Cinta Segitiga

Cinta Segitiga
Pengganggu kecil


__ADS_3

Saat di mana kamu menemukan keberanian untuk menyerahkan hidupmu pada seseorang. Itu akan menjadi saat di mana kamu memahami cinta.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Kini Rava tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit, di situ ada Mama Imel, Papa Adi, juga Vinda dan Hendrik, serta Varen. Sejak kemarin kakaknya itu baru bisa datang menjenguk.


Rava terus memperhatikan interaksi keluarganya, yang sesekali akan di hiasi canda tawa dalam obrolan mereka. Apalagi kelucuan gadis kecil yang bernama Varen. Sering kali ia akan menengok ke arah pintu, berharap seseorang yang ia rindukan akan datang.


Namun tidak lama semua terdiam saat mendengar suara pintu terbuka. Semua menengok ke arah pintu. Pandangan Rava dan Dinda bertemu.


"Dinda.."ucap Rava dengan terkejut sekaligus bahagia di tambah ia merasa sangat merindukan wanita itu. Ingin sekali ia berlari mendekat lalu memeluk istrinya yang kini masih berdiri di ambang pintu, namun ia belum bisa melakukan itu, kakinya masih terasa sakit saat di gerakkan.


Dengan memakai dress selutut berwarna navy serta tas slempang menyamping di padukan sepatu kets berwarna putih di kakinya, wanita yang tampak lebih cantik itu berjalan mendekat ke arah Rava sesekali ia akan menarik nafasnya, matanya tampak berkaca-kaca.


"Nak.."ucap Mama Imel menyadarkan lamunan Dinda. Seketika Dinda menengok ke arah keluarga Rava. Sangking senangnya ia lupa jika di situ masih ada Mama dan Papanya mertuanya.


"Ma kita keluar saja dulu, kita beri waktu buat mereka"ucap Vinda yang di setujui semuanya.


"Varen mau sama Aunty ,mami.."ucap Varen yang menolak untuk keluar


"Sayang dengarkan papi, ayo kita keluar beli mainan"bujuk Hendrik


"Baiklah.." sahutnya dengan semangat mendengar kata mainan.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Bagaimana kabarmu dan Davis..?"tanya Rava setelah kini di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Dinda duduk di kursi sebelah ranjang Rava.


"Baik, kami sehat. Kau sendiri..?"tanya balik Dinda dengan sedikit canggung.


"Dokter bilang semuanya normal, hanya kakiku masih terasa kaku ia bilang hanya perlu dengan terapi sedikit."sahutnya sambil tersenyum getir.


"Syukurlah.."sahut Dinda sambil menghela nafasnya, entah mengapa ia merasa lega mendengar penjelasan Rava yang menyatakan kondisinya baik-baik saja.


"Maaf.."kata Rava sambil terus memerhatikan Dinda yang menunduk, sesekali pandangan mereka akan bertemu. "Maaf karena aku mengingkari janjiku.."sambungnya, Dinda masih terdiam, rasanya Rava ingin sekali merengkuh wanita yang ada di hadapannya kini, ia begitu merindukannya tapi ia masih belum berani apalagi kondisinya kini belum terlalu fit.


Dinda menengok ke arah Rava "Kau tau saat itu aku menunggumu hingga malam, berharap kau menepati janjimu, kau tidak datang tapi kau juga tidak memberiku kabar apa-apa.."ucap Dinda


"Aku tau, aku salah maafkan aku.."sahut Rava "Sebentar aku akan menghubungi Aldo," sambungnya


"Untuk apa?"kening Dinda mengkerut tanda ia kurang mengerti.


"Surat yang kau minta ada di apartemenku, aku akan menyuruhnya untuk membawanya kesini.."ucap Rava sambil mengambil handphone di atas meja samping tempat tidurnya. Semalem Aldo langsung membelikan Rava handphone baru, karena Aldo tau handphone Rava yang lama juga hilang saat kecelakaan itu terjadi.


"Hallo Al. Kau di mana?." ucap Rava kala telephonenya sudah terhubung dengan Aldo.


"Aku di kantor Tuan.. Apa tuan memerlukan sesuatu.."tanya Aldo

__ADS_1


"Oh iya Al, aku memerlukan bantuanmu. Pergilah ke apartemenku, tolong ambilkan..."


Ucapan Rava terputus saat dengan cepat Dinda berdiri mengambil handphone di tangan Rava lalu ia mematikan handphonenya.


"Ada apa Dinda..? aku akan menepati janjiku, aku akan menyuruh Aldo membawa surat itu kesini, kau menunggunya bukan.."tanya Rava dengan mata berkaca-kaca. Tadinya ia sudah berusaha untuk kuat, tapi mendadak ia menjadi lemah.


"Kau fikir aku kesini untuk meminta surat cerai itu begitu, kau tidak bertanya apa maksud ku kesini. Aku datang dari rumah dengan tergesa-gesa karena aku tau kau sudah sadar."ucap Dinda dengan menggebu-gebu, nafasnya tampak tersengal-sengal.


Rava melihat ke arah Dinda "Aku hanya..."


"Diamlah aku tidak mau kau bicara,.."seru Dinda.


Dinda mengeluarkan dokumen yang saat itu pernah di berikan Aldo "Apa ini maksudnya..?"tanya Dinda setelah memberikan dokumen itu pada Rava.


"itu hanya._."


