
Empat bulan kemudian.
Seorang wanita cantik keluar dengan memakai dress yang berwarna merah muda, rambutnya di biarkan tergerai, ia keluar dari sebuah mobil mewah. Matanya menelisik ke segala sudut rumah yang ada di depannya.
Tidak ada yang berubah, batinya..
"Vriska.."panggil seorang wanita paruh baya, ia menatap Vriska penuh kerinduan.
"Mama..."serunya dengan wajah berbinar, ia langsung berlari memeluk wanita yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Keduanya saling melepas rindu sama lain. Hingga akhirnya mereka melepas pelukannya karena kehadiran seorang lelaki, yang ia anggap seperti putranya sendiri.
"Alan.."panggilnya, saat Alan tiba di sebelah mereka sambil membawa koper Vriska.
"Tante..."sapanya balik, ia langsung mencium tangan Lita.
"Ayo masuk nak..."ajak Lita pada keduanya, "Duduklah, kalian pasti lelah.."sambungnya.
Keduanya langsung duduk, tidak lama seorang asisten rumah tangga di rumah Vriska terlihat keluar membawakan minuman serta cemilan ringan untuk mereka.
"Terimakasih bi.."Seru Vriska
"Sama-sama non.."sahutnya.
"Kalian sudah pulang..."tanya Papa Danu yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Papa, iya aku pulang.."seru Vriska berdiri kemudian ia pun memeluk Papanya.
"Syukurlah kau terlihat baik-baik saja, papa sangat senang melihatnya.."ucap Papa Danu yang kemudian melepas pelukan putrinya lalu memberi kecupan lembut di kepalanya,
Setelahnya Vriska kembali duduk, di hadapan mereka.
"Apa semua berjalan lancar Alan, bagaimana kondisi Vriska.."tanya Papa Danu, di ikuti Mama Lita yang juga tampak penasaran ia dengan setia mendengarkan.
Vriska tampak tersenyum "Mama aku sudah sehat, dokter bilang aku sudah sembuh. Aku sungguh senang usahaku dan Alan tidak sia-sia."ucapnya dengan mata berbinar.
"Benarkah..?"seru Lita, Vriska mengangguk "Syukurlah kami sangat senang mendengarnya, ternyata Tuhan mengabulkan doa kami"sambungnya, matanya tampak berkaca-kaca ia sungguh bahagia mendengar kabar ini.
__ADS_1
"Iya tante, Vriska sudah sehat..."seru Alan sambil melirik ke arah Vriska yang nampak masih tersenyum manis.
Selama empat bulan ini Alan menepati ucapannya ia dengan setia menemani Vriska berobat di Amerika. Alan tidak pernah meninggalkan Vriska seorang diri, ia menghandle kerjaannya hanya melewati online, meski di kantornya sudah ada sekretarisnya.
Awalnya dokter mengatakan akan memakan waktu lama untuk sembuh dari penyakit ini, namun ternyata hanya memakan waktu empat bulan. Alan tetap optimis dan yakin jika Vriska akan sembuh, apalagi Alan melihat Vriska begitu semangat menjalani pengobatan itu.
Ada satu hal yang Vriska tidak ketahui, dan tidak Alan ceritakan. Dokter mengatakan kemungkinan Vriska untuk hamil tetap sulit, mengingat sebelumnya Vriska mempunyai riwayat penyakit yang cukup berbahaya, namun dokter juga mengatakan jangan berkecil hati meski kecil kemungkinan semua masih ada harapan.
Alan sengaja tidak menceritakan hal itu pada Vriska, ia tidak mau membuat wanita itu kembali drop. Bagi Vriska saat ia di nyatakan sembuh berarti semua sudah kembali seperti sedia kala. Sedang bagi Alan, ia tidak mempermasalahkan soal anak, yang penting Vriska kembali sehat dan menjadi Vriska yang Alan kenal.
Lamunan Alan terbuyarkan saat tepukan tangan mendarat di lengannya "Alan.. kau melamun..."seru Vriska
"Tidak.. Vriska aku hanya merasa sedikit lelah."ucap Alan melihat ke arah Vriska, kemudian beralih ke Lita dan Danu. "Vriska, Om, Tante aku pulang dulu ya. Mama dan Papa pasti sudah menungguku di rumah"seru Alan sambil bangkit dari kursinya.
