Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Davis Danendra Nugraha


__ADS_3

...*Malaikat tidak pernah salah,...


...setan tidak pernah benar...


...Manusia bisa salah dan benar...


...maka kita di anjurkan untuk saling mengingatkan bukan menyalahkan...


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹*


Sebulan telah berlalu sejak Dinda melahirkan putranya yang di beri nama Davis Danendra Nugraha. Nama itu Rava berikan untuk putranya atas ijin Dinda. Hampir setiap hari Rava selalu menyempatkan diri untuk bertemu putranya, meski hingga kini hubungan dengan istrinya belum ada kejelasan, hanya saja saat ini Dinda dan Rava jarang berdebat. Mereka terlihat seperti orang tua yang siaga, tak jarang Rava kerap sekali bergadang tengah malam menggendong dan menimang anaknya.


Rava tau jika Dinda terkadang merasa lelah saat siang hari harus menjaga putranya itu. Meski Rava sering menginap, Rava tetap seperti dulu hanya berani tidur di sofa. Ia tidak berani tidur seranjang dengan istrinya, ia tidak mau jika nanti Dinda akan bertambah marah padanya.


Pukul tujuh malam Rava baru selesai dengan pekerjaannya di kantor.


"Tuan, kau sudah mau pulang."tanya Aldo saat melihat Rava sudah turun di loby kantornya.


"Iya, kau sendiri. Oh ya apa bagaimana Livia?"tanya Rava balik


"Maaf tuan istri saya masih suka mual, kehamilan ini membuatnya susah makan, maaf ya tuan sampai kini ia belum bisa kembali bekerja"seru Aldo


"Tidak apa-apa. Aku mengerti, aku balik dulu"pamit Rava sambil membuka pintu mobilnya .


Ia melajukan mobilnya membelah jalanan jakarta yang cukup padat. Rasanya tidak sabar untuk bertemu putra kecilnya itu, ia seperti mendapat semangat baru.


Mobil telah sampai di depan rumah Papa Dicky, dengan wajah bersinar ia masuk ke dalam. Sampai di kamar ia melihat Dinda sedang menggendong Davis.


"Apa dia rewel"tanya Rava membuat Dinda terlonjak kaget.


"Oh tidak, kau sudah pulang"sahut Dinda.


"Iya maaf aku belum ganti baju, sebentar aku akan mandi ke kamar tamu dulu"Rava pergi ke kamar tamu untuk membersihkan diri.


Tiga puluh menit kemudian Rava telah selesai lalu ia kembali ke kamar Dinda. Pemandangannya masih terlihat sama, Dinda masih menggendong Davis yang masih nampak melek.


"Aku ingin menggedongnya, kau istrihatlah kau pasti lelah"ucap Rava seraya mengambil Davis dari Dinda.


"Tapi.."


"Sudah jangan membantah.."seru Rava sambil menimang Davis.


Dinda pun menurut untuk merebahkan diri di ranjangnya, tanpa sadar ia tersenyum melihat Rava begitu lihai menggendong Davis, tidak canggung.


"Hallo jagoan Daddy, selamat malam. Kenapa belum tidur, kau menunggu Daddy ya. Ayo tidur sekarang, lihatlah Mommy mu sudah terlihat lelah." Rava terus mengajak putranya berbicara seolah bayi mungil itu mengerti akan ucapan Daddynya, tidak lama bayi itu terlelap dalam gendongan Rava.

__ADS_1


Kemudian Rava meletakkan Davis di ranjang box sebelah tempat tidur Dinda.


"Kak terimakasih ya"ucap Dinda


"Kenapa harus makasih, aku kan orang tuanya"sahut Rava sambil berjalan ke arah Dinda .


"Kak, em.. ini kan sudah sebulan lebih dari sejak aku melahirkan"ucap Dinda seperti tengah berfikir sesuatu.


"Lalu..."sambung Rava


"Mana surat gugatannya, apa kau sudah menandatanganinya.."tanya Dinda.


Deg.. bagai tersambar petir, rasanya dunia ini berhenti berputar, mendadak hatinya begitu nyeri dan sakit yang tak mampu Rava ungkapkan dengan kata-kata. Hal yang ia takutkan selama ini nyatanya terjadi juga. Apa yang ia buat selama ini tidak juga membuat Dinda luluh. Wajah Rava tampak menegang masih mencerna ucapan Dinda.


"Kak.."Dinda menepuk pundak Rava.


"Oh ya maaf.. kau yakin ingin berpisah dariku"tanya Rava dengan wajah mata memerah, terlihat jelas saat ini jika ia tengah menahan emosi.


"yakin.."kata Dinda


"Apa kau akan bahagia jika kita memang berpisah, kau tidak ingin memberikan orang tua yang lengkap untuk Davis"tanya Rava lagi ia masih berusah tenang.


"Aku bahagia"Dustanya, nyatanya Dinda menjawab dengan rasa gugup dan gemetar.


"Kau yakin tidak mau memberikanku kesempatan lagi,"tanya Rava


Melihat keteguhan Dinda, Rava pun berfikir. Hati memang tidak di paksa, mungkin sudah tidak ada tempat untuknya, demi kebahagian Dinda, Rava akan melakukan apapun.


"Baiklah, aku akan kembali besok dengan membawa apa yang kau minta. Aku pulang dulu"ucap Rava.


"Kau tidak menginap saja"seru Dinda saat melihat Rava sudah berbalik hendak pergi.


