
Dinda kini berada di balkon apartemen milik temannya saat sekolah SMP dulu, sambil menikmati senja dengan secangkir tehnya.
Ia menatap ke arah kota dengan gemerlap lampu yang menyala. Ya kini ia berada di kota Surabaya, Rava pasti tidak akan menyangka jika ia pergi kesini. Untuk sementara ia memang perlu waktu . Hingga kini ia masih tidak berani untuk menghubungi orang tuanya. Ia masih takut.
Tidak bisa di bohongi, ia tetap masih merindukan pria itu, ia merindukan tatapan lembut serta pelukan hangat suaminya itu.
"Kau sedang apa?"tanya Indah sambil mendudukan dirinya di sebelah Dinda.
"Hanya menikmati senja dengan secangkir teh, kau baru pulang kerja?"sahut Dinda
"Apa kau merindukannya?"tanya Indah sambil menatap Dinda, sedang Dinda mengalihkan matanya itu.
Lalu ia menggeleng "Tidak, aku membencinya mana mungkin aku merindukannya"Dustanya
"Aku juga seorang wanita, juga pernah merasakan jatuh cinta. Tentu aku tau jika kau sedang menutupi perasaan yang sebenarnya. Sebagai seorang sahabat aku juga mau kau bahagia Dinda, setiap rumah tangga pasti akan ada masalah, mengapa kau tak meminta penjelasan langsung darinya, setelah semuanya jelas kau bisa memutuskan bagaimana pada akhirnya rumah tangga kalian. Aku hanya tidak ingin pernikahanmu gagal, seperti pernikahanku Dinda"tutur Indah yang memang ia merupakan seorang single parents.
Dinda menggelang kuat lalu mengeluarkan air matanya "Aku sudah lelah Indah terus berjuang, namun usahaku tidak artinya. Ia masih terlalu mencintai mendiang istrinya, aku tidak akan pernah sanggup bersaing dengan orang yang telah mati, aku merasa keputusanku sudah benar"ucapnya dengan sesegukan.
Indah lalu memeluk Dinda "Baiklah aku tidak akan membahasnya, biarlah takdir yang menjawab semuanya. Oh ya mengapa kau tidak makan?"
__ADS_1
"Entahlah akhir-akhir aku kurang nafsu makan"sahut Dinda, Indah mengerutkan keningnya.
"Kenapa apa makanannya kurang enak? atau bagaimana,"ucap Indah
"Tidak apa-apa, makanannya enak. Hanya lidahku yang sedang bermasalah sepertinya, terkadang kepalaku juga sedikit pusing tapi kadang kembali normal, ku fikir mungkin karena beban masalahku"tutur Dinda
"Jangan terlalu di fikirkan ini sudah keputusanmu, kau harus makan dan tetap sehat okey, aku tinggal dulu untuk melihat Sava"kata Indah
******
Sudah satu bulan Dinda pergi meninggalkan Rava. Hingga kini pencariannya belum juga membuahkan hasil, kepergian Dinda membuat ia terpuruk membawa penyesalan yang dalam, juga mempengaruhi kinerjanya. Hingga kini Rava pun enggan masuk kantornya, ia hanya sibuk mencari Dinda setiap harinya, berharap akan sagera di pertemukan dengannya, rasanya ia hampir putus asa.
"Sampai kapan? kau seperti ini Va. Kau mau membiarkanku mati dengan setumpuk kerjaanmu yang tidak ada kelar-kelar itu."ucapnya kala itu
"Jika kau sudah tidak mampu mengerjakannya biarkan saja aku tidak peduli"jelas Rava dengan datar,
Aldo sudah tidak mampu berkata lagi, apalagi melihat keadaan Rava yang semakin kacau, tidak terawat, ia juga terlihat kurusan, membuat hati Aldo terenyuh, nyatanya atasannya itu begitu mencintai istrinya. Akhirnya Aldo menyerah. Sampai pada akhirnya Papa Adi dan Vinda turun tangan menasehati Rava, nyatanya sampai di sana Rava hanya terdiam seribu bahasa. Mama Imel sangat sedih melihat kondisi menantunya, namun ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Pada Akhirnya di sinilah Hendrik sang kakak ipar berada, ia ingin mencoba memberi pengertian pada Rava.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?"tanya Hendrik yang hanya dapat lirikan tajam dari Rava.
"Oh ayolah adik ipar kenapa keadaanmu begitu kacau begini, ini seperti bukan Rava yang ku kenal" Hendrik menghela nafasnya, ia prihatin melihat keadan Rava "Kau fikir dengan cara seperti ini Dinda akan kembali dengan sendirinya, tidak bukan. Sudah sebulan kau bahkan mengabaikan pekerjaanmu, apa kau tidak bisa membayangkan, jika nanti kau mampu membawa Dinda kembali, lalu kondisi perusahaan yang kau jaga dalam keadaan kacau atau bisa jadi bangkrut kau akan memberi Dinda makan apa, dan Dinda akan merasa sangat bersalah atas segala yang menimpa dirimu, ayolah kau harus bangkit buktikan kau seorang Rava yang kuat, kau juga harus yakin jika Dinda pasti kembali padamu, percayalah pada takdir"sambungnya.
Rava seketika melihat Hendrik lalu menatap tajam dirinya" tentu saja aku tidak akan membiarkan perusahaanku bangkrut"ucapnya
"Bagus, jika begitu kau harus mampu bangkit dan kembalilah bekerja. Apa kau tidak kasihan dengan Aldo yang sudah sangat kerepotan, hampir setiap hari ia lembur, kau juga harus berfikir saat ini posisi ia bukan hanya seorang asisten ia juga seorang suami,"kata Hendrik
"Baiklah aku akan kembali bekerja besok"sahut Rava akhirnya.
Senyum merekah tergambar jelas di wajah Hendrik," Baguslah, kau juga harus tau melihat kondisimu yang seperti ini, mama tampak sangat sedih juga terpukul, kau tidak ingin ia jatuh sakit bukan, ia sangat menyayangimu, maka kembalilah menjadi Rava yang dulu. Baiklah aku harus pergi"kata Hendrik sebelum meninggalkan Rava.
.
.
.
bersambung..
__ADS_1