Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Ini tidak gratis


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan diri Rava berkaca pada meja rias yang berada dekat dengan ranjang di sana terlihat Dinda masih terlelap.


"Kenapa begini, ah ternyata dia begitu liar..."ucap Rava sambil melihat-lihat bekas cakaran Dinda dan gigitan Dinda pada lengannya.


"Siapa yang kau bilang liar..."sahut Dinda sambil duduk


"Kau lah siapa lagi, aku baru tau malam pertama justru lelaki yang teraniaya.."sinis Rava


"Bodo amat, Kak Rava aku laper..."ucap Dinda dengan nada memelas.


Rava melirik ke Dinda "Bangun tidur langung bilang lapar, mandilah setelah itu baru makan.."


...****************...


Rava dan Dinda saat ini sedang makan di restaurant yang berada di hotel tersebut.


"Setelah ini mau kemana.."tanya Dinda


"Kau ingin kemana..?"tanya balik Rava. Dinda memutar bola matanya jengah, di tanya malah balik bertanya.


"Aku ingin ke pantai.."akhirnya Dinda pun menjawab sembari menguyah makanannya di suapan yang terakhir.


"Baiklah,..."sahut Rava


...----------------...


Saat ini keduanya jalan menyusuri pantai, menikmati pemandangan yang ada di pantai tersebut. Sesekali gelak canda dan tawa mereka terdengar. Meski kerap juga perdebatan mereka ciptakan.


Setelah merasa lelah mereka duduk memutuskan untuk duduk di pasir menghandap pantai, sembari menunggu sunset tiba.


"Kita akan ke Jakarta besok, maaf aku tidak bisa lama-lama mengajakmu liburan, pekerjaanku tidak bisa ku tinggalkan terlalu lama.."ucap Rava


Mendengar ucapan Rava kenapa mendadak hati Dinda tidak rela harus kembali ke Jakarta. Akankah saat nanti mereka kembali sifat Rava akan tetap hangat seperti ini, atau kembali dingin seperti sebelumny.


"Aku paham.."sahut Dinda akhirnya.


...****************...


Menunggu sunset rasanya terlalu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali jalan-jalan barangkali menemukan sesuatu yang mereka inginkan.

__ADS_1


Lama mereka berjalan membawa mereka ke sebuah toko berlian.


"Aku akan membelikan oleh-oleh untuk mama, kebetulan kita berhenti di sini. Kau tentu bisa kan bantu pilih untuk mama imel juga mama Dewi"tanya Rava


Dinda menganggukan kepalanya, seraya mengikuti Rava masuk ke dalam toko. Setelah memilih-milih Rava pun mengurus pembayarannya.


Sementara Rava mengurus pembayaran, Dinda berjalan-jalan melihat-lihat isi toko tersebut. Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah kalung dengan liontin yang indah, rasanya itu menarik untuk dirinya. Tanpa di sangka ia pun bertanya pada pegawai toko tersebut.


"Mbk bolehkah saya bertanya, berapa harga kalung ini.."tanya Dinda


"Sekitar 600 juta Nona..."ucap pegawai tersebut


Ah sungguh ia merasa kaget benda seperti itu kenapa sangat mahal, meski jika ia mempunyai cukup uang untuk membelinya, tentu saja ia akn berfikir dua kali. Tapi kalung itu memang begitu indah.


"Ayo, aku sudah selesai.."ucapan Rava membuyarkan pikiran Dinda.


Dinda mengikuti Rava untuk keluar toko tersebut, namun saat di tengah jalan Rava berhenti.


"Sepertinya barangku ada yang tertinggal di toko tadi, aku balik lagi ya. Kalau kau merasa lelah pulanglah ke hotel dulu menggunakan taksi.."ucap Rava


"tapi... aku.... ah aku beneran di tinggal..."ucap Dinda setelah melihat Rava pergi, karena merasa lelah Dinda pun memutuskan untuk kembali ke hotel menggunakan taksi. Bisa saja ia menyusul Rava, tapi ia tidak mau.


...****************...


Dinda gelisah memikirkannya, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Rava, baru saja ia mengangkat ponselnya terlihat pintu kamar terbuka menampilkan Rava yang datang dengan tersenyum.


"Kenapa? baru di tinggal sebentar sudah kangen.."ucap Rava menggoda Dinda.


"Cihh.. PD sekali. Kau terlalu percaya diri.."sahut Dinda dengan sebal


"Benarkah..."Rava mendekatkan dirii ke Dinda. Hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa centi saja.


"Kau mau apa..."ucap Dinda dengan gugup, jangan lupakan rona merah yang menyembul di pipinya. Ah rasanya menyenangkan bisa menggoda Dinda bagi Rava.


"Aku hanya ingin memberimu ini.."ucap Rava sambil memberikan sebuah kotak pada Dinda.


Dinda pu membukanya, betapa kagetnya ia ternyata isinya adalah kalung yang tadi ia lihat di toko berlian tadi.


"Ini.. untukku..."tanya Dinda memastikannya lagi.

__ADS_1


"Tentu saja, mana mungkin aku beli buat pembantu rumah kita..."ucap Rava


Sungguh tidak romantis pria ini, sungut Dinda dalam hati


"Tapi aku merasa tidak pantas untuk menerimanya, ini terlalu mahal. Aku tidak begitu memerlukannya.."tutur Dinda


"Pakailah, aku belum pernah memberikan apapun bukan untukmu. Anggap saja ini hadiah dariku untukmu.."ucap Rava dengan nada lembut.


"Biar ku pakaikan, kau menghadaplah ke sana.."tunjuk Rava surub Dinda untuk memutar badannya .


"Terimakasih.."senyum Dinda mengembang kala kalung itu sudah tesematkan di lehernya.


"Tapi ini tidak gratis,..."ucap Rava membuat Dinda tersentak kaget.


"Maksudnya....?Kau mau menipuku ha, kau mau bilang aku suruh menyicil ini dengan uangku. Jangan mimpi aku tidak akan pernah membayarnya sepeserpun. Dasar Ceo pelit, licik.."ucap Dinda dengan emosi sambil berdecak pinggang menjauhi Rava.


Sementara Rava hanya tenang sambil tersenyum.


"Dasar gila untuk apa kau tersenyum"sahut Dinda kembali


"Aku tidak butuh uangmu, aku juga tidak akan menyuruhmu menyicilnya.."Rava berjalan mendekati Dinda lalu menguncinya.


"Aku sudah mempunyai uang banyak..tapi aku...."ucap Rava terhenti sambil menatap Dinda.


Dinda yang mengerti tatapan Rava pun menjadi salah tingkah. Sampai akhirnya Rava membenamkan bibirnya pada bibir Dinda. Jangan lupakan tangan Rava yang sudah bergelya kemana-mana. Dengan bibir yang saling terpaut Rava menggiring Dinda ke ranjang.


Tentu, Dinda sudah sangat tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Malam itu terjadi malam kedua penyatuan mereka. Berbeda dengan sebelumnya kali ini mereka melakukannya dengan halus dan lembut, tanpa adanya cakar mencakar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2