
Marissa segera dilarikan ke klinik hotel dan kemudian ia segera ditangani oleh dokter yang bertugas.
Mario yang sebelumnya terlihat tenang, tetapi setelah melihat putrinya pingsan, ia pun mulai terlihat gusar, sehingga ia tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Marissa.
Jovanka dan Jorrian yang ikut menemani ke rumah sakit, hanya terdiam. Mereka berdua tidak tahu harus berbuat apa dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Raka sang asisten yang telah mendampingi Mario selama lebih dari 10 tahun pun segera bergerak.
"Adam, kamu dan Faisal tetap mendampingi Risa, jangan sekalipun kalian lepaskan pandang darinya. Silla, kamu adalah orang terdekatnya saat ini..."
"Saya tahu apa yang harus saya lakukan, Pak. Saya tidak akan biarkan siapapun menyakiti Risa!" tegas Silla.
"Saya yakin kamu akan melakukannya, kamu telah mendampingi Risa lebih dari 5 tahun, saya percaya kamu akan melakukan apapun untuk melindunginya," ucap Raka.
"Baiklah, saya akan berada di ruangan pusat komando. Saya serahkan Risa dan Pak Mario kepada kalian," lanjut Raka.
"Siap laksanakan !"
Lalu Raka beralih kepada para pengawal Sofyan Corporation.
"Kalian saya bagi menjadi 3 tim. Tim pertama, Adit kamu bertugas di rumah sakit, ingat keselamatan dan keamanan Pak Mario dan Pak Chen serta keluarganya adalah yang utama. Lalu tim ke-dua, Fahri kamu bertugas di pusat komando, nanti saya akan menyusul kesana. Tim terakhir ikut saya. Fahri, kamu menggantikan saya di pusat komando, ingat laporan setiap 1 jam! Saya rasa kalian semua sudah paham tugas-tugasnya, kita kembali seperti dulu!"
"Kembali seperti dulu? Maksud Pak Raka?" tanya Adit.
"Pak Mario sudah menghubungi Clifford, saya rasa kalian semua tahu artinya. Baiklah, cukup sekian dan sekali lagi saya, tekankan bahwa keamanan dan keselamatan Pak Mario dan Pak Chen beserta keluarganya adalah yang utama. Ingat, satu kesalahan, nyawa kalian adalah taruhannya," tegas Raka.
Pengamanan di rumah sakit pun semakin ditingkatkan, selain polisi, petugas keamanan rumah sakit, petugas keamanan Sofyan Corporation juga ikut mengamankan atasan mereka.
Jorrian yang memperhatikan semua pergerakan anak buah Mario pun bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Ia pun menahan Raka dan memintanya untuk memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Tunggu! Ada apa sebenarnya? Apakah penjahat yang kita hadapi saat ini sangat berbahaya?"
"Kalau dibilang sangat berbahaya itu jelas tidak, mereka hanya penjahat kelas teri jika dibandingkan dengan kekuatan yang Pak Mario. Tetapi Pak Mario sampai menghubungi Clifford, itu artinya situasi ini tidak bisa dianggap remeh dan ia menginginkan penyelesaian hingga ke akarnya, hingga nanti tidak akan terjadi lagi," jawab Raka.
"Tetapi, siapa Clifford?" tanya Jorrian.
"Ia adalah seseorang dibalik kekuatan Mario Sofyan. Pak Jorrian, anda tenang saja, nanti Pak Mario pasti akan menjelaskannya. Maaf Pak, saya permisi. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Bapak cukup menunggu dan berdoa," jawab Raka yang segera berlalu menuju parkiran rumah sakit meninggalkan Jorrian yang masih belum mengerti, ada apa sebenarnya yang terjadi.
Raka beserta tim-nya segera bergerak menuju mobil van hitam yang telah menunggu di parkiran. Ia pun bergegas ke pusat komando yang berada di ruang rapat utama Harry's Resort.
Di dalam mobil van yang telah dilengkapi dengan alat-alat pengintaian tercanggih, Raka pun menghubungi Clifford.
