Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Bora-bora Surganya Bulan Madu 2


__ADS_3

Warning....🚨🚨


Buat Ade gemes, mohon melipir dulu ya✌✌ takut membuat imajinasi kalian jadi ancur...😁😁


❤❤❤


Gelap mulai merangkak naik, makanan yang dipesan pun sudah habis mereka lahap bersama-sama dengan Anggun dan Dito.


Radit yang memilih lebih dulu untuk mandi sudah terlihat segar dengan kaos oblong warna putih dan celana jeans selutut yang dia kenakan sekarang.


"Sayang...," Radit mengetuk pintu kamar mandi dimana sekarang Arini ada didalam sana,".... aku ke Resort Dito sebentar ya, ada yang lupa aku katakan tadi."


"Iya Mas, tapi jangan lama-lama ya, aku takut sendirian." Saut Arini dari dalam.


"Iya, cuma bentar kok.... sebelum kamu beres mandi aku udah balik lagi."


"Iya."


Tidak ada suara yang Arini dengar setelah itu, mungkin Radit sudah pergi. Padahal tanpa Radit ketahui, ia sudah selesai mandi dari sepuluh menit yang lalu.


Ia memandang pantulan tubuhnya sendiri didepan cermin. Lingirie hitam yang sangat transparan dan sangat minim bahan ini berhasil mengekpose semua lekuk tubuhnya.


Sumpah.... ini sexy banget, dengus Arini seraya membolak-balikan badannya didepan cermin.


Arini mengambil bathrube putih yang tergantung disana, memilih memakai itu untuk keluar dari kamar mandi sebelum Radit sampai lebih dulu.


Baru saja Arini membuka pintu kamar mandi, bersamaan dengan itu pula Radit masuk kembali ke dalam kamar.


Seketika Arini membalikan kembali badannya untuk masuk lagi kedalam kamar mandi.


"Sayang..." Panggilan Radit membuat Arini urung melangkahkan kakinya.


Arini menoleh,"Ya Mas?"


"Kok balik lagi, udah beres kan mandinya?"


"Ah...iya udah." Arini kembali melangkah keluar dengan sedikit grogi.


Radit berjalan mendekati Arini, menarik tangan Arini untuk duduk.


"Kamu mau dikamar atau ikut jalan-jalan sama Dito dan Anggun di pantai?"


Arini langsung tersenyum senang, akhirnya dia bisa terlepas dari gulatan lingirie yang membuatnya sakit kepala.


"Aku mau jalan-jalan bareng mereka aja Mas, seru kayaknya."


"Ya udah kalau gitu kamu siap-siap, aku tunggu diluar." Mengusap puncuk kepala Arini.


Radit kembali meninggalkan Arini keluar dari kamar. Dan saat itu juga Arini langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur, menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Lega....


Arini bangkit kembali, membuka bathrube yang menutupi lingirie yang dia pakai, kemudian memilih pakaian yang sudah terlipat rapi di dalam lemari.


Namun tanpa diduga, Radit kembali masuk kedalam kamar. Arini langsung terlonjak kaget, hingga baju yang baru saja dia ambil dari lemari jatuh menutupi kakinya.


Radit terpaku ditempatnya, memandang lekat lekukan tubuh Arini yang terlihat sangat menggoda. Dengan gugup, Arini mengambil baju yang dia jatuhkan tadi. Badannya terasa panas dingin, lututnya terasa bergetar tatkala Radit berjalan mendekat.


"Ada apa Mas.... ini.... emm... aku pilih baju sebentar." Ucap Arini dengan tergagap.


Radit mengambil baju yang sengaja Arini pegang untuk menutupi dadanya, dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Aku suka kamu pakai ini." Seraya mendekatkan hidung Arini dengan hidungnya.


Radit menyentuh tangan Arini, menyusurnya hingga beralih kepunggung, melepaskan pengait yang bisa menghalanginya untuk bisa bergerak bebas.


"Mas...."


"Hemm...."


"Kita kan mau...."


Radit langsung membungkam mulut Arini , mendaratkan ciumannya dibibir itu, menghisap dan menyecapnya dengan penuh gairah. Memaksa Arini untuk sedikit membuka bibirnya agar ia bisa menerobos masuk, membelitnya lebih dalam.


