Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Love Story Alan_Suamiku terlihat tampan


__ADS_3

"Sayang, ini serius ni aku harus pake baju ini.."tanya Alan pada sang istri yang tengah duduk di ranjang.


Vriska tersenyum mengangguk, "Serius lah. Itu baju yang aku beli kemarin untukmu hubby, baguskan.."


Alan mengernyitkan dahinya ia memegang baju itu lalu melihat ke arah istrinya yang tampak tersenyum senang, baju kemerja berwarna pink.


"Sayang yang benar saja masa aku harus pakai baju berwarna ini, hari ini aku ada meeting dengan klien penting lho."seru Alan


"tapi aku ingin kamu pakai baju itu hubby,"ucap Vriska menatap Alan dengan sendu.


Kalau sudah begini Alan bisa apa coba, "Apa ini juga di kategorikan masa nyidam juga. Yang benar saja lah yank nyidam kok begini. ."decak Alan


Vriska semakin cemberut langsung mengambil baju yang sudah berada di tangan Alan, "bilang saja jika tidak mau pakai, biar ku buang saja bajunya.."seru Vriska dengan mata berkaca-kaca.


Dengan sigap Alan langsung mengambil kembali baju itu, "Aku mau pakai ya sayang, sudah jangan sedih.. Nie aku pakai ya.."ucao Alan dengan lembut.


Sambil memakai bajunya sesekali Alan mengelus dadanya, "Sabar sabar.. tidak apa-apa lah demi anak. Nanti ku ganti saja kalau sudah sampai kantor.."gumamnya.


Vriska langsung tersenyum senang, "Makasih ya sayank.."ucap Vriska sambil memeluk Alan.


"Kamu terlihat makin tampan lho pake baju warna ini.."sambungnya memuji


"Bukannya jadi terlihat cantik gitu.."desis Alan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Pagi ma pa..."ucap Vriska dan Alan.


Pagi-pagi tadi Papa Danu dan Mama Lita datang ke rumah mereka.


"Pagi juga sayang.."jawab Mama Lita.


"Lho Alan, kamu tidak salah pakai baju tu warnanya lho.."ucap Papa Danu


"Ini.. itu.. ini..."Alan bingung harus jawab apa


"itu aku yang nyuruh lho ma pa, aku juga yang membelinya, suamiku terlihat tampan kan ma.."


"Vriska kamu serius nyuruh suamimu pakai baju ini, nanti di kantor suaminya bisa-bisa jadi bahan tontonan orang-orang lho.."ucap Mama Lita


"Memangnya kenapa, salah? aku hanya ingin dia memakai baju itu, kenapa semua menyalahkan aku"ucap Vriska matanya sudah berkaca-kaca.


"Sudahlah ma, aku tidak apa-apa kok . Ayo kita sarapan.."ucap Alan


Lalu semuanya mulai sarapan, Vriska berkali-kali melirik ke arah suami dan tersenyum senang.


"Kenapa...?"tanya Alan.


Vriska menggeleng, "Tidak apa-apa, kamu hanya terlihat semakin tambah tampan saja"ucapnya membuat Papa Danu dan Mama Lita hampir tersedak makanannya.


Sontak Alan pun mengalihkan pandangannya pada kedua mertuanya yang tampak sedang menahan tawanya.


'ish, tampan apanya, yang ada aku sudah seperti wanita saja pakai baju warna pink begini, mana tidak boleh di tutup pakai jas pula. Ya ampun ada-ada saja kemauan ibu hamil, seperti apa pula anakku nanti saat dia sudah lahir, dia ngerjain papinya habis-habisan begini'dumelnya dalam hati


Alan sudah menyelesaikan sarapannya, "Sayang, aku berangkat dulu ya.."pamit Alan pada Vriska


"Sebentar.."seru Vriska ia berlalu masuk ke dalam kamar, kemudian ia keluar sudah menenteng tasnya.


"Lho kau mau kemana.."tanya Alan


"ikut denganmu lah hubby.."


Alan mendelik mendengar ucapan sang istri, "Sayang aku itu mau kerja lho, kau di rumah saja ya kan lagi ada mama dan papa, nanti malah jadi kelelahan.."tutur Alan dengan lembut.

