
Waktu makan siang telah tiba, tetapi Alan masih berkutat dengan pekerjaannya. Sampai pada akhirnya pintu ruangannya terbuka dengan adanya Vriska masuk. Alan tampak acuh dan tak peduli. Vriska merasa kesal Alan bersikap cuek padanya.
"Alan.."ucap Vriska
"Hem.."jawab Alan datar
"Alan aku datang kenapa kau tidak memeperdulikanku.."sewot Vriska langsung duduk di hadapan Alan.
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk.."Alan menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu memandang ke arah Vriska.
"Tapi ini jam makan siang, aku sudah meluangkan waktuku untuk makan siang denganmu, jadi ayo tinggalkan sebentar pekerjaanmu."ucap Vriska
"Aku tidak memintamu untuk datang kemari bukan"usir Alan.
"Kau mengusirku. Aku tidak mau tau pokoknya kau harus mau makan siang denganku"Ucap Vriska dengan keras.
Alan mengerutkan keningnya, makin kesini entah kenapa ia makin tidak menyukai sikap wanita ini "Kenapa kau suka sekali memaksa.."
"Tentu saja, apa yang menjadi keinginanku harus ku dapatkan"sahut Vriska
πππππ
Di sinilah Alan dan Vriska berada di sebuah restoran ternama, berbeda sekali jika dalam hal makanan Vriska lebih menyukai makanan yang berasal dari restoran, sedangkan Disty apa adanya. Mungkin juga karena perbedaan sosial.
"Alan aku sudah berbicara mengenai pernikahan kita pada papa.."ucap Vriska di sela-sela makannya.
Alan memandang Vriska dengan sorot mata yang tajam "Apa yang kau katakan padanya.."
"Tentu saja mengenai rencana pernikahan kita, aku bilang untuk di percepat saja,"sahut Vriska
"Kau..."ucapan Alan tertahan
"Kenapa Alan, bukankah sebelumnya aku sudah bilang padamu tentang rencana pernikahan kita"ucap Vriska sambil mengerutkan keningnya.
"Tapi sudah ku katakan bukan sebelumnya jika aku tidak setuju, lalu kenapa kau memutuskan secara sepihak"kata Alan dengan nada geram tangan mengepal, ia mendorong piringnya ia merasa sudah kehilangan selera makannya.
"Tapi kenapa Alan, aku merasa keputusanku sudah tepat"seru Vriska.
"Tepat bagimu belum tepat bagiku." Alan menghela nafasnya tidak mungkin ia emosi dan memalukan dirinya sendiri di depan banyak orang "Bagaimana jika aku tidak mencintaimu..?"tanya Alan akhirnya.
"Tidak mungkin, kita sudah bersama selama itu. Aku juga cantik mana mungkin kau tidak mencintaiku.."sahut Vriska
Alan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh heran "Kau tidak pernah mendengar sebuah pepatah ya jika cinta tidak pernah mengenal waktu, Cinta juga tidak mengenal rupa"
Deg... ucapan Alan barusan seakan menusuk hati Vriska yang paling dalam.
"Sudahlah lakukan saja apa maumu, aku pergi dulu jangan ikuti aku. Aku pusing.."sahut Alan.
__ADS_1
πππ
Pukul sembilan malam Alan keluar dari perusahaanya dengan wajah lelah pikiranpun lelah.
Alan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, saat melintas di sebuah gedung apartemen ia melihat Disty tengah berdiri seperti tengah menunggu seseorang.
Alan pun memundurkan mobilnya kembali menghampiri Disty, dan membuka kaca mobilnya "Kau menunggu siapa..?"tanya Alan
"Aku menunggu taksi.."sahut Disty dengan gugup,
"Di sini jarang taksi lewat, ayo masuklah aku akan mengantarmu"pinta Alan
"Tapi Alan.. Vriska..."
"Kenapa dengan Vriska, cepatlah masuk.."kata Alan,
Disty pun akhirnya masuk ke dalam, ia duduk di belakang. Alan mengerutkan keningnya "Kau fikir aku sopirmu apa, duduklah di depan"ucap Alan, Disty pun pindah ke depan "Malam-malam begini ngapain kau di situ, habis menemui seseorang.."sambungnya setelah Disty duduk di sebelahnya dan memaki seatbelt nya.
"Aku habis mengantarkan surat kontrak kerjasama Disty dengan seseorang di apartemen itu"sahut Disty
"Ini sudah malam kenapa tidak besok saja, aku tau pasti Vriska yang menyuruhmu"ucap Alan
"Tidak Alan ini kemauanku, lagian ini juga masih jam sembilan bukan.."bantah Disty
"tapi di sana itu jarang adanya taksi, lain kali pikirkan dirimu sendiri. Kau berhak menolak jika memang kau tidak mau, jangan memaksakan diri."ucap Alan sambil membelokkan mobilnya.
