
Jovanka masih duduk sambil menggenggam tangan putra bungsu yang sangat disayanginya.
"Jovan Sayang, kamu mau tidur sampai kapan, Nak?"
"Apa kamu nggak kangen bunda sama ayah?" tanya Jovanka sambil membelai lembut rambut putra tercintanya yang masih nampak tertidur lelap.
"Apa kamu mimpi bertemu Josie, sehingga kamu lupa, kalau bunda, Ayah, Bang Jordan dan Icha masih nungguin kamu disini?"
"Jovan Sayang, bangunlah Nak. Bunda kangen sama senyummu, canda tawamu. Bunda kangen sama suaramu, suara rengekanmu, suara manjamu. Bunda kangen semuanya, Jovan Sayang," ucap Jovanka yang tetap berusaha tegar, tetapi pada akhirnya air matanya pun mengalir membasahi pipi.
Jorrian hanya dapat menatap istri tercintanya, tanpa dapat berkata apapun. Hatinya juga merasakan hal yang sama dengan yang Jovanka rasakan. Lelahnya pikiran dan hati, berimbas pada kelelahan fisik keduanya dan membuat mereka berdua berada pada titik nol, setelah 10 pekan Jovan dinyatakan dalam keadaan semi koma.
Memasrahkan semuanya hanya kepada Sang Khalik adalah jalan terbaik untuk keadaan ini, itulah yang Jovanka dan Jorrian lakukan. Tidak ada lagi permintaan untuk kesembuhan putra bungsu kesayangannya, karena Dia-lah Yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
Lantunan ayat suci pun kembali di perdengarkan oleh Jorrian dan Jovanka secara bergantian. Memanjangkan sujud untuk kesembuhan Jovan pun mereka berdua lakukan di setiap shalat mereka.
Di saat Jordan libur dari pekerjaannya, ia pun selalu datang menjenguk Jovan dengan mengulang-ulang kenangan mereka bersama sedari kecil.
"Bro, how are you? Masih nyenyak aja tidurnya? Kamu nggak kepingin makan nasi Hainan, martabak, pizza atau mie ayam Koh Aling? Pingin kan, makanya bangun. Kalau kamu bangun pasti lapar kan? Nanti abang bawain semua makanan kesukaan kamu, tapi kamu harus bangun dulu, kalau nggak bangun, yaa abang yang akan ngabisin. Eh, palingan Icha yang bakalan ngambil paling banyak," canda Jordan sambil menggenggam tangan Jovan.
"Eh tapi, mana si Icha yaa? Kok dari tadi abang nggak lihat? Kamu apain tuh Icha? Dia pergi lho!" seru Jordan.
Lalu tiba-tiba tangan Jovan meremas tangan Jordan, "Van, Van are you awake?"
Jovan membuka matanya perlahan, tetapi cahaya lampu kamarnya membuatnya memejamkan matanya kembali.
"Van! Kenapa, silau? Aku kecilin lampunya, yaa!" ucap Jordan yang segera mengganti cahaya lampu kecil.
Lalu Jordan menekan tombol untuk memanggil perawat dan hanya hitungan detik, seorang perawat berlari menuju kamar perawat Jovan.
"Ada apa, Pak?"
"Jovan, Jovan sadar! panggil dokter, Sus!" seru Jordan.
__ADS_1
Jorrian dan Jovanka yang sedang beristirahat di lobby lantai ICU, segera berlari masuk setelah melihat seorang perawat berlari masuk dan kemudian keluar dari kamar Jovan, sambil meneriakkan nama putranya.
"Jovan!"
Keduanya pun memikirkan sesuatu yang buruk terjadi pada Jovan. Dengan dada yang bergemuruh dan tangan yang gemetar, keduanya melangkah perlahan bergandengan tangan memasuki kamar kamar ICU VVIP tempat putra bungsunya dirawat.
Dilihatnya Jovan tengah berkomunikasi dengan dokter yang merawatnya.