__ADS_1


Vriska menggeleng, "Tidak mau, aku ingin seharian lihat kamu pakai baju itu"


"Ya sudah kalau gitu copot saja bajunya nanti aku pakai saat libur kan bisa di pakai seharian di rumah"


"Tidak mau, aku mau lihat kamu pakai baju itu ke kantor"seru Vriska dengan kekeh.


"Ya sudahlah ayo.."


"Pa ma, aku berangkat ya.."Alan berpamitan pada kedua mertuanya tidak lupa ia mencium tangannya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Tiba di kantor Alan dan Vriska berjalan menuju ruangan Alan berada, semua karyawan memandang ke arah Alan.


"Kenapa melihatku begitu, kerja sana yang benar.."tegur Alan dengan keras.


Vriska mengelus lengan suaminya dengan lembut dan tersenyum seolah ia berkata untuk sabar jangan marah-marah.


Sejujurnya Alan juga merasa risih akan tatapan para karyawannya itu, namun gimana lagi niatnya tadi di pertengahan jalan Alan akan mengganti bajunya itu sia-sia karena ternyata istrinya malah menempel terus padanya.


Ingin sekali Alan berkata 'ini semua karena dirimu, makanya semua karyawanku memandang aneh padaku'tapi Alan mengurungkan niatnya tatkala melihat raut bahagia di wajah sang istri.


Tiba di depan ruangannya Alan dan Vriska sudah di sambut oleh Iva, "Selamat pagi Tuan Alan dan Nona Vriska.."sapanya, pandangan Iva tertuju pada baju yang Alan kenakan, jika tidak sedang berhadapan pada atasannya itu ingin sekali Iva tertawa sekencang-kencang melihat penampilan sang direktur pagi ini. Melihat wajah Alan yang terlihat begitu kesal, sedang Vriska yang berbinar bahagia.


"Pagi juga Iva, bagaimana penampilan suamiku tampan bukan,.."seru Vriska dengan bangganya


"Oh.. iya Nona.."ucapnya, setengah mati ia menahan tawanya.


"Tuh kan Iva aja setuju dengan pendapat aku,"seru Vriska pada suaminya.


Alan melihat ke arah Iva lalu menatapnya tajam, 'Lihat saja, bahkan dia juga mau menertawakan diriku'


"Kenapa? kau mau menertawakan diriku juga seperti yang lain. Kerja yang bener, ku potong juga gajimu kalau kau berani menertawakan diriku"tegurnya pada sekretarisnya itu.


"Jangan begitu lah hubby.."seru Vriska


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Menghela nafasnya Alan menegur istrinya, "sayang, jangan melihatku begitulah aku jadi tidak bisa konsentrasi.."tegur Alan


Namun istrinya justru tersenyum, "Harusnya kau justru bertambah semangat hubby, kan ada aku di sini gimana sih..?"


Alan memijat pelipisnya entah bagaimana caranya lagi untuk berbicara pada istrinya itu, semenjak hamil Vriska selalu menyuruhnya untuk bertingkah konyol.


"Tuan, maaf kita harus menghadiri pertemuan dengan Pak Bram perwakilan dari Pt Sarisash Group"tegur Iva setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Alan.


Alan mengangguk, "Persiapkan semuanya Iva.."


"Baik Tuan.."serunya setelahnya Iva berlalu pergi.


Alan bangkit dari kursinya, "Aku tinggal sebentar ya sayank, aku harus menghadiri pertemuan dengan klien"


Vriska bangkit, "Tidak mau, aku harus ikut ayo.."


"Tunggulah di sini aja, aku hanya sebentar oke.."pinta Alan dengan halus.


"Tidak mau, aku bilang tidak mau pokoknya aku harus ikut kemanapun kamu pergi"ucap Vriska dengan sendu.


Alan mengusap wajahnya dengan tangannya, 'kumat lagi keras kepalanya, kalau tidak di turutu bakalan marah. Aku juga sudah tidak bisa membatalkan pertemuan ini, karena aku sudah berkali-kali mengundurkan pertemuan ini'gumamnya.


