
Hari terus berlalu tanpa terasa pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke enam. Meski hubungan keduanya belum bisa di katakan pernikana normal pada umumnya, namun mereka sudah memiliki kemajuan sedikit dari sebelumnya.
Hari ini Dinda tidak membawa mobil, tadi pagi ia pergi manaiki transportasi online. Setelah pekerjaannya beres ia pulang, ketika sampai depan gerbang, ia seperti melihat mobil Rava ah tapi tidak mungkin pikirnya.
Merasa tidak mendapat respon dari Dinda, Rava pun melajukan mobilnya menghampiri Dinda.
"Masuklah..."ucap Rava dengan datar
Dinda nampak terkejut mendapati Rava sudah berdiri di depannya, ia pun menurut.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang
, namun tidak ada percakapan di antara keduanya hingga Rava membelokkan mobilnya.
"Mau kemana, ini bukan arah ke rumah bukan..?"tanya Dinda tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
Rava tersenyum, mendapati Dinda akhirnya membuka suaranya.
"Kita ke rumah mama Imel, ia menyuruh kita menginap. Mereka sudah menunggu kedatangan kita, ada Kak Vinda juga ."ucap Rava
"Pantas saja kau menjemputku, kalau tidak ada tujuan mana mau. "sahut Dinda dengan sinis
"Aku bisa saja menjemputmu tiap hari ,tapi kau sendiri selalu membawa mobil pribadi. Dulu juga Luna biasanya kalau pergi ke manapun juga selalu ku antar,"ucap Rava tanpa sadar bercerita tentang Luna membuat Dinda terdiam.
Merasa tidak mendapat jawaban Rava menoleh pada Dinda, melihat Dinda tengah memainkan jarinya, ia menduga ada yang salah dengan ucapannya tadi. Segera ia menarik tangan Dinda dan menggenggamnya.
"Maaf..."ucap Rava sambil tersenyum berharap bisa mengobati rasa sakit Dinda.
Dinda membalas senyuman Rava, dan melepas tangannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau merepotkan siapapun makanya aku selalu membawa mobil sendiri. Aku tau kau juga sibuk. Aku sudah terbiasa dari dulu kemana-mana membawa mobil sendiri."ucap Dinda
************
"Aunty Dinda aku datang tangkap aku..."Ucap Varen putri Vinda dan Hendrik yang baru menginjak usia empat tahun itu, terus berlari menghampiri Dinda dan Rava yang kala itu sedang berjalan ke arahnya.
Dengan senyum mengembang Dinda menangkap gadis kecil itu lalu memeluknya, memberi ciuman pada gadis kecilnya.
__ADS_1
Sementara Rava terus mengamati keduanya, merasa menghangat dengan kedekatan keduanya.
"Aunty, ini sunggu geli. Aku punya mainan baru ayo aunty temani aku bermain."Ajak Varen
"Sayang, biarkan Aunty dan Om Rava masuk dulu, lalu makan malam ya. Mainnya nanti ya.."ucap Vinda sambil membelai rambut Varen lalu mengambilnya dari Dinda.
******
"Bagaimana apa sudah ada kabar baik mengenai calon cucu mama dan papa..?"tanya Imel setelah semua menyelesaikan makan malamnya. Dinda yang kala itu sedang minum pun tersedak, namun dengan sigap Rava mengelus punggung Dinda.
"Hati-hati"ucap Rava
"Maafkan mamah sayang..."sahut Imel,
"Tidak apa-apa kok ma.."sahut Dinda
"Bagaimana kalau kalian pergi bulan madu" ucap Imel
"Aku tidak bisa mah pekerjaanku sungguh sangat banyak,"ucap Rava sejujurnya ia sedikit berbohong dengan pekerjaannya, ia hanya belum siap untuk mengabulkan keinginan orang tuanya memberi cucu untuk mereka, selain karna perasaannya yang masih semu, juga rasa trauma kehilangan Luna juga calon anaknga kala itu.
Entah kenapa mendengar penuturan Rava membuat hati Dinda kecewa.
"Biarkan papa yang menghandle kerjaan kamu Va, untuk Dinda nanti biarkan papa yang berbicara pada pemilik rumah sakit tempat kau bekerja, mungkin tidak dalam dekat ini tapi nanti " ucap Adi
"Kalau tidak mau jauh-jauh kalian bisa berbulan madu di Villa suamiku, di sana pemandangannya enak ada pantainya." ucap Vinda
Mendapat ucapan dari Papa Adi mereka hanya pasrah tidak bisa menolak.
********
Kini Dinda tengah berada di kamar Rava, duduk di tempat tidur melihat sekeliling kamar Rava, matanya menyoroti sebuah foto seorang wanita yang terbingkai. Perlahan ia berjalan mendekat mengambil foto itu dan mengelusnya.
Hah dia masih menyimpannya, sampai kapan? hatinya masih bersama Luna. Kenapa nasibku tidak sebaik dirinya. lirih Dinda
Kembali meletakkan foto itu, setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka.
"Kau sedang apa?"tanya Rava melihat Dinda berdiri
__ADS_1
"Tidak aku hanya menunggumu ingin ke kamar mandi"jawab Dinda tanpa melihat Rava dan berlalu pergi
Kenapa? aneh,,,,ucap Rava
*******
Ketika Rava dan Dinda tengah membaringkan badannya terdengar ketukan pintu dari luar. Dinda pun bergegas membukakan pintunya. Terlihat Varen tengah berdiri membawa boneka kesayangannya.
"Aunty bolehkah Varen tidur bersama aunty?"tanya gadis kecil itu
"Tentu sayang..."sahut Dinda lalu menggendong gadis kecil itu membawanya masuk ke dalam, lalu membaringkannya ke tempat tidur.
Rava menatap heran Varen, Mengganggu saja, aku padahal masih ingin menanyakan kenapa mood Dinda mendadak berubah. dumelnya dalam hati
"Kenapa tidur di sini, di mana mamimu..?"tanya Rava pada Varen dengan datar
"Aku ingin tidur bersama Aunty kalau om tidak suka om keluar saja.."ucap Varen dengan ketus. Sontak Rava membulatkan matanya. Ia mengalihkan pandangannya tampak Dinda sedikit terkekeh ada perasaan hangat kala melihat Dinda kembali bisa tersenyum tidak apa jika kali ini ia harus berbagi ranjang dengan ponakannya itu, pikirnya.
Tiga puluh menit kemudian Rava yang sedang asyik dengan hanphonenya, membalikkan badannya. Melihat Dinda dan Varen tengah tidur berpelukan layaknya seorang anak dan ibu. Senyum tersungging di wajahnya, beginikah gambaran nanti ketika ia mempunyai seorang anak.
anak aku belom terfikirkan soal itu, aku tidak mau kehilangan lagi.
Lalu ia mendekat menyingkirkan anak rambut di wajah Dinda, dan memberi kecupan lembut di kening Dinda.
"Selamat tidur, istriku.."ucap Rava setelah itu ia kembali memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....