"Heei, Mr. Raka, Mario's shadow. Look, saya nggak akan basa-basi. Baru saja anak buahmu sudah mengirimkan data, sepertinya ini tidak sulit. Mengapa Mario melawan anak kucing dengan kekuatan sebesar ini?" tanya Clifford.
"Saya juga tidak mengerti, tetapi pasti ada sesuatu yang kita semua tidak ketahui. Clif, tolong temukan lokasi Jovan secepatnya, keselamatan nyawanya berada pada hitungan jam," tegas Raka.
"Aku pasti akan menemukannya, setelah kalian mengirimkan semua data yang kalian miliki," jawab Clifford sebelum menyudahi pembicaraannya dengan Raka.
"Raka, dana $10.000,- sudah siap. Saya akan kirim sekarang," ucap Alex.
"Baik Pak, saya akan awasi," ucap Raka.
15 menit berlalu, Raka mendapatkan pesan singkat dari Clifford.
"Thankyou, saya mulai sekarang."
Sementara itu di instalasi gawat darurat, Mario masih duduk mendampingi Marissa yang perlahan mulai sadar.
"Cha? Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Mario penuh kekhawatiran sambil tetap mengelus-elus kepala putrinya.
__ADS_1
Marissa pun menjawab dengan isyarat mata.
"Cha, kamu tenang yaa. Ayah akan mengusahakan keselamatan Jovan, berapa pun biaya yang harus dikeluarkan. Tugas kamu cuma 1, buka pintu-pintu permintaan ke Allah, do'a seseorang yang terdzalimi itu dahsyat. Do'a seorang istri yang meminta perlindungan akan suaminya itu dahsyat. Jadi mintalah pertolongan-Nya, semua yang terjadi juga atas izin Allah. Jadi mintalah kepada yang Maha Memiliki, mintalah kepada yang Maha Mendengar permintaan hamba-hambaNya," ucap Mario sambil mengelus-elus kepala Marissa.
Marissa pun mengangguk sambil meneteskan air matanya.
"Cha, Bunda disini. Bunda juga merasakan yang sama dengan apa yang kamu rasakan, tetapi kamu harus kuat dan percaya akan kehebatan Allah, serahkan semua kepada Allah, ya Sayang," ucap Jovanka sambil berlinang air mata, karena ia juga memikirkan keselamatan putra bungsunya.
Sesaat itu juga Jorrian teringat, "Jordan! Kita belum menghubungi Jordan!!"
Ia pun segera menghubungi putra pertamanya itu.
"Assalamu'alaikum, Yah," salam Jordan.
"Wa'alaikumsalam. Dan, ayah tidak akan panjang lebar, tetapi ayah mau beritahukan kalau saat ini Jovan diculik.."
"Apa Yah?!! Jovan diculik?"
"Iya, saat ini kasusnya sudah ditangani kepolisian Batam dan orang-orang kepercayaan Mario. Ayah minta kamu untuk bantu dengan do'a. Waktunya sangat singkat, malam nanti akan terjadi pertukaran antara Jovan dan sejumlah uang tebusan yang diminta. Ayah sendiri belum mengetahui pasti bagaimana teknisnya, karena masih menunggu. Bantu do'a, itu yang utama," jelas Jorrian.
"Tapi, kok bisa diculik? Gimana ceritanya?" tanya Jordan.
"Nanti ayah ceritakan semua, saat ini ayah juga masih bingung. Sudah yaa, do'akan adikmu agar selamat," jawab Jorrian sebelum menutup sambungan teleponnya.
"Kurang 6 jam dari pertemuan nanti. Mana Raka?" tanya Mario.
"Pak Raka pergi menggunakan van hitam," jawab Adit.
Mendengar van hitam, Mario tidak bertanya lebih lanjut, karena ia sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh asisten kepercayaannya ini.
__ADS_1
"Sepertinya kita kembali ke 5 tahun yang lalu," ucap Mario sambil mengedipkan satu matanya ke arah Adit.
Adit pun membalasnya dengan smirk yang menyiratkan sesuatu. Hal ini membuat Jorrian dan Jovanka saling berpandangan, karena keduanya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Mario dan anak buahnya.