"Ya sudah, kalau begitu tunggulah di sini biar aku ganti baju dulu"Titah Alan


"Jangan.. kenapa harus ganti. Pakai ini saja, aku masih ingin kau memakainya.."pinta Vriska dengan sendu.

__ADS_1


"Sayang, untuk pertemuan dengan klien ini saja aku ganti baju oke, nanti setelahnya aku akan memakainya lagi"tutur dengan lembut sedikit menahan emosinya.


Vriska menggeleng, "Aku tidak mau,"


"Vriska.. kenapa sih kau jadi begini, ayolah lihat situasiku ini"teriak Alan dengan keras.


Vriska kaget dan menatap Alan dengan berkaca-kaca, Alan menyadari jika ia sudah melampiaskan emosinya pada sang istri.


"Ya terserah dirimu, gantilah sana bajumu, aku akan pulang dan aku tidak akan meminta apapun lagi padamu, aku juga tidak akan mau berbicara padamu,"Ucap Vriska tanpa sadar air matanya sudah jatuh menetes, ia mengambil tasnya dan berniat untuk pergi meninggalkan suaminya itu.


Alan yang menyadari kesalahannya segera mendekap erat sang istri memeluknya dengan erat, "Maaf,"


"Jangan marah, jangan menangis, oke aku akan memakai baju ini"ucap Alan ia membalikan tubuh sang istri dan menghapus air matanya.


"Jangan menangis, maafkan aku.."sambungnya


"Ayo, aku sudah di tunggu oleh klien ku.."


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Dua jam berlalu, meeting berjalan dengan lancar, meski sekali-kali terlihat Pak Bram memandang aneh akan penampilan Alan saat itu, memakai baju berwana pink tanpa balutan jas pula.


Tapi setelah ia mengetahui bahwa istrinya saat itu tengah hamil, Pak Bram pun tersenyum bangga.


"Jika nanti anak anda sudah lahir, dia pasti akan sangat bangga dengan ayahnya, muda-mudahan istri anda di beri kelancaran hingga hari persalinan itu tiba.."seru Pak Bram sebelum ia meninggalkan Alan, Vriska dan Iva.


"amin.. terimakasih pak.."jawab Alan


"Hubby, aku lapar.."ucap Vriska


"Ya sudah pesanlah makanan yang kau inginkan.."ucap Alan,


Pertemuan itu di adakan di sebuah restoran terdekat dari kantor Alan, "Tuan saya kembali ke kantor saja ya.."ucap Iva


Saat Alan hendak mengiyakannya Vriska terlebih dahulu menjawabnya, "Jangan, nanti saja bareng. Aku sudah memesan makanan begitu banyak jadi kau harus bantu aku menghabiskannya"ucap Vriska


Tidak lama seorang pramusaji datang membawa pesanan makanan Vriska yang begitu banyak.


"Sayang, kau memesan makanan sebanyak ini.."ucap Alan pada Vriska


Vriska mengangguk, "Lalu kalau tidak habis bagaiamana.."


"Kan ada kau dan Iva.."jawabnya enteng.


Iva meneguk salivanya melihat makanan begitu banyak, bisa di katakan ini jika di makan oleh sepuluh orang pun akan kekenyangan, apalagi mereka hanya bertiga.


Alan memijat pelipisnya, lalu menatap Iva yang terlihat kebingungan.


"Ayo pada makan, kenapa diam saja sih..."


"Iya Nona, ini saya mau makan."ucap Iva


Sedangkan Alan yang melihat makanan di meja itu begitu banyak terlihat sudah kenyang duluan.


'Besok drama apalagi nak yang kau bikin, tolong bilang pada mamimu, jangan membuat papimu ini bertingkah konyol'desis Alan dalam hati.


Ia melihat ke arah sang istri yang makan begitu lahap. Tanpa sadar ia pun tersenyum senang.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Mau promosi lagi nie ayo mampir di ceritaku yang satunya, sudah ada 42 bab lho kalian bisa baca maraton.


__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa like, komen,hadiahnyaπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2