
Sinar matahari perlahan masuk melalui celah-celah menyinari dua insan yang masih terlelap saling beperlukan di kamar. Vriska menggeliat saat merasakan gejolak rasa mual yang tidak terkira, buru-buru ia menyingkarkan tangan sang suami, kemudian bangkit berlari kecil ke kamar mandi.
uwek.. uwek.. perlahan ia mengusap perutnya yang terasa mual, hampir setiap pagi ia akan merasa seperti ini.
Alan yang mendengar suara istrinya tengah muntah dari kamar mandi, buru-buru bangkit menyusul sang istri. Perlahan ia mulai memijat tengkuk sang istri.
"Kita ke dokter saja ya...?"ucap sang suami yang penuh ke khawatiran melihat kondisi sang istri.
Vriska membasuh mukanya, lalu melihat sang suami dan menggeleng, "Tidak hubby, aku baik-baik saja ini hal biasa bagi ibu hamil di trimester pertama, saat siang nanti aku akan biasa saja, jangan khawatir."
"Tapi_.."
"Shutt.."Vriska menempelkan telunjuk jarinya di bibir sang suami,
"Baiklah, ayo kembali ke tempat tidur dan istirahat.."ucap Alan membantu sang istri kembali ke ranjang.
Alan mengambil handuk yang kering, kemudian kembali mendekati Vriska dan mengelap wajah sang istri yang masih terlihat basah.
"terimakasih..."ucap Vriska
Alan tersenyum mendekat mengecup pipi sang istri, "Apa kau menginginkan sesuatu..?"
"Tidak,.."jawab Vriska
"Bersiap-siaplah kau harus berangkat ke kantor.."sambungnya
"Aku tidak tega meninggalkanmu sendiri.."seru Alan,
"Apa yang kau khawatirkan aku baik-baik saja, aku itu hamil bukan sakit, kamar juga sudah kau pindah ke bawah, asisten rumah tangga juga kau tambah.."
"aku tau tapi entahlah..."seru Alan.
πππ
Setelah sarapan Alan berpamitan pada Vriska untuk berangkat. Setelah mencium kening sang istri Alan hendak berangkat..
"Hubby...?"panggil Vriska menghentikan langkah Alan.
"Apa..?"serunya
"Bisakah aku minta ijin nanti keluar, aku ingin ke supermarket membeli susu hamil.."ucap Vriska
"Tidak.."jawab Alan cepat.
"Kau bisa menyuruh asisten rumah tangga di sini, aku tidak mau kelelahan kau harus banyak istirahat.."sambungnya
"Tapi aku merasa bosan.. aku..."mata Vriska sudah berkaca-kaca.
Alan menghela nafasnya ia menyadari sifat istrinya sensitif, salah bicara sedikit saja ia pasti akan menangis. Alan kembali melangkah mendekat ke Vriska dan tersenyum. "Jangan sedih okey ibu hamil itu harus bahagia agar anak-anak kita juga bahagia bukan. Tunggu aku pulang nanti kau bisa membelinya bersamaku, akan aku usahakan pulang cepat"seru Alan
"Tidakkah bisakah aku..."
"Tidak,pergi denganku atau tidak sama sekali.."sahut Alan tidak ingin di bantah.
Vriska mengangguk pasrah, "Pintarnya istriku ini, kan jadi makin sayang.."Alan menggoda Vriska.
ππ
Sampai di kantor Alan langsung buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, untungnya hari ini tidak ada jadwal meeting apapun.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka Iva masuk, "Tuan anda memanggil saya.."
Alan mengangguk, "Iva hari ini saya ingin pulang cepat, tolong kau urus sisanya ya."
"Baik Tuan.."sahut Iva, setelahnya ia berlalu keluar.
πππ
Waktu jam makan siang tiba Alan buru-buru keluar untuk pulang, ia pun menyempatkan diri untuk menelpon sang istri untuk bersiap diri.
Terbukti saat ia sudah sampai, terlihat di sana Vriska sudah rapi menunggu sang suami.
Alan keluar dari mobil lalu menggandeng tangan sang istri sambil membukakan pintu Vriska. Vriska menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alan yang begitu over protektif. Kemudian Alan pun kembali masuk ke dalam mobilnya, mobil Alan membelah jalanan yang sedikit macet mengingat ini jam makan siang. Akhirnya mereka telah sampai di supermarket yang terletak di salah satu mall.
Alan menggandeng lengan sang istri, "Kau harus hati-hati, jangan terlalu cepat berjalan nanti kau bisa kelelahan."ucap Alan
"Iya hubby.."jawab Vriska
Begitu masuk supermarket Vriska berniat ngambil trolly untuk belanja, "Eh apa-apan jangan membawa berat-berat, biar aku saja.."ucap Alan
Vriska pun menurutinya, dengan Vriska yang berjalan di depan Alan yang mendorong troly di belakang. Vriska mulai memilih-milih apa yang ingin dia beli.
"Sayang jangan jauh-jauh dariku, kau harus selalu berada di dekatku."pinta Alan
Vriska lama-lama mendengkus kesal, namun ia pun mengalah berjalan di dekat sang suami.
"Kenapa hanya membeli sedikit susunya, ini kurang banyak.."seru Alan saat Vriska hanya meletakkan beberapa susu ibu hamil.
Vriska menghela nafasnya, "Hubby aku juga butuh makan tidak hanya minum susu, akan mubadzir jika aku membelinya banyak, tunggu nanti habis baru beli lagi oke.."jelas Vriska
"Baiklah.."
