
*Tentang rasa sakit,,
Aku punya cara sendiri untuk menghilangkannya..
Yaitu dengan cara menahannya dalam hati
lalu menghapusnya secara perlahan..
ππππ*
Sudah hampir dua bulan setengah Vriska terus berdekatan dengan Alan. Meski ia merasa tidak ada perubahan apapun pada Alan, tapi ia tetap biasa. Apalagi hubungannya kini dengan Disty sudah membaik baginya itu cukup, jika akhirnya ia tidak mendapat cintanya Alan setidaknya ia kembali mendapatkan sosok seorang kakak perempuan dari Disty.
Vriska berjalan di sepanjang lorong rumah sakit dengan mata berkaca-kaca sesekali air matanya akan menetes, tangannya tetap menggenggam sebuah amplop berlogo rumah sakit, di dalam situ berisi hasil tas laboratorium tentang kesehatannya. Dadanya mendadak terasa sesak, ia merasa saat ini dunianya hancur.
Ya Tuhan, ini lebih menyakitkan dari apapun. Cobaan apa yang kau berikan padaku ini. Kenapa semua harus terjadi padaku.. ucapnya sambil menghapus air matanya.
Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan, kemudian ia berpapasan dengan Dinda.
"Vriska.."panggil Dinda membuat Vriska meonleh dan buru-buru menghapusnya lalu tersenyum pada Dinda.
"Apa kabar..?"tanya Dinda keningnya mengkerut melihat wajah Vriska yang sembab serta tangannya membuat amplop.
"Aku baik, kau sendiri..?"tanya balik Vriska, ia menyadari tatapan Dinda, akhirnya ia memasukan amplopnya itu ke dalam tasnya.
Dinda mengangkat tangannya melirik jam di tangannya "Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau kita ngobrol dulu di kantin"seru Dinda
"Tapi.."
"Ayolah Vriska, tidak akan lama aku sekalian menunggu suamiku datang menjemputku"Dinda sedikit memaksa Vriska..
Vriska pun menurut mengikuti langkah Dinda? tiba di kantin mereka segera duduk dan memesan minuman.
"Apa kau bekerja di sini Dinda..?"tanya Vriska, karena ia melihat jika kini Dinda masih mengenakan jas dokternya.
__ADS_1
Dinda tersenyum "Iya Vriska, aku sudah kembali bekerja sekarang.."
"Suamimu mengijinkannya.."sambung Vriska
"Iya, meski awalnya terasa berat untuk memberi ijin padaku. Tapi akhirnya ia mau, kau tau Vriska menjadi seorang dokter merupakan cita-citaku sejak kecil, jadi sangat susah untuk menghilangkannya"kata Dinda sambil menyeruput minumannya setelah pelayan meninggalkan mereka membawa pesanannya.
"Sekarang kau tampak lebih bahagia, aku cukup senang melihatnya.."seru Vriska.
"iya begitulah, tapi kau tau bukan jalan menuju kebahagiaanku juga tidak mudah, banyak hal yang ku lalui. Aku bahkan hampir kehilangan suamiku" Dinda menghela nafasnya, "Sudahlah lupakan kenapa jadi membahas diriku"sambungnya.
"Vriska apa ada masalah dengan kesehatan dengan dirimu.."tanya Dinda lagi.
Vriska tampak gugup "Ti.. tidak Dinda aku baik-baik saja.."
Dinda tersenyum melihat kegugupan di wajah Vriska tentu saja ia sudah tau jawabannya.. "Anggaplah aku temanmu Vriska, jika aku tidak bisa membantu setidaknya akan sedikit mengurangi bebanmu"
Mata Vriska tampak berkaca-kaca, Dinda jadi tidak tega untuk mendesaknya "lupakanlah Vriska aku tidak memaksamu untuk bercerita, apapun yang terjadi padamu aku yakin semua ada jalan keluarnya"
ππππ
"Apa dia tidak datang, tumben sekali..?"Seru Alan mendadak ia kehilangan konsentrasinya, kemudian ia meletakkan pulpennya dan berdiri menghadap jendela kedua tangannya ia masukan ke dalam kantong celana, matanya menatap ke arah jalanan yang di lalui banyak kendaraan.
Lima belas menit kemudian ia mendengar suara pintu di ketuk dari luar ia pun mempersilakan masuk, ternyata Iva sekretaris Alan, entah mengapa ia mendesah kecewa.
Ini sudah gila, bukankah biasanya aku akan senang jika ia tidak datang..Alan mengusap wajahnya dengan kasar
"Tuan, setelah ini anda harus menghadiri meeting dengan Pak Nano ."ucap Iva
Alan pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
πππ
Setelah selesai meeting Alan kembali ke ruangannya, perutnya terasa perih karena memang ia belum makan apapun. Ia membuka pintunya matanya menyapu segala penjuru ruangannya.
__ADS_1
"Ya ampun, apa yang ku fikirkan apakah aku menunggu Vriska, aku bahkan sampai lupa makan, apa aku sudah terbiasa dengan kehadirannya" ucapnya.. "Tapi tumben sekali ia tidak datang, .. em mungkin saja dia sibuk.."
Alan mengenyahkan segala pikirannya, kemudian ia pun mengambil handphonenya untuk delivery makanan.
πππ
Disty tengah sibuk menata roti yang sedikit berantakan karena memang tadi sempat rame.
"Nona aku mau bayar, di mana orangnya.."panggil seorang pria berkacamata.
"Ya tuan sebentar.." Disty pun berlari kecil ke kasir lalu menscan pembelian pria itu.
Anehnya pria itu terus mengamatinya, "Disty ya.."ucap pria itu membuat Disty menengok.
"Dokter..."serunya
"Ternyata kau bekerja di sini, aku tidak menyangka saja bisa bertemu denganmu di sini"ucapnya.
"Iya Dokter Dika,.."sahut Disty
"Bagaimana kabar ibumu,.."tanya Dokter Dika
"Sudah lebih baik dokter," sahut Disty
Dokter Dika merupakan seorang dokter muda yang saat itu merawat Ibunya Disty di rumah sakit.
"Ayo kenapa kau malah banyak bicara padanya.."seru seorang gadis sambil bergelayut manja di lenganya Dokter Dika, matanya menatap tajam Disty.
Disty pun segera menyerahkan belanjaan Dokter Dika itu padanya setelah melalui proses pembayaran "Ini kartu namaku, jika ada waktu kau bisa hubungi aku, kau juga bisa konsultasi mengenai kesehatan ibumu"ucap Dokter Dika lalu ia berlalu pergi.
Disty mengambil kartu nama itu "mungkin saja aku memerlukannya suatu saat nanti, aku tidak mungkin menghubunginya jika tidak penting, lihatlah gadis yang di sebelahnya tadi matanya seakan mau menerkamku,.."
ππ Next bab aku akan membahas apa yang terjadi dengan Vriska..ππ
__ADS_1
ππJangan lupa koment, like dan vote.. terimakasihππ
bersambung..