
πJangan lupa tekan tombol like nyaπ
πjangan lupa pula mampir di karyaku yang satunya, hihihi sekalian promosi yaπ
πSelamat membaca, π
π
π
π
ππππππ
Ceklek
Pintu terbuka lalu Dinda melihat siapa yang datang.
"Kau.." Ucap Dinda tertahan.
Pandangan mereka bertemu, mereka saling terdiam masing-masing. Di satu sisi Ia amat merindukan pria ini, namun saat ini ego nya lebih besar mengalahkan rasa cintanya. Iya, yang datang di apartemen Indah itu Rava, saat selesai berbicara pada pada Aldo tadi Rava langsung pergi untuk menemui Dinda. Aldo sudah mencegah di karenakan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam nyatanya Rava tidak peduli apapun caranya ia tetap harus bertemu Dinda.
Kembali lagi pada situasi saat ini, Dinda yang masih terdiam diri Rava berjalan mendekat lalu memeluk Dinda dengan erat. Saat ini Dinda tidak membalas juga tidak menolak pelukan Rava, pikirannya mendadak menjalar ke mana-mana.
"Maafkan aku, sungguh aku sangat mencintaimu, ku mohon jangan pergi lagi aku sungguh bisa gila"ucap Rava dengan nada gemetar, rasa bahagia membuncah pada dirinya, tidak di pungkiri matanya saat ini pun tengah berkaca-kaca.
Sedetik kemudian Dinda mendorong kuat tubuh Rava "Pergilah, untuk apa kau menemuiku, sudah ku bilang jangan cari aku, aku sungguh membencimu"teriak Dinda
Rava tercekat kaget, lalu menatap Dinda dengan sendu Benarkah luka yang ku torehakan begitu dalam, sehingga menimbulkan kebencian yang dalam baginya untukku
"Dinda yang saat itu terjadi hanya salah paham, kau hanya mendengar sebagian saja, aku akan menjelaskan semuanya, tolong beri aku waktu"tutur Rava
__ADS_1
"Tidak mau, ku mohon jangan ganggu aku pergilah. Hidupku jauh lebih baik tanpamu, aku sudah mengirimkan surat gugatan bukan. Bukankah aku sudah mengabulkan apa yang kau mau, kau tidak akan terganggu lagi dengan adanya diriku, tanda tanganilah surat itu dan kau akan bebas"Dustanya
"Sampai matipun aku tidak akan pernah menandatangi surat itu, kau tau aku sudah menyobek lalu membuangnya,"ucap Rava dengan tegas.
Indah yang dari dalam mendengar suara keributan pun keluar melihat siapa yang datang . Matanya membulat sempurna melihat Rava suami Dinda yang datang. Demi meredahkan amarah keduanya Indah mendekat.
"Dinda siapa yang datang, kenapa tidak kau suruh duduk" ucap Indah.
"Tidak perlu dia juga mau sebentar lagi mau pergi, maaf aku sudah mengantuk"kata Dinda lalu berlalu pergi meninggalkan Rava dan Indah .
Saat Dinda hendak berjalan pergi Rava memegang tangannya "Dinda, ku mohon.."ucapnya Rava tertahan melihat tatapan tajam Dinda.
"Lepaskan aku,"ucap Dinda berusaha melepas tangan Dinda. Dengan rasa tidak rela Rava pun melepaskannya, Rava tau mungkin tidak semudah itu Dinda memaafkan dirinya, apalagi saat ini ia tau Dinda tengah mengandung perasaanya mudah sensitif, baiklah mungkin aku harus berjuang lebih keras lagi, pikirnya.
Rava tersadar saat ini di hadapannya ada Indah "Kau temannya Dinda"tanya Rava
"Iya tuan, mungkin sebaiknya tuan pergi dulu saat ini"ucap Indah
"Baiklah"..kata Indah
Setelahnya Rava membuka pergi dari apartemen Indah.
ππππππ
Pukul lima lewat tiga puluh menit Rava terbangun dari tidurnya dengan rasa mual. Ia berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan isinya. Setelah membasuh mukanya ia berdiri menatap dirinya dari pantulan kaca. Ia tengah berfikir beberapa hari kemarin ia tidak muntah-muntah seperti ini, anehnya saat habis bertemu Dinda ia kembali merasakan hal seperti ini.
Ia kemarin memang sengaja masih berpura-pura tidak tau kehamilan Dinda. Rava yang merasa lemas kembali lagi ke ranjangnya, di sana sudah ada Aldo dan Alan yang baru bangun.
"Ku dengar suara orang muntah-muntah tadi, apakah itu kau, seperti orang hamil saja"ceplos Alan sambil melonggarkan otot-otonya.
Aldo yang mendengar pun tampak berfikir "Ya memang begitu istrinya kan memang tengah hamil, dan dia yang mengidam, aneh bukan aku baru tau"sahut Aldo
__ADS_1
Rava hanya terdiam menyimak obrolan mereka.
"Anak yang pintar, masih dalam perut saja dia sudah menghukum papanya, dia tau jika papanya banyak salah pada maminya, makanya ia tidak mau menyusahkan maminya, lalu ia membuat susah papanya"Ucap Alan dengan tawa meledak di ikuti Aldo.
"Dasar jomblo"Ucap Rava dengan nada menyindir.
"Aku tidak jomblo aku hanya sedang bingung memilih pasangan, maklumlah orang tampan banyak yang mau"kata Alan dengan PD nya.
Mengabaikan ucapan Alan, Aldo bertanya "tuan bagaiman hasil pertemuan anda dengan nona Dinda"tanya Aldo, karena semalam saat Rava pulang Aldo dan Alan sudah tertidur.
Rava mengusap wajahnya dengan kasar lalu mendudukan dirinya di sofa "Dia menolakku mentah-mentah, dia seperti sangat membenciku"ucap Rava
Alan dan Aldo tampak berfikir "Berjuanglah kawan, aku fikir ia tidak membencimu, ia hanya masih marah padamu, dan juga kau harus ingat saat ini Dinda dalam bahaya, jadi lindungilah dia"ucap Alan
"Aku tau, aku sudah menempatkan beberapa orang untuk mengawasi Dinda"ucap Rava
"Baguslah, saat ini kita harus mencari dalang di balik kejadian kemarin"ucap Alan
Rava dan Aldo tampak mengangguk "Aku tidak bisa lama di sini, hanya seminggu. Ku harap dalam seminggu ini kasus ini sudah di selesaikan"ucap Alan
"muda-mudahan begitu"sahut Rava
πππππππ
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...