
πππ
"Aku fikir kau pergi bulan madu"seru Disty
Vriska menggeleng "Tidak, kami tidak melakukan perjalanan bulan madu, lebih tepatnya kami belum punya rencana"
Kini Vriska tengah berada di tempat kerja Disty, beruntung Disty tengah istirahat jadi ia bisa mengobrol dengan santai.
"Kenapa?"seru Disty
"Berbulan-bulan aku dan Alan di negara orang menghabiskan waktu berdua jadi sekarang aku fikir lebih baik di rumah saja"jawab Vriska sambil menyeruput minumannya.
Disty mengangguk mengerti, "Disty kenapa kau tidak mau bekerja di perusahaan papaku atau Alan, aku papa dan Alan berkali-kali menawarimu tapi kau tidak mau. Apa kau masih trauma karena kejadian dulu sewaktu menjadi asistenku, kau takut aku memecatmu lagi ya"sambung Vriska dengan sendu, mengingat hal itu ia merasa bersalah.
Disty mendongak dan tersenyum, lalu menggeleng, "Tidak Vriska sayang, aku merasa lebih nyaman berada di sini. Aku suka sekali membuat kue, dan aku fikir saat nanti aku sudah mempunyai cukup uang dan ilmu, aku ingin sekali membuka usaha toko roti sendiri"jelas Disty
Mata Vriska berbinar, "wah kau hebat, semoga cita-citamu cepat terlaksana. Bagaimana kalau soal modal aku membantumu"
Disty terkekeh melihat bagaiman suasana hati Vriska memang cepat berubah-ubah "Nanti saat aku membutuhkanmu pasti aku akan menghubungimu"
Vriska mengangguk mengerti, sampai dering ponsel Disty mengagetkan keduanya, Disty merogoh sakunya lalu melihat panggilan yang masuk ia hanya mendengkus kesal mematikan panggilan itu lalu memasukan kembali ponselnya ke sakunya.
Vriska mengernyit bingung saat Disty tidak menjawab panggilan itu, saat Vriska ingin kembali bertanya ponsel Disty kembali berdering, membuat Disty kesal.
Disty kembali mengambil handphonenya, "Hallo" seru Disty menjawab panggilan.
Vriska masih mengamati dan menjadi pendengar yang baik.
"Aku sibuk, sudah ku katakan jangan mengangguku lagi"seru Disty berbicara pada sang penelepon, lalu memutuskannya.
"siapa.."tanya Vriska
"Hanya orang iseng.."jawab Disty dengan asal dengan raut muka kesal.
Vriska tersenyum dan mengangguk "Aku kira itu dari Dokter Cintamu"Vriska berniat meledek Disty.
"Dokter cinta.? apa yang kau katakan.."cetus Disty.
"itu lho Dokter yang waktu itu kau bawa pas pernikahanku"jelas Vriska
"Kau harus meralat ucapanmu itu ya, aku tidak membawanya. Entah dari mana dan bagaimana ia tiba-tiba muncul"serunya
Vriska terdiam sambil memikirkan sesuatu "Disty, apa kau masih mencintai Alan.."tanya Vriska dengan sendu
"Omong kosong apa yang kau katakan, tidak mungkin aku mencintai suami adikku sendiri. Vriska percayalah aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada suamimu"jelas Disty menjawab kegelisahan Vriska.
"Benarkah.?"tanya Vriska, Disty mengangguk sambil tersenyum menggenggam tangan Vriska.
"Aku fikir karena kau masih mencintai Alan, makanya kau tidak bisa membuka hatimu untuk pria lain"sahut Vriska.
"Bukan itu Vriska.."Disty menghela nafasnya, "Kau tau bagaimana keadaan keluargaku, aku merasa tidak pantas untuknya, ku akui Dokter Dika begitu baik padaku. Tapi aku merasa perlu menghindarinya, banyak hal yang harus ku pertimbangkan Vriska, terutama status sosialku. Aku memang belum mencintainya, tapi sejujurnya aku mulai merasa nyaman bersamanya."jelas Disty
"Cinta itu tidak memandang harta Disty, tapi kalau kalian berjodoh dengan cara apapun pasti Tuhan akan menyatukan kalian, sekalipun dengan seribu cara kau menghindarinya"kata Vriska.
Setelah itu keduanya terdiam, sampai dering ponsel Vriska membuat mereka kaget, Vriska mengambil ponselnya yang berada di tas. Llau menghela nafasnya, saat lagi-lagi suaminya yang menelpon lewat Video.
Vriska ingin menghindarinya tapi nanti pasti Alan akan kesel dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Iya hallo.."Vriska mengangkat panggilan Viedo Alan.
"Kenapa mukamu cemberut begitu, suami menelpon itu harus menyambutnya dengan ramah"seru Alan yang tampak masih berada kantor.
"Memangnya kerjaanmu sudah beres, kau berkali-kali menelpon"cetus Vriska
"Belum.."Alan terkekeh "Tapi aku merindukanmu, aku fikir dengan menelponmu akan menambah semangatku, apalagi kalau aku di kasih kiss.."
Vriska menghela nafasnya, ia merasa malu pada Disty melihat kebucinan Alan padanya, Disty terlihat menahan tawanya.
"Alan, jangan bercanda. Aku sedang tidak di rumah"seru Vriska.
"Aku tau, makanya aku hanya minta kiss me dari jauh. Kalau di rumah beda lagi, hihi kau taulah maksudku honey"ucap Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh ya ampun.."Vriska menggelengkan kepalanya wajahnya bersemu merah saat Alan terus menggoda dan merayunya "Hubby sudah ya sebentar lagi aku pulang"
Tapi Alan malah cemberut "Sayang kiss dulu"
"Aku tidak mau, aku sungguh malu. Aku sedang berada di tempat umum"jawab Vriska
"Ya sudah.."jawab Alan dengan lesu.
