Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Dua Bulan??? (BonChapt)


__ADS_3

Ini Bonchapt atau season 2 sih Thor, panjang amat gak kelar-kelar😩???


Suka-suka kalianlah mau sebut apa😂😂


Buat yang bosen, monggo mundur syantik, No nyinyir ya😆. Buat yang suka, yuk mari-mari kita merapat...Tarik maaaang😁😁


Next... Happy Reading😙


❤❤❤


Dengan dekorasi yang apik dan penuh warna, Radit menyulap ruangan VVIP Rumah Sakit jauh dari kesan kamar rawat inap pasien pada umumnya.


Setiap pojok ruangan dihiasi dengan rangkaian bunga mawar merah dan putih yang masih sangat segar. Dan dua bingkai lukisan bertema Pregnant, pas terpajang didepan tempat tidur yang nanti akan Arini tiduri.


Satu set sofa dengan TV LED berukuran besar pun sudah bertengger manja memenuhi ruangan kamar, lengkap dengan perangkat DVD dan audio lainnya.


Dan satu hal lagi yang tidak Radit lupakan, gorden polos ikut raib bergantikan dengan gorden indah dengan paduan warna yang pas bermotif bunga, yang akan sangat sejuk dan menenangkan bila dipandang mata.


Dua orang perawat membantu Radit memindahkan Arini dari blangkar ke atas tempat tidur. Kondisi Arini yang masih sangat lemah, membuat Radit tidak mengizinkan sedikitpun Arini melakukan gerakan walau itu hanya mengambil gelas air untuk dia minum.


"Terima kasih Suster." Ucap Radit.


"Sama-sama Dok... kami permisi."


"Silahkan."


Setelah kepergian dua Suster itu, Arini menelisik setiap sudut ruangan, membuat ia penasaran kalau hanya diam tidak bertanya.


"Kamar rawat kok bisa sebagus ini Mas?"


Radit mengecup kening Arini," Kamar ini khusus untuk istri tercantikku." Seraya membelai rambut Arini.


Wajah Arini merona, Radit selalu berhasil membuatnya terbang ke awang-awang.


"Kamu suka?"


"Suka."


Radit mengusap bibir Arini dengan ibu jarinya," Aku mencintaimu."


Radit mendaratkan ciuman lembutnya, menyesapnya perlahan, hingga ia larut dalam irama yang ia ciptakan sendiri.


"Ehem...ehem..."


Radit menjauhkan wajahnya dari Arini, melihat siapa yang tiba-tiba masuk hingga tak terdengar derap langkah kakinya sedikitpun.


"Ibu..." Radit dan Arini menyapa bersamaan.


Kemudian Radit berdiri menyambut kedatangan Ibu Rania.


"Sabar toh Mas.... Arini lagi sakit, jangan sampai kebablasan." Gurau Ibu Rania yang membuat wajah Radit dan Arini memerah.


"Iya Bu, Mas tahu.... ,"Radit mencium punggung tangan Ibu Rania,"....kok Ibu nggak kabarin Mas kalau mau kesini?"


Ibu Rania terkekeh, lalu mengelus pundaknya Radit.


"Tadinya Ibu mau kesini besok, tapi Ibu nggak tenang kalau belum melihat keadaan kalian secara langsung."


Ibu Rania duduk ditepi ranjang, meraih tangan Arini." Apa masih sakit perutnya Rin?"


"Sedikit lagi Bu."


"Apa yang Dokter bilang?"


"Katanya kita lihat perkembangan janinnya dua atau tiga hari lagi Bu."Jawab Radit.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya Rin, banyak istirahat jangan banyak bergerak. Mulai sekarang Ibu sendiri yang akan merawat kamu. Bukannya Ibu ndak percaya dengan Dokter kandungan disini, tapi Ibu akan lebih tenang bila mengetahuinya sendiri." Seraya membelai rambut Arini.


"Terima kasih Bu."


Ibu Rania mengangguk, kemudian menoleh kepada Radit.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini Mas, jangan bilang Mas nggak perhatiin Arini selama ini." Selidik Ibu Rania.


Radit tergagap, Ibu Rania seperti tahu apa yang terjadi diantara mereka.


"Maaf Bu, Mas...."


Arini memotong perkataan Radit,"Mas Radit selalu perhatiin Arini kok Bu, Arini yang salah... Arini tidak bisa menjaga kandungan Arini dengan baik."


Ibu Rania mengehela nafas, ia tahu Arini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa waktu hamil Nuno kamu sering merasa kesakitan?"


"Sering Bu."


"Apa pernah sampai pendarahan juga?"


"Pernah beberapa kali, tapi tidak sampai seperti ini. Hanya berupa bercak saja." Cerita Arini.


"Apa Nuno lahir premature?"


"Iya.... memangnya kenapa Bu?"