Diiringi dengan sentuhan dan remasan yang Radit berikan disetiap daerah sensitif Arini. Jari jemarinya terus turun, meraba lembah segitiga yang mengerucut menuju titik yang bisa dia arungi dan ia selami.


Radit melepas pagutannya, beralih menciumi leher, selangka dan terjerambat ditengah dua gundukan yang sintal menggunung menghimpit kedua pipinya.

__ADS_1


Nafasnya semakin menderu, semakin menggelepar hebat. Ia meremas dan mengisapnya dengan lembut.


Lingirie yang sudah turun bebas dari tubuhnya, sudah tak diindahkannya lagi. Arini menggigit bibir bawahnya, menahan gairah yang ikut bersamaan dengan sentuhan dan ******* yang Radit berikan.


"Aaah...." Desah Arini saat bibit Radit terus turun dan bergerak lincah dibawah sana.


Pondasinya berhasil diporak porandakan Radit. Gairah bercinta keduanya semakin membuncah tak terkendali.


Radit menuntun tubuh Arini menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuh mereka bersamaan, hingga saling bertindihan tanpa melepaskan seditikpun pagutan di bibir mereka.


Seolah tidak rela, sejenak Radit melepas ciuman itu, dengan terburu-buru melepas semua pakaiannya.


Radit menautkan kedua tangannya kedalam sela-sela jari Arini bersiap bersama menuju lembah cinta yang sudah menunggunya sedari tadi.


Deburan ombak menjadi musik pengiring penyatuan cinta mereka. Nafas yang semakin tak beraturan, kucuran keringat, lenguhan dan desahan bersatu padu menjadi satu.


Getaran ponsel yang sedari tadi menari-nari pun tidak mereka pedulikan, mereka terlalu asyik dengan malam panas percintaan yang membawa mereka kedalam nikmatnya surga dunia yang sudah halal untuk mereka lakukan. Bukan lagi dosa, melainkan pahala yang akan mereka terima.


Keduanya terengah, terbang melayang, bersama menuju puncak pelepasan. Entah untuk berapa kali mereka melakukan itu, lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti dan rasa lelah yang menghinggapi.


"Sayang, kamu capek?" Tanya Radit dengan tangan yang masih betah diam disegitiga bermuda itu.


Arini menganggukan kepala seraya memainkan jarinya didada Radit, membuat lukisan abstrak.


Radit mencium kening Arini, menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil yang sudah beberapa kali ia setubuhi.


Radit melihat jam dinding yang menempel ditembok, tepat jam dua malam. Nafsunya memang semakin menggila hingga melupakan waktu yang serasa berputar lebih cepat.


Lampu ponsel terus berkedap-kedip, menandakan ada notifikasi yang masuk. Radit sedikit memgangkat tubuhnya dan meraih ponsel yang sudah jatuh di atas karpet berbulu karena pergerakan yang mereka lakukan.


Radit membukanya, ada lima panggilan tidak terjawab dan satu pesan yang masuk. Semuanya dari Dito.


Gol berapa kali bro... ditunggu nggak muncul-muncul


Radit melihat waktu saat pesan itu dikirimkan Dito, ternyata dua jam yang lalu. Radit terkekeh, Dito memang paling jago nebak kalau soal yang begituan.


"Mas...."


"Hemm..."


Radit menyimpan lagi ponselnya dimeja," Nggak papa, cuman baca pesan Dito doang."


"Emang pesan apa?"


Radit menakup wajah Arini," Katanya kita gol berapa kali."


"Ih kok tanya yang begituan.... trus Mas bales?"


"Dibales dong.... jawabnya nggak keitung."


Arini memukul pelan dada Radit," Ish kenapa dijawab segala sih, malu tahu."


Radit tersenyum," Masih capek?"


"Lumayan."


"Sekali lagi ya..." Seraya mencium kembali bibir Arini.


"Uummm...." Arini melepaskan pagutan bibir Radit.


"Emang Mas nggak capek gitu?"


"Nggak...." Jawabnya cepat.


Radit pun kembali merangkak naik, dengan bermain-main kembali dibawah selimut yang menutupi tubuh mereka.


Keesokan paginya....


Arini menggeliat, badannya terasa remuk dan sakit luar biasa, tulang punggungnya pun terasa mau patah. Mungkin akibat pergulatannya dengan Radit semalaman, hingga mereka bisa tidur setelah menjelang subuh.


"Udah bangun sayang?"