Setelah itu panggilan terputus, dan Disty tertawa terbahak-bahak.
"Aku baru tau seorang Alan Wijaya bisa begitu bucin pada seorang wanita, untungnya itu kau istrinya"ucap Disty di sela-sela tawanya.
"Memangnya bagaimana Alan dulu saat berpacaran denganmu"tanya Vriska
"dia itu kaku.."jawab Disty
Vriska mengangguk "Baiklah aku juga harus pulang"seru Vriska sambil bangkit berdiri meninggalkan Disty.
ππππ
Vriska sedang mengaduk-aduk masakannya ia terlonjak kaget saat ada kedua tangan kekasr yang melingkar di pinggangnya.
"Hubby kau membuatku kaget saja, untung tidak ku pukul kau pakai spatula ini"seru Vriska sambil mengangkat spatulanya.
Bukannya menjawab Alan malah merebahkan kepalanya di pundak Vriska, "Sayang aku merindukanmu, aku sungguh lelah."jawabnya.
Vriska mematikan kompornya lalu melepaskan tangan Alan dari pingangnya dan berbalik, lalu mengecup pipi Alan membuat Alan tersenyum senang "Kalau begitu pergilah ke kamar lalu bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan baju gantimu. Setelah itu turunlah makan malam, nanti aku akan memijatmu agar lelahmu berkurang"kata Vriska
Alan terlihat memikirkan sesuatu "Aku mau banget tapi pijat plus-plus ya"serunya sambil menggoda Vriska dengan mengedipkan sebelah matanya.
Vriska mencebik kesal "Alan... kau..."teriaknya pada Alan, namun Alan segera berlari menaiki tangga.
"istriku benar-benar bar-bar, tapi rasanya menyenangkan saat melihat ia kesal"ucap Alan setelah sampai di kamarnya.
πππ
"Hubby, di mana kotak bekal yang tadi ku siang ku suruh kau bawa pulang"tanya Vriska setelah makan malam berakhir.
Alan langsung membulatkan matanya, Ya ampun dia benar-benar menanyakannya, oh shhit dan aku juga lupa membawanya lagi. Alan masih berusaha mencari ide.
"Hubby kenapa diam, di mana kotaknya, jangan bilang kau melupakannya"tanya Vriska lagi smabil mencuci piring di bekas makan tadi.
"Sayang, aku lupa... maafkan aku ya. Tadi aku menyuruh ob untuk mencucinya, aku taro di meja tapi aku lupa membawanya pulang, karena pekerjaanku begitu banyak, kau taulah kantor sudah ku tinggalkan lama. Bisa kau bayangkan bagaimana menumpuknya pekerjaanku"jelas Alan, entah itu benar atau bohong.
__ADS_1
Vriska menghela nafasnya "baiklah kali ini ku maafkan, tapi lain kali kalau kau melupakaannya, awas saja"
"sayang, lagian itu hanya sebuah kotak bekal . Kalau hilang kau bisa membelinya yang baru bukan". seru Alan
"itu pemborosan, sedangkan aku harus hemat. Aku kan sudah tidak bekerja"jawab Vriska
"uangku banyak"jawab Alan
"Cih sombong..."ucap Vriska,
Alan bangkit lalu memeluk Vriska yang sedang mencuci piring "Itu realita sayang"ucap Alan sambil mengecup pipi Vriska.
"Diam, dan lepaskanlah aku sedang mencuci piring"perintah Vriska
"Sebentar saja"jawab Alan.
Vriska menghela nafasnya, awalnya Alan memang hanya memeluk namun lama-lama tangannya tidak mau diam, "Hubby tanganmu,"ucap Vriska
"Kenapa dengan tanganku"jawab Alan dengan pura-pura tidak mengerti.
"nakal.."
"Iya karena tanganku tidak makan bangku sekolah, makanya nakal"seru Alan,
"Hubby hentikan tanganmu, pergilah sana ke kamar"perintah Vriska dengan kesal karena Alan terus menganggunya kadang mencium pipinya, kadang pula tangannya merambat kemana-mana. Untungnya di situ hanya berdua, Vriska memang memperkerjakan asisten rumah tangga hanya pada pagi hingga sore saja.
"sayang buat besok sajalah itu cuciannya, ayo kita ke kamar"ajak Alan
"kau saja duluan"ucap Vriska
"tidak mau" Alan malah semakin erat memeluk Vriska.
Akhirnya Vriska mengalah menghentikan aktivitasnya, lalu membalikan badannya.
"Ayo.."ajak Vriska membuat mata Alan langsung berbinar.
Vriska berjalan mendahului Alan, kemudian Alan langsung mempercepat jalannya lalu menggendong Vriska.
"Hubby... lepas.. aku takut jatuh.."teriak Vriska
"Tenanglah, aku tidak akan menjatuhkanmu. Ini untuk mempercepat waktu"
Alan membuka pintu kamarnya, kemudiam menutupnya kembali menggunakan kakinya, lalu berjalan ke ranjang dan merebahkan Vriska di sana, setelah itu ia pun merangkak naik ke tempat tidur menindih Vriska.
"Kau mau apa..?"tanya Vriska membulatkan matanya saat Alan kembali melucuti pakaiannya sendiri.
"Minta vitamin.."sahut Alan.
Saat Vriska ingin kembali bertanya Alan langsung membungkamnya dengam bibirnya, hingga terjadilah pergulatan panas yang penuh dengan gairah.
ππππ
ππJangan lupa like, komen, vote aku pake hadiah bunga atau kopi yaππ
ππterimakasihπππ
bersambung..
__ADS_1