Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Jangan sia-siakan ucapanku


__ADS_3

Tengah malam Rava membuka matanya, merasa sudah baikan kepala yang tadinya pusing sudah sembuh. Ia melirik ke samping tempat tidurnya tidak menemukan Dinda, seketika perasaan panik melanda ia pikir Dinda meninggalkannya lagi. Namun ketika ia akan mengangkat tangannya ia merasa berat. Oh ya ampun ia melihat Dinda tidur dalam keadaan duduk di sampingnya, semalaman berarti Dinda menunggunya.


Senyum terbit di wajahnya ada perasaan hangat, bahagia ia rasa dengan segala perhatian Dinda. Setelahnya ia berniat beranjak turun dari tempat tidurnya berniat memindahkan Dinda ke ranjang, mengamati wajah Dinda yang tertidur damai, lalu membelai kepalanya setelah ia mendaratkan kecupan singkat di kepalanya, namun belum juga ia beranjak turun Dinda sudah membuka matanya.


"Kau mau apa...?"tanya Dinda dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Em aku tadinya mau memindahkanmu ke tempat tidur.."sahut Rava dengan kikuk, rasanya seperti abg yang ketahuan jatuh cinta saja.


Bukannya menjawab ucapan Rava Dinda justru memegang dahi Rava "syukurlah demamnya sudah turun, istirahatlah kembali apa kau mau makan"


"Tidak, aku ingin ke kamar mandi.."tutur Rava sambil terus mengamati wajah Dinda dari dekat.


*****


Pagi hari Dinda dan Rava saat ini sedang berada di meja makan sarapan bersama, keduanya telah sama-sama siap berangkat kerja.


"em kemarin kau pergi ke mana?"tanya Rava memecah keheningan yang terjadi.


Dinda memicingkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Rava, justru melontarkam pertanyaan balik ke Rava "Kenapa?"


Rava menghela nafasnya sepertinya Dinda menyadari Dinda belum sepenuhanya memaafkannya "Kau tidak ke tempat Alan bukan"tanya Rava


Dinda mengerutkan keningnya "Aku memang bertemu dengannya kemarin malam, tapi aku tidak menginap di tempatnya, aku menginap di tempat Alisa, kau fikir aku tidak sadar diri jika aku sudah bersuami bisa-bisanya kau menuduhku ke tempat Alan. Aku juga tau batasanku seperti apa, tidak seperti dirimu"sewot Dinda


Rava tau Dinda merasa tersinggung dengan pertanyaannya, padahal ia berniat untuk bertanya bukan menuduh tidak menduga bahwa respon Dinda seperti itu, namun ada perasaan lega kala ia tau Dinda menginap di tempat Alisa. Meski ada perasaan tidak rela menahan geram kala ia mendengar Dinda juga bertemu Alan kemarin malam. Kenapa lagi-lagi harus Alan yang selalu ada untuk Dinsa kala Dinda sedang bersedih.


"Aku tidak menuduhmu aku hanya bertanya. Sudahlah Dinda aku sudah minta maaf memangnya kau tidak mau memaafkanku, aku sudah menjelaskan soal kesalahpahaman kemarin bukan"kelakar Rava yang sudah kehilangan selera makannya.


"Aku sudah memaafkanmu, sudahlah aku mau berangkat"jawab Dinda


"Biar ku antar" tawar Rava


"Tidak mau, aku tau merepotkanmu kau orang yang sibuk. Aku bisa membawa mobilku sendiri"sahut Dinda


Akhirnya karena tidak mau ada perdebatan Rava memilih mengalah, dan membiarkan Dinda berangkat sendiri.

__ADS_1


******_*****


Hari ini jadwal pekerjaan Rava tidak terlalu banyak, setelah menemui beberapa rekan kerjanya akhirnya Rava bisa bersantai setelah jam makan siang .


Rava berniat untuk menghubungi Alan mengajaknya makan siang bersama . Setelah mengirim pesan melalu via whatsapp dan di setujui oleh Alan ia pun beranjak keluar dari kantornya.


"Livia aku akan pergi ke luar kantor, jika ada urusan mendadak kantor yang lainnya kau bisa menghandlenya bersama Aldo. Kemungkinan aku tidak akan balik ke kantor"ucap Rava kepada sekretarisnya


"Baik pak"sahut Livia


Setelahnya ia berlalu.


Di sinilah ia berada si sebuah restoran ternama khas makanan jepang. Ia telah tiba lebih awal di banding Alan.


"Sudah menunggu lama, maaf jalanan sedikit macet"ucap Alan yang baru saja tiba sambil mendaratkan pantatnya di kursi depan Rava.


