yang lalu dengan menggunakan stroler, "Apa kalian sudah lama menunggu?"tanya Disty


"Tidak kami baru saja sampai, iya kan Hubby."ucap Vriska


"iya.."sahut Alan datar.


Kemudian datang sang asisten rumah tangga Disty membawa cemilan ringan beserta minumannya. "Silahkan Nona Tuan"ucapnya dengan sopan.


"Makasih ya bi.."sahut Vriska


"Sama-sama Nona.."ucapnya setelah itu pergi.


Vriska menghela nafasnya, "Apakah dia tidur?"tanya Vriska


Disty menggeleng, "tidak kenapa, apa kau mau menggendongnya?"


"Bolehkah..?"tanya Vriska dengan antusias.


"Tentu saja,"seru Disty ia bangkit mengambil putrinya lalu memyerahkannya ke gendongan Vriska.


Vriska mulai menimang-nimang bayi itu, Alan menatapnya ia merasa amat kasihan pada istrinya, terlihat jelas bahwa istrinya itu sangat mendambakan akan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka.


"Dapatkah engkau memberi kami kepercayaan akan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kami Tuhan, aku merasa kasihan dengan istriku, sudah berbagai pengobatan ia jalani namun sampai kini, hasilnya masih nihil. Tuhan beri kami kesabaran dalam menjalani semua ini, sampai pada saatnya kau menunjukkan keajaiban itu pada kami"desah Alan dalam hati


"Dia manis sekali, siapa namanya Disty..?"tanya Vriska sambil kembali melirik ke arah Disty.

__ADS_1


"Nadila.., kau bisa memangginya Dila.."seru Disty


"Wah namanya sangat cantik seperti dirimu sayang"ucap Vriska sambil mencium pipi bayi itu,


"Di mana suamimu? aku tidak melihatnya dari tadi"tanya Alan


"Iya aku juga.."sahut Vriska


"Hari ini sebenarnya dia libur, tapi tiba-tiba ada pasien yang membutuhkan pertolongannya harus operasi, jadinya dia memutuskan untuk ke rumah sakit lagi, kebetulan sekali para dokter yang lain juga sedang menangani pasien. Akhir-akhir ini pasien di rumah sakit membludak begitu banyak, jadi para dokter sampai keteteran"jelas Disty


"Aku fikir dia masih cuti"sahut Alan


"Dia hanya mengambil cuti seminggu"seru Disty


Alan dan Vriska mengangguk, Vriska kembali menaro Dila ke dalam stroler "Dia sudah tertidur Disty"ucapnya


"Wah dia senang di gendong olehmu Vriska"ucap Disty


"kau bisa saja,"sahut Vriska, Vriska mengambil kotak hadiah lalu memberikannya pada Disty "Ini ada kado untuk Dila, maaf ya aku baru datang,"seru Vriska


"Kenapa kau harus repot-repot, kau bisa datang meski tanpa hadiah untuknya"seru Disty


"Aku tau, tapi bagaimanapun dia ponakanku"cetus Vriska


"Tidak Disty, aku harus ke rumah mama entahlah aku begitu merindukan mereka"ucap Vriska ia bangkit "Ayo hubby.."


"Ayo.."


"baiklah terimakasih sudah datang, hati-hati di jalan"ucap Disty


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Sepanjang jalan Vriska hanya terdiam.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?"tanya Alan dengan cemas.


Vriska melirik ke arah suaminya yang tengah menyetir, "aku baik-baik saja, tenanglah.."Vriska mengerti jika suaminya itu tengah mengkhawatirkan dirinya.


Dulu saat Dinda melahirkan Vriska ingin sekali menengoknya, Alan pun menuruti keinginannya itu, tapi setelah pulang dari sana Vriska menjadi sering murung, sesekali ia akan menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf pada Alan. Dan tadi siang sebelum berangkat ke rumah Disty, Alan mencoba membujuk istrinya itu untuk tidak datang kesana, namun Vriska tetap kekeh pada pendiriannya. Akhirnya Alan mengalah.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaanmu Alan..?"tanya Papa Danu saat makan malam.


Kini Vriska dan Alan tengah berada di rumahnya, "Lancar Pa..."seru Alan seraya melirik ke arah istrinya yang tengah makan dengan lahap.


Sedang Mama Lita tampak tersenyum senang, Papa Danu hanya mengangguk.


"Sayang, makannya pelan-pelan"ucap Alan pada istrinya yang sedang makan dengan terburu-buru.


"bentar Hubby, aku masih lapar"sahut Vriska di sela-sela makannya.


Alan mengernyit bingung ia menatap ke arah meja makan lalu ke istrinya, "Kau tidak takut gemuk, ini sudah malam dan yang kau makan itu sangat berlemak, biasanya kalau aku yang menawarimu makan seperti kau selalu menolaknya"ucap Alan


Vriska menghentikan aktivitas makannya, ia menatap wajah suaminya, "memangnya jika aku berubah gemuk kau jadi tidak mencintaiku lagi ya,"


Alan menggeleng dan tersenyum ia mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa makanan yang ada di sudut bibir Vriska, "Seperti apapun dirimu aku pasti akan selalu mencintaimu, hanya saja ini seperti bukan dirimu"serunya.


Jantung Vriska berdegub kencang, "Aku hanya ingin makan dengan puas, aku sangat rindu masakan mama. Jadi menyingkirlah biar aku makan"


Alan mengangguk, "aku mengerti"


"Ehem..."suara deheman itu mengagetkan Alan dan Vriska ya itu suara dari Papa Danu.


"Alan biarkan Vriska makan dahulu, ayo temani Papa bermain catur sebentar,"ajak Papa Danu.


"Baiklah Pa.."Alan bangkit mengikuti Papa mertuanya.


"Sayang, kau masih lapar.."tanya Mama Lita pada putrinya.


Vriska hanya mengangguk, "Tapi mama takutnya kalau kau makan terlalu kenyang kau akan merasa begah dan kau akan memuntahkannya kembali, itu tidak baik sayang, makanlah secukupnya"sambung Mama Lita


Vriska menghentikan aktivitas makannya matanya sudah berkaca-kaca, "Tapi aku belum kenyang, Mama pelit sekali"ucapnya.


"Hei kenapa menangis mama hanya menasehatimu, kalau begitu diamlah dan kembali makan oke. Mama tidak akan berbicara apa-apa lagi"seru Mama Lita ia memijat pangkal hidungnya.


"Begitu lebih baik ma.."seru Vriska sambio kembali mengambil nasi beserta lauk dan sayurnya, membuat Mama Lita melongo.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Udah ngetik setengah aku semalam , tapi pulang dari terawih mata gak bisa di tahan akhirnya ketiduran dehπŸ˜‚πŸ˜‚πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Marhaban Ya Ramadhan, selamat menjalani puasa Ramadhan bagi yang menjalankan.πŸ˜ŠπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2