
Sudah hampir tiga bulan lamanya Dion masih saja di rawat. Dalam seminggu Alvin akan mengunjungi Dion tiga kali. Terkadang ditemani Langit dan Mia... lain waktu ditemani Nico dan Rachel.
Sekarang tubuh Dion sudah tampak sangat kurus.. Obat obatan mulai tak dapat diterima tubuhnya. Ia sering tidak bisa tidur dan berhalusinasi.
Sore ini Nico dan Rachel kembali membawa Alvin menjenguk Dion. Dengan perut Rachel yang sudah tampak makin membesar membuat Rachel sedikit kesulitan berjalan.
Bayi dalam kandungan Rachel ternyata kembar... Nico sangat senang akan mendapati dua bayi sekaligus.
"Sayang... kamu dirumah saja. Biar kak Nico sama Alvin yang pergi menjenguk"
"Nggak apa apa kak... Rachel juga ingin menjenguk kak Dion. ...papi dan mommy bilang kak Dion sering tak sadarkan diri akhir akhir ini... Rachel ingin meminta maaf sekali lagi dengan kak Dion.. "
"Baiklah jika kamu ingin ikut juga... "
Sesampainya di depan pintu ruang rawat Dion... mereka mendengar suara tangisan tante Dina...
Nico membuka pintu kamar tawat itu perlahan... tampak tante Dina dan om Jino yang menangis sambil memeluk tubuh Dion.
"Selamat Sore tante... om Jino"tegur Rachel
"Selamat sore Rachel....."
"Dion kenapa Tante.. ..."
"Tadi Dion kembali mengalami mimisan yang banyak sehingga ia tak sadarkan diri lagi... Dokter sudah menyerah... tante harus bagaimana Rachel.. tante belum siap kehilangan Dion... Dokter bilang sebaiknya Dion dibawa pulang... mungkin dengan ditemani dengan orang orang yang ia cintai akan membuat ia tenang dan pergi dengan damai... tapi tante belum bisa melepaskan semuanya. Tante belum mau menyerah... "tante Dina memeluk Rachel sambil menangis
"Tante... menurut Nico pendapat dokter itu lebih baik... kasihan Dion harus tetap menggunakan alat alat kesehatan ditubuhnya. Kita harus lebih ikhlas. Kita hanya bisa membuat ia bahagia sekarang.."
"Betul yang dikatakan Nico... rumah mungkin akan membuat Dion bahagia. Dikelilingi dengan orang orang tercinta dari pada harus dirumah sakit ini"
"Tapi kak Jino... Dina takut jika alat alat itu dibuka... Dion akan meninggalkan kita selamanya... "
__ADS_1
"Dina.... dengan tetap memakai alat kesehatan ataupun tidak... harapan Dion hidup juga sudah sangat tipis... lebih baik dilepaskan.. karena takut akan alat alat itu menyakitkan ditubuhnya... "
"Pa... mama.... "panggil Dion begitu sadar. Ia samar samar melihat Alvin
"Alvin... apa itu kamu nak... "
"Ya papa... ini Alvin... "Alvin mendekat ke arah Dion. Ia berdiri dikursi samping tempat tidur Dion dan memegang tangan Dion.
"Sayang.... sepertinya umur papa tidak akan lama lagi... papa minta maaf karena tidak dapat melihat dan mendampingimu hingga dewasa... "Dion diam sejenak menarik napasnya
"Jika suatu saat papa pergi... kamu mau kan memaafkan papa... jangan pernah melupakan papa... walaupun papa bukanlah papa yang baik untukmu... "
"Papa mau pergi kemana... "
"Papa mau pergi jauuhhh... "
"Jauuh kemana... apa papa tidak akan kembali"
"Tidak sayang... papa akan pergi selamanya..."
"Alvin... waktu papa di dunia sudah habis dan papa harus kembali. Jika papa sudah pergi kamu jangan lupa kunjungi tempat peristirahatan papa yang terakhir ya... "
"Dimana... apa daddy tahu... "
"Nanti daddy akan temani Alvin.. "Nico mengusap matanya menahan tangis
Rachel yang mendengarnya menangis terisak sambil memeluk Tante Dina. Sedangkan om Jino pergi kesudut ruangan. Ia tak mau Dion melihatnya menangis.
"Alvin... walaupun dulu papa pernah menolak. kehadiranmu... tapi saat ini papa sangat berterima kasih karena kamu hadir di dunia ini melengkapi kebahagiaan papa. Walaupun kita hanya dapat bersama sebentar itu sudah menjadi kenangan terindah dalam hidup papa. Kamu anegerah Tuhan yang paling berharga di hidup papa. Jadilah anak yang baik... dan pintar "
"Sudah lah Dion... kamu jangan banyak bicara. Kamu harus istirahat... "Nico berucap sambil memegang tangan Dion
__ADS_1
"Nico... waktuku tak banyak... aku ingin mengatakan apa yang bisa aku sampaikan sebelum mulutku tak dapat bersuara lagi. . Nico...aku berterima kasih atas semua yang kamu berikan buat Alvin yang seharusnya itu aku lakukan. Kamu memberinya kasih sayang yang melimpah... yang tak bisa aku berikan. Tetaplah menyayanginya sampai kapanpun... karena dia anakmu... "
"Dion... kamu tak perlu mengucapkan terima kasih... aku menyayangi Alvin tulus dari. hatiku... "
"Rachel... terima kasih karena mau tetap menjaga Alvin di dalam kandunganmu dan sampai ia besar... kamu memang ibu yang terbaik. Maafkan atas semua kesalahanku.."
"Semua nya sudah lama berlalu... Rachel sudah memaafkan semuanya... "
"Mama... papa... maafkan Dion... Dion belum bisa menjadi anak yang membanggakan sampai saat ini... "
"Kamu tetap anak mama yang paling mama banggakan... "
"Alvin... apa kamu mau memeluk papa"
"Ya papa... "Alvin memeluk Dion.
Dion menangis tersedu sambil memeluk Alvin. Dion yang lagi memeluk Alvin melepaskan pelukannya dan ia memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Ma... Dion capek.. Dion mau tidur... "Dion pun memejamkan matanya... dan tak sadarkan diri.
"Dion... dion... sadar nak... "Dina mengguncang tubuh Dion.
"Dion... bangunlah nak. Ini papa... jangan pergi dulu... "Jino pun memeluk tubuh Dion
Nico dan Rachel tak dapat menahan tangisnya melihat itu.
"Daddy... mami... papa kenapa... papa tidur ajakan... tapi kenapa opa dan oma nangis... "
"Sayang... papa Dion lelah.. ia mau tidur"Rachel memeluk tubuh Alvin.
Nico pun berlari keluar ruang rawat Dion... ia memanggil dokter agar memeriksa keadaan Dion..
__ADS_1
******************************
Terima kasih buat yang tetap setia membaca novel ini.. jangan lupa mampir dinovelku yang lain.. AKU BUKAN SIMPANAN