
Hari terus berlalu, kini Dinda tengah di sibukan dengan pekerjaannya. Juga dengan rencana pertunangan Vano dan Alisa.
Ya setelah sekian lama akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertunangan dahulu. Sejujurnya Vano ingin langsung menikah saja, tapi Alisa belom siap. Pertunangan mereka pun akan di gelar di sebuah hotel milik keluarga Alisa, ya keluarga Alisa memang mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan. Seminggu lagi acaranya akan di laksanakan.
Saat ini Dinda dan Vano sedang sarapan pagi bersama. Pun orang tua mereka saat ini sudah berada di Indonesia, mereka menempati rumah lama mereka. Dinda tetap memilih tinggal bersama kakaknya.
"Cie yang bentar lagi nikah, gimana rasanya kak.." tanya Dinda sambil mengunyah makanan.
"Rasanya nano-nano lah.. tuh makan abisin dulu napa dek.."sahut Vano melihat kelaukan adiknya.
"Habis makanan kakak enak banget, pinter banget sih masaknya. Nanti Alisa bisa gemuk ni kalau udah jadi istri kakak."ucapnya kembali
"Masih lama Dinda, aku dan Alisa kan baru mau tunangan dulu. Kamu memang belom bisa masak juga.." tanya Vano
"hehe bisalah masak indomie.."sahutnya sambil cekikikan..
Vano hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dinda. Setelah sarapan mereka pun memulai aktifitasnya, Dinda berangkat ke rumah sakit tempat dimana ia kerja. Sedangkan Vano pergi ka kantornya.
*******
Di kantor Nugraha Rava saat ini tengah sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tidak bisa makan siang di luar. Jadi ia memutuskan untuk memesan makanan saja.
Setelah memesan makanan ia mengambil foto Luna.
"Sayang aku sangat merindukanmu, rasanya ini masih seperti mimpi."ucapnya setelah itu kembali memasukan foto itu ke dalam laci kerjanya. Seseorang mengetuk pintu ternyata Livia ia datang mengantarkan pesanan makan siang Rava. Setelah makanannya tiba ia makan dengan lahap. Namun tiba ia merasa kepalanya pusing juga tenggorokannya rasanya tidak enak.
****
"Siang pak Aldo..."sapa Livia pada Aldo,
"Hem.. pak Rava ada Livia.."tanya Aldo
"Ada ia sedang makan siang. Memangnya pak Aldo dari mana."tanya Livia kembali
"aku habis mengantar berkas ke Pak Adi .." sahutnya setelah itu ia masuk.
Ketika ia masuk betapa kagetnya ia mendapatkan kondisi Rava yang sangat memprihatinkan. Ia tengah memegangi kepalanya.
"Pak Rava kenapa..." ucap Aldo dengan tergesa - gesa menghampiri Rava.
Namun Rava tak menjawab, akhirnya Aldo memutuskan untuk membawa Rava ke rumah sakit.
__ADS_1
Ketika pintu di buka betapa kagetnya Livia melihat keadaaan bosnya.
"Pak Rava kenapa.."tanya Livia
"Entahlah aku tidak tau. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Tolong kau handle untuk urusan kantor, juga hubungi Pak Adi dan tante Imel.."ucap Aldo setelah itu bergegas pergi.
*****
Setelah sampai di rumah sakit Aldo membawa Rava sambil teriak -teriak minta tolong, melihat kedatangan tuan muda dari salah satu perusahaan ternama tak menunggu lama pihak rumah sakit melakukan yang terbaik Rava langsung di larikan ke UGD.
"lho Kak Aldo kok di sini, siapa yang sakit.."tanya Dinda yang saat ini menuju ruang UGD kebetulan dokter di rumah sakit tersebut sedang pada sibuk dengan pasiennya, untuk itu akhirnya Dinda yang di panggil.
"Non Dinda... emm tolong priksa Pak Rava Non.." ucapnya setelah tersadar dengan tujuannya akhirnya Dinda masuk ke ruangan tersebut untuk memeriksa Rava. Di ikuti suster yang mendampinginya.
