
Sebelum membaca aku mau promosi dulu nie karyaku yang lain di aplikasi ini ya tinggal klik profil ku aja.
Yuk kita ikuti kisah perjalanan cinta Aira.
di sana sudah ada 9 bab ya, jangan lupa tekan tombol like nya๐ terimakasih semuanya.
**************
Pukul lima sore Rava dan Alan baru kembali dari rumah sakit, mereka menunggu hasil pemeriksaan dari karyawan yang tertembak tadi. Nyatanya selesai dokter operasi Rava dan Alan harus menelan kekecewaan karena ternyata kondisi pasien koma.
"Bagaimana apa kau ada solusi lain?"tanya Rava setelah mendudukan dirinya di sofa, di ikuti Alan di sebelahnya.
Alan tampak menggeleng "Belum"
"Aku bahkan sudah bertanya pada karyawan yang lain mereka tidak tau mengenai dalang di balik pria tadi, sungguh pusing siapa yang ingin cari masalah denganku"desah Rava sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Alan tampak berfikir "Sebelumnya apa kau pernah mempunyai musuh?"tanya Alan dengan penasaran.
"Aku juga tidak ingat, kau tau bukan dalam dunia bisnis itu kejam, siapa pun pasti ingin menang lalu menghalalkan segala cara"tutur Rava
"Benar, tapi menurutku ini seperti kasus pembalasan dendam, ia melakukannya dengan rapi, bahkan ia begitu kejam hingga mau membunuh pria suruhannya tadi bukan, cobalah kau ingat siapa kira-kira musuhmu"ucap Alan.
"Biar ku pikirkan nanti, oh ya di mana Aldo?"Rava tampak mengedarkan pandangannya mencari Aldo.
"Aku baru sadar jika sejak kejadian tadi Aldo tidak bersama dengan kita, di mana dia"ucap Alan
"Biar ku hubungi dia"kata Rava sambil mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Aldo.
Terdengar nada dering ponsel Aldo di kamar itu, Alan pun mengambil ponsel Aldo yang terletak di atas kasur "Dia tidak membawa ponselnya"
Rava pun mendesah pasrah, ia harap Aldo baik-baik saja.
Pintu kamar terbuka Aldo tampak masuk dengan wajah kusut dan berantakan,
__ADS_1
"Kenapa denganmu, wajahmu kenapa babak belur begitu?"tanya Rava, sementara Alan tampak menggelengkan kepalanya melihat penampilan Aldo yang super berantakan.
"Aku habis menghajar orang"sahut Aldo lalu mendudukan dirinya di sofa.
Alan mengernyit heran "Lalu kenapa wajahmu bisa ikut babak belur begitu, apa kau kalah"tawa Alan meledak, Aldo menatap tajam Alan, namun tanpa rasa bersalah Alan tetap cuek.
"Ada hal yang ingin ku sampaikan pada kalian, tapi nanti tunggu aku mandi dulu"ucap Aldo seraya pergi ke kamar mandi membersihkan diri.
Rava dan Alan tampak penasaran dengan apa yang akan Aldo sampaikan. Setelah dua puluh menit Aldo tampak keluar dengan segar juga pakaian tidur yang sudah.
Dari saat Aldo keluar dari kamar mandi sampai Aldo duduk, Rava dan Alan selalu memperhatikannya, membuat Aldo risih ataupun geli.
"Kenapa dengan tatapan kalian, kalian seperti melihat wanita saja. Lihat tatapan kalian seperti tergiur padaku"Ucap Aldo
"Cih menjijikan"ucap keduanya kompak sembari melempar bantal ke Aldo, dengan sigap Aldo menangkapnya.
"Katakan apa yang ingin kau sampaikan"tanya Rava tanpa basa basi
"Kau penasaran ya.. hihihi, tapi ada harga mahal dari yang ingin ku sampaikan ini"ucap Aldo dengan nada bercanda.
"Akan ku pertimbangkan nanti, cepat ketakan sekarang"ucap Rava dengan tegas.
"Aku bercanda tuan.." sahut Aldo
"Tuan aku sudah menemukan keberadaan nona Dinda, saat ini dia berada di sekitar sini"ucap Aldo
"Benarkah, katakan di mana dia? kau tidak bohong bukan"sahut Rava berdiri dengan senyum merekah, meski baru mendengar keberadaan Dinda ia sudah teramat bahagia, apalagi jika sampai ia bertemu lalu membawanya pulang.
"Dia tinggal apartemen rumah sakit tadi anda berada. Saat tadi habis mengejar orang yang menembak karyawan anda, saya berniat menyusul anda ke rumah sakitar, namun saat sampai di loby rumah sakit saya seperti melihat nona Dinda, awalnya saya ragu namun saya mencoba mendekat , ternyata benar itu nona Dinda dia sedang berjalan melamun sambil mengelus perutnya, sepertinya dia habis memeriksakan kandungannya, benar dugaan dokter Annisa jika istri anda tengah hamil, dan anda yang nyidam sungguh anak yang pintar"sambung Aldo.
Ada rasa bahagia di hati Rava mendengar kehamilan Dinda, namun ia merasa sedih sekaligus bersalah telah banyak melukai istrinya, apalagi Dinda melewati kehamilannya tanpa dampingan suami bagaimana jika ia tiba-tiba menginginkan sesuatu, membayangkan hal itu membuat hatinya berdenyut sakit.
"Aku akan kesana"Rava bangkit mengambil kunci mobilnya.
"tunggu dulu tuan, ada hal lain yang lebih penting dari ini"ucap Aldo berusaha mencegah Rava.
__ADS_1
Rava tampak kesal"Apalagi"ketusnya.
"Saat tadi saya mengikuti nona Dinda, saya melihat pria berpakain serba hitam juga sedang menguntit nona Dinda, saya curiga ia jika mengincar nona Dinda, saya takut nona Dinda dalam bahaya tuan. Dan tuan perlu tau penampilan orang tadi sama dengan orang yang menembak karyawan anda"jelas Aldo membuat Rava dan Alan kaget.
"Kau yakin"tanya Alan kali ini
"Sangat tuan"sahut Aldo.
******
Dinda, Indah serta Sava sedang menikamati nonton tv di apartemen Indah.
"Aunty, mama bilang sebentar lagi aunty akan mempunyai adik bayi ya"tanya Sava dengan imutnya.
"Benar sayang, kau senang akan mempunyai teman bukan"sahut Dinda
"Tentu saja Aunty,"jawab Sava sambil bergelayut manja di pundak mamanya.
Bell apartemen berbunyi sepertinya ada yang bertamu.
"Sepertinya ada tamu, Dinda bisa minta tolong bukakan ya, sepertinya Sava sudah mengantuk"ucap Indah
"Baiklah"sahut Dinda, seraya bangun dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek..
Pintu terbuka, lalu Dinda melihat siapa yang datang dan tercekat kaget.
"Kau..."ucap Dinda tertahan
.
.
.
__ADS_1
bersambung..