"Terimakasih nak Alan"ucap keduanya.
"Ayo ku antar kedepan..."Vriska bangkit dari kursinya mengantar Alan.
"Alan terimakasih buat semuanya.."sambung Vriska.
Alan menoleh ke arah Vriska "Tapi itu semua tidak gratis Vriska. Aku bahkan mengorbankan waktuku selama empat bulan, tentu saja aku minta bayaran dan hadiah darimu.."seru Alan dengan senyum smirknya.
Dan cup... ucapan Vriska terhenti kala Alan membungkamnya dengan bibirnya, mata Vriska membulat sempurna. Kali ini Alan bukan hanya mengecupnya ia pun **********. Sesaat semua itu membuat Vriska terlena akan ciuman lembut yang Alan berikan ia pun memejamkan matanya. Hingga Alan menyadari jika Vriska terlihat sesak, ia pun melepas ciumannya dan terkekeh. Hingga Vriska menyadari adegan itu telah usai ia pun membuka matanya dan melihat Alan sedang melihat dirinya, tiba-tiba wajahnya merona.
"Kenapa wajahmu merah.."ucap Alan terkekeh
"Alan kau..."Vriska langsung mendaratkan cubitan di pinggang Alan.
"Aww.. sakit Vriska.."Alan langsung memegang tangan Vriska yang hendak kembali mencubitnya "Sudah ku katakan jika semua tidak gratis, dan barusan itu aku mengambil hadiahku. Kenapa kau harus malu, bukankah kau juga menikmatinya"sambung Alan.
"Tapi kau tidak melihat situasi bagaimana jika ada yang melihat,"cetus Vriska dengan kesal.
"Tidak ada yang melihat, karena sebelumnya aku sudah memastikannya"bantah Alan
"Alan tapi kau lihat di sana, di situ masiu ada sopir pribadi papamu, dan tentu saja ia melihatnya. Kau membuatku malu saja"decak Vriska
"Biarkan saja, ia juga pernah muda. Anggap saja ia sedang melihat siaran langsung"Alan terkekeh.
__ADS_1
"Alan kenapa kau menyebalkan"ucap Vriska
"Aku aslinya emang begini,"Sahut Alan
"Sudah sana pulang..."usir Vriska
"Kau mengusir calon suamimu sendiri...?"ucap Alan.
"Calon suami..?"seru Vriska
Alan mengerlingkan matanya "Iya, tadi aku sudah meminta hadiahku, dan sekarang aku ingin meminta bayaranku. Aku ingin kau menjadi istriku." seru Alan, "Persiapkan dirimu"sambung Alan.
Vriska masih terdiam dan tersenyum , Alan mendekat dan membisikan sesuatu ke telinga Vriska "Lihat saja, kalau kita sudah menikah aku akan melakukan yang lebih dari sekedar ciuman tadi, jadi persiapkan dirimu" bisik Alan kemudian ia menjauhkan wajahnya pada wajah Vriska.
Wajah Vriska menegang dan memerah "Kenapa wajahmu memerah, jangan-jangan kau sudah membayangkannya ya."Alan terkekeh "ternyata kau juga mesum"sambung Alan
"Alan pergilah kenapa kau jadi sering menggodaku, sana pulang"ucap Vriska dengan kesal.
Alan langsung terdiam "Aku hanya bercanda..."
"Tapi ucapanku tadi serius kalau aku ingin menjadikanmu istriku" kali Alan berkata serius. "Dan kau harus mau,"sambungnya
Vriska tersenyum "tentu saja aku mau"
"Ya sudah aku pulang dulu"ucap Alan ia mendekat lalu mengecup bibir Vriska.
"Alan.."teriak Vriska dengan kesal, Alan langsung berlari ke arah mobil.
Hist kenapa dia begitu mengesalkan, selalu mencuri kesempatan.
Sementara Alan di dalam mobil terus tersneyim penuh kemenangan Salah sendiri begitu menggoda, jadi aku tidak tahan untuk menciumnya, seru Alan dalam hati sambil terkekeh senang.
ππππππ
ππAku malu menulis part ini, hahha aku khilafππππ
ππjangan like, komen, vote nya..ππ
__ADS_1
bersambung..