Ibu Rania mengelus tangan Arini," Tidak apa-apa, Ibu hanya ingin tahu saja."


"Mas.... mulai sekarang, Arini tidak boleh dulu berjalan sampai kandungannya memasuki usia lima bulan. Boleh berjalan tapi hanya dalam jarak dekat saja." Sambil melihat Radit.


"Kandungan Arini tidak apa-apa kan Bu?" Tanya Arini dengan wajah yang sangat cemas.


"Rahim kamu sangat lemah, itu bisa karena beberapa faktor saat kehamilan kamu yang pertama. Tapi Kamu tenang aja, ada Ibu yang akan selalu menjaga kamu."


"Kamu tenang sayang, Ibu itu Dokter kandungan yang handal loh... iya kan Bu?"


"Mas itu berlebihan, jangan didengar Rin." Jawab Ibu Rania merendah, seraya mendelikan mata sambil berdiri.


"Emang kenyataannya begitu kan Bu." Tambah Radit tak mau kalah.


Ibu Rania yang semula sudah mau pergi, kembali berbalik.


"Ibu lupa.... dua bulan kedepan Mas jauhi dulu Arini."


Radit tidak mengerti," Maksud Ibu?"


"Jangan ganggu dulu Arini, alias dilarang...," Ibu Rania mengerucutkan kedua tangannya kemudian menyatukannya,".... ngerti kan?"


"Kok lama amat dua bulan Bu...," Tanya Radit tak terima,".....Bu.... Ibuuuu...."


Ibu Rania tidak mendengarkan seruan Radit yang hendak protes. Ia menyembunyikan senyum sambil melenggang pergi entah mau kemana.


Dan Arini hanya terkikik melihat Radit yang sekarang sedang cemberut menahan kesal.


"Sabar ya sayang..." Mengelus punggung Radit.


Radit memberenggut," Dua hari aja aku nggak kuat, gimana kalau dua bulan." Menyandarkan keningnya dibahu Arini.


"Paling nggak seminggu atau satu bulan gitu... ini dua bulan loh, delapan minggu." Radit kembali memelas.


Arini semakin terkikik," Mas ih kayak anak kecil aja deh... demi bayi kita loh ini." Mengusap Rambut Radit yang terasa sangat manja.


Radit mengangkat wajahnya," Ibu kayak yang sengaja deh ngerjain aku." Berkata dengan nada curiga.

__ADS_1


"Ibu nggak mungkin bohong lah Mas." Sanggah Arini.


"Nanti aku harus tanyain ini ke Dokter Reva." Lanjut Radit mengabaikan perkataannya Arini.


"Masa tanyain yang begituan ke orang lain sih." Cebik Arini.


"Ya nggak papa, Dokter Reva juga kan pasti tahu... itung-itung konsultasi juga."


"Ish jangan."


"Aku penasaran aja sayang... soalnya Ibu itu kalau bercanda suka keterlaluan."


Perlahan Arini membalikan badan, memunggungi Radit," Pokoknya jangan tanya ke Dokter Reva."


"Kok marah sih?" Menyentuh pundak Arini.


"Tahu ah."


"Sayang...." Rayu Radit.


"Diem."


"Jangan gitu dong."


"Diem."


Radit memeluk Arini, menyatukan pipinya dengan pipi Arini," Iya deh nggak bakalan."


"Beneran?"


"Iya."


Arini kembali berbalik perlahan," Janji?"


"Janji."


Radit mendekatkan hidungnya dengan hidung Arini, mengukung tubuh Arini dengan menumpukan kedua tangan di kasur.


"Tapi kalau cuma cium sama pegang kayaknya nggak papa kan?" Bisik Radit didepan bibir Arini dengan jarak yang hanya beberapa senti saja.


Pipi Arini memanas, masih tetap malu kalau membicarakan itu dengan gamblang seperti ini.


"Kok ngomongin gituan sih."


"Emang kamu nggak kangen sama aku?" Memberikan sedikit jarak agar ia bisa melihat kejujuran di bola mata Arini.


Arini balas menatap bola mata Radit, menyelaminya dengan dalam. Kalau boleh jujur, ia pun sangat merindukannya, namun terlalu gengsi untuk mengatakannya secara langsung.


"Aku rindu desahanmu." Bisik Radit lagi.


Radit memiringkan wajahnya, bermaksud ingin mencium bibir Arini kembali. Namun...


"Mas.... jaga jarak aman."


Tiba-tiba suara Ibu Rania kembali terdengar. Arini segera mendorong dada Radit agar segera menjauh darinya.


Ibu Rania berjalan dengan berbagai peralatan medis ditangannya.


"Ingat ya... dua bulan." Ibu Rania mengingatkannya kembali.


"Tapi bu...."


"Dua bulan."


...........................................................

__ADS_1


...........................................................


.................................Bersambung..........


__ADS_2