Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Berapa ronde..


__ADS_3

Nugraha Group


Rava memasuki ruangannya dengan lesu, berkali-kali ia menahan ngantuknya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Tidak lama setelah itu pintu ruangan di ketuk dari luar, terlihat Livia masuk membacakan jadwal hari ini.


"Di mana Aldo..?"tanya Rava


"Em tuan Aldo sedang berada di ruangannya. Ada yang bisa saya bantu."tanya Livia hati-hati melihat Rava yang kurang mood.


"Panggilkan dia kesini.."ucapnya


Setelah itu Livia pergi memanggil Aldo untuk ke ruangan Rava.


Sial, aku benar-benar ngantuk semalaman aku tidak bisa tidur, aku bahkan kesiangan. Kenapa aku terus memikirkan ciuman itu, ralat itu bukan ciuman hanya kecupan saja. Bahkan rasanya masih berasa. ucapnya dalam hati tanpa sadar ia memegang bibirnya, dan senyumnya mengembang mengingat expresi Dinda kala ia cium waktu itu. Meski ia tau saat itu Dinda sedang marah, tapi baginya tetap lucu.


"Bodoh, aku tidak boleh memikirkannya. Apakah aku akan melanggar kesepakatan yang ku buat sendiri.."ucap Rava sambil memukul-mukul kepalanya .


******


"Kau sedang apa, sudah seperti orang gila penampilanmu. Sangat acak-acakan tidak mencerminkan seorang Ceo Nugraha Group". ucap Aldo sambil senyum mengejek.


"Diamlah, kau juga tidak sopan. Masuk ke ruang atasanmu tanpa mengetuk pintu." Ucap Rava dengan tajam


"Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali tuan, tapi kau tidak mendengarnya. Ada apa? kenapa dengan penampilanmu tuan." ucap Aldo


"Aku sangat mengantuk bisakah kau menggantikan beberapa jadwalku hari ini, rasanya aku bener-bener butuh tidur" sahut Rava


"Dari segi penampilanmu memang kau perlu istirahat tuan. Kau tampak kelelahan, memangnya kau lembur sampai berapa ronde tuan. Menduda bertahun-tahun ternyata sekalinya dapat gadis kau sangat menikmatinya.."Ucap Aldo dengan tawa mengejek, langsung mendapat tatapan tajam dari Rava.


"Kau bisa diam tidak. Kau mau mati ya. Atau mau ku pecat.." Tegas Rava


"Baiklah aku mengalah, no aku belum mau mati. Kau tau aku belum menikah, juga jangan pecat aku masih mengumpulkan pundi-pundi uang untuk segera melamar Livia. Memangnya kau saja yang mau merasakan menikah, aku juga.."sahut Aldo


Ya memang kedekatakan yang terjadi dalam lingkup kerja, tanpa sengaja membawa hubungan Aldo dan Livia ke jenjang serius. Mereka bisa menempatkan untuk profesional dalam hal kerja, makanya Rava tetap mempertahankan keduanya.


Dasar asisten gila kenapa melebar kemana-mana kalau ngomong , sungut Rava dalam hati

__ADS_1


"Keluarlah, omonganmu menambahku semakin pusing. Tanyalah pada Livia jadwal apa saja yang bisa kau gantikan sementara yang lainnya nanti aku yang akan menanganinya"ucap Rava


"Baiklah.." ucap Aldo setelah itu berlalu keluar.


*******


Kantor Alan


Alan terus memandangi foto seorang wanita yang berada di hp nya.


Aku tidak menyangka ternyata sesakit ini mengikhlaskan. Meski ia sudah menjadi milik pria lain, hatiku sungguh masih belum rela. Seandainya saat itu aku tidak meninggalkan Dinda di pesta itu sendiri tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku juga tidak akan di paksa menerima perjodohan bodoh ini. Aku sungguh gila, saat itu aku begitu kenapa aku membiarkan ia pergi menghadapi masalahnya sendiri. Seharusnya saat itu aku membantunya bukan malah semakin memojokkannya. Bahkan dengan sabarnya ia masih mencoba menghubungiku tapi dengan bodohnya aku mengabaikannya. Benar penyeselan memang slalu datang terlambat..


"Apa aku menganggumu"tanya Vriska seraya berjalan menghampiri Alan.


"Tidak, memangnya ada apa?"sahut Alan sambil memasukkan hp nya ke dalam kantong jasnya.


"Aku ingin mengajakkmu makan siang, aku ingin memperkenalkanmu pada temanku. Ya dia sudah seperti kakakku sendiri."ucap Vriska


Melihat ketulusan Vriska ia tidak tega menolak akhirnya ia pu menyetujuinya.


*****


"Di mana temanmu..?"tanya Alan mengingat ucapan Vriska tadi.


"Sebentar lagi sampai, kita makan duluan saja. Aku sudah memesankan makanan untuknya juga"sahut Vriska


Tidak lama setelah itu datanglah seorang wanita cantik memakai baju kemeja navy celana panjang membawa tas slempang berwarna putih.


"Maaf aku terlambat..?"ucap sang wanita


Sontak Vriska dan Alan menengok ke arah wanita tersebut.


"Kau...."ucap Alan dan wanita itu.


Sementara Vriska hanya menatap bingung keduanya, mereka seperti seseorang yang saling mengenal.

__ADS_1


"Kalian saling mengenal?"tanya Vriska akhirnya tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"tidak..."


"Iya.."


"Kenapa jawaban kalian berbeda sangat aneh.."sahut Vriska


"Em maksudku aku tidak mengenalnya."tutur Alan akhirnya,


"Ohh.. Adisty duduklah mari kita makan. Oh ya kenalkan ini Alan calon tunanganku."ucap Vriska, sementara keduanya tampk canggung.


Tapi demi Vriska akhirnya keduanya pun bersalaman dan memperkenalkan diri.


"Adisty"


"Alan"


Setelah itu keduanya melanjutkan makannya, Vriska makan dengan tenang sementara Disty terlihat gelisah apalagi melihat tatapan tajam dari Alan. Merasa tidak enak akhirnya Disty pun pamit untuk ke toilet. Sampai di toilet ia membasuh mukanya agar kembali segar.


"Kenapa harus bertemu dengannya lagi. Aku sudah melupakan segalanya. Dan sialnya dia tunangan Vriska aku pasti akan sering bertemu dengannya, apalagi mengingat aku asisten Vriska saat ini."ucap Disty


Setelah itu Disty keluar dari toilet, ketika ia berjalan dengan santainya tangannya di tarik oleh seaeorang dan mulutnya di bekap.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2