"Ikuti arah cahaya," ucap dr. Arshad dengan memegang senter kecil.
Mata Jovan pun mengikuti arah cahaya dari senter tersebut.
"Bagus. Mas Jovan, apakah Anda ingat apa yang terjadi sebelum Anda di bawa ke rumah sakit?" tanya dr. Arshad.
Jovan tidak segera menjawabnya, ia mengernyitkan dahinya, lalu tanpa menjawab pertanyaannya, Jovan malah bertanya balik, "Tidak, but why all of you speak in Bahasa? Bukannya Singlish?"
"Oh saat ini Anda berada di Jakarta, setelah sebelumnya Anda di rawat di Batam," jawab dr. Arshad.
"Anda mengalami kecelakaan di Batam, lalu keluarga Anda memindahkan perawatan ke Jakarta," jawab dr. Arshad.
"Accidented ? What accidented?" kali Jovan tampak bingung dengan jawaban yang diberikan oleh dokter.
"Kepala Anda mengalami pukulan benda tumpul, itulah yang menyebabkan Anda dirawat di rumah sakit," jawab dr. Arshad.
Tim dokter pun mulai bertanya lebih lanjut.
"Mas Jovan, apakah Anda mengenali ketiga orang ini?"
"Ayah, bunda sama Bang Jordan," jawab Jovan.
Jorrian, Jovanka dan Jordan pun tersenyum lega mendengar jawaban Jovan.
"Maaf boleh saya bertanya kepada orang tua saya?" tanya Jovan.
__ADS_1
"Silahkan," jawab dr. Arshad.
"Yah, Bang Josie kok nggak ada? kemana?" pertanyaan Jovan ini pun membuat keterkejutan orang tuanya.
Dr. Arshad pun mencium adanya kejanggalan dalam memori Jovan, untuk itu ia kembali bertanya lebih lanjut.
"Mas Jovan, apa Anda ingat sekarang tahun berapa?"
"Sekarang tahun 2018, kan?" jawab Jovan tidak yakin.
Tim dokter dan keluarga Jovan pun saling berpandangan.
"Van, kamu ingat kegiatan terakhir kamu?" kali ini Jorrian yang mengajukan pertanyaan.
"Hmm, I think I sedang menyusun film pendek, Cinta yang Hilang. Like I said before, I'm gonna find her," jawab Jovan yang membuat sang Bunda mendadak lemas.
"Jovan Sayang, you miss Icha so much, isn't it?" tanya Jovanka sambil membelai rambut putra tercintanya.
"Yes, I do," jawab Jovan lirih.
"But, where's Bang Josie? Why is he not in here?"
Pertanyaan Jovan ini pun membuat keluarganya sangat bingung untuk menjawabnya.
"Mas Jovan, sebaiknya Anda istirahat kan pikiran Anda dulu, karena Anda baru saja terbangun dari tidur yang cukup panjang. Jadi lebih baik, kita fokuskan pada motorik Anda terlebih dahulu," ucap dokter yang kemudian mengajak Jorrian dan Jovanka untuk berbicara di luar.
"Sepertinya putra Anda mengalami gangguan ingatan. Untuk itu, saya akan konsultasikan kepada psikiater untuk mengetahui seberapa banyak ingatan yang hilang," ucap dokter.
"Kami percayakan semuanya ke dokter-dokter di sini untuk kesembuhan putra kami, lakukanlah yang terbaik, Dok!" jawab Jorrian.
"Baik Pak, InsyaAllah."
"Oiya, karena adanya hilang ingatan ini, kami akan membatasi penjenguk. Sementara hanya keluarga inti saja, jadi istrinya juga sebaiknya jangan menemui mas Jovan dulu, karena dikhawatirkan dapat membuat kebingungan dan akhirnya kinerja otaknya bertambah, sedangkan mas Jovan masih butuh mengistirahatkan otaknya," lanjut dokter.
__ADS_1