Vriska tercengang kaget, "Hubby untuk apa kau membeli buah begitu banyak"
"Untuk kamulah.."jawabnya enteng.
"Kau harus makan buah-buah juga kan, makanya aku membeli banyak untukmu.."seru Alan.
"Tapi ini terlalu banyak sayang.."ucap Vriska penuh penekanan.
"sudah tidak masalah, ayo kita bayar kau sudah belum.."jawab Alan
"Sudah..."seru Vriska.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Alan mengajak Vriska untuk makan siang sebentar. Setelah selesai makan Vriska dan Alan mengitari mall, mata Vriska tertuju pada toko pakaian pria. Meminta ijin pada sang suami yang tengah menerima telpon, kemudian Vriska berlalu masuk ke sana.
Vriska pun memilih baju untuk Alan, setelah selesai Vriska kembali ke tempat semula.
"Sudah.."tanya Alan
Vriska mengangguk.
"Apa yang kau beli sayang.."tanya Alan
"Baju untukmu.. "
"Boleh aku melihatnya..."tanya Alan
"Tidak, besok pagi saja langsung di pake.."ucap Vriska
__ADS_1
Mendengar penuturan sang istri entah mengapa ia mempunyai firasat tidak enak.
πππ
"Apa kau sudah memberi tahu mama Lita dan Pap Danu tentang kehamilanmu..?"tanya Alan yang tengah merebahkan dirinya di paha sang istri .
"Sudah, lusa mereka baru bisa pulang."serunya sambil terus makan cemilan di depannya, sementara Alan sesekali akan mengelus perut sang istri serta menciumnya. Kini keduanya tengah menonton tv di ruang tengah.
Perlahan Alan mulai mengantuk sementara sang istri masih betah makan cemilannya, "Sayang ayo pindah kamar aku ngantuk.."ajak Alan ia bangkit lalu mendudukan dirinya di sebelah sang istri.
"Nanti, aku belum kenyang.."sahutnya
Mata Alan menengok ke arah toples ia mengernyit heran, "Tapi kau sudah habis banyak kue sayang, lihatlah toplesnya bahkan sudah hampir kosong.."seru Alan
Vriska langsung mencebik kesal, "Kau tidak suka ya jika aku makan banyak, kau takut aku berubah jelek dan gemuk.."mata Vriska sudah mulai berkaca-kaca.
Alan mengusap wajahnya, saat menyadari ia telah salah bicara, ia langsung memeluk Vriska "Maaf sayang, aku hanya takut kau kembali mual saja karena terlalu banyak makan. Tapi kalau kau memang masih lapar ya sudah teruskan makannya. Hanya saja aku sudah ngantuk, ayolah bawalah kue nya ke kamar kau makan saja di kamar agar aku juga merasa tenang.."
Vriska mengangguk menurut pada Alan, ia bangkit sambil membawa kue ke kamar. Alan yang memang sudah sangat mengantuk langsung terlelap begitu saja saat sampai di kasur.
ππππ
Pukul dua belas malam Vriska merasa gelisah sementara Alan tertidur begitu lelap. Membayangkan makan mangga muda saat ini rasanya begitu nikmat, Vriska menelan salivanya. Sungguh rasanya sangat menggiurkan.
Ingin meminta pada sang suami, tapi melihat Alan yang tertidur lelap ia merasa kasihan jika harus membangunkan, tapi jika tidak di turuti Vriska yakin jika ia tidak akan tidur.
Tangan Vriska terulur mengguncang perlahan tubuh sang suami.
"Hubby... bangun.." panggilan pertama tidak ada respon.
"Hubby ayo bangun aku ingin sesuatu.." ucap Vriska lagi, perlahan Alan mulai memaksakan matanya terbuka.
"Ada apa hem..."tanya Alan sembari menguap,
"Hubby aku ingin makan mangga muda..."ucap Vriska
"Sayang ini sudah malam, besok saja ya aku akan mencarikannya di seupermarket lagi jam segini juga supermarket kadang sudah tutup.."tutur Alan dengan lembut.
"Tapi aku tidak ingin mangga yang di supermarket, aku ingin yang dari pohonnya langsung.."ucap Vriska membuat mata Alan langsung terbuka sempurna.
"Sayang jangan bercanda..."pinta Alan tersenyum melas.
"Aku serius. Apa kau tau tetangga sebelah kita Ibu Wika di depan rumahnya ada pohon mangga yang sedang berbuah, dan aku ingin kau mengambilnya untukku.."ucap Vriska
Alan menelan salivanya kasar, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit, "Aku akan menyuruh..."
"Tidak mau, aku hanya ingin kau yang memanjatnya dan mengambilnya untukku.."seru Vriska
"Tapi sayang, ini tengah malam dan Ibu Wika pasti suda tidur, apa harus memabangunka orang tengah malam meminta mangga.."tutur Alan
mata Vriska sudah mulai berkaca-kaca, "Bilang saja kau tidak mau mengambilkannya untukku tidak usah banyak alesan, aku kesal padamu aku tidak mau bicara padamu.."Vriska kembali merebahkan dirinya menggulung dirinya dengab selimut.
Alan menghela nafasnya, "Baiklah aku akan menuruti kemauanmu, tapi berhentilah memangis, dan jangan marah.."
Vriska langsung membuka selimutnya, "ayo..."
πππ
πππjangan lupa tekan like, komen, dan hadiahnyaππππ
__ADS_1
bersambung..