Di lihatnya Rava yang terbaring lemah, tampaknya ia pingsan. Tidak menunggu lama Dinda memeriksa Rava juga suster yang mencatat keadaan pasien. Dinda juga memberikan cairan infus pada Rava. Setelah itu dia keluar, mendapati di luar sudah ada Imel dan Adi. Sedangkan Aldo sudah kembali ke kantor karena pekerjaan hari ini cukup banyak yang harus di selesaikan.
"Dinda.. bagaimana keadaan Rava din.."tanya Imel setelah mendapati Dinda keluar
"Tante om.. Sepertinya kak Rava Alergi terkena Alergi makanan sejenis seafood dan juga ia tampak kelelahan kekurangan cairan, mungkin ia kurang istirahat.."jelas Dinda
"Ia tadi memang Aldo sempet bilang bahwa Rava habis makan nasi goreng seafood, anak itu memang keras kepala sekarang dia begitu gila kerja, juga dia makan nasi goreng seafood pasti sedang teringat Luna, masih saja dia belom bisa ikhlas dengan kepergian Luna.." lirih Imel
"Om tenang saja keadaanya sudah lebih baik untuk cepat di bawa kemari, dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat VVIP, kalau gitu saya tinggal dulu.." pamit Dinda
*******
Setelah beberapa jam Rava pun sadar ia mengerjapkan matanya, ia melihat langit-langit ia merasa bingung saat ini ia berada di mana.
Imel yang melihat Rava sudah sadar menyuruh Adi untuk memanggil Dinda untuk memeriksa keadaan Rava.
Tanpa menunggu lama kini Dinda sudah tiba di ruangan Rava, saat membuka pintu tatapan mereka bertemu. Dinda berusaha bersikap biasa layaknya seorang dokter dan pasiean.
"Em kak Rava sudah sadar biar Dinda priksa dulu.." ucap Dinda hanya di jawab anggukan kepala oleh Rava tanpa menunggu lama Dinda memeriksa Rava,. Dinda berusaha bersikap seperti biasa, namun tetap saja ia merasa gugup canggung. Berbeda dengan Rava yang tampak acuh.
"Gimana sayang keadan Rava.."tanya Imel
"Sudah lebih baik tante.. nanti sehabis makan tolong obatnya di minum lagi ya tante. Kalay bisa kak Rava menginap di sini sampai besok ya.." jelas Dinda
"tidak mau aku mau pulang..."sahut Rava cepat
"sayang kau harus manut perkataan dokter agar kau bisa cepet sehat.."ucap Imel
__ADS_1
Dinda yang melihat interaksi antar Imel daj Rava tersenyum, masih sama ternyata kak Rava memang slalu nurut perkataan mamanya.
"Ya sudah Dinda pamit Dinda pamit dulu ya tante kebetulan jam kerja Dinda sudah habis.." ucap Dinda
"Kau pulang sama siapa nak.." tanya Adi
"Aku bawa mobil sendiri om.. Dinda pamit om tante kak Rava" sahut Dinda
Adi dan Imel tampak membalas senyuman Dinda, berbeda dengan Rava yang tampak cuek.
"Dinda sudah dewasa ya Va, padahal anak itu dulu kalau ngomong lucu suka asal, sekarang anaknya sopan cantik lagi.."Ucap Imel yang saat ini sedang duduk di samping tempat tidur Rava.
"Namanya juga wanita yang cantik masa ganteng ada-ada saja.." sahut Rava , sedangkan Adi hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara mama dan anak.
"Gimana kalau kamu nikah sama Dinda Va.." ceplos Imel
"Ma.. Rava paling males kalau mama sudah bicara soal nikah. Rava mau tidur. Mama dan papa pulang saja.. Nanti biar Aldo saja yang nungguin Rava.." sahut Rava
"Kamu ngusir mama papa.. Mama tidak mau. Lagian kamu itu mesti mikir jangan apa-apa Aldo. Dia juga butuh kebebasan masa hampir 24 jam kehidupan dia di isi dengan kerjaan dari kamu. Siapa tau dia pengen nikah.."ucap Imel.. Sedangkan Rava hanya diam dan pura-pura tidur..
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
#Aku itu penulis pemula, juga penulis mut-mut'an.. kalau sedang malas ya gak nulis ampe berhari-hari..π Aku juga ibu dari satu anak, suka pusing kalau anak lagi rewel bener-bener buntu ide tuh kalau anak rewel..
maapken yang curhat..
__ADS_1