Radit berjalan dari luar kamar dengan sepiring makanan ditangannya.


Arini langsung duduk bersandar dikepala ranjang dengan menarik selimut hingga sebatas dadanya. Menutupi tubuhnya yang tidak menggunakan apapun setelah percintaan mereka semalam.

__ADS_1


Radit duduk ditepi ranjang, memyimpan piring itu dimeja. Kemudian membantu menggulung rambut Arini dan mengikatnya dengan ikatan rambut yang tergeletak disana.


Kemudian mengecup kening Arini, sangat lama.


"Kenapa Mas nggak bangunin aku." Tanya Arini setelah Radit menjauhkan bibir dari keningnya.


"Aku nggak mau ganggu tidur kamu...," Seraya mengelus pipi Arini,".... Kamu keliatan capek banget."


"Mas udah bangun dari tadi?"


"Emmm.... mungkin jam sepuluhan."


Arini mengerutkan kening saat mendengar jam sepuluh, emang sekarang jam berapa???


Arini melongokan kepalanya, Hah.... jam setengah dua belas. Dia bangun sesiang ini, Ya ampuunnn....


"Kamu makan dulu ya, pasti laper banget kan?"


"Nanti aja Mas, aku mau mandi dulu." Seraya memegang selimut menjatuhkan kakinya ke lantai.


Arini meringis, merasakn perih dan kaku didaerah kewanitaannya. Rasanya seperti waktu pertama kali ia melakukan itu dengan Aditya dulu.


"Kenapa sayang.... ada yang sakit?" Tanya Radit karena mendengar ringisan pelan dari mulut Arini.


Arini mencoba menutupinya dengan tersenyum," Nggak kok sayang, cuma pegel aja."


Sayang.... Radit langsung tersenyum senang, ini untuk pertama kalinya Arini memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


Radit langsung berdiri, memyibak selimut yang menutupi tubuh Arini.


"Mas mau ngapain?"


Radit menarik tangan Arini dan mengalungkannya di leher," Aku tidak mau melihatmu berjalan kesakitan." Dengan sekilas mengecup bibir Arini.


"Tapi aku masih bisa jalan kok Mas, ini nggak terlalu sakit."


"Jadi dugaanku bener kan kalau **** * kamu sakit?"


Arini memalingkan wajahnya, malu ketahuan berbohong.


"Maafin aku udah buat kamu kesakitan kayak gini."


"Aku nggak papa kok Mas."


Tanpa sehelai kainpun, Radit memangku Arini kedalam kamar mandi, memasukannya kedalam bathtube yang kemudian ia isi dengan air hangat yang sudah dipenuhi banyak busa beraroma jasmin, sangat wangi.


Arini terenyuh.... cinta, kasih sayang, perhatian, kenyamanan, harta, tahta dan semua yang Radit berikan kepadanya begitu amat luar biasa. Dan ia tidak bisa memberikan apapun untuk membalas semuanya selain dengan cinta, kesetiaan dan pengabdiannya sebagai seorang istri.


"Mas...." Panggil Arini yang seketika menghentikan langkah Radit yang hendak meninggalkannya untuk mandi.


"Ya?"


Arini keluar dari dalam bathtube, dengan busa yang menempel di beberapa bagian tubuhnya, Arini berjalan mengesampingkan rasa malunya untuk menghampiri Radit.


Radit membisu, tak bergeming sedikitpun. Melihat lengokan tubuh Arini yang semakin berjalan mendekat kepadanya. Membuatnya kembali bergairah.


"Kamu tidak ingin mandi bersamaku?" Bisik Arini dengan tatapan nakal.


Radit langsung meremas pinggang Arini, memandang dengan sorotan tajam layaknya singa yang mendapatkan mangsa.


"Kamu yakin bisa menahan sakitnya?" Bisik Radit lagi.


Arini mengalungkan kedua tangannya dileher Radit, kemudian tersenyum dan menggangguk pelan.


Tak mengulur waktu lagi, Radit memangku Arini dengan kaki yang melingkar dipinggangnya. Membawanya untuk mandi dibawah kucuran shower. Bukan hanya mandi, tapi melanjutkan kembali percintaan mereka dibawah guyuran air yang mengalir deras.


Bulan madu yang sempurna....




..........................................................


..........................................................

__ADS_1


....................................Bersambung......


__ADS_2