Rava memutar tubuhnya berusaha untuk tetap kuat kemudian ia tersenyum "Tidak, aku kesini hanya ingin melihat kalian berdua. Aku cukup senang melihat kalian berdua sehat." Rava menghela nafasnya. "Dinda bisakah aku memelukmu" pinta Rava, entah mengapa Dinda pun mengijinkannya. Rava segera memeluk Dinda, Dinda pun refleks membalas pelukan Rava. Setelah merasa sudah cukup Rava melepas pelukannya, lalu menatap Dinda.


"Tolong jaga diri baik-baik ya, sekali lagi aku minta maaf untuk semua luka yang telah ku torehkan untukmu. Jaga Davis juga untukku"sambungnya


Dinda hanya terdiam, Rava berjalan ke arah di mana Davis tertidur . "Hai jagoan Daddy, tolong jaga Mommy untuk Daddy ya, kau jangan rewel okey, sampai jumpa besok sayang"ucap Rava sambil mencondongkan wajahnya ke Davis lalu memgecup pipi putranya itu, setelahnya ia berjalan ke arah pintu, setelah pinti terbuka Rava pun kembali menengok ke arah Dinda "Aku pergi dulu"pamit Rava berusaha tersenyum namun tidak menutupi wajah sendunya.


Dinda tersadar setelah Rava pergi, entah mengapa tiba-tiba perasaanya tidak tenang, pikirannya terus tertuju pada Rava. Ada rasa takut, rasa gelisah bercampur menjadi satu. Berbeda saat-saat sebelumnya di mana Rava masih berusaha untuk tetap di sisinya,sejujurnya merasa nyaman.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Mobil melaju dengan kencang, Rava memukul kemudi stirnya. Sesekali ia akan menghapus air matanya yang menetes, kata-kata Dinda terus terngiang di otak dan telingnya.


Sakit ini lebih sakit dari apapun Tuhan, belum cukupkah kau memberi ujian dan karma untukku. Aku menyadari segala kesalahanku dulu, aku menyesal. Haruskah sampai di sini perjuanganku. Aku akui aku bukan suami yang baik dulu, tetapi tidakkah ada kesempatan kedua untukku. Aku ingin sekali egois mempertahankan rumah tanggaku, tapi aku sudah berjanji akan memberikan apapun yang Dinda minta.

__ADS_1


Rava terus berucap sambil terus menambah kecepatan mobilnya, bayangan-bayangan masa lalu terlintas semua dari saat masih menjadi sahabat sama Dinda, saat pertama bertemu Dinda setelah kembalinya Dinda dari Paris, saat bagaimana ia ketika menjalani rumah tangga bersama Dinda, sering kali perlakuan yang tidak baik yang ia berikan pada Dinda.


Aku memang suami yang jahat, Dinda maafkan aku. Andai waktu bisa di putar ulang akan ku jaga dan ku perlakukan kau dengan baik.ucap Rava


Kembali lagi menancap gas pedalnya, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bersama dengan gemuruhnya air hujan yang turun di sertai petir. Tuhan seolah mengerti menjadikan hujan sebagai saksi bagaimana kehancuran Rava kali ini. Dadanya terasa sesak, tidak henti-hentinya ia mengusap aie matanya. Tiba-tiba penglihatannya mendadak buram, ia tidak melihat adanya mobil yang melintas dengan cepat dari arah samping..


Dan brakkkkkkkk.... dar..


Darah mengucur deras di tubuh Rava, Rava tergolek tak sadarkan diri.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Seolah mengerti dengan apa yang tengah menimpa Daddynya bayi mungil itu tiba-tiba menangis sangat kencang hingga membangunkan seluruh isi rumah. Dinda berusaha menenangkan putranya, segala cara ia lakukan dengan memberimya Asi, sampai Mama Dewi, Papa Dicky, Vano pun bangun dan turut andil menenangkan Davis.


"ma bagaimana ini, Davis terus menangis, tapi ia tidak panas"ucap Dinda dengan rasa takut, entah kenapa ia juga ikut mengeluarkan air matanya, ia tidak mengerti untuk saat ini ia ingin menangis tapi karena apa ia tidak mengerti.


Perasaanya tidak enak, pikiran dan hatinya selalu tertuju pada Rava, inikah yang di namakan kontak batin seorang istri.


"Sabar sayang, kenapa menangis, ini biasa terjadi pada seoang bayi"sahut mama Dewi


"Tapi ma.. perasaanku tidak enak"ucap Dinda sambil terus menenangkan Davis.


Bayi itu tidak juga kunjung diam, ia terus menangis.


"Bukankah tadi ada Rava.."cletuk Vano


"Iya tapi dia pulang"sahut Dinda


"Pulang.. tapi ia datang juga sudah malam kan Din, dan kau membiarkannya pulang. Ada apa dengan kalian"ucap Vano


"Aku memintanya untuk menandatangi surat gugatan cerai kak"ucap Dinda dengan lemas


Mama Dewi dan Papa Dicky tampak kaget, sementara Vano terkekeh merasa tidak percaya atas ucapan adiknya.


"Dinda kenapa kau lakukan itu nak, kau tidak memikirkan bagaimana nasib putramu"ucap Papa Dicky


"Sudahlah pa kita bicarakan itu besok, sekarang kita tenangkan cucu kita dulu"sahut Mama Dewi sambil mengambil alih Davis, lalu menggendongnya. Satu jam kemudian Davis pun tenang dan tertidur.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Dear readers, percaya gak sih ikatan antara ayah dan anak . Kalau aku sih percaya, aku pernah ngalami soalnya, anakku rewel nangis kejer tengah malam ,tahunya suamiku sakit jauh di sana..hihi malah curhatπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹ jangan lupa tekan vote, komen,like, beri aku hadiah.. syukur-syukur kasig aku vote pakai kartπŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹selamat membacaπŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


bersambung atau tamat ya...hihi


__ADS_2