"Tidak, aku baru saja tiba. Ayo kita pesan makan terlebih dahulu"sahut Rava dengan tenang . Sambil memanggil pelayan.


Tidak lama setelah itu makananpun sudah tersaji semua di meja Rava dan Alan. Setelahnya keduanya menikmati makannya.


"Baiklah, kau memang pintar membaca pikiranku. Aku tidak akan berbasa-basi, aku hanya mau bilang jauhi Dinda kau jangan pernah menemuinya lagi"ucap Rava dengan tegas juga to the point.


Sementara Alan mengerutkan keningnya sebelum tertawa terbahak-bahak menyadari bahwa seorang tuan Rava sedang cemburu "Kau cemburu, aku hanya berteman dengannya"sahut Alan dengan tenang tanpa takut dengan sorotan mata tajam dari Rava.


"Aku tidak suka kau mengganggunya. Aku tau kemarin malam juga kau menemuinya bukan"ucap Alan kali ini dengan nada geram. Meski begitu tetap saja ia gengsi mengakui rasa cemburunya itu.


"Tahan emosimu tuan. Aku tidak pernah menganggunya, kemarin malam aku memang bertemu dengannya. Well aku hanya bertemu layaknya teman bukan selingkuhan, bagiku dia sudah seperti adikku, aku hanya mau membantunya selagi ia membutuhkan pertolongan"Sahut Alan


"Aku akan memaafkanmu untuk yang kemarin-kemarin, namun untuk kedepannya jauhi dia."ucap Rava


"Dengan syarat, kau harus membahagiakannya. Jika suatu saat nanti kau menyakitinya lagi, lalu ia datang padaku jangan harap aku akan mengembalikannya padamu. Ingat jangan sia-siakan ucapanku kali ini"sahut Alan sambil berdiri lalu berjalan menepuk bahu Rava serta keluar dari restoran tersebut meninggalkan Rava seorang diri.


*******_****


Malam ini di isi dengan kesunyian dan kesibukan masing-masing. Dinda yang sedang di sibukan dengan acara menonton televisi drama kesukaannya, sedang Rava yang di sibukkan dengan pekerjaannnya. Dinda menonton televisi sambil bersandar di tempat tidur, sedang Rava mengerjakan pekerjaannya di sofa kamar tersebut. Sesekal tampak Rava meregangkan otot-otonya, aktivitasnya tidak lepas dari penglihatan Dinda.

__ADS_1


"Jangan terlalu di forsir kerjanya, ingat kau baru sakit. Memangnya tidak bisa di kerjakan besok di kantor saja, bikin kepalaku pusing saja"ucap Dinda sambil mengganti chanel telivisi tanda mungkin drama yang ia tonton sudah habis.


"Sebentar lagi.."sahut Rava


"Sekalian saja kau tidur dengan laptop dan berkas-berkasmu itu, menyebalkan di rumah saja harus bekerja"ucap Dinda dengan bibir mengerucut sambil mematikan televisinya lalu menaro remotnya di atas nakas setelahnya ia merebahkan dirinya.


Sedang Rava hanya tersenyum "Baiklah aku sudah selesai" ucapnya sambil mematikan laptopnya setelahnya menaro di sofa, lalu berjalan merangkak naik ke tempat tidur sebelah Dinda.


Merasa tidak suka di punggungi oleh Dinda, Rava pun lantas mendekat dan memeluk erat Dinda, seketika Dinda terlonjak kaget.


"Kau.. apa yang kau lakukan. Jika pekerjaanmu sudah selesai tidurlah istirahat.."ucap Dinda sambil berusaha menahan gugup serta detak jantungnya.


Sedang Rava hanya tersenyum smirknya lalu berusaha membalikkan tubuh Dinda untuk menghadapnya "Pekerjaan kantorku memang sudah selesai, tapi pekerjaan rumahku belum selesai"ucap Rava sambil menahan deru nafasnya .


"Ma.. maksudnya..."tanya Dinda dengan gugup.


"Apa yang kau lakukan" lanjut Dinda setelah mendapati tangan Rava yang sudah bergelya kemana-mana. Tentu saja Dinda sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Diamlah, dan kau nikmati saja."ucap Rava


"Menyebalkan selalu saja memaksa, jika tau begini aku tidak akan menyuruhmu buru-buru menyelesaikan pekerjaanmu"ucap Dinda tanpa sadar tangan Rava sudah bergerak dengan lincah membuka kancing-kancing piyam Dinda. Setelahnya ia menindih tubuh Dinda, memberi kehangatan kecupan-kecupan lembut di setiap jengkal tubuh Dinda.


Bersama turunnya hujan deras yang mengguyur bumi, menjadi saksi kegiatan aktivitas keduanya.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


ini sudah 1150 kata lho..hihihi


__ADS_2