
Seorang gadis cantik sedang berjalan menyusuri lorong kampus menuju keluar kampus, waktu menunjukkan jam makan siang. Sebetulnya ia bisa saja makan siang terlebih dahulu di kantin kampus, namun rasanya ia begitu bosan. Ia merasa ada teman, hah sebetulnya teman banyak. Hanya saja tak sedekat ia berteman seperti Dinda.
Sebetulnya ia merasa amat kehilangan sahabatnya itu, tapi keputusan Dinda tidak bisa di ganggu gugat.
"Kau sedang menunggu jemputan siapa..?" tanya Deni . Ia merupakan teman sekampus satu jurusan. Lamunan Alisa seketika buyar ketika Deni bertanya. Saat ini Alisa sedang duduk di bangku depan kampus.
"Aku menunggu jemputan.. Kau tau bukan semenjak insiden aku menabrak mobil rekan bisnis papaku.. aku di larang membawa mobil sama papaku.. menyebalkan sekali bukan.." jawab Alisa
"Haha.. ya itu karna papa mu terlalu sayang denganmu.. Bagaimana kalau sekalian pulang bareng aku.. bukankah kita searah ?" Ucap Deni mencoba menawari tumpangan..
Tanpa sepengetahuan Alisa dari jarak jauh ada seorang pria yang mengawasi mereka, pria itu terlihat mencengkram kemudinya. Rahangnya mengeras terlihat ia begitu cemburu.
Karena emosi ia kemudian keluar dari dalam mobil menuju kearah mereka, terlihat Deni sedang menawari tumpangan. Dengan lantang dan spontan ia bersuara dengan lantang...
"Tidak perlu...." ucap Alvano seketika membuat keduanya menoleh ke arah di mana suara tersebur berasal.
Ketika Alisa mau membuka suara, namun Alvano kembali menyela.
"tidak perlu menumpang mobil anda, ia bisa pulang bersama saya.. "ucap Alvano sambil menggenggam tangan Alisa membawanya ke dalam mobilnya..
"Apa itu pacarnya.. posesif sekali terlihat ia cemburu. Lah bulshit peduli amat.. Mending saat ngapel pacar ke empat.. ." ucap Deni melihat bagaimana raut muka Alvano tadi begitu menyeramkan..
******
Hanya keheningan di dalam mobil selama perjalanan mengantar pulang Alisa. Alvaro merasa geram dan emosi mengingat tadi. Padahal mereka hanya berbicara layaknya teman.
"Kau suka ya di goda pria tadi..." tanya Alvano dengan emosi
"Maksudnya... apa..?" tanya balik Alisa
__ADS_1
"Aku sedang bertanya mengapa kau malah balik tanya... Kau sebahagia itu dekat dengan pria tadi " ucap Alvano kembali dengan tegas
"kenapa.. kami kan teman. Masa iya ketika ia bertanya aku diam saja. Dia juga bermaksud baik menawari aku tumpangan." sahut Alisa dengan santai. Ia merasa benar dan sifat Alvano berlebihan, mengingat dirinya bukan siapa-siapanya. Dia bebas bukan berteman dengan siapa saja.
Ucapan Alisa seketika membuat emosi Alvano memuncak "Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain.."Bentak Alvano pada Alisa
"Memangnya kau siapa ? melarangku dekat dengan pria lain.."ucap Alisa tak kalah emosinya.
Memang benar mereka selama ini dekat namun sampai detik ini pula hubungan mereka hanya sekedar teman. Alvano tak kunjung memberi kepastian hubungan mereka sampai detik ini. Wajar bukan dia mempertanyakan sikap Alvano yang berlebihan.
Alisa sudah lelah dengan semuanya, ia tidak mau terlalu berharap perasaannya akan terbalas. Dia wanita juga membutuhkan kepastian.
Ucapan Alisa barusan membuat Alvano diam dan kalah telak . Membuat Alvano memberhentikan mobilnya dengan mendadak.
"ke..kenapa berhenti. Kau mau menurunkanku di tengah jalan Baiklah aku keluar.." ucap Alisa hendak keluar namun tangannya di tarik Alvano.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menangkup wajah Alisa dengan kedua telapak tangannya.
"Dengarkan aku baik. Karena aku tidak akan mengulangi apa yang akan aku sampaikan.. kau mengerti.." ucap Alvano membuat Alisa mengangguk tanpa sadar ia malah begitu terpesona dengan wajah tampan Alvano.
"Dengar aku mencintaimu. Aku mau kau menjadi kekasihku. Aku cemburu.. aku tidak suka kau dekat-dekat dengan pria lain. Kau mengerti.." ucap Alvano dengan lembut.
Namun Alisa tak kunjung menjawab entah sangking terkejutnya apa terlalu senangnya, atau memang ia tidak mendengar ucapan Alvano, hingga Alvano mengguncang kedua bahu Alisa ia tersentak kaget.
"Kau.. kau bicara apa barusan...?"tanya Alisa dengan wajah tak berdosanya.
"Apa..? jadi kau tak mendengar omonganku barusan..." ucap Alvano melepas kedua tangannya di bahu Alisa. Ia langsung melemas seketika, ia tipe pria yang begitu gengsi mengutarakan perasaannya, namun setelah ia membuang jauh-jauh gengsinya pada wanita yang di depannya, malah dia tidak mendengarnya.
"iya.." ucap Alisa
__ADS_1
membuat Alvano begitu geram...
"katakan sekali lagi aku pastikan akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya..." ucap Alisa kembali
"Kau.. aku kan bilang aku hanya akan mengatakan sekali saja. Kenapa kau tak mendengarkanku.." sahut Alvano
"Ya karena aku sedang menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di hadapanku.." ucap Alisa sambil menyenderkan badannya ke kursi mobil.
"Baiklah aku katakan sekali lagi.. dengar baii-baik.. Aku mencintaimu.. aku mau kau menjadi kekasihku. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan pria lain. Kau mengerti? mulai detik ini kau pokoknya menjadi kekasihku.." ucap Alvano
"Apa-apaan kau bahkan tidak menanyakan jawabanku.. Kalau aku menolakmu bagaimana.." sahut Alisa
"Jawabanmu tidak penting. Memangnya kau bisa menolak pesonaku yang tampan ini.." ucap Alvano
" dasar menyebalkan..." sahut Alisa..
.
.
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1