
Waktu terus berlalu tanpa terasa kandungan Dinda saat ini sudah memasuki usia sembilan bulan. Selama itu pula banyak pula keluarga yang memperhatikan Dinda, tidak terkecuali Mama Dewi dan Mama Imel, meski ia tau hubungan antara anaknya saat ini tergolong sedang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi keduanya memutuskan untuk tidak ikut campur. Keduanya berusaha memahami keduanya, mereka sama-sama sudah dewasa.
Selama itu pula Rava tidak henti-hentinya memberi perhatian lebih pada Dinda, terkadang ia sengaja menginap di rumah mertuanya itu, meski ia tidak di ijinkan tidur seranjang oleh Dinda, ia rela harus tidur di sofa luar kamar. Mama Dewi pernah menyuruhnya untuk tidur di kamar tamu saja, namun Rava menolak ia takut jika Dinda membutuhkan sesesuatu katanya.
Selama itu pula Rava tidak pernah pulang ke rumahnya, meski terkadang ia tidak ke rumah mertuanya ia memilih pulang ke apartemen atau kadang menginap di kantornya.
Seperti kali ini Rava sedang menginap di rumah mertuanya, pukul sepuluh malam Dinda keluar dari kamarnya ia merasa haus berniat untuk mengambil air minum. Namun saat ia membuka pintu ia di kagetkan akan kehadiran Rava di depan kamarnya.
"Kau mau kemana.."tanya Rava
"Aku ingin ke dapur, aku haus.."sahut Dinda
"Tunggulah di sini, atau di dalam kamarmu aku akan mengambilkannya untukmu, jangan kemana-mana. Oh ya apa kau juga merasa lapar.." tutur Rava dengan lembut.
"Tidak.."seru Dinda
Lima menit kemudian Rava masuk ke kamar Dinda dengan membawa minum untuk Dinda.
"Minumlah.."Rava memberikan gelas yang berisi air putih pada Dinda, Dinda menerimanya lalu meminumnya hingga habis,
"Terimakasih.."ucap Dinda
"Jangan berterima kasih ini hanya sebuah perhatian kecil, sekarang istirahatlah"perintah Rava sambil membantu Dinda berbaring.
Namun sebelumnya Dinda tampak mengernyit seperti menahan sakit.
"Ada apa? apa ada yang sakit. Katakan Dinda.."ucap Rava dengan sedikit panik.
Dinda melihat mimik muka Rava, Apa dia mengkhawatirkanku
"Tidak apa"Dinda berniat untuk melanjutkan tidurannya, namun rasa sakit itu datang lagi.
"Aduh sakit..."ucap Dinda sambil meringis.
"apa yang sakit, bagian mana"tanya Rava penuh khawatir bercampur panik.
"Tidak apa-apa, hanya sebuah kontraksi palsu, aku ingin buang air kecil ke kamar mandi"sahut Dinda mengurungkan niatnya untuk istiarahat lalu beranjak ke kamar mandi.
Rava melihatnya tampak cemas ia mengurungkan niatnya untuk keluar kamar Dinda, selang beberapa menit Dinda keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya.
"Kenapa masih di sini.."cetus Dinda
"aku.. aku khawatirkan kau kenapa-napa.."sahut Rava sambil terus memerhatikan Dinda. Entah mengapa ia merasa khawatir padahal Dinda terlihat tenang.
"Aku baik-baik saja.."ucapnya "aku ingin buang air kecil lagi.. sebentar.."sambung Dinda sambil berlalu ke kamar mandi dengan hati-hati.
Dalam hatinya ia juga tengah berfikir tidak biasanya ia sering buang air kecil seperti ini, ini sudah kesekian kalinya ia buang air kecil, apa ia akan melahirkan, namun mengingat hpl masih lama ia menepis pikiran itu. Padahal dokter yang memeriksa Dinda juga sudah mewanti-wanti bayi lahir bisa saja di luar perkiraan tanggal lahir, bisa maju ataupun mundur, apalagi mengingat posisi kepala bayi sudah berada di panggul.
Setelah selesai dengan ritual buang air kecilnya Dinda kembali ke kamar, sesekali ia mengernyit menahan rasa nyeri.
"Kenapa lama-lama rasa nyeri ini menjadi sakit lalu menjadi lebih saring.."ucap Dinda.
Dinda keluar kamar masih melihat pemandangan yang sama Rava yang masih beridiri di tempat yang sama, melihat Dinda keluar dari kamar mandi dengan sedikit sempoyongan Rava berdiri merangkul Dinda.