"Makan aku sangat lapar temani aku makan sebentar.."ucap Alan
"Tapi.."
"Diamlah jangan membantah.. atau aku akan.."ia melihat ke arah Disty matanya tertuju pada bibirnya.
"Apa...?"tanya Disty
Alan menggelengkan kepalanya "Tidak, kau ada rekomendasi tempat makan yang enak"Alan berusaha mengalihkan pembicaraannya .
Disty merasa heran tapi ia tidak berani bertanya lagi "Beloklah ke kiri nanti kita akan sampai.."Alan pun mengikuti arah yang di tujukan Disty, akhirnya ia sampai Alan mengedarkan pandangannya
"Di mana restorannya..?"tanya Alan dengan bingung. Karena di situ hanya ada tempat makan dengan sebuah tenda bertuliskan Pecel Lele, Pecel Ayam, Ayam geprek dll.
"Kau tidak bilang jika kau menyuruhku untuk memberi tahu restoran bukan, kau hanya bilang tempat makan. Jika kau mau makan di restoran pergilah sana, aku bisa pulang sendiri nanti. Aku makan di sini saja.."ucap Disty
"Tidak, aku juga mau kok makan di sini.."Ucap Alan langsung keluar menyusul Disty.
"Bang pecel ayam dan es teh manis satu ya.."Disty memesan makanan.
"Kau mau makan apa Alan.."tanya Disty
__ADS_1
Alan tampak bingung, jujur ia hampir tidak pernah makan di tempat seperti ini "em samakan saja denganmu.."
Disty pun akhirnya memesan lagi menu yang sama. Alan dan Disty duduk di pojok tempat makan ini di pojok.
Tidak lama seorang pelayan menghampiri mereka mengantarkan makanan ke meja meteka. Di situ terdapat nasi dan ayam yang di sebelahnya ada sambal juga ada lalapannya berupa timun, kol dan daun kemangi.
Alan mengerutkan keningnya melihat menu ini, ia mengambil lalapannya "Disty apa ini harus di makan juga, inikan mentah seperti kambing saja makan makanan mentah"ucap Alan dengan heran, ia juga melihat orang-orang di sebelahnya yang sedang makan dengan lahap.
"Aku tau seorang sultan Alan Wijaya tidak mungkin pernah makan di tempat seperti ini, jadi jika kau memang tidak mau maka diamlah jangan banyak bicara biar aku saja yang makan.."sahut Disty sambil memulai makannya.
Alan melihat cara makan Disty yang begitu lahap, tanpa sadar ia meneguk ludahnya kasar. "Disty di mana sendok dan garpunya.."tanya Alan selanjutnya.
"Jika kau mau makan pakailah tanganmu, di sini tidak ada sendok dan garpu, dasar payah.."ucap Disty dengan kesal karena Alan banyak bicara.
Akhirnya Alan makan menggunakan tangannya, awalnya ia merasa ragu dengan rasanya, namun lambat laun ie merasa keenakan.
πππ
"Ku dengar dari Om Danu pernikahan kau dan Vriska akan di percepat, wah senang sekali aku dengarnya..?"ucap Disty pada Alan yang tengah mengendarai mobilnya.
Alan sekilas melihat ke arah Disty "Memangnya kau bahagia jika aku menikah dengan Vriska, kau tidak cemburu ataupun iri gitu"
Disty menghela nafasnya "Tidak Alan, kalian berdua temanku jika kalian bahagia aku juga akan bahagia tentunya"
"Bagaimana jika aku tidak bahagia menikah dengannya"ucap Alan membuat Disty bingung.
"Mana mungkin kau pasti akan bahagia, kalian pasangan yang serasi kok"sahut Disty
Alan tersenyum sinis "Bagaimana jika aku membatalkan pernikahan itu"ucap Alan
"Kenapa ?"tanya Disty dengan kaget
"Jika aku katakan karena aku mencintaimu kau akan bilang apa.."tanya Alan balik, Disty terlonjak kaget mendengar ucapan Alan.
"Alan kau jangan bercanda, itu tidak mungkin."sahut Disty berusaha menyangkal ucapan Alan, tanpa sadar ia sudah sampai di depan rumah Vriska.
Disty keluar tanpa bicara apa-apa lagi, tapi Alan kembali bersuara "Semua yang ku katakan memang benar, dan kau harus mempercayai semuanya"ucap Alan setelahnya berlalu pergi.
Disty terdiam mematung *Tidak Alan ini salah, kau salah jika mencintai aku, semua akan menjadi rumit.
πππ
ππKalian dukung Alan dengan Disty apa Alan dengan Vriskaππ
ππjangan lupa like, komen, vote.. selamat membaca..ππ*
Bersambung..
__ADS_1