"Aku tau, kau memberikan semua ini untukku dan anakmu, kenapa kau berfikir sejauh itu. Tidakkah kau berfikir bagaimana jika aku akan membawa kabur semuanya, bagaimana nasibmu." seru Dinda


"Memang apa yang bisa ku lakukan, aku sudah kehabisan cara untuk membawamu kembali padaku, kau bilang bahagiamu jika berpisah dariku, aku akan mengabulkannya, semua yang ku berikan itu memang hak mu dan Davis,"ucap Rava.


Dinda melihat ke arah Rava, "Kak tidakkah kau mengerti dari semua yang ku ucapkan. Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya butuh dirimu."


"Maksudnya.."sahut Rava yang masih kurang baik mencerna ucapan Dinda.


Dinda mendekat lalu memeluk laki-laki, tangisnya pun pecah "Maafkan atas keegoisanku, aku menyadari semuanya. Jangan bicara soal perpisahan, aku masih membutuhkanmu, demikin juga Davis ia masih membutuhkan Daddynya. Jangan tinggalkan kami.."


Rava tampak terkejut ia berusaha membalas pelukan Dinda meski sedikit kesusahan karena tangannya masih di infus pun dengan luka-luka yang ia alami masih terasa nyeri. Rava melepas pelukan Dinda lalu tangannya menggapai wajah Dinda dan menghapus air matanya.


Rava tersenyum lalu kembali membenamkan Dinda pelukannnya "Terimakasih.."sambil memberikan Dinda ciuman bertubi-tubi.


"Aku akan berusaha menjadi orang tua dan suami yang baik, terimakasih telah memberiku kesempatan sekali lagi"sambungnya, rasa bahagia yang ia rasa bahkan mampu mengalahkan segala rasa sakit yang ia alami.


"Aku juga akan menebus segala kesalahanku di masa lalu, baik saat aku sudah menikah dengamu ataupun dulu saat kau masih menjadi sahabatku, aku sangat minta maaf telah banyak menorehkan luka padamu dulu, hingga membuat kau pergi ke Paris"ucap Rava, Dinda tampak bingung lalu melepas pelukannya.


"Maksudnya.."tanya Dinda dengan bingung.


Aku keceplosan, seru Rava dalam hati


"Lupakan semua ucapanku yang tadi," kata Rava berusaha mengalihkan perhatian Dinda.


"Tidak, aku tidak bertanya sekarang, tapi mungkin nanti."uacp Dinda.


"Baiklah.. apa Davis rewel, aku sangat merindukannya.."kata Rava


"rewel saat malamnya kau mengalami kecelakaan, segeralah sembuh agar kau bisa pulang dan bersama kami kembali"seru Dinda.


"Tentu, aku pasti akan sembuh. Bisakah kau mendekat kesini lagi,.."ucap Rava.

__ADS_1


"Untuk apa.."jawab Dinda canggung apalagi melihat tatapan Rava yang penuh cinta.


"Sebentar saja."pintanya, Dinda pun dengan berdiri mendekat ke arah Rava. Saat sudah hampir mendekat tangan Dinda di tarik oleh tangam Rava lalu ia memeluknya, membuat Dinda terkejut.


"Aku sangat merindukanmu, I love u, aku sangat mencintaimu.."ucap Rava sambil melepas pelukannya, dan melihat ke wajah Dinda yang saat ini tampak merona. Rava berusaha mendekati wajah Dinda saat jaraknya hanya tinggal beberapa centi.


"Aunty dan Uncle kalian mau apa..?"ucap Varen yang saat ini tengah berdiri di depan pintu.


Sontak keduanya kaget Dinda bahkan sampai mendorong Rava.


"Aww.."seru Rava sambil meringis kesakitan karena tangan Dinda mengenai lukanya.


Dinda yang saat itu tengah melihat ke arah Varen, kembali menengok ke arah "Maafkan aku apa sakit, apa aku terlalu sakit, tapi kau sendiri yang salah.."


"Memangnya aku salah apa.."tanya Rava tidak mengerti.


"Lupakan.. hei ponakan Aunty kesinilah. Di mana yang lain kenapa kau sendiri"setelah Dinda menghampiri Varen, lalu menggedongnya dan memangkunya.


"Aku sendiri, mereka semua masih di kantin makan. Aku sungguh bosan di sana. Aku sangat merindukan Aunty,. Aunty bisakah membawaku ke adek Davis, aku ingin bermain dengannya.."Seru gadis kecil itu.


Rava tampak cemberut baru saja dia akan melepas rindu pada istrinya, malah ada penganggu kecil.


"Tentu sayang, nanti kita main ke rumah ya bersama adek Davis.."ucap Dinda


"Benarkah.."mata Varen tampak berbinar bahagia.


"Denganku saja dia belum pernah manggil sayang.."gerutu Rava.


"Kau bilang apa..?"tanya Dinda pada Rava.


"Tidak apa-apa, Varen kenapa kau kesini sendiri, kenapa kau tidak ikut mamimu saja.."ucap Rava.


"Memangnya kenapa.. aku kesini untuk bertemu dengan Aunty, bukan bertemu Uncle kok.."seru Varen


"Bisa saja bicara.. "sungut Rava


"Setelah mama dan yang lainnya kesini, aku pulang ya.."ucap Dinda pada Rava.


"Tapi..."


"Besok aku akan kembali, hari ini mama ingin bergantian menjengukmu, aku kan tidak memakai baby sister, aku juga sudah terlalu lama meninggalkan Davis"seru Dinda.


"Baiklah..


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Udah gak penasaran kan, maaf ya kemarin sibuk jadi gak bisa nulis banyak. Gak sempet edit sorry kalau banyak typo. πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹Selamat membacaπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜šπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2