"Kau lelah, apa kau merasakan sakit lagi"tanya Rava
__ADS_1
"Aku seperti merasa masuk angin, bisakah kau membalurku punggungku dengan minyak kayu putih, minyaknya ada di sebelah sana"tunjuk Dinda yang langsung di sanggupi Rava. Saat seperti ini Dinda tidak berdifikir permasalahan yang menimpa rumah tangganya, saat ini ia hanya membutuhkan bantuan.
"Bagaimana? apa sudah mendingan.."tanya Rava setelah selesai membalur tubuh Dinda dengan minyak kayu putih.
"Tidak ada pengaruh apa-apa, rasanya masih sakit.. aduh.."ucap Dinda dengan merintih.
"Apa kau akan melahirkan, bukankah kata Dokter masih seminggu lagi"tanya Rava dengan penuh khawatir,
"Kak sakitnya semakin sering perutku rasanya mulas,"ucap Dinda sambil memegang perutnya menahan rasa sakit yang di sertai mulas.
"Baiklah kita ke rumah sakit sekarang,"Rava langsung membopong Dinda ke mobilnya lalu menuju rumah sakit. Ia hanya membawa dompet dan handphone saja, tanpa membawa perlengkapan yang lain, pikirannya panik ia hanya terfikir Dinda, bahkan ia sampai lupa untuk memberi tahu kedua mertuanya, mengingat memang hari sudah malam.
"Dinda kau tahan ya oke, kau pasti kuat,.."ucap Rava sambil menyetir
Dinda hanya diam menikmati rasa sakit yang semakin sering datang, sesekali ia akan mengernyit ketika rasa sakit itu datang,
"Apakah begitu sakit,.."
"Aku tidak menyangka orang melahirkan akan sesakit ini. Aku harus apa.."tanya Rava dengan panik, di tambah pula mereka terjebak macet.
"Sial, kenapa harus pake macet, aku benci sekali." seru Rava dengan kesal
"Kak diamlah, kau fokus saja menyetir jangan khawatirkan aku, dan jangan banyak bicara aku tidak mau hal buruk terjadi pada kita. Jangan khawatirkan aku"sahut Dinda sambil menahan sakitnya.
"Bagaimana aku tidak khawatir, melihatmu begini"ucap Rava sambil menjabak rambutnya.
Sampailah mereka di rumah sakit. Rava membawa Dinda masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak-teriak.
"Dokter.. suster tolong istri saya mau melahirkan"teriak Rava memenuhi isi rumah sakit itu.
"Apa kau bilang, kenapa harus menunggu lagi kau tidak lihat istriku sudah kesakitan seperti itu. Kau juga menyuruh istriku untuk jalan-jalan, dia itu sedang kesakitan bagaimana mungkin jalan-jalan, dasar aneh. Kau mau rumah sakit ini tutup ya dengan membiarkan istriku kesakitan"teriak Rava dengan emosi pada Dokter yang memeriksa Dinda.
Dokter hanya menggelengkan kepalanya, sampai pada saatnya Dinda mengusap lengan Rava, berusaha memberi ketenangan untuk Rava. Ia tau pria ini sedang emosi bercampur panik.
"Tenanglah kak, memang begitu prosedurnya, kau hubungilah yang lainnya jika kita sudah berada di rumah sakit"ucap Dinda sesekali mengernyit sakit.
"Bagiamana mana aku bisa tenang kau bahkan sesakit ini. Baiklah aku hubungi keluarga kita dulu"Rava lantas mengambil ponselnya menghubungi keluarganya serta keluarga Dinda.
Setelah selesai memberi tahu keluarganya, Rava kembali ke Dinda, seperti saran Dokter untuk menyuruh Dinda membawanya jalan-jalan lebih dulu agar pembukaannya cepat lengkap. Dengan penuh hati-hati Rava membantu Dinda, meski saat rasa sakit itu datang Rava akan panik.
"Kenapa kau harus menuruti ucapan dokter itu, ayo berbaring saja, aku tidak tega begini."ucap Rava penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa, kau lupa aku juga seorang dokter dulu, meski aku bukan dokter kandungan tapi aku tau apa yang di bilang dokter itu benar"sahut Dinda.
"Baiklah, tapi jika kau sudah tidak sanggup maka berhentilah, jangan memaksa"sahut Rava akhirnya pasrah.
Satu jam kemudian keluarga Dinda dan Rava tiba di rumah sakit, mereka menunggu proses kelahiran cucunya dengan perasaaan was-was. Mereka juga melihat di balik kaca jika saat ini Rava tengah membantu Dinda berjalan-jalan, sesekali Rava akan tampak khawatir saat Dinda kembali merasakan sakit.
Tiga jam kemudian Dinda merasa sudah tidak sanggup untuk berjalan, Rava membantu Dinda untuk berbaring, lalu dokter pun datang memeriksa.
