
Pagi hari ini pemakaman jenazah Dion akan dilakukan.
Para pelayat telah memenuhi rumah duka.
Tampak diantara pelayat teman teman sejawat Dion... sesama model.
Semua merasa sangat kehilangan Dion. Diusia masih terbilang muda ia harus meninggalkan dunia ini.
Berita mengenai meninggalnya Dion memenuhi berita online, televisi dan media lainnya.
Tepat jam sepuluh pagi jenazah sampai di tempat pemakaman umum yang akan menjadi tempat peristirahatan Dion terakhir.
Rachel berjalan digandeng oleh Langit papinya. Nico tampak menggendong Alvin mendekat menuju tempat liang lahad.
Jenazah Dion telah dimasukan ke liang lahadnya... Jenazah Dion akan dikuburkan...
Tante Dina yang duduk dekat di kursi roda berada dekat liang lahad anaknya
"Sayang... mengapa begitu cepat kamu meninggalkan mama nak...jemput mama segera... "ucap Tante Dina disela tangisnya.
Semua pelayat tak dapat menahan air mata melihat kesedihan tante Dina. Disamping tante Dina berdiri Alya teman sesama modelnya.
Tanah mulai diturunkan untuk mengubur jenazah Dion. Perlahan jenazah nya tertimbun tanah...
"Daddy kenapa papa dikubur... kasihan papa..."ucap Alvin
"Ya... sayang... papa harus dikubur agar ia dapat bertemu Allah secepatnya... "
"Janngaaannn om... jangan kubur papa Alvin... kasihan papa... "teriak Alvin dan meronta turun dari gendongan Nico.
Alvin berlari mendekat ke kuburan Dion..
"Oom...gali lagi tanahnya... jangan kubur papa Dion... nanti papa sakit"Alvin menarik tangan petugas kuburan.
"Alvin... papa Dion... sudah pergi sayang... ia harus dikubur... papa Dion sudah meninggalkan kita... "Nico membawa Alvin ke dalam pelukannya
"Daddy... nanti kalau Alvin mau ketemu papa bagaimana... mengapa papa harus dikubur... "
"Alvin bisa bertemu papa di mimpinya Alvin.."
__ADS_1
"Daddy.. nanti bagaimana caranya papa Dion keluar dari kubur itu... "
Nico tak bisa lagi berkata kata... ia memeluk tubuh Alvin dengan erat.
Rachel yang melihat Alvin tak dapat lagi menahan air matanya. Langit memeluk tubuh putrinya..
Tante Dina merosot turun dari kursi rodanya. Ia menangis diatas gundukan tanah kuburan Dion
"Dion... mengapa kamu meninggalkan mama sayang... mama mau ikut Dion nak... jemput mama segera... mama tak akan sanggup hidup tanpamu nak"ucap Dina sambil meraung
Jino memeluk tubuh Dina istrinya..
"Dina... relakan kepergian Dion. Jika kamu terus meratapi kepergiannya.. itu akan memberatkan baginya... bukankah kemaren kamu sudah mengikhlaskan Dion... "
Para pelayat sudah banyak yang pulang... hanya tinggal Jino,Dina..Langit, Mia, Rachel, Nico dan Alvin..
Rachrel yang sudah tampak keletihan karena dari tadi hanya menangis... dibawa Langit masuk ke mobil.
"Sayang... kamu tunggu disini aja ya... nanti kalau kamu terlalu capek tak baik buat kandunganmu .."
"Papi... kasihan Alvin... ia dari tadi menangis terus... Rachel harus bagaimana papi... "
"Kamu tenang saja... Nico pasti bisa mengatasinya... kamu jangan terlalu banyak pikiran.. kamu lagi hamil"
"Ya... papi nanti bilang sama Nico.. kamu tunggu di sini sebentar ya... papi mau pamit sama om Jino dan tante Dina dulu"
"Papi... Rachel belum pamit dengan om Jino dan tante Dina... "
"Nanti papi pamitkan... kaki mu sudah bengkak karena lama berdiri.. "
"Baiklah pi... sampaikan maaf Rachel buat om Jino dan Tante Dina... "
Langit mendekat ke tempat Jino dan Dina
"Jino... Dina... kami mau pamit dulu.. Rachel minta maaf karena tak bisa pamit secara langsung. Kaki nya sakit karena tadi kelamaan berdiri.. maaf jika aku dan keluarga ada salah... semoga kamu dan Dina dapat tabah menerima semua cobaan ini.. Dan Dion diterima disisi Nya... semoga Dion menempati surga Nya... "Langit menyalami Jino dan Dina yang telah duduk kembali di kursi rodanya.
Mia dan Nico serta Alvin pun ikutan salaman
"Boleh tante jumpa dengan Alvin jika tante merindukan Dion... "ucap Dina dengan Nico
__ADS_1
"Tentu saja boleh tante... "
"Terima kasih Nico... karena kamu memberi izin Alvin bertemu Dion diakhir hidupnya..itu membuat Dion bahagia... "
"Sama sama tante.. kami pamit dulu. Alvin pamit dulu sama opa dan oma"
"Opa... oma... Alvin pamit dulu... "Alvin memeluk Jino dan Dina
"Sayang... cucunya oma... semoga kamu sehat sehat terus... "
"Alvin... hati hati ya... jadilah anak yang sehat dan pintar... "Jino memeluk cucunya
"Kak Jino... Dina.. ...Mia pamit dulu... yang sabar ya Din... kapanpun kamu ingin bicara datanglah kerumah, Mia akan mendengarkan "
"Terima kasih Mia... "
Langit dan keluarga nya pergi meninggalkan Dina dan Jino yang masih betah berada di kuburan anaknya..
Didalam mobil Alvin yang kecapekan ketiduran dipangkuan Nico. Rachel pun ikut bersandar di bahu Nico.
"Kak... apa selama ini Rachel terlalu jahat dengan kak Dion"
"Mengapa Rachel ngomong gitu"
"Karena Rachel tidak pernah mengizinkan Kak Dion buat ketemu Alvin... cuma di terakhir hidupnya ia dapat bertemu Alvin"
"Sayang... semua bukan salahmu... kamu juga bukan jahat... kita tidak pernah tahu rahasia dari Allah.. Umur... jodoh dan maut hanya Allah yang tahu. Jika kita tahu Dion tak panjang umur mana mungkin kita tega membiarkan ia jauh dari Alvin... "
"Kak... apa nanti Alvin akan baik baik saja.. ia mulai terbiasa akan kehadiran Kak Dion"
"Kita bisa menghiburnya dan membuat ia kembali ceria"
"Kak... terima kasih telah menjadi daddy terbaik buat Alvin... "
"Sekarang kamu jangan banyak pikiran.. ingat didalam rahim mu ada dua janin yang akan lahir"
"Ya kak... "
Nico memcium pucuk kepala Rachel memberi ketenangan buat istri tercintanya.. Langit dan Mia yang duduk di jok depan mendengarnya sambil tersenyum. Mereka merasa sangat beruntung memiliki anak sekaligus menantu seperti Nico yang sangat menyayangi putrinya...
__ADS_1
************************
Terima kasih karena masih setia membaca novel ini..