"Wah pembukaannya sudah lengkap, ayo nona kita berjuang sama-sama ya, ingatlah jika sebentar lagi anda akan bertemu dengan anak anda,"ucap sang Dokter memberi semangat pada Dinda, Dinda tampak mengangguk "Suster tolong bantu saya oke"
"Nona tolong dengarkan aba-aba saya ya.. Tarik nafas terus keluarkan.."pinta sang Dokter, Dinda melakukan sesuai perintah Dokter.
Beberapa kali dokter memberi aba-aba seperti itu, hingga sampai tiga puluh menit kemudian bayi itu tidak kunjung keluar.
__ADS_1
"Sakit kak.. sakit sekali.."ucap Dinda sambil mancakar lengan Rava.
"Iya sayang aku tau maaf, ku mohon berjuanglah kau harus kuat"sahut Rava tidak henti-hentinya memberi dukungan Dinda. Sejujurnya melihat bagaimana perjuangan istrinya melahirkan ia menahan mati-matian untuk tidak mengeluarkan air matanya, saat ini ia tau Dinda butuh dukungan dan semangat.
Dokter kembali memberi aba-aba Dinda.
Dinda pun melanjutkan sesuai intruksi dokter.
"Aku tidak kuat kak.. ini sakit sekali"ucap Dinda dengan lemah
"Jangan berbicara seperti, kau harus kuat. Aku tau kau wanita yang kuat, ku mohon berjuanglah sebentar lagi"ucap Rava tanpa terasa ia mengeluarkan air matanya yang sejak tadi sudah ia tahan, ia merasa amat tersiksa melihat keadaan Dinda saat ini, di tambah omongan Dinda yang klantur membuat ia panik.
"Ku mohon berjuanglah demi anak kita, akan ku lakukan apapun asal kau selamat "sambung Rava khawatir.
Dinda kembali mengikuti aba-aba dari Dokter,
"Ayo nona kau pasti sebentar lagi dia akan lahir, percayalah semua akan baik-baik saja.. ayo tarik nafas dan buang.."ucap sang Dokter
Tidak lama setelah itu terdengarlah suara tangisan bayi, Rava menangis lalu memeluk serta mencium Dinda dengan haru. Dinda terkulai lemas setelahnya.
"Wah anaknya berjenis kelamin laki-laki tuan"ucap sang Dokter
"Terimakasih.. maafkan aku.."ucap Rava sambil mencium Dinda dengan haru, ia tidak kuasa menahan tangisnya saat melihat bagaimana perjuangan Dinda melahirkan putranya. Bagiamana Dinda hampir putus asa, Dinda yang menjerit tampak kasihan. Sungguh apapun yang akan ia berikan nanti tidak akan pernah mampu membalas jasa bagaimana istrinya melahirkan putranya ke dunia, ia bertekad apapun akan ia lakukan demi membuat anak dan istrinya bahagian nanti.
"Itu sudah kodratnya seorang wanita.. Kenapa kau malah menangis"ucap Dinda.
"Aku bahagia .. sangat bahagia sekali bisa mendampingimu melahirkan putra kita"ucap Rava, Meski aku tidak tau bagaimana skenario tuhan setelah ini, aku hanya berharap jika memang semua adalah hukuman dan karma yang harus aku terima, semoga tuhan segera menyudahi semua ini, lirih Rava dalam hati
Rava melihat suster yang tengah membersihkan putranya sementara tangannya tetap memegang tangan Dinda, ia tidak menyangka saat ia tengah menjadi orang tua.
Mama Dewi, Papa Dicky, Mama Imel dan Papa Adi tampak terharu bercampur rasa bahagia mendengar tangis bayi, anggota keluarga baru mereka. Sebagai orang tau mereka berharap kehadiran cucunya mampu mengubah segala pikiran kedua permasalahan rumah tangga anaknya nanti.
ππππ
...Cinta itu perjuangan...
...Seperti seorang ibu melahirkan anak-anaknya...
...Bagaikan sosok ayah bersusah payah...
...menafkahi kehidupan keluarganya ...
...Semua perlu di rencanakan, di pikirkan masak-masak...
...di perhitungkan, di usahakan sebagai wujud cinta...
..._**Rhein Fathia_...
ππ** Guys di episode kali ini kita lupakan sejenak permasalahan rumah tangga mereka, aku membawa kalian membaca bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan putra-putrinya ke dunia ini, jasa ibu tidak terbalaskan oleh apapun. hihihiπππ
ππMaaf baru up, baru ada waktu senggang kemari emang udah ngetik tapi belum selesaiππ
πSelamat membaca, jangan lupa tekan like, vote, komen.."πππ